Mereka menjulukinya Sang Dewi Putih. Adelina Vannicelli, pewaris takhta mafia Italia, cantik, dingin, dan mematikan, terbiasa membuat seluruh dunia bertekuk lutut hanya dengan satu tatapan. Sampai satu pengkhianatan meruntuhkan segalanya, dan di malam paling gelap dalam hidupnya, ia menemukan seorang bayi terlantar yang mengembalikan alasannya untuk terus bernapas.
Namun bayi itu menyimpan rahasia berbahaya. Ia adalah putra Jakob Müller, sang pemimpin mafia Jerman yang ditakuti seantero benua, pria yang dijuluki Sang Iblis. Dan Jakob menginginkan pewarisnya kembali, apa pun harganya.
"Nikahi aku, atau kau tak akan pernah melihat anak itu lagi."
Terjebak dalam pernikahan paksa demi anak yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri, Adelina bersumpah hatinya tak akan pernah tersentuh. Kesepakatan mereka jelas: pernikahan di atas kertas, kamar terpisah, dan dilarang jatuh cinta. Masalahnya, dua penguasa dunia gelap yang sama-sama keras kepala, sama-sama posesif, dan sama-sama tak terbiasa kalah, ternyata memainkan permainan yang jauh lebih berbahaya daripada perang antar-organisasi mana pun.
Di antara peluru, pengkhianatan, dan musuh yang mengintai dari Rusia hingga Inggris, cinta yang tak diinginkan itu justru menyala paling terang, dan menjadi kelemahan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Seberapa jauh Sang Dewi Putih rela jatuh demi seorang pria yang seharusnya ia benci? Dan apa yang sanggup dilakukan Sang Iblis Jerman ketika akhirnya ia menemukan satu-satunya hal yang ia takut kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daniella cantillo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Kutarik ia mendekat hingga wajah kami berhadapan. Kudengar napasnya memburu, pupil matanya melebar. Perasaanku bercampur aduk, antara kesenangan melihatnya seliar ini dan darah yang menetes di wajahnya, yang membuatku ingin menidurinya, tapi sekaligus rasa bersalah karena telah memukulnya. Aku tak tahu apa yang terjadi. Aku tak pernah memukul wanita kecuali ia memang pantas menerimanya, dan Adelinaku tak pantas menerima satu pukulan pun. Kau hanya pantas dipuja. Tapi tadi aku tak sempat berpikir, aku hanya membela diri. Padahal ia justru menikmatinya. Kurasa istriku tak begitu waras di kepala cantiknya itu.
"Adelina, yang kau lihat di ruang kerja itu bukan seperti yang kau bayangkan. Wanita itu bukan siapa-siapa. Aku hanya ingin bersamamu. Yang kuinginkan cuma tubuh dan ciumanmu. Kumohon, jangan menolakku."
Ia berusaha bangkit, tapi kudekap lebih erat ke tubuhku. Ia memintaku melepaskannya.
"Aku takkan melepasmu sampai kau mengerti aku tak berniat bersama wanita lain. Kau istriku dan aku berniat menghormatimu. Wanita yang kau lihat itu cuma teman kencan, tak berarti apa-apa dalam hidupku. Aku sudah menegaskan padanya aku takkan bersamanya."
"Jakob, sudah kubilang, kau tak perlu memberiku penjelasan apa pun. Kau boleh bersamanya atau dengan wanita lain. Kita sudah sepakat soal itu."
"Aku harus menjelaskannya karena kau istriku. Aku ingin hubungan kita baik. Aku tak berminat pada wanita lain saat kau ada di sisiku. Satu-satunya yang kuinginkan hanya kau. Selain itu, aku tak mau kau bicara atau didekati pria lain. Tak seorang pun boleh menyentuhmu, Adelina. Hanya aku yang boleh."
"Baik, begini saja. Kalau kau hanya mau bersamaku, maka aku juga hanya akan bersamamu. Tapi kalau sampai aku melihat atau tahu kau bersama orang lain, jangan ragukan aku akan melakukan hal yang sama. Kali ini aku takkan percaya sepatah kata pun yang kau ucapkan, oke?"
"Oke!"
Ia mencoba menciumku, tapi aku memalingkan wajah.
"Aku ingin satu hal jelas di antara kita. Hubungan ini hanya seks, tanpa perasaan. Dilarang jatuh cinta."
"Justru itu yang kucari, sayang. Cinta tak ada dalam rencanaku. Aku cuma mencari kenikmatan darimu, jadi jangan khawatir, aku takkan pernah bisa jatuh cinta padamu. Sebaiknya kita bersihkan dulu luka-luka kita."
"Kenapa kau tak menjadikanku milikmu saja, Tuan Müller?"
Ia tersenyum padaku, memberiku sebuah ciuman. Kubalikkan tubuhku hingga aku berada di atasnya, dan sementara kuciumi ia, tanganku mulai menjelajahi tubuhnya.
Saat terbangun, kusadari hari sudah malam. Jakob masih tertidur, jadi aku mencoba keluar tanpa membangunkannya. Aku bangkit, berganti pakaian, dan meninggalkan kamar menuju kamarku sendiri untuk berganti baju. Di belakangku, kudengar suara Anthony.
"Halo, Adelina."
"Halo, Anthony."
Melihatku, ia terkejut, lalu mendekat ke arahku.
"Lihat keadaanmu. Beraninya binatang itu mengangkat tangan padamu. Akan kubuat ia membusuk di penjara."
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir."
"Tidak, kau tidak baik-baik saja. Kemarilah, biar kubantu membersihkan lukamu."
Ia menggandeng tanganku dan membawaku ke kamarnya, mendudukkanku di sofa. Sementara ia berjalan ke bagian dalam kamarnya mengambil kotak obat, aku menatap cermin. Ada bekas darah di wajahku, memar di sekitar pipi, rambutku berantakan, ada beberapa lebam dan bekas di sepanjang tubuhku. Yah, kami memang habis bertengkar, seks kasar, dan aku menyukainya. Semoga bisa kualami lagi. Aku duduk dan melihatnya mendekat. Ia mengambil kapas, membasahinya dengan alkohol, lalu mulai membersihkan lukaku.
"Bagaimana bisa ia mengangkat tangan padamu? Padahal kau cuma pantas diperlakukan seperti setangkai mawar, dijaga dan dilindungi dengan lembut."
"Terima kasih sudah peduli dan membersihkan lukaku, tapi aku bisa menjaga diriku sendiri. Luka-luka ini bukan apa-apa dibanding keadaannya sekarang. Aku harus pergi. Terima kasih untuk semuanya."
"Kau benar-benar memukulnya?"
"Tentu. Sudah kubilang aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku suka padamu, dan aku tak mau suamiku menepati ucapannya untuk memenggal kepalamu. Jadi lebih baik kau menjauh dariku. Selamat tinggal, jaga dirimu!"
Aku keluar dari kamarnya dan masuk ke kamarku. Kulihat Jakob duduk di ranjangku.
"Apa yang kau lakukan di kamarnya?"
"Ia menawarkan diri membersihkan lukaku. Aku mau mandi. Kau tak mau menemaniku?"
"Aku tak mau kau mendekatinya lagi, atau pria mana pun. Kita jelas?"
"Ya, ya, terserah kau. Kau mau mandi bersamaku atau tidak?"
"Tentu saja mau. Itu tak perlu ditanya dua kali."
Kulihat ia melepas pakaian mandinya hingga telanjang lalu masuk ke kamar mandi. Aku menanggalkan pakaianku dan mengikutinya. Ia membelakangiku. Kucium bahunya, kusibakkan rambutnya ke samping, dan kuciumi lehernya sementara tanganku meremas payudaranya. Kutekan ia ke dinding dan dengan satu hentakan aku masuk ke dalamnya. Yang kudengar hanya erangannya.
"Sebut namaku, Adelina. Aku ingin mendengarnya."
"Ti... tidak akan... kusebut."
Gerakanku makin keras. Kutarik rambutnya.
"Ucapkan, Adelina. Aku ingin mendengarmu menyebut namaku, atau kubuat lebih kasar."
"Lakukan, aku menyukainya."
Nimfomania kecil ini menyukai seks kasar. Kutampar bokongnya dan kulihat kulitnya memerah. Kuhentak lebih keras lagi, kucengkeram lehernya, kudekatkan mulutku ke telinganya.
"Ucapkan, dewiku."
"Ja... kob."
Saat ia menyebut namaku, aku klimaks di dalamnya. Kurasakan jantungku seakan hendak melompat dari dadaku. Kugandeng tangannya dan kubawa ia ke jacuzzi, menjadikannya milikku lagi selama lebih dari satu jam sampai perut kami berbunyi, mengingatkan bahwa sejak pagi kami belum menyentuh makanan.
"Bersiaplah, kita akan makan malam. Aku akan menjemputmu 40 menit lagi. Kubawa kau ke restoran terbaik di kota ini."
"Baiklah."
Ia pergi, meninggalkanku di kamar. Aku mulai mencari busana. Setelah beberapa menit, kupilih gaun cantik untuk kesempatan ini, kupulas riasan sederhana. Saat bercermin, memar itu tak lagi terlihat. Aku siap.