NovelToon NovelToon
Singgah Yang Tertukar

Singgah Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:818
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
​Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertepuk sebelah tangan

Suasana meja makan terasa hangat diiringi aroma gurih spaghetti carbonara dan guratan daging steak yang menggugah selera.

Elena menyantap makanannya dengan tenang dan anggun, sesekali mengunyah pelan sembari menikmati pemandangan area golf yang membentang di depan mereka. Binar di matanya yang sempat redup tadi malam kini perlahan kembali, memancarkan kepolosan yang selalu berhasil meluluhkan hati Julian.

Namun di sisi lain meja, Julian nyaris tak menyentuh salmon steak-nya dengan fokus penuh. Pandangan matanya terkunci rapat pada tiap gerak-gerik Elena, sementara pikirannya berkecamuk hebat bagai benang kusut.

Garis waktu seolah memburu dirinya tanpa ampun. Keputusannya harus kembali ke Jakarta lusa nanti membuat tenggat waktu kejujuran itu semakin menyempit.

Di dalam kepalanya, skenario demi skenario berputar gila-gilaan: Bagaimana cara terbaik menyampaikan kabar pernikahan itu pada Elena? Kalimat seperti apa yang tidak akan menghancurkan senyum manis yang baru saja kembali ke wajahnya?

Rasa takut yang begitu dahsyat mencengkeram dada Julian.

Ia sangat takut menyakiti hati gadis di depannya gadis yang baru saja ia peluk di tengah badai dini hari tadi, gadis yang tanpa sadar telah memegang seluruh jiwanya.

Julian benar-benar buta tentang bagaimana respons Elena nanti. Apakah Elena akan kecewa? Apakah gadis itu akan menangis dan merasa dikhianati? Atau yang lebih menyakitkan... bagaimana jika Elena justru meresponsnya dengan tatapan kosong dan perpisahan yg menyebabkan dirinya harus asing dari Elena.

Ketidakpastian itu meremas ulu hati Julian hingga terasa sesak. Tangannya yang memegang garpu sempat terhenti di udara, menatap Elena yang tengah mengusap sudut bibirnya dengan tisu tanpa menyadari badai batin yang sedang menghantam pria di hadapannya.

Piring-piring di meja telah bersih, menyisakan dua gelas minuman dingin yang mulai mengembun.

Suasana di meja mereka mendadak berubah menjadi lebih hening, diselimuti kehangatan yang intim sekaligus sarat akan ketegangan yang tak kasat mata.

Elena mengusap bibirnya dengan serbet, lalu mendongak. Matanya beradu dengan manik mata Julian.

Untuk beberapa saat, mereka hanya saling menatap dalam diam, dihiasi senyum tipis yang saling melempar kenyamanan. Namun, Elena perlahan menyadari ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Julian kali ini.

Pandangan pria itu tidak sekadar hangat; ada kedalaman yang teramat pekat, pendar kegelisahan yang tersembunyi, serta sorot emosi yang begitu intens hingga membuat dada Elena berdesir aneh.

"Jules...?" panggil Elena pelan, memiringkan kepalanya sedikit.

"Kenapa ngeliatin akunya sampai gitu banget?"

Julian menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan untuk menetralkan debar dada yang bergemuruh hebat.

Jemari tangannya di atas meja bergerak maju, mengusap punggung tangan Elena yang hangat, lalu menggenggamnya dengan erat seolah takut jika ia melepaskannya detik ini, gadis itu akan menghilang.

"El..." suara Julian terdengar lebih berat dan dalam dari biasanya. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata Elena, memberanikan diri menembus batas ketakutannya.

"Ada satu hal penting yang harus aku omongin sama kamu," lanjut Julian, suaranya sarat akan kesungguhan sekaligus kecemasan yang ditahannya setengah mati.

"Aku mau kamu dengar ini langsung dari mulut aku sendiri, bukan dari orang lain... karena buat aku, kamu orang yang paling berharga dalam hidup aku."

Elena terpaku. Genggaman tangan Julian yang begitu erat dan intonasi suaranya yang berubah serius seketika membuat jantung Elena berdegup lebih cepat. Binar ceria di wajahnya perlahan berganti menjadi rasa penasaran yang bercampur cemas.

Julian menelan ludahnya yang terasa pahit, mengumpulkan seluruh keberanian di dalam jiwanya sebelum akhirnya kalimat yang paling ia takuti meledak keluar.

"Soal kepulanganku ke Jakarta lusa..." Julian jeda sejenak, menatap Elena tanpa berkedip.

"Selain urusan proyek kantor... aku harus mulai menyelesaikan persiapan pernikahan aku sama Claire. Tahun depan... kami berencana untuk nikah."

Kalimat itu akhirnya terucap. Kata-kata yang menggantung di udara seolah memotong seluruh pasokan oksigen di sekitar meja mereka, menantikan bagaimana reaksi dari wanita yang memegang seluruh jiwa Julian tersebut.

Reaksi yang keluar dari mulut Elena benar-benar di luar kalkulasi Julian.

Gadis itu hanya tersenyum tipis, lalu terkekeh pelan dengan nada yang teramat santai. "Owh... kamu udah mau nikah toh tahun depan? Ya udah, it's okay.

Lagian kan emang udah waktunya juga. Selain umur kamu yang udah matang, finansial kamu juga udah sangat matang kok," ujar Elena ringan, seolah-olah topik yang baru saja dilontarkan Julian hanyalah pembahasan cuaca atau kabar burung biasa.

Julian membeku. Matanya membelalak, terbelalak tak percaya menatap sosok di hadapannya.

Seluruh ketakutan gila, rasa cemas yang meremas dadanya sejak pagi, hingga teror bayangan bahwa Elena akan hancur dan menangis histeris... seketika menguap, berganti dengan rasa syok yang luar biasa.

Bagaimana bisa gadis yang semalam menangis histeris di dalam dekapannya, gadis yang baru saja berbagi momen seintim itu di kamar hotel, merespons kabar pernikahannya dengan ekspresi seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.

Rasa tidak terima merayap cepat di benak Julian. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Elena lebih tajam, berusaha mencari retakan kecil atau sisa emosi tersembunyi di mata gadis itu.

"El... kamu beneran cuma mau jawab gitu?" tanya Julian dengan nada suara yang tertahan, matanya menatap dalam.

"Maksud aku... gimana dengan kita? Gimana perasaan kamu kalau nanti aku beneran nikah sama Claire?"

Elena kembali menyesap minumannya, lalu mengibaskan tangan pelan sambil tersenyum tanpa beban.

"Ya gimana apanya, Jules? Ya bagus dong, aku ikut seneng. Kan Claire emang pacar kamu, dan kamu emang harus bertanggung jawab sama hubungan kalian. Aku ya tetep jadi sahabat kamu kayak biasa."

Jawaban santai tanpa cela itu rasanya seperti tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Julian.

Rasa jengkel yang membakar mendadak merayapi dada Julian.

Ada ego pria yang terluka, ada perasaan cinta yang meronta tidak terima. Di saat hatinya hancur dan jiwanya terikat mati pada Elena, gadis itu justru melepasnya dengan begitu gampang—seakan keberadaan Julian di hidupnya sama sekali tidak berdampak apa-apa.

Rasa jengkel yang membakar dada Julian mencapai puncaknya. Tanpa mengalihkan pandangan tajamnya dari wajah Elena, ia meraih cangkir kopi berukuran large di atas meja dan langsung meminumnya hingga kandas dalam sekali teguk.

Suhu dingin es kopi yang menyengat tenggorokannya sama sekali tak mampu mendinginkan kepala Julian yang mendidih.

Melihat aksi impulsif dan raut wajah Julian yang tertekuk masam, Elena justru tertawa renyah. Suara tawa polos itu terdengar begitu renyah, seolah sengaja memprovokasi emosi Julian yang sudah berada di ambang batas.

"Kenapa sih, Jules? Kok malah ngamuk gitu minum kopinya?" goda Elena santai, masih menyisakan sisa tawa di bibirnya.

Julian meletakkan cangkir kosong itu ke meja dengan dentakan cukup keras. Pria itu mencondongkan tubuhnya melintasi meja, mengikis jarak di antara mereka.

Tatapan matanya kelam dan pekat, menelanjangi seluruh emosi yang selama ini berusaha ia pendam rapat-rapat.

"El, jujur sama aku... gimana sebenarnya perasaan kamu ke aku?" cecar Julian dengan suara berat yang tertahan.

Elena menaikkan sebelah alisnya, agak terkejut dengan intimidasinya, namun tetap terlihat tenang. "Maksud kamu apa, Jules? Ya kita sahabat dari kecil, kan—"

"Aku nggak bercanda, Elena!" potong Julian cepat, suaranya sarat akan keputusasaan dan ego pria yang hancur.

"Sampai detik ini... detik di mana aku berdiri di sini... aku masih nggak pernah rela ngeliat kamu sama pria lain! Rasa cemburu itu selalu ada dan bikin aku gila, El. Meskipun kamu tahu aku sama Claire atau wanita manapun, di dalam sini..." Julian menunjuk dadanya sendiri dengan ketukan keras, "...hati aku tetep nggak sanggup lepasin kamu ke cowok lain. Apalagi ngeliat kamu nangisin Nathaniel semalam!"

Keheningan mendadak menyergap meja mereka. Pengakuan jujur dan vulgar dari Julian menggantung di udara, menelanjangi kepemilikan mendalam yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng "sahabat".

Elena terpaku sejenak. Binar geli di matanya perlahan memudar, berganti menjadi tatapan tenang yang teramat dewasa namun justru terasa begitu dingin bagi Julian.

Elena menarik napas panjang, menatap Julian lurus-lurus tanpa rasa takut sedikit pun.

"Tapi aku enggak, Jules," sahut Elena pelan namun sangat jelas, menghantam tepat di ulu hati Julian.

"Aku nggak pernah merasa cemburu atau nggak rela pas ngeliat kamu sama Claire. Dari awal, aku selalu sadar batas posisi aku di hidup kamu. Aku seneng kalau kamu bahagia sama cewek pilihan kamu."

Elena tersenyum tipis, sebuah senyuman murni tanpa beban yang justru terasa seperti belati yang merajut luka baru di hati Julian.

"Buat aku, kamu itu tempat pulang paling aman, Julian. Tapi aku nggak pernah berniat merebut kamu dari siapapun. Kalau kamu bahagia sama Claire, aku orang pertama yang bakal bertepuk tangan paling kencang."

Jawaban itu memukul Julian lebih hancur daripada kemarahan apapun. Kenyataan bahwa ia tenggelam sendirian dalam penyesalan dan cinta yang obsesif, sementara Elena berdiri kukuh di atas garis batas "sahabat", membuat Julian merasa benar-benar kalah dan tak berdaya.

1
Aurora odelyn Nakeisha
alurnya agak berat tapi bikin penasaran
Anandaaa
lanjutin torr gas
Langi Wijaya
ceritanya seru agak bikin tensi naik turun.....
ayo tor lanjutin update nya
Langi Wijaya
julian cowo bingung tapi clear agak out of the box pemikirannya😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!