NovelToon NovelToon
DIA LELAKI YANG BERBAHAYA, TAPI AKU MENCINTAINYA

DIA LELAKI YANG BERBAHAYA, TAPI AKU MENCINTAINYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:526
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.

Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.

Dominic Lorenzo Imanuel.

Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara dari Masa Lalu

Isabella masih berdiri mematung di tengah kamarnya. Ponsel yang terjatuh di lantai tergeletak beberapa langkah dari kakinya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa kedua tangannya gemetar hebat.

Suara itu.

Suara yang baru saja didengarnya adalah suara perempuan yang selama ini hanya bisa ia kenang melalui rekaman lama dan video keluarga.

Suara ibunya.

“Mom...” bisiknya.

Dominic mendekat, lalu mengambil ponsel Isabella dari lantai.

“Isabella, look at me.”

Namun perempuan itu seperti tidak mendengarnya.

“She called me. Itu benar-benar ibuku, kan?”

Dominic mengangguk pelan.

“I heard her voice.”

“She's alive...” Air mata mengalir di pipi Isabella. “My mother is alive.”

Dominic tidak langsung menjawab. Ia tahu betapa besar harapan yang baru saja tumbuh di hati perempuan itu. Namun ia juga tahu bahwa dalam dunia yang selama ini ia jalani, harapan bisa menjadi senjata paling berbahaya.

“Don't make any decisions until we know where she is.”

Isabella menatapnya tajam.

“Kau bahkan tidak akan mencoba mencarinya?”

“I will.”

“Then do it!”

Dominic mengangkat ponselnya dan menghubungi Alessandro.

“Trace the call. I want the location, the network, and every possible lead. Get our best people on it.”

“Understood, boss.”

Dominic memutus sambungan.

Isabella mengusap air matanya.

“Aku harus menemukannya.”

“I know.”

“Tidak, Dominic. Kau tidak mengerti. Aku sudah hidup tanpa ibu selama dua puluh tiga tahun. Aku bahkan tidak punya kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Kalau dia benar-benar masih hidup, aku tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kami lagi.”

Dominic menatapnya cukup lama.

“I won't let anyone hurt you.”

Isabella menggeleng.

“Stop promising things you can't guarantee.”

Kalimat itu membuat Dominic terdiam. Ia tahu perempuan itu benar. Ia pernah berjanji kepada Elena untuk melindunginya, tetapi dua puluh tahun berlalu dan ia masih belum menemukan perempuan itu.

Kali ini, ia tidak ingin mengulangi kegagalannya.

Pukul dua dini hari, Dominic berada di ruang pengawasan bersama Alessandro dan beberapa anggota kepercayaannya.

Di hadapan mereka terdapat beberapa layar yang menampilkan rekaman kamera keamanan mansion.

“Any progress?” tanya Dominic.

Alessandro menggeleng.

“The call was routed through several temporary servers. Whoever contacted Miss Laurent knew how to hide their tracks.”

“Find the original source.”

“We're trying, sir.”

Dominic menatap layar yang memperlihatkan lorong kamar Isabella.

“Someone entered her room without triggering the alarm. That means they knew our security system.”

Alessandro mengangguk.

“There's another possibility.”

“Speak.”

“Someone inside the mansion helped them.”

Ruangan mendadak sunyi.

Dominic menatap anak buahnya.

“You think we have a traitor?”

“I don't want to make assumptions, boss. But we should investigate everyone.”

Dominic berdiri.

“Do it quietly. Nobody leaves until I say so.”

“Yes, boss.”

Sebelum Dominic meninggalkan ruangan, Alessandro memanggilnya.

“There's one more thing.”

Dominic menoleh.

“We recovered a deleted file from the security server. It contains an image captured near the east gate.”

Alessandro menampilkan sebuah foto.

Dominic mendekat.

Foto itu memperlihatkan seorang perempuan mengenakan mantel panjang berwarna hitam. Wajahnya tertutup sebagian oleh syal, tetapi ada sesuatu yang membuat Dominic mengenali sosok tersebut.

Ia membeku.

“Where did you get this?”

“From the east gate camera. The timestamp is thirty minutes before Miss Laurent received the call.”

Dominic memperbesar foto itu.

Di tangan perempuan tersebut terdapat sebuah gelang perak berbentuk bulan sabit.

Gelang yang sama dengan milik Elena.

“Find her,” perintah Dominic dengan suara dingin. “I don't care how. Find her.”

Sementara itu, Isabella duduk di tepi ranjang dengan foto ibunya di tangan.

Ia memperhatikan wajah Elena berkali-kali. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Mengapa ibunya tidak pernah kembali? Siapa yang membawanya pergi? Mengapa ayahnya menyembunyikan semuanya?

Dan yang paling penting, apakah ibunya benar-benar ingin bertemu dengannya?

Ketukan terdengar dari pintu.

“Come in.”

Dominic masuk dengan dua cangkir teh hangat.

“You haven't slept.”

“Aku tidak bisa tidur.”

Ia meletakkan salah satu cangkir di meja.

“Drink this.”

Isabella menatap cangkir tersebut.

“Is it poisoned?”

Dominic mengangkat sebelah alis.

“Would I poison someone I'm trying to protect?”

“Dengan reputasimu, I wouldn't be surprised.”

Senyum tipis muncul di wajah Dominic.

“Careful, Isabella. You're starting to sound like you enjoy annoying me.”

“Maybe I do.”

Dominic duduk di kursi dekat jendela.

Isabella kembali menatap foto ibunya.

“Can I ask you something?”

“Go ahead.”

“Were you close to my mother?”

Dominic terdiam sejenak.

“She was one of the few people who could talk to me without being afraid.”

Isabella tersenyum kecil.

“Sounds like me.”

“Unfortunately.”

Isabella memukul pelan bantal di sampingnya ke arah Dominic.

“Rude!”

Dominic menangkap bantal itu dengan satu tangan.

“See? Exactly like her.”

Isabella terdiam. Senyum kecilnya perlahan menghilang.

“Did she ever talk about me?”

Dominic mengangguk.

“Every time I saw her.”

“Apa yang dia katakan?”

“She used to say that you had the brightest smile. She wanted you to grow up away from violence, away from people like me.”

Isabella menunduk.

“Then why am I here?”

“Because the past has finally caught up with you.”

Ia mengangkat wajah.

“Dominic, aku ingin tahu sesuatu. Apa sebenarnya hubungan ibuku dengan keluarga Imanuel?”

Dominic mengusap dagunya.

“Your mother was entrusted with something valuable. Something several powerful families wanted.”

“Uang?”

“No.”

“Perusahaan?”

“No.”

“Then what?”

Dominic menatapnya lurus.

“A name.”

Isabella mengerutkan kening.

“A name?”

“An identity that could expose a secret powerful enough to destroy several empires.”

Isabella hendak bertanya lagi, tetapi Dominic mengangkat tangan.

“I can't tell you more until I know who is watching us.”

Pagi mulai menyinari jendela mansion ketika Richard akhirnya kembali.

Namun ia tidak datang sendirian.

Dua orang pria berpakaian hitam berjalan di belakangnya. Wajah Richard tampak tegang dan lelah.

Isabella yang sedang sarapan langsung berdiri.

“Ayah!”

Richard menoleh.

“Isabella, we need to talk.”

“Where were you last night?”

“I had something important to take care of.”

“Something more important than your daughter?”

Richard terdiam.

Dominic muncul dari tangga.

“Interesting timing, Richard.”

Richard menatapnya tajam.

“I need to speak with my daughter privately.”

“Not happening.”

“Dominic, this is a family matter.”

“And someone broke into my mansion last night. So it became my matter.”

Richard menghela napas panjang.

Isabella menatap ayahnya.

“Aku menerima telepon dari Ibu.”

Wajah Richard berubah seketika.

“What?”

“She called me. Dia bilang jangan percaya Ayah.”

Richard memejamkan mata.

“Did she say anything else?”

Isabella menggeleng.

“Kenapa Ayah terlihat tidak terkejut?”

Richard tidak menjawab.

Dominic melangkah mendekat.

“Tell her, Richard.”

Richard menatap Dominic.

“Stay out of this.”

“Twenty years of silence is enough.”

Isabella merasa jantungnya berdegup semakin cepat.

“Apa yang harus Ayah ceritakan?”

Richard akhirnya duduk. Ia mengusap wajahnya sebelum mulai berbicara.

“Dua puluh tahun lalu, ibumu memang tidak meninggal. Dia dibawa pergi setelah sebuah serangan terhadap keluarga kami.”

“Siapa yang membawanya?”

Richard menatap Isabella dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Orang-orang yang bekerja untuk Rafael De Luca.”

Dominic mengepalkan tangannya.

“That's not the whole truth.”

Richard mengabaikannya.

“Setelah ibumu menghilang, Ayah menerima ancaman. Mereka mengatakan jika Ayah mencoba mencarinya, mereka akan mengambilmu juga.”

Isabella menutup mulutnya.

“Jadi Ayah memilih diam?”

“Ayah ingin kau tetap hidup.”

“Dan membiarkan aku tumbuh dengan keyakinan bahwa ibuku sudah meninggal?”

Richard menunduk.

“I thought it was the only way.”

Isabella menggeleng perlahan.

“Tidak. Ayah hanya memilih jalan yang paling mudah untuk Ayah sendiri.”

Air mata mengalir di wajah Richard.

Namun sebelum ia sempat menjawab, Alessandro berlari memasuki ruang makan.

“Boss!”

Dominic langsung menoleh.

“What?”

“We found the woman from the east gate.”

“Where?”

Alessandro menyerahkan sebuah foto.

“She's at an abandoned villa outside Madrid.”

Isabella segera mendekat.

“Is that my mother?”

Alessandro mengangguk ragu.

“We believe so, miss.”

Dominic mengambil kunci mobil dari meja.

“Prepare the cars. We're leaving in five minutes.”

Richard langsung berdiri.

“I'm coming with you.”

Dominic menatapnya dingin.

“You've done enough.”

“She's my wife!”

“And she's the woman I promised to protect.”

Isabella berdiri di antara mereka.

“Stop! Aku ikut.”

Dominic langsung menggeleng.

“No.”

“She's my mother!”

“It's too dangerous.”

Isabella menatapnya tajam.

“Kalau kau benar-benar ingin melindungiku, berhentilah menyembunyikanku dari hidupku sendiri.”

Dominic terdiam.

Beberapa detik kemudian, ia menghela napas.

“Fine. But you stay beside me. No matter what happens.”

Isabella mengangguk.

Namun saat mereka hendak meninggalkan ruang makan, ponsel Dominic berdering.

Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

DON'T COME TO THE VILLA, KING.

Pesan kedua muncul beberapa detik kemudian.

YOUR LITTLE PRINCESS WILL FIND HER MOTHER, BUT SHE WON'T LIKE WHAT SHE FINDS.

Dominic menatap layar dengan rahang mengeras.

Lalu pesan ketiga masuk.

Sebuah foto memperlihatkan Elena sedang duduk di sebuah ruangan gelap. Wajahnya pucat, tetapi matanya mengarah tepat ke kamera.

Di bawah foto itu tertulis:

ASK HER WHY SHE NEVER TOLD YOU WHO YOUR REAL FATHER IS.

Isabella membaca pesan tersebut dari samping Dominic.

Wajahnya seketika pucat.

Ia perlahan menoleh kepada Richard.

“Ayah...”

Richard tidak sanggup membalas tatapannya.

Dan saat itulah Isabella menyadari bahwa perjalanan untuk menemukan ibunya mungkin akan membuka rahasia yang jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan.

1
Mia Camelia
lanjut thor😊
A.A.Pusung
Sedang membaca....
Zendyaa4
bagus kak,semangat teus.. .💪
jangan lupa mampir kakk..🤭
RSS: ko ada bhsa inggrisnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!