Pada satu malam ... seorang pria merenggut kehormatannya, hingga menanamkan benih dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian ... the twins hadir dikehidupannya. Selama itu tidak ada yang pernah tahu siapa ayah biologisnya, hingga the twins Semi & Arsyad mencari ayah mereka.
Dan di satu waktu Kedua orangtua mereka dipertemukan.
Akankah mereka saling mengenali?
Apa usaha Semi & Arsyad berhasil?
subscribe karya ini untuk ikuti cerita lanjutannya. Jangan jadi pembaca bisu ya, harus like, komen dan vote.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DM
"Zahra ini Ummi. Boleh masuk?"
Tidak ada jawaban. Tapi Ummi tetap membuka pintu kamar putrinya. Dilihatnya Zahra sedang berbaring, pandangannya menatap kosong ke arah jendela.
Ummi Hawa menutup pintu pelan.
"Jika Ummi mau membahas tentang anak-anak, jangan sekarang Ummi. Zahra butuh waktu sendiri."
Ummi Hawa tidak peduli. Dia berjalan terus hingga duduk di samping Zahra.
"Ummi mengerti perasaan kamu. Tapi ... Anak-anak juga tidak salah, mereka hanya ingin tahu siapa papanya. Dan apa yang ditakutkan kini sudah terjadi, mereka mempertanyakan siapa ayahnya."
"Lalu ... Zahra harus jawab apa Ummi?" Zahra bangun dari tidurnya duduk menghadap Ummi.
"Apa Zahra harus katakan mereka tidak punya ayah, dan ibunya tidak pernah menikah. Sakit ... Mi, sakit."
"Ya, kamu pelan-pelan Zahra."
"Menerima mereka saja sulit ... bagi Zahra Ummi. Butuh waktu lama untuk bisa menerima Arsyad dan Semi. Ummi tahu sendiri kan bagaimana aku membenci mereka. Jika melihat mereka aku pasti mengingat masa itu ... Laki-laki itu, yang bahkan Zahra tidak ingat seperti apa rupanya. Dia pasti senang di sana, karena tidak merasa bersalah. Tapi Zahra ... sebagai korban sangat menderita Ummi. Sampai Zahra tidak sanggup lagi melanjutkan hidup. Sampai sekarang ... para tetangga masih membicarakan Zahra."
Keburukan seseorang memang paling diingat oleh siapapun terutama dikalangan masyarakat.
Masih Zahra ingat ketika pulang dari kampus tadi. Zahra, terpaksa melewati jalan kampung untuk membeli sesuatu di warung. Namun, di sana Zahra malah mendengar omongan yang tidak mengenakkan.
"Eh, eh ... Bu. Bukannya itu anak pak Kiyai ya? Yang dulu itu Lo ... pulang dari Korea tahu-tahu tekdung," cibir seorang Ibu yang sedang belanja di warung.
"Sstt .... Jangan keras-keras Bu, nanti denger," imbuh temannya.
"Aisyah namanya," ucap Ibu warung setelah Zahra pergi.
"Iya itu. Sekarang anaknya sudah besar dong. Ngomong-ngomong dia kawin kagak?" tanya Ibu yang pertama.
"Nggak denger Bu. Tapi gak pernah lihat suaminya," sahut Ibu warung.
"Padahal, ya. Kalau dia nggak bunting udah nikah dia sama Mas Azmi anaknya Bapak wali kota itu. Sayangnya dia bunting jadi batal deh, padahal sudah tunangan dulu ya, mau jadi mantu anak pejabat kagak jadi," cibir Ibu yang pertama yang begitu semangat membahas Zahra.
Mereka pikir Zahra sudah pergi, padahal dia diam di balik dinding mushola yang ada di depan warung.
Sangat sakit sekali hati Zahra mengingat dirinya menjadi bahan gunjingan. 5 tahun tidak cukup bagi mereka untuk melupakan keburukan yang tampak dari luar.
Menjelaskan pun percuma. Jika mereka tetap berpandangan buruk ya, sudah. Padahal mereka tidak tahu kejadian sebenarnya.
"Nggak enak Ummi, dibicarakan terus," gumam Zahra.
Ummi hanya bisa bilang "Sabar, ya." Tidak ada kata lain selain itu. Jika mengenai gunjingan Ummi dan Abi sama-sama dibicarakan, bahkan pondok pesantren ikut kena dampak buruknya.
"Ummi keluar dulu, ya. Ummi cuman mau mengingatkan saja, jangan sampai kamu membenci Semi dan Arsyad. Mereka masih kecil untuk mengerti."
Zahra tidak menjawab.
"Ya sudah, kamu istirahat ya. Jangan lupa ambil wudhu terus ngaji biar hati kamu tenang."
Ummi berjalan keluar meninggalkan Zahra sendirian. Di luar Abi Adam ternyata sudah menunggu. Dia duduk di meja makan tepat berada di depan kamar Zahra.
Ummi menghela napas panjang sambil menatap suaminya. Lalu dia mendekat yang langsung duduk di samping Abi.
"Abi tunggu kopi di ruang tengah lama. Ternyata Ummi nya di kamar anak sulung," ucap Abi Adam mencairkan suasana.
"Maaf, ya Bi. Ummi buatkan dulu sebentar."
Abi mengangguk. Ummi bangun dari kursinya berjalan ke arah dapur untuk membuatkan kopi. Selang beberapa menit Ummi kembali dengan secangkir kopi hitam tanpa gula.
Mengingat usia Abi yang sudah tidak muda, dan sering naik gula darahnya maka dokter menganjurkan untuk tidak terlalu sering meminum yang manis-manis. Kopi hitam pun harus tanpa gula sekarang, walau ... tidak enak.
Ummi menuangkan cangkir kopinya di depan Abi lalu duduk kembali.
Abi menyeruput kopi panasnya lebih dulu, sebelum akhirnya bertanya. "Ada apa Ummi?" tanyanya setelah meletakkan cangkir di meja.
Seperti biasa Ummi Hawa selalu menghela nafasnya panjang. Seakan hal yang akan dikatakan terlalu berat.
"Apa yang kita takutkan ternyata kejadian." Ummi diam sejenak. "Anak-anak menanyakan siapa ayahnya. Bahkan mereka bilang apa mereka tidak punya ayah." Liriknya pada Abi. "Ummi jadi bingung mau bilang apa. Dan Zahra ... sangat marah Bi."
"Ya, ini memang tidak mudah bagi Zahra."
"Ini semua karena Bu Maryam. Tadi sore dia datang Bi, marah-marah pula. Dan nuduh kalau Zahra masih deket-deket sama Azmi. Katanya Azmi nggak mau menikah karena Zahra, dasar. Anaknya nggak laku nyalahin anak orang."
"Ssst ... sudah-sudah, jangan dilanjutkan." Abi mengusap paha Ummi untuk menenangkan.
Wajah Ummi terlihat masam. Sebagai orang tua dia tidak rela anaknya dikucilkan.
"Tetangga juga Abi. Mereka masih ... Saja ingat. Siapa sih yang bilang ke mereka."
"Emang kalau Ummi tahu siapa yang kasih informasi ke mereka, mau apa? Mau dihajar? Nggak boleh Ummi. Masa Ummi udah tua gini main hajar sama tetangga, malu ... Jangan ribut."
"Ih ... Abi kebiasaan deh. Jangan ribut, sabar, kalau mereka yang ngajak ribut ya Ummi juga gak bisa diam. Sabar itu ada batasnya, kalau kita dizolimin sama orang yang harus dilawan jangan pasrah yang diam saja."
"Tapi percuma Mi ... tidak bisa merubah apapun. Semua sudah terjadi, mau orang ngomong apa itu hak mereka. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk suka atau percaya. Selama ini kita diuji sangat berat, sampai sekarang pesantren kita kena dampaknya." Abi mulai merenung, wajahnya terlihat sedih.
"Satu persatu mereka pergi, tidak lagi melanjutkan belajarnya di sini. Ada juga yang masih mengungkit hal itu ketika Abi mengikuti pertemuan sesama pendiri pondok. Tapi ... masih ada yang selalu menenangkan Abi. Jadi intinya ... Kita tidak bisa memaksa orang untuk menyukai kita. Tapi kita harus yakin, setiap ujian pasti ada hikmahnya."
"Hikmah apa?" Ummi ngotot.
"Ya, ada. Besok alhamdulilah ... Kita akan kedatangan guru besar, dulu dia mondok di pesantren kita dan sekarang sudah sukses dan menjadi guru besar sekaligus memberikan inspirasi untuk para santri dan santriwati baru. Sekarang kan ajaran baru, banyak yang baru mondok. Dan semoga setelah mereka mendengarkan kata-kata inspiratif darinya akan mempertahankan keunggulan pondok kita." Abi tersenyum di akhir kalimat.
"Aamiin ... Bi," ucap Ummi.
"Kopinya sudah habis Ummi." Ucap Abi sambil menenteng cangkirnya.
"Nggak kerasa Abi sambil ngobrol," seru Ummi. Mereka pun tertawa bersama.
Lain di dalam kamar, Zahra masih murung. Dia tidak melakukan hal yang Ummi sarankan. Ambil wudhu lalu mengaji rasanya malas sekali. Pikiran bad mood membuat Zahra enggan melakukan apapun.
Namun, satu notifikasi dari handphone nya membuat Zahra bangun. Zahra, langsung membuka layar ponsel yang memperlihatkan satu notifikasi dari aplikasi berlogo kamera.
"Ouh ... Dia DM aku. Sudah lama gak DM." Zahra tersenyum setelah melihat nama pembacanya.
****************
Siapa ya kira-kira yang DM Zahra?
Bantu like dan komen dong, jangan sepi begini akunya jadi lemas 😔
Aku jelasin yang sekarang ya🙏
Sebelumya kan author bikin novel ini ingin ikut event tapi yang kemarin itu gak bisa karena publish sebelum bulan Mei. Author tanya dong sama editor dan q&A ternyata tetap gak bisa dan mereka kasih saran kalau mau masuk event novelnya hapus saja lalu upload ulang. yaudahlah aku hapus novel yang kemarin lalu upload ulang.
jadi ... ini bukan plagiat ya, maaf sudah membuat kalian bingung 🙏. Semoga kalian suka dan baca karya ini sampai selesai 🙏