Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LEMBUT SEORANG SINCLAIR
Ruang IGD — Rumah Sakit
Pukul dua belas malam, mobil Maxime berhenti tepat di depan pintu instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit swasta. Begitu mobil berhenti, Maxime segera turun dan berjalan memutari kendaraan untuk membukakan pintu penumpang.
"Pelan-pelan." Tangannya terulur membantu Elma keluar.
"Aku bisa sendiri," ujar Elma.
"Aku tahu. Tetap pegang tanganku."
Elma tidak membantah. Ia menerima uluran tangan suaminya dan berjalan perlahan memasuki gedung rumah sakit.
Maxime segera meminta bantuan petugas medis. Tidak butuh waktu lama, Elma langsung dibawa ke ruang pemeriksaan. Sepanjang pemeriksaan, Maxime berdiri tidak jauh dari ranjang. Kedua tangannya masuk ke saku celana, tetapi sorot matanya tidak pernah benar-benar meninggalkan istrinya. Ia beberapa kali memperhatikan wajah Elma yang terlihat pucat.
"Sejak kapan pasien merasakan nyeri?" tanya dokter.
"Sejak tadi malam, Dok," jawab Maxime sebelum Elma sempat membuka mulut.
Dokter mengalihkan pandangan kepada Elma. "Apakah sebelumnya sering mengalami keluhan seperti ini?"
Elma menjelaskan kondisinya, termasuk pola makannya yang tidak teratur dan beberapa malam terakhir yang dihabiskan untuk bekerja.
Dokter kemudian melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Maxime mendengarkan setiap penjelasan dengan serius. Sesekali ia mengajukan pertanyaan untuk memastikan tidak ada informasi yang terlewat. Setelah beberapa waktu, dokter kembali menghampiri mereka.
"Kondisi pasien perlu diperhatikan. Ada keluhan pada bagian lambung yang kemungkinan berkaitan dengan pola makan tidak teratur dan kelelahan. Kami akan memberikan penanganan terlebih dahulu dan melakukan pemeriksaan tambahan. Untuk sementara, saya menyarankan pasien menjalani observasi di ruang rawat."
Elma langsung menoleh. "Rawat inap, Dok?"
"Untuk sementara, ya. Kami ingin memastikan kondisinya stabil dan keluhannya membaik."
Maxime segera mengangguk. "Baik, Dok. Silakan siapkan ruang rawat."
Namun, Elma langsung menyela. "Tunggu, Maxime."
Laki-laki itu menoleh.
"Aku tidak perlu dirawat inap."
"Elma, dokter baru saja menyarankan—"
"Aku bisa pulang setelah mendapatkan obat."
Dokter tersenyum tipis, berusaha menengahi.
"Sebaiknya pasien mengikuti anjuran medis terlebih dahulu. Nanti setelah pemeriksaan, kami bisa menentukan langkah selanjutnya."
Maxime mengangguk kembali. "Terima kasih, Dok."
Setelah dokter meninggalkan ruangan, Maxime menarik kursi dan duduk di samping ranjang Elma. "Kau dengar sendiri penjelasan dokter."
Elma menghela napas. "Aku tidak bisa menginap di sini."
"Kenapa?"
"Besok aku harus menyelesaikan beberapa dokumen. Ada berkas yang perlu dipersiapkan untuk kasus Evelyn."
Maxime menatapnya tanpa berkedip. "Kau sedang memikirkan pekerjaan?"
"Tentu saja. Kasus itu tidak akan berhenti hanya karena aku sakit."
"Dan menurutmu tubuhmu bisa terus bekerja dalam kondisi seperti ini?"
Elma terdiam sebentar. "Aku hanya perlu istirahat di rumah."
Maxime mengusap rahangnya. Ada keinginan kuat untuk menegur istrinya, tetapi ia menahannya. Ia tahu Elma sedang tidak dalam kondisi baik. Dan malam ini, ia tidak ingin membuat perempuan itu merasa semakin tertekan.
"Elma, aku tidak sedang berusaha mengatur pekerjaanmu."
"Lalu?"
"Aku hanya ingin kau mengikuti saran dokter."
"Aku tidak suka menghabiskan waktu di rumah sakit."
"Aku juga tidak suka melihatmu terbaring kesakitan."
Elma terdiam.
Maxime mencondongkan tubuh sedikit.
"Bisakah sekali saja kau tidak menjadikan pekerjaan sebagai alasan untuk mengabaikan dirimu sendiri?"
"Maxime..."
"Aku tahu kau punya tanggung jawab. Aku tahu kasus itu penting bagimu. Tapi, apa gunanya semua keberhasilan yang kau perjuangkan kalau kau bahkan tidak memberikan tubuhmu kesempatan untuk beristirahat?"
Nada suaranya mulai meninggi, tetapi ia segera menghentikan kalimat berikutnya.
Maxime menarik napas panjang. "Maaf."
Elma menatapnya.
Maxime menunduk sebentar sebelum kembali memandang istrinya. "Aku tidak bermaksud membentakmu."
"Aku tahu."
"Aku hanya khawatir."
Elma tidak segera menjawab.
Laki-laki itu kemudian meraih tangan Elma yang terletak di atas selimut.
"Kau boleh marah kepadaku karena memaksamu datang ke rumah sakit. Kau boleh mengatakan aku terlalu banyak ikut campur. Tapi, jangan meminta pulang hanya karena kau merasa pekerjaanmu lebih penting daripada kesehatanmu."
Elma menatap genggaman tangan mereka.
"Aku tidak ingin merepotkan siapa pun."
Maxime mengernyit. "Termasuk aku?"
Elma mengangkat wajah. "Aku tidak mengatakan begitu."
"Tapi kau selalu bersikap seolah-olah kehadiranku hanya akan menambah urusanmu."
Kalimat itu membuat Elma terdiam.
Maxime mengembuskan napas perlahan. "Aku sedang berusaha, Elma."
"Berusaha apa?"
"Menjadi seseorang yang bisa kau andalkan."
Untuk beberapa detik, ruangan itu terasa begitu sunyi.
Maxime tidak mengalihkan pandangan.
"Aku mungkin tidak pandai mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan. Aku juga tahu ada banyak hal di antara kita yang belum selesai. Tapi, bukan berarti aku tidak ingin memperbaikinya."
Elma menelan ludah pelan, Ia tidak pernah menyangka Maxime akan mengatakan hal seperti itu, terlebih dalam keadaan seperti sekarang.
"Aku tidak memintamu menjadi sempurna," jawab Elma lirih.
"Aku tahu."
"Aku hanya ingin kau jujur kepadaku."
Tatapan Maxime berubah sedikit.
Ada sesuatu yang kembali melintas dalam pikirannya. Sesuatu yang selama ini ia simpan rapat-rapat, sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu mereka. Namun, ia belum siap membicarakannya.
"Aku akan mencoba," jawabnya akhirnya.
Elma mengangguk kecil.
Maxime kemudian mengusap punggung tangannya. "Sekarang, bisakah kita menyelesaikan satu masalah terlebih dahulu?"
Elma mengernyit. "Masalah apa?"
"Masalah bagaimana caranya membuat istriku bersedia beristirahat."
Elma hampir tersenyum. "Kau benar-benar keras kepala."
Maxime mengangkat sebelah alis. "Kau baru menyadarinya?"
"Sepertinya aku sedang berhadapan dengan dua orang keras kepala sekaligus."
"Siapa yang satunya?"
Elma menunjuk dirinya sendiri hingga membuat Maxime tersenyum tipis.
"Setidaknya kau menyadarinya."
☆