NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Rinai (Hujan)

...بسم الله الر حمن الر حيم ...

..."Sandyakala" Aksa dan Amerta...

...Karya :  Ms_nyms...

...***...

Sore ini cuaca mulai mendung, jarum jam menunjukkan pukul 5 sore.  Perlahan langit ditutupi oleh awan berwarna abu-abu, bulir-bulir air jatuh dari langit.  Anak-anak berlarian mencari tempat teduh,  para prajurit yang tadinya bersantai di tembok pembatas pantai kembali masuk ke tenda.  Sedangkan seorang pria yang masih duduk di sebuah pondok tak jauh dari tembok pembatas, masih santai menikmati hujan di sore hari ini setelah seharian panas tanpa angin.

"Hhh.. Akhirnya sedikit sejuk" gumamnya sembari bersandar pada tiang pondok yang terbuat dari kayu itu.

Daratan yang tadinya kering kini mulai basah karna air yang turun dari langit, semakin deras membasahi bumi. Suara rintik hujan yang jatuh diatas atap rumah menambah kesan sejuk setelah seharian dengan cuaca cerah,  Mahika sedang menatap keluar jendela. Ia berjalan menuju halaman rumahnya tanpa beralaskan kaki ia melangkah ke tepi pantai yang berada di depan rumahnya,  suara ombak berpadu dengan hujan yang membasahi baju yang sedang dikenakannya. 

Sudah lama ia tidak menikmati hujan di sore hari,  hangat dan sejuk menjadi satu.  Mahika terdiam sejenak di tengah pantai memandangi laut yang ada di hadapannya,  melihat ke sekitar nya tidak ada satu pun orang yang berada di pantai ini.

Ia berjalan mengitari tepi pantai sesekali menemukan cangkang kerang, keong atau kepiting kecil.  Kembali ia menikmati hujan dengan berdiam diri,  menengadah kan tangannya menerima bulir-bulir air hujan yang jatuh.

Seseorang tiba-tiba saja datang memayungi dirinya begitu saja, menatap dirinya tanpa berkata apapun sejenak, mereka saling diam.

"Nanti sakit" ucap pria itu. 

Pria yang melamarnya beberapa hari lalu, memegang payung.  Ia memayungi Mahika namun tidak memayungi dirinya sendiri,  Mahika terkejut akan kedatangan pria itu yang tiba-tiba saja ntah dari mana ia berasal.  Beberapa hari kebelakang pria yang ada dihadapannya tidak terlihat sama sekali, bagaimana bisa ia berada disini saat ini.

Mahika kembali berjalan menuju rumahnya, meninggalkan pria itu sendirian di tepi pantai.  Pria itu mengikuti langkah Mahika, mengantarkannya sampai ke depan rumahnya dengan aman. Lalu berjalan melewati rumah Mahika begitu saja. 

Ia tersenyum beberapa saat yang lalu, sebelum ia menghampiri Mahika yang sedang menikmati hujan. Ia berlari sendirian dan sesekali berputar ria menikmati hujan sore hari ini, Pria itu memandanginya sejak tadi. Ia juga khawatir kejadian 4 tahun lalu di pantai yang sama akan terulang, makanya ia segera menghampiri Mahika.

"Darimana ndan?  Kok basah? " tanya salah satu anggota, saat Mahija memasuki tenda pos.

"Habis mandi hujan"

"Tapi kok bawa payung?? "

"Mandiin payung..  " jawab Mahija singkat lalu mengeringkan dirinya dengan handuk.

"Punya komandan ada gila-gila nya " cetus anggota nya disambut tawa seluruh anggota yang berada di dalam tenda.

Fian yang masih dalam mode rebahan langsung bangun merubah posisinya menjadi duduk,  wajahnya tampak ditekuk setelah mendengar ucapan dari anggota bawahan Mahija.

"Ngomong apa tadi? " tanyanya dengan nada sedikit tinggi, hingga membuat para anggota terdiam membisu.

"NGOMONG APA TADI!! " tanyanya kembali dengan nada tinggi,  Mahija yang mendengar suara Fian langsung menghampiri Fian dengan kebingungan. 

Ada apa dengan adiknya ini, kenapa sikapnya berubah tidak seperti biasanya.  Apakah ada masalah pada diri Fian, hingga membuatnya tersulut emosi pada hal sepele.

"Fian? " panggil Mahija.

Fian langsung beranjak dari tempat duduknya, berjalan menghampiri anggota yang berbicara tentang abangnya.  Mahija semakin dibuat kebingungan akan hal tersebut, apakah Fian akan menghajar anggota nya itu.

"NGOMONG APA TADI? " tanya Fian penuh penekanan, langsung saja Mahija menarik lengan Fian untuk menjauh dari anggota nya itu.

Mahija dengan raut wajah tegasnya membuat seisi tenda tidak berkutik saat itu, pertengkaran abang beradik yang disebabkan oleh mereka membuat seluruh anggota terlihat semakin gusar termasuk Jaka, Hansen, dan Yusuf.

"Sudah ndan..  " Yusuf yang mendekat ke arah Mahija mencoba menenangkan Mahija, melerai pertengkaran mereka.

"Lo Ngomong apa tadi?? " tanya Fian ulang menatap anggota yang di tuju.

"SIAP SALAH!! " jawab anggota tersebut dengan rasa bersalah nya.

"GILA?..  "

"LETDA. FIAN!! " Mahija memotong ucapan Fian dengan nada tinggi, mendekat ke arah Fian.  Suasana semakin tegang di kala abang beradik itu berbicara dengan nada tinggi untuk pertama kali nya mereka lihat di depan mata mereka sendiri.

Fian hanya tersenyum sinis menatap wajah Mahija, memalingkan pandangannya dari wajah abangnya saat ini. Mahija menekan lengan Fian agar Fian tidak melanjutkan pertengkaran ini, Jaka, Hansen dan Yusuf juga ikut membantu menahan emosi Fian.

"GILA? " jedanya "KOMANDAN ITU STRES " ujarnya tiba-tiba, Fian langsung tertawa puas bisa menipu seisi tenda pos.  Ia tertawa geli melihat wajah-wajah yang kebingungan,  akhirnya Mahija mengerti maksud Fian dan semua ini hanyalah prank semata.

Para anggota yang tadinya mati kutu karna pertengkaran didepan mereka, tertawa puas setelah berhasil di tipu oleh Fian. Termasuk Jaka, Hansen, dan Yusuf yang memasang muka sebal pada Fian,  sedangkan Fian masih saja tertawa cekikikan.

"Yaelah Prank..  " ujar Jaka kembali ke posisi awal diikuti Hansen dan Yusuf.

"Udah takut juga tadi, apalagi komandan marah tadi.  Apa gak makin ruyam urusan kita.  " celetuk Hansen dengan jujurnya.

Sedangkan Mahija yang menjadi korban sempat merasa dongkol pada Fian, namun ia sadar Fian memang seperti itu karakter nya suka menjahili rekan-rekannya termasuk Mahija sendiri.

"Letda.Fian " panggil Mahija dengan santai, Fian langsung menghadap setelah mendengar panggilan dari abangnya itu.

"Siap."

"Push up, 50 kali " Perintah Mahija. "Hitungan dimulai dari saya, persiapan"

"Persiapan.. " Fian hanya bisa nyengir mendapat hukuman dari abangnya, ia paham kini abangnya sedang dongkol karna kelakuannya. 

Fian sudah siap dengan posisi push up nya, Mahija duduk menghadap dirinya dengan serius ia menatap Fian.

"Hitungan mulai..  "

"1.. 2... 2½... "

Fian otomatis melihat wajah Mahija yang puas mengerjai nya, pasalnya hitungan push up kali ini berbeda dari yang biasanya. 

"Bang.. " Panggil Fian yang sudah kesal dengan abangnya.

"Lanjutkan apalagi..  " Mahija sembari memainkan ponselnya.

"Gak adil hitungannya,  menyalahkan gunakan jabatan abang. "

"Cepat lanjutkan.. "

"Siap."

Fian melanjutkan push up nya di depan Mahija, disaksikan oleh anggota yang juga sedang berada di tenda pos. Mereka tampak kasihan pada Fian, namun sang korban yang sedang dihukum hanya nyengir dan sesekali menggangu Mahija yang berada di hadapannya.

"49½..  50.." akhirnya hitungan mematikan telah selesai. Mahija kembali merebahkan dirinya diatas ranjang terpal yang diduduki nya.

"Sama aja 100 kali" cetus Fian yang mengambil botol air mineral di dekat Mahija.

Mahija hanya tersenyum mendengar celetukan adiknya itu, memandangi ponselnya kembali.  Fian bergabung dengan Mahija, berbaring di sebelah abangnya, ia menatap layar ponsel Mahija.

"Bang, itu kan foto..  "

"Iya.. " jawab Mahija cepat. 

"Bang, abang seriusan mau nikah? Ayah dan Umma sudah tau?? "

"Serius lah, ayah sama umma belum tau. Besok setelah pulang abang kasih tau kabar ini ke ayah dan umma.  Kalau di lihat-lihat lo setuju kan? "

"Ya setuju aja, idamanku mah yang lagi rebahan saat ini dikamar, pasti saat ini lagi baca ini hehehe.  Jangan senyum-senyum ya cantik, senyummu untukku saja nanti"

"Idamannya yang rebahan" ucap Mahija.

Mahika yang saat ini sedang duduk diatas ranjang tidurnya, berkutat dengan laptopnya sejak tadi,  panggilan telepon terus masuk ke ponselnya dari beberapa orang.

Ia sedang mengecek kerjaannya yang tertunda beberapa hari kebelakang ini, tidak hanya diam di rumah ia juga bekerja dari rumah memonitor orang-orang yang berkaitan dengannya.

"Assalamu'alaikum, hallo..  " ucapnya setelah mengangkat telepon yang baru saja masuk ke ponselnya.

"Waalaikumsalam mba..  Ini ada.... "

"Oh iya, besok saya kesana.  Kebetulan sekalian saya ke kota ada urusan juga "

***

Malam telah tiba, malam terakhir di desa ini dan menjadi perpisahan sementara bagi Mahija dan anggota prajurit lainnya yang bergabung dalam penanggulangan bencana.  Suara nyanyian para prajurit di depan api anggun setelah hujan reda setelah beberapa jam yang lalu,  di kelilingi anak-anak yang ikut bergabung dengan mereka.

Melodi petikan gitar menjadi penanda berakhirnya tugas mereka per hari ini, besok siang mereka akan kembali ke kesatuan mereka masing-masing.  Hari-hari berada di desa ini sangat meninggalkan kesan yang sulit di lupakan, banyak kenangan bersama dalam beberapa hari yang singkat bagi mereka.

"Letnan. Mahija " panggil seorang remaja putra membawa tas bermotif loreng,  ia menghampiri Mahija dengan tersenyum.  Ia juga membawa satu piring yang ditutupi sebuah kertas.

"Wah sudah kering pakaian saya? " Mahija yang melihat ke arah tas loreng yang dibawa remaja tersebut.

"Sudah Letnan. Sudah di setrika juga, ini dari kakak untuk Letnan. " Memberikan piring yang berisikan kue, anggota yang sedang bernyanyi melirik ke arah komandan nya itu.

Mahija membuka tasnya, pakaiannya rapih di dalam tas. Tercium parfum pakaian keluar dari dalam tas, kue yang masih berada di tangan remaja tersebut juga terlihat enak.

"Terimakasih, ucapkan terimakasih pada orang yang menyetrika pakaian saya. Untuk kuenya juga, terimakasih. Nanti saya kembali kan piring nya ke rumah.  "

"Kerumah Kakak ya Letnan" ujar remaja itu langsung pergi meninggalkan Mahija.

Langsung saja tanpa aba-aba setelah kepergian remaja itu, para anggota menyerbu kue yang berada di atas piring tanpa bertanya dahulu pada Mahija.

"Nnnn.. Ndan..  Ennyak.. " ucap anggota nya yang masih penuh dengan kue di mulutnya. "Coba nnydaan, sebelum habis" tersisa satu potong lagi di atas piring, Mahija menjulurkan tangannya untuk mengambil kue itu.

"Hap, siapa cepat dia dapat" ucap Fian yang langsung menyambar kue diatas piring tersebut.

"Hei.. Itu kue abang Fi" gerutu Mahija, kue dari sang pujaan hati habis tak bersisa.

"Kalau kamu makan habis Letda. Fian, tamat riwayat mu nanti..  Itu kue dari kakak" Hansen yang memberi peringatan sebelum seluruh kue habis dilahap oleh Fian.

"Nah.. " Memberikan separuh potongan kue pada Mahija dengan santainya, lalu kembali duduk di depan api unggun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!