NovelToon NovelToon
Pesugihan Ratu Ular

Pesugihan Ratu Ular

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-

Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.

Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2

****

Malam makin merayap pekat. Hujan deras yang memburu sejak tadi tak juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Di dalam kamar yang dingin, Bagas berlutut di samping tempat tidur ibunya. Ia mengecup dahi Mbok Sumi yang makin mendingin, merasakan keputusasaan yang meremas dadanya tanpa ampun.

"Ibu... maafkan Bagas," bisik Bagas serak, air matanya menyatu dengan bekas keringat di pipi. "Bagas harus pergi sebentar. Tolong bertahan ya, Bu... Bagas pasti kembali membawa obat buat Ibu."

Wanita tua itu hanya mengerang pelan dalam tidurnya yang tidak tenang. Napasnya terdengar berat dan tersendat - sendat. Bagas menyelimuti tubuh ibunya rapat-rapat, lalu melangkah mantap menuju sudut dapur. Ditinggalkannya rasa takutnya di ambang pintu, digantikannya dengan nekat yang memuncak. Ia menyambar sebuah lentera minyak kusam dan parang tua berhulu kayu yang biasa ia gunakan untuk mencari kayu bakar.

Begitu pintu rumah terbuka, angin malam bercampur goresan air hujan langsung menyenggol wajahnya. Cahaya dari lentera minyak di tangannya bergoyang hebat, hampir padam terhantam angin. Tanpa membuang waktu, Bagas menerobos kegelapan malam, membiarkan tubuhnya basah kuyup tersiram hujan lebat.

Langkah kakinya membawa Bagas melintasi batas luar Desa Lemah Wungu, menuju ke arah utara di mana pepohonan makin rapat dan menjulang tinggi. Hutan Sendang Manten. Sebuah tempat yang sejak kecil selalu diajarkan oleh para tetua untuk dijauhi, kawasan terlarang yang menyimpan misteri kelam.

Semakin dalam Bagas melangkah masuk ke dalam hutan, suasana berubah makin tidak wajar. Suara gemercik air hujan yang tadinya samar kini kalah oleh gemuruh angin yang bersiul aneh di antara selah-selah pohon bambu raksasa.

"Sssshhhh... Bagasss..."

Bagas mendadak menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengangkat lentera minyak lebih tinggi, mencoba menembus tirai hujan yang pekat.

"Siapa itu?" teriak Bagas, suaranya parau tergerus angin malam. "Siapa di sana?!"

Tidak ada jawaban berupa suara manusia. Namun, dari balik semak belukar yang lebat, muncul bisikan-bisikan asing bergelombang. Suara itu terdengar seperti puluhan orang yang saling berbisik secara bersamaan, tumpang tindih dalam bahasa kuno yang tak sanggup dipahami akalnya.

"Pulanglah, pemuda..." bisik sebuah suara melengking di sebelah kirinya.

"Tempat ini bukan untuk jiwa yang bernapas..." sahut suara lain, kali ini begitu dekat di belakang tengkuknya.

Bagas dengan cepat memutar badan sambil mengacungkan parangnya ke udara. "Jangan ganggu aku! Aku tidak punya urusan dengan kalian!"

Napas Bagas memburu. Ia memaksakan kakinya terus melangkah maju. Namun, hutan seperti menolak kehadirannya. Akar-akar pohon beringin raksasa yang melingkar di atas tanah seolah bermunculan lebih tinggi, sengaja mengait ujung kakinya hingga Bagas beberapa kali tersandung dan jatuh terjerembap di atas tanah lumpur yang licin.

"Akh!" Bagas meringis kesakitan saat lututnya menghantam batu tajam. Lentera di tangannya terlempar beberapa meter, nyalanya redup memancarkan cahaya kekuningan yang makin lemah.

Saat Bagas hendak merangkak mengambil lenteranya, bayangan-bayangan hitam berukuran tinggi besar mendadak bermunculan di antara celah pohon. Bayangan itu tidak berwujud tegas, melainkan asap pekat yang membentuk siluet makhluk-makhluk mengerikan bermata merah menyala. Mereka berdiri mengelilinginya, menutup akses jalan maju maupun mundur.

“Mau ke mana kamu, Anak Manusia?” gema sebuah suara berat yang menggetarkan isi dadanya. “Memasuki wilayah ini berarti menyerahkan nyawamu!”

Bagas mengepalkan jemarinya di atas lumpur basah. Rasa takut yang sempat menyergapnya perlahan sirna, tergantikan oleh wajah ibunya yang sedang sekarat di rumah.

"Aku tidak takut pada kalian!" teriak Bagas seraya berdiri tegak. Ia menyambar lenteranya kembali, menatap lurus ke arah mata-mata merah di dalam kegelapan. "Aku datang bukan untuk mencari masalah! Aku cuma butuh jalan menuju Sendang Manten!"

“Sendang Manten adalah istana kesucian dan kegelapan! Orang miskin dan hina seperti dirimu hanya akan jadi santapan!” bentak bayangan hitam itu, disusul tawa melengking yang memekakkan telinga.

Bagas mengayunkan parangnya membelah udara kosong di depannya. "Singkirkan bayangan kalian dari jalanku! Jika Ratu kalian mau mengambil nyawaku, biarkan Dia sendiri yang mengambilnya! Bukan kalian monster-monster pesuruh!"

Suasana mendadak menjadi sangat hening. Tawa melengking itu terhenti seketika. Bayangan-bayangan hitam yang tadinya mengurung Bagas perlahan menyusut dan menghilang ke dalam tanah, seolah-olah takut atau patuh pada sebuah keberadaan yang jauh lebih tinggi dan berkuasa.

Bagas menelan ludah. Keringat dingin bercampur air hujan mengalir deras di wajahnya. Tanpa memikirkan apa yang baru saja terjadi, ia kembali menghentakkan kakinya melangkah lebih dalam.

Anehnya, semakin jauh ia melangkah, rintik hujan lebat yang semula mengguyur deras perlahan mereda. Gemuruh guntur di langit malam berganti menjadi kesunyian yang mencekam. Pepohonan berduri di sekelilingnya makin rapat, forming lorong alami yang hanya bisa dilalui satu orang.

Hingga akhirnya, langkah Bagas terhenti di sebuah tebing batu.

Di depan matanya, terhampar sebuah telaga air tawar yang sangat luas. Airnya tenang bagai kaca hitam, tak bergelombang sedikit pun meski angin malam bertiup. Di ujung telaga, sebuah air terjun raksasa mengalir deras dari puncak tebing, ditutupi oleh jalinan akar-akar pohon beringin tua yang menjuntai dramatis.

Tempat inilah yang diceritakan oleh Mbah Dirjo. Sendang Manten.

Namun, ada yang berbeda dengan tempat ini. Udara di tepi telaga terasa teramat sangat dingin, menusuk hingga ke dalam sumsum tulang. Bau tanah basah dan daun busuk yang tadi menyengat kini hilang sepenuhnya, berganti dengan aroma wangi bunga melati yang amat pekat—begitu tajam hingga membuat kepala Bagas terasa sedikit pusing.

Kabut tebal berwarna hijau samar mulai merayap keluar dari permukaan air telaga, mengapung rendah membasahi bebatuan di tepi sendang.

Bagas berjalan perlahan mendekati pinggiran air telaga. Ia meletakkan lentera minyak dan parangnya di atas batu datar yang ditumbuhi lumut basah. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena dinginnya malam, melainkan karena aura sakral dan mistis yang mendominasi seluruh tempat itu.

"Aku... aku sudah di sini," bisik Bagas pada kegelapan di atas air telaga. Suaranya bergema samar di antara tebing-tebing batu.

Kabut hijau di permukaan air berputar pelan, seolah merespons panggilan pemuda itu. Keheningan yang tercipta terasa begitu menekan, seolah seluruh penghuni hutan sedang menahan napas menyaksikan siapa yang berani menapakkan kaki di wilayah keramat tersebut.

Bagas berlutut di tepi air, menatap bayangan dirinya sendiri di atas permukaan air telaga yang hitam legam.

"Mbah Dirjo bilang... di balik air terjun ini ada penguasa tempat ini," ucap Bagas, kali ini dengan suara yang lebih mantap meski hatinya bergetar hebat. "Siapa pun Anda... Ratu Ular penguasa Sendang Manten... dengarkan aku!"

Suara gemericik air terjun seolah meredup. Bunga-bunga melati gaib yang tidak terlihat wujudnya seakan berguguran, membuat aroma wangi di udara makin mencekam dan pekat.

Bagas memejamkan mata erat-erat, mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Ia tahu, langkah yang diambilnya malam ini tidak akan pernah bisa ditarik kembali. Di tepi telaga keramat ini, ia sedang berdiri di batas antara dunia manusia dan kegelapan alam gaib.

Bersambung.....

1
Yiruma Nitya
Jadi makin penasaran, gimana adegan pas ketemu sama Ratunya
Yiruma Nitya
Aku mampir ya kak, baca pelan pelan semangat buat kknya, ceritanya bagus 👍
Yiruma Nitya: Iya kak mampirin aku juga ya masih belajar, mohon bimbingan dan koreksinya🤭👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!