"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."
Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.
Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.
Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolak Tumpangan 12.
Tahu bulat di dalam kantong plastik itu sudah agak mengempis, tapi uap panasnya masih mengepul, membawa aroma penyedap rasa rasa balado yang menyengat. Vanya tertawa manja, menusuk satu bulatan tahu dengan lidi, lalu menyodorkannya ke depan mulut Firdaus.
"Aaa… buka mulutnya, Us. Ini anget banget tahu, pas buat cuaca mendung gini," rengek Vanya, tubuhnya sengaja dipepetkan ke lengan Firdaus yang terbalut jaket denim.
Mereka sedang duduk di bangku panjang semen di depan ruko bimbel SSC. Tempat itu ramai anak sekolah dari berbagai penjuru kota yang sedang menunggu kelas sore dimulai.
Tapi fokus Firdaus sama sekali tidak ada pada Vanya, pun tidak pada tahu bulat yang digoreng dadakan itu.
Matanya lurus menatap ke arah seberang jalan, tepat ke arah halte bus.
Di sana, Elsa sedang berdiri bersama dua teman bimbelnya. Gadis itu mengenakan kardigan rajut warna krem, kontras dengan langit sore yang kian menggelap. Elsa sedang mendengarkan temannya bercerita, lalu sedetik kemudian, dia tertawa lepas.
Tawa itu nyata. Bebas. Tanpa beban.
Firdaus mengepalkan tinjunya di dalam saku jaket. Ada rasa panas yang mendadak membakar dadanya—sebuah kombinasi antara ego yang terluka dan kerinduan yang mencekik.
Dulu, kalau Elsa melihat Firdaus sedekat ini dengan cewek lain, apalagi dengan Vanya, Elsa pasti sudah datang mengamuk.
Gadis itu bakal merebut kantong tahu bulatnya, membuangnya ke tempat sampah, lalu menarik kerah seragam Firdaus sambil menangis enggak jelas.
Tapi sekarang? Elsa sempat menoleh ke arah ruko bimbel. Matanya sempat berpapasan dengan mata Firdaus. Namun, pandangan Elsa melewatinya begitu saja, sedingin angin sore yang berembus kencang. Elsa melihat Firdaus dan Vanya seperti melihat sepasang manusia asing yang tidak sengaja berbagi ruang publik.
"Firdaus! Ih, kok malah bengong sih? Dicuekin mulu dari tadi!" Vanya menyentak lengan Firdaus kesal, menurunkan lidinya dengan cemberut. "Kamu kenapa sih semenjak kejadian di sekolah kamu tadi siang jadi aneh gini? Kalau nggak niat nemenin aku, bilang!"
Firdaus mengembuskan napas berat, menepis pelan tangan Vanya. "Gue nggak laper Vanya, Kalau lo mau makan, makan aja sendiri."
Harga diri Firdaus rasanya sudah seperti diinjak-injak, bukan oleh makian, tapi oleh ketidakpedulian Elsa yang teramat mutlak.
"Gue masuk duluan. Kelas bentar lagi mulai," ucap Firdaus dingin. Dia berdiri, meninggalkan Vanya yang menghentakkan kakinya kesal di koridor ruko
**
Tiga jam berlalu seperti siksaan yang lambat bagi Firdaus.
Di dalam kelas bimbel yang ber-AC, otaknya sama sekali tidak bisa mencerna rumus-rumus fisika di papan tulis.
Matanya terus melirik ke barisan bangku depan, tempat Elsa duduk dengan tekun, mencatat setiap penjelasan guru dengan rapi.
Tepat pukul delapan malam, bel tanda kelas berakhir berbunyi.
Di luar dugaan, langit seolah mendukung kekacauan hati Firdaus.
Petir menyambar, disusul suara gemuruh, dan dalam hitungan detik— hujan deras langsung mengguyur bumi dengan intensitas yang masif. Tirai air yang tebal langsung menutup jarak pandang.
Para siswa menumpuk di lobi bimbel, mengeluh karena jemputan mereka terhambat.
Firdaus bergerak cepat. Dia mengambil ranselnya, berjalan ke arah parkiran motor yang terlindung kanopi, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam bagasi motor sportnya.
Dua buah jas hujan. Satu model kalong miliknya, dan satu lagi jas hujan ponco warna merah muda bermotif kelinci punya adik sepupunya yang tertinggal.
Firdaus memeluk jas hujan itu erat-erat. Jantung nya berdegup kencang.
Momen ini adalah kesempatannya. Dalam kondisi hujan sederas ini, angkot akan jarang, dan ojek online pasti akan memasang tarif mahal atau bahkan sulit didapatkan.
Elsa tidak punya pilihan selain menerima bantuannya.
Dengan langkah mantap, Firdaus menuntun motornya mendekati area lobi tempat para siswa berteduh.
Begitu dia melihat siluet Elsa yang sedang berdiri di dekat tangga, menatap rintik hujan dengan cemas, Firdaus langsung memotong jarak.
"Sa," panggil Firdaus. Suaranya agak meninggi, bersaing dengan suara derasnya hujan yang menghantam atap seng.
Elsa menoleh. Alisnya bertaut sedikit, tapi ekspresinya langsung kembali datar. "Ya, Kak?"
"Hujan deras banget. Angkot jam segini pasti penuh dan macet parah di persimpangan depan," kata Firdaus, berusaha membuat suaranya terdengar se-kasual dan selembut mungkin, menyembunyikan getar gugat di dalamnya.
Dia menyodorkan jas hujan merah muda itu ke depan Elsa. "Gue bawa jas hujan dua. Yuk, bareng gue aja. Gue anter sampai depan pagar rumah lo dengan aman."
Beberapa anak sekolah di sekitar mereka mulai melirik. Mereka tahu sejarah rumit antara sang mantan ketua OSIS dan gadis di depannya.
Elsa menatap jas hujan di tangan Firdaus, lalu beralih menatap mata cowok itu. Tidak ada keraguan di matanya. Hanya ada kelelahan yang samar.
"Nggak usah, Kak. Makasih," jawab Elsa pendek, suaranya tenang namun menolak dengan mutlak.
"Sa, jangan keras kepala," sela Firdaus cepat, egonya mulai tersenggol karena penolakan di depan umum. "Ini demi kebaikan lo sendiri. Lo gampang sakit kalau kena angin malam plus air hujan. Angkot nggak bakal ada yang kosong jam segini."
Tepat saat kata-kata itu selesai diucapkan, sebuah angkutan umum warna biru tua melambat di depan lobi bimbel.
Kondisinya mengenaskan—kaca-kacanya berembun tebal, dan dari luar terlihat jelas tubuh para penumpang berdesakan di dalamnya, saling berhimpitan seperti sarden dalam kaleng. Khas angkot di jam pulang bimbel saat cuaca buruk.
"Naik, Bang!" teriak Elsa tiba-tiba, suaranya lantang memecah suara hujan.
Gadis itu sama sekali tidak memedulikan argumen Firdaus. Dia langsung merapatkan kardigannya, menerobos rintik air yang tampias ke lobi, dan melangkah lebar menuju pintu angkot yang terbuka.
"Elsa! Lo gila? Angkotnya penuh sesak begitu!" Firdaus berteriak, refleks menahan pergelangan tangan Elsa.
Elsa menghentikan langkahnya tepat di batas pancuran air atap. Dia menepis tangan Firdaus, kali ini dengan sentakan yang tegas hingga pegangan Firdaus terlepas.
Elsa menatap Firdaus lurus-lurus. Untuk pertama kalinya hari itu, ada kilat emosi di matanya, tapi bukan emosi cinta atau cemburu. Itu adalah emosi muak.
"Gue lebih milih sesak napas di dalam angkot itu, Kak, daripada harus satu motor sama lo," ucap Elsa, pelan namun tajam menusuk tepat di pusat rasa bersalah Firdaus. "Angkot penuh itu cuma bikin badan gue capek. Tapi dekat sama lo? Itu bikin gue gak nyaman."
Setelah mengucapkan kalimat yang menghancurkan seluruh sisa kesombongan Firdaus, Elsa berbalik.
Tanpa ragu, dia melompat masuk ke dalam angkot yang penuh sesak itu, membiarkan tubuhnya berdesakan dengan penumpang lain demi bisa menjauh dari Firdaus.
Angkot itu perlahan bergerak maju, membelah genangan air dan menghilang di balik tirai hujan lebat.
Firdaus berdiri mematung di pinggir lobi.
Air hujan mulai membasahi sepatu dan ujung celananya, tapi dia tidak peduli.
Jas hujan merah muda di tangannya perlahan merosot, jatuh ke lantai lobi yang basah, kotor terkena cipratan tanah.
Dia menatap jalanan yang kosong dengan dada yang lowong.
......................
...****************...
Tbc,