Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: 'Hutan Hantu'
Deg deg deg deg deg deg!
Jantung Lin Wanru berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya seolah ingin keluar. Di tengah kesunyian hutan yang lembab dan dipenuhi kabut tipis pagi hari, suara gemerisik itu semakin mendekat.
Jemarinya mencengkeram erat permukaan batu basah tempat ia duduk, sementara matanya menatap tajam ke arah semak-semak belukar berdaun lebar yang bergetar hebat di sebelah kanannya.
"Apakah itu serigala? Atau babi hutan?" batin Wanru, menyadari bahwa ia tidak memiliki senjata apa pun untuk membela diri, bahkan sebilah pisau kecil atau tongkat runcing pun tidak ada di tangannya.
Krosak... krosak...
Suara itu berhenti tepat di balik rumpun pakis liar. Tiba-tiba, dari celah dedaunan, muncul dua buah telinga panjang yang bergerak-gerak lucu, disusul oleh hidung berbulu putih yang mengendus-endus udara dengan hati-hati.
Lin Wan menahan napasnya. Seekor kelinci liar berbulu abu-abu kecokelatan dengan bercak putih di dadanya melompat keluar dari balik semak. Binatang itu tampak terkejut begitu melihat sosok manusia duduk terpaku di atas batu besar, namun ia tidak langsung kabur karena mengira Lin Wan adalah bagian dari tunggul kayu yang mati.
Suasana hening seketika. Wanru menatap kelinci gemuk itu, dan secara perlahan, tatapan matanya yang tadi dipenuhi rasa takut berubah drastis menjadi tatapan seorang predator yang sedang mengincar mangsa.
Di dalam kepala Wanru, gelombang alarm biologis berteriak kencang. Perutnya yang kosong melilit hebat, mengirimkan sinyal rasa sakit yang langsung membakar kerongkongannya.
"Daging... itu adalah protein murni dan lemak hewani," batin sang mantan CEO dengan kalkulasi cepat. "Di tubuh yang kekurangan gizi kronis ini, karbohidrat dari umbi hutan saja tidak akan cukup untuk memulihkan massa otot dan sistem metabolisme. Aku butuh nutrisi. Aku butuh kelinci itu."
Namun, keinginan dan kenyataan berbenturan telak. Wanru melirik kakinya sendiri yang masih bergetar lemah. Jangankan berlari mengejar kelinci yang terkenal lincah dan cepat, untuk berdiri tegak saja ia harus mengerahkan seluruh sisa tenaga di tubuh remajanya.
Kelinci itu mengendus-endus tanah sekali lagi, lalu mulai melompat mendekati sepetak rumput segar di dekat kaki batu tempat Wanru duduk, hingga jarak mereka kini tidak sampai dua meter.
"Ini adalah kesempatan emas," pikir Wanru. "Jika aku melewatkannya, aku mungkin akan pingsan kelaparan sebelum matahari mencapai tengah hari."
Wanru perlahan-lahan menggeser tubuhnya. Ia menahan napas, dan berusaha agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Gerakannya sangat lambat, setara dengan gerakan jarum jam, mengingat setiap tarikan ototnya terasa begitu menyiksa dan memicu rasa pusing di kepalanya.
Tepat saat kelinci itu menunduk untuk memakan pucuk rumput, Wanru melompat menerkam ke depan dengan sisa tenaga terakhirnya!
Bruk!
Namun, gerakan itu jauh lebih lambat dari perkiraannya. Kelinci yang memiliki refleks tajam langsung merasakan perubahan udara di sekitarnya. Binatang itu melompat ke samping dengan gesit sesaat sebelum tangan Wanru menyentuh tanah kosong.
"Sial!" geram Wanru tertahan.
Tangannya hanya berhasil mencengkeram seenggenggam tanah basah dan rumput liar. Tubuhnya yang lemas membuatnya tersungkur jatuh ke atas tanah hutan yang dingin. Siku tangannya terbentur akar pohon keras, hingga menghasilkan rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang.
Adapun kelinci itu, ia berlari beberapa meter menjauh, lalu berhenti dan menoleh ke belakang seolah sedang mengejek manusia bodoh yang mencoba menangkapnya.
"Kau sangat beruntung kelinci kecil"
Wanru terbaring di atas tanah, napasnya tersengal-sengal hebat. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, menyatu dengan debu dan noda tanah hutan.
Rasa sakit di sekujur tubuhnya berlipat ganda, dan kepeningan yang teramat sangat membuat pandangannya berbinar-binar.
"Apakah aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa?" batinnya berteriak frustrasi. "Apakah tubuh ini begitu lemah hingga menangkap seekor kelinci kecil saja menjadi hal yang mustahil?"
Untuk sesaat, rasa putus asa hampir meruntuhkan pertahanan mentalnya. Dunia kuno ini terasa begitu kejam, mempermainkan jiwanya yang terbiasa memimpin dan menguasai keadaan.
Namun, Lin Wanru bukan tipe orang yang menyerah hanya karena satu kegagalan. Ia menutup matanya sejenak, mengatur ritme pernapasannya yang kacau, dan mematikan emosi frustrasinya.
"Buka matamu, Wanru," bisiknya pada diri sendiri di dalam hati. "Kau adalah seorang ahli strategi. Mengapa kau mencoba menangkap kelinci menggunakan otot kasar ketika fisikmu sedang hancur? Seekor predator sejati tidak menggunakan tenaga mentah, melainkan akal dan jebakan."
Wanru membuka matanya kembali. Sorot matanya berubah dari keputusasaan menjadi dingin dan penuh perhitungan. Ia kemudian bangkit secara perlahan dengan bertumpu pada batang pohon terdekat, lalu mengamati lingkungan sekitar dengan cermat.
Ia melihat pola jalur pelarian kelinci tadi. Binatang itu selalu melompat ke arah celah sempit di antara dua batu besar yang tertutup semak berduri. Di tempat itu, jalurnya menyempit.
Wanru tidak mengejar kelinci itu. Sebaliknya, ia mulai mengumpulkan ranting-ranting kayu yang kuat, beberapa helai rumput panjang yang berserat tinggi, serta batu pipih yang cukup tajam di tepi sungai kecil yang tidak jauh dari tempatnya.
Meskipun tangannya gemetar dan napasnya masih terengah-engah, jemarinya bergerak dengan terampil dan sistematis.
Menggunakan pengetahuannya tentang teknik bertahan hidup di alam liar yang ia pelajari dari berbagai literatur riset agrikultur dan ekspedisi masa lalu, ia merajut sebuah jerat sederhana namun mematikan, sebuah perangkap injak dari ranting lentur dan serat rumput.
**
Waktu berlalu tanpa terasa. Matahari perlahan bergeser ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang menembus dahan-dahan lebat hutan.
Wanru duduk bersandar di balik batang pohon besar, menjaga jarak agar bau tubuhnya tidak terlalu menyengat ke arah perangkap yang telah ia pasang di jalur lintasan hewan.
Ia menunggu hampir dua jam penuh. Tubuhnya terasa kaku, dan perutnya bergemuruh meminta makan. Rasa lelah yang luar biasa menghantam kesadarannya, hingga membuat matanya terasa berat.
Krosak...
Sebuah suara kecil terdengar dari arah jalur sempit di antara batu besar. Wanru langsung membuka matanya lebar-lebar, dan seluruh rasa lelahnya pun menguap seketika.
Dari balik semak, kelinci yang sama, atau mungkin kawanannya, kembali muncul, melompat pelan menyusuri jalur yang sama tanpa curiga. Binatang itu melangkah tepat ke atas area rumput tempat perangkap jerat Wanru disembunyikan.
Kklik!
Suara ranting yang mengetat berbunyi tajam. Dalam sepersekian detik, jerat serat rumput yang ditarik oleh lenturan kayu menyergap kaki belakang kelinci tersebut, hingga mengangkatnya tergantung terbalik di udara!
Kelinci itu meronta-ronta, dan mengeluarkan suara decitan kecil yang panik.
Wanru pun bangkit berdiri dengan susah payah. Senyuman tipis juga tersungging di bibirnya yang pucat. Ia lalu melangkah mendekati perangkap tersebut, meraih kelinci yang tergantung dengan tangan gemetar namun mantap.
"Dunia ini boleh merendahkanku, tubuh ini boleh lemah," bisik Wanru pelan sambil menatap tangkapannya dengan tatapan tajam, "tapi selama aku masih punya otak di kepala ini, aku tidak akan pernah membiarkan diriku kalah."
Menjelang malam, Wanru berjalan kembali keluar dari hutan menuju gubuk reyot di ujung desa. Langkah kakinya masih pincang, dan napasnya berat, namun di tangan kanannya, ia memegang seekor kelinci buruan yang berhasil ia tangkap dengan kecerdikannya sendiri.
Ketika ia mendekati halaman gubuk, ia melihat Nyonya Lin dan Lin Bao sedang duduk di depan pintu dengan berlinang air mata. Mereka tampak bingung dan ketakutan karena tidak menemukan Wanru di dalam rumah sejak siang tadi.
"Wan-er! Ya Tuhan, dari mana saja kau?!" teriak Nyonya Lin histeris, sambil berlari menghampiri putrinya dan langsung mendekap tubuh kurus itu erat-erat, mengabaikan debu dan kotoran di pakaian Wanru.
Lin Bao pun ikut berlari, lalu memeluk pinggang kakaknya sambil terisak. "Kakak... Kakak pergi ke mana? Kami takut Kakak hilang..."
Wanru merasakan kehangatan yang asing namun menenangkan meresap ke dalam dadanya. Ia mengangkat tangan kanannya, dan menunjukkan kelinci tangkapannya ke hadapan ibu dan adiknya.
"Ibu, Bao-er, jangan menangis," ucap Wanru dengan suara lembut namun terdengar tegas. Ia tersenyum, sebuah senyuman tulus pertama yang menunjukkan bahwa badai terburuk baru saja dilewati. "Mulai hari ini, kita tidak akan kelaparan lagi."
Bersambung...