Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUBJEK DILUAR PREDIKSI
Setelah selesai sarapan, Alya menawarkan diri untuk mencuci mangkuk kotor. Awalnya Anaxa membantah dan berkata kepada gadis itu bahwa dia akan mencuci nya nanti. Tapi Alya malah memutar keran air dan mulai mencuci mangkuk dengan busa sabun.
Melihat itu, Anaxa melangkah mendekat Alya dan menghela nafas pelan. "Rupanya kamu cewek yang agak keras kepala ya?" Komentar Anaxa sambil tangannya meraih kain lap dan menyodorkan tangan yang lain ke Alya. Dengan sigap gadis itu memberikan mangkuk yang sudah dicuci untuk dikeringkan oleh Anaxa. Dan sesudah itu Anaxa menaruh mangkuknya di rak peralatan makan.
Alya menanggapi komentar Anaxa dengan santai. Gadis itu kembali menggosok mangkuk itu sampai bersih mengkilat, dan menyodorkan lagi ke Anaxa.
"Nah. Sudah beres." Keran air dimatikan. Alya meraih lap yang dipegang Anaxa untuk mengelap tangannya yang basah. Sedangkan Anaxa hanya berdeham pelan. Pria itu kembali mengecek ponsel dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 11:30. Tak terasa waktu malah berlalu dengan cepat.
Lalu perhatian Anaxa pindah ke Alya. Dia melihat wajah gadis itu yang kini sedikit lelah dan matanya terlihat memerah karena kantuk.
"Sebelum Keenan dan Dimas datang, kamu mau istirahat dulu? Kalau tidak salah kamu bilang kan kalau belum tidur?" Tanya Anaxa pada akhirnya.
Dan Alya menganggukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian gadis itu malah menguap.
"Kamu boleh tidur di kamarku. Mau sekalian aku kasih pakaian ganti? Sepertinya agak kurang nyaman jika pakaian mu sekarang dibawa untuk tidur."
"Makasih, Anaxa." Mata gadis itu mendadak jadi berat untuk tetap terbuka. Tinggal 5 watt. Dan Alya pun mengikuti Anaxa melangkah ke kamarnya. Lalu pria itu menyodorkan pakaian miliknya untuk dipakai Alya. "Aku ada diluar kamar kalau kamu butuh apa-apa. Selamat istirahat." Ucap Anaxa sebelum dia keluar dari kamarnya meninggalkan Alya di dalam.
Untuk jaga-jaga, Alya sengaja mengunci pintu kamar dari dalam sebelum berganti pakaian. Kini dia memakai celana pendek Anaxa yang menutupi sampai lututnya dan juga kaos oversize berlengan panjang.
Dan rasanya... Alya seperti dipeluk oleh Anaxa karena gadis itu mencium aroma khas pria itu yang mengelilingi dirinya. Bahkan aroma khas Anaxa semakin terasa kuat ketika Alya merebahkan dirinya di kasur Anaxa. Memeluk gulingnya. Menenggelamkan tubuhnya dengan selimut yang biasa membalut Anaxa...
Alya merasakan kenyamanan yang membuat jantungnya berdebar lagi dengan lebih kuat. Dan tak membutuhkan waktu lama hingga gadis itu terlelap dalam tidurnya.
Sementara itu, Anaxa yang berada di luar kamar sedang mengumpulkan lembar demi lembar laporan penelitian tentang dirinya, lalu memasukkan nya kembali ke amplop coklat. Dia juga mencopot kertas-kertas laporan yang sebelumnya dia sengaja tempel di pintu kulkas.
Mendadak Anaxa merasa muak karena terus menerus di terror dan diawasi oleh seseorang yang sama sekali Anaxa gak tau.
Pria itu ingin memijat lagi kepalanya yang penuh pikiran semrawut, tapi kemudian terhenti setelah ingat jika dahinya masih terluka dan diperban.
Anaxa langsung mengomel dalam hati. Kembali menyalahkan dirinya sendiri yang bertindak bodoh dan impulsif. Dan sekarang dia harus menanggung rasa sakitnya.
Beberapa saat kemudian, Anaxa menghabis kan waktu berdialog di dalam pikirannya. Tanpa sadar dia jadi berjalan memutar-mutar. Sampai akhirnya dia berhenti dan kembali menatap ke tumpukan laporan penelitian yang sudah dimasukkannya tadi kedalam amplop.
Tanpa pikir panjang, Anaxa meraih amplop coklat tebal itu dan langsung membuangnya ke tong sampah, dan nasibnya berakhir sama seperti ponsel lama Anaxa yang juga dia buang
"Kertas sialan jahanam!" Anaxa mengumpat dalam hati. Dia mulai marah karena merasa hidupnya di acak-acak oleh terror amplop coklat tersebut. Dan malahan membuatnya setres sepanjang hari. Dirinya juga sudah muak selalu dikendalikan oleh rasa takut.
Pokoknya pada hari ini, Anaxa menetapkan diri untuk masa bodo saja terhadap semua terror yang terjadi. "Biarin mereka tetap mengawasi ku. Ngapain sih kayak orang gak ada kerjaan. Mungkin orang yang mengawasi ku adalah pengangguran." Anaxa lanjut mengomel dalam hati. Dan dia malah menendang sofa busa nya untuk melampiaskan rasa kesal.
Lalu Anaxa kembali mengingat beberapa potong ucapan Alya. Gadis itu bilang bahwa Anaxa punya pola berulang yang bisa dipahami dan di prediksi...
Dan entah kesambet apa, Anaxa tiba-tiba memikirkan ide gila. Dirinya mulai tersenyum miring lalu tertawa sendiri. Anaxa menyalakan kembali ponselnya lalu membuka aplikasi pemutar musik. Dia menyetel salah satu lagu dari band lawas yang sangat Anaxa sukai, yaitu lagu "I Want to Break Free" Oleh Queen.
Lagu terputar. Anaxa tertawa lagi, kemudian dirinya mulai menyanyikan lagu yang di hapal nya dan meniru gerakan-gerakan aneh yang dilakukan oleh Freddie Mercury di MV lagu tersebut. Dalam pikirannya sekarang adalah "Jika mereka masih mengawasi dan mencatat detail perilaku dan rutinitas ku, akan aku buat mereka bingung terhadap kelakuan ku ini."
Dan selama puluhan menit kemudian, Anaxa sibuk bertingkah seaneh mungkin. Lagu demi lagu berganti. Tubuhnya dia biarkan bergoyang dan kini Anaxa ikut melontarkan kata-kata aneh dari lagu Freddie Mercury yang berjudul "Living on My Own."
Dee do de de, dee do de de
I don't have no time for no monkeybusiness
Dee do de de, dee do de de
I get so lonely, lonely, lonely, lonely, yeah
Got to be some good times ahead
Lama kelamaan Anaxa malah bersenang-senang dengan cara yang aneh. Seperti pelepasan setres yang selama ini menumpuk. Bahkan sesekali dia sampai meneriakkan lirik lagunya. Anaxa total lupa bahwa dia gak sendirian di kos nya kali ini. Utung saja si Alya masih tertidur nyenyak sehingga dirinya tidak terpergok melakukan hal se aneh dan segila ini
Namun, mau di goyang se brutal apapun tubuhnya, tubuh Anaxa sama sekali tidak bisa dibohongi. Akhirnya Anaxa berhenti bergoyang. Dia kecapean sendiri dan langsung mengaduh memegangi punggung nya yang kini terasa pegal-pegal. Keringat menetes turun dari rambutnya. Tenggorokan nya kering karena kebanyakan bernyanyi dan berteriak.
Anaxa melangkahkan tubuhnya yang pegal-pegal ke dapur, secepat kilat menuang air putih ke gelas dan meminumnya. Lalu dengan sedikit energi yang tersisa, Anaxa kembali ke sofa busa empuknya, langsung melompat ke atasnya dan tiduran. Dia juga mengatur nafasnya yang kini terengah-engah
Anaxa beristirahat. Namun dirinya membiar kan aplikasi pemutar lagu untuk tetap berputar, mengisi keheningan di kos nya dengan lagu-lagu Quenn kesukaan Anaxa.
Oh yes, I'm the great pretender
Pretending I'm doing well
My need is such I pretend too much
I'm lonely but no one can tell...
Oh yes, I'm the great pretender
Adrift in a world of my own
I play the game but to my real shame
You've left me to dream all alone
Baru saja Anaxa memejamkan mata sambil menikmati lagu tersebut, bel kamar kos nya berbunyi dengan brutal. Ting-tong! Ting-tong! Bahkan setelah itu pun masih dibombardir oleh teriakan Keenan.
"Halo king Anaxa! Bukain pintunya woi!"
Ting-tong! Ting-tong! Ting-tong! Ting-tong!
Dan keributan yang terjadi sukses membuat Anaxa gemas dan kesal setengah mati. Dia masih merasa sangat pegal, tapi harus bangkit dan membuka pintu kos nya.
"AHH!" Keenan kembali berteriak karena dirinya digaplok Dimas.
"Berisik bodoh!" Samar-samar terdengar juga umpatan Dimas yang merasa terganggu oleh tingkah laku teman sekamarnya.
Akhirnya Anaxa sampai di depan pintu kos. Membukanya. Dan memasang ekspresi wajah senggol bacok. Namun Keenan yang melihat ekspresi wajah Anaxa malah cengengesan tanpa merasa bersalah.
"Halo King Anaxa! Senang bertemu denganmu lagi!" Ucap Keenan sambil grasak-grusuk langsung menaruh (melempar) tas ke lantai dan membuka sepatunya. Tepat sebelum Keenan selesai melepas sebelah sepatu yang lain, matanya langsung salah fokus.
Keenan yang awalnya masih cengengesan tiba-tiba terdiam. Lalu Keenan menatap Anaxa dengan wajah yang lebih serius. Bahkan saking tiba-tiba nya perubahan ekspresi Keenan, tanpa sadar Anaxa jadi mengangkat satu alisnya karena bingung.
"Kamu emang tinggal sendiri atau living together beneran kayak candaan ku, Anaxa? Kok ada sepatu cewek ya?"
Dan Dimas pun turut memperhatikan arah pandang nya Keenan, dan juga melihat sepasang sepatu cewek ditata rapih di depan pintu kos Anaxa. Namun anehnya... Dimas merasa sedikit familiar terhadap sepatu itu.