NovelToon NovelToon
Cuma Kamu

Cuma Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Adik Kecilku

Balik kemudi mobilnya yang sedang menepi, Damian terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca. Hatinya tersentuh luar biasa oleh perhatian dan sifat mandiri putri sulungnya.

"Ya Allah, Ra... kamu itu selalu mikirin Papi," bisik Damian haru. "Tapi... tempatnya aman, kan? Fasilitasnya cukup? Kamu enggak kekurangan uang, kan, Nak?"

"Aman banget, Pi. Bapak dan Ibu kosnya baik sekali," sahut Zahira penuh kehangatan, membayangkan kebaikan Bunda Heni dan Gisel. "Papi tenang saja ya, jangan khawatirkan Zahira. Papi jaga kesehatan di luar kota."

"Baiklah kalau itu kemauan kamu, Sayang. Nanti kalau Papi sudah pulang ke Jakarta, Papi mau mampir tengok kosan kamu, ya," jawab Damian bangga. "Semangat skripsinya, anak kebanggaan Papi."

Setelah panggilan terputus, Zahira menghembuskan napas lega. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan mencari alasan yang tepat jika Papi benar-benar ingin berkunjung nanti.

.

.

Di belakang paviliun, terdapat area laundry kecil yang bersih dengan aliran air yang jernih. Zahira mengulung lengan bajunya, mengucek beberapa pakaian hariannya di dalam ember berisi busa sabun yang harum.

"Aduh, Zahira!"

Suara jeritan kecil Gisel membuat Zahira menoleh. Gisel melangkah mendekati area cuci sembari membawa semangkuk buah potong. Matanya membelalak menatap jemari Zahira yang cekatan meremas dan membilas pakaian.

"Kamu nyuci pakaian sendiri pakai tangan?!" tanya Gisel tak percaya. "Padahal kan bisa ditaruh di mesin cuci di rumah utama, Ra! Atau kalau capek, kasih ke Bi Jani aja biar sekalian dilaundry!"

Zahira tertawa kecil, menyeka peluh halus di dahinya dengan lengan atasnya. "Nggak usah, Gisel. Baju cuma sedikit kok, kasihan Bi Jani kalau harus nambah beban kerjaan. Lagipula, aku sudah terbiasa."

Gisel duduk di bangku kayu kecil di dekat Zahira, menatap sahabatnya itu dengan pandangan tersentuh sekaligus takjub. "Kemandirian kamu ini benar-benar bikin aku iri sekaligus malu, tahu gak? Aku aja cuci piring sendiri kadang masih malas."

Zahira menyunggingkan senyum tulus, membilas busa dari kain bajunya. "Hal-hal begini... cuci baju, setrika, sampai masak... sudah jadi makanan sehari-hariku sejak kelas tiga SD, Sel. Dari kecil aku memang dibiasakan mandiri. Jadi sekarang sudah bukan beban lagi, tapi sudah jadi kebiasaan."

Mendengar ucapan Zahira, hati Gisel serasa dicubit. Ia tahu betul implikasi di balik kata 'dibiasakan' itu—sebuah keharusan yang dipaksakan oleh ibu tirinya sejak Zahira masih sangat kecil.

Gisel langsung merangkul pundak Zahira dari samping. "Kamu hebat banget, Ra! Berarti lain kali kamu harus ajarin aku masak ya! Ajarin bikin kue juga, biar aku bisa pamer ke Mas Elvan kalau keponakannya ini bukan cuma bisa ngabisin duit!"

Zahira tertawa lepas, rasa hangat mengalir di dadanya. "Siap, Calon Chef Gisel. Nanti kita bikin jadwal masak bareng di dapur utama, ya."

.

.

Sementara itu, di kediaman mewah Sumargo, suasana malam terasa begitu kontras.

Di sebuah restoran steak berbintang lima di kawasan Jakarta Selatan, Karlina dan Bianka tampak tertawa lebar. Meja di hadapan mereka dipenuhi hidangan mahal—daging wagyu premium, jus segar, dan makanan penutup yang cantik.

Karlina mengibaskan kartu ATM berwarna emas di jarinya dengan raut wajah puas.

"Lega rasanya rumah kita bebas dari anak pembawa sial itu, Mi," ujar Bianka seraya memotong steaknya dengan anggun. "Nggak ada lagi muka masam yang sok suci di meja makan."

"Kamu benar, Bianka," timpal Karlina dengan senyum licik. "Lagipula, Papi kamu baru saja transfer uang bulanan ekstra untuk fasilitas Zahira. Berhubung Zahira sok tahu mau tinggal di luar, ya uang ini jadi bonus buat kita. Malam ini Mami yang bayar semuanya!"

Keduanya berdenting gelas, merayakan kepergian Zahira dengan ketamakan yang terbungkus kemewahan.

.

.

Namun, di kediaman Sumargo, rumah megah itu terasa bak istana hantu yang dingin dan hampa.

Vidi duduk menyendiri di tangga teras belakang. Pandangannya kosong menatap kolam ikan yang tenang. Di sampingnya, Mbok Jumi meletakkan secangkir teh hangat, sementara Pak Bimo—supir keluarga mereka—duduk bersila di lantai bawah.

"Mas Vidi kok belum makan malam?" tanya Mbok Jumi lembut, mengusap bahu remaja itu.

Vidi menggeleng pelan. "Enggak nafsu, Mbok. Rumah ini rasanya aneh banget... sepi, dingin. Nggak ada Kak Zahira yang biasanya nyapa Vidi atau nyiapin camilan malam."

Pak Bimo menghela napas panjang, meremas jemarinya. "Bukan Cuma Mas Vidi... Bapak juga ngerasa hampa. Biasanya Non Zahira selalu ramah, selalu nanya kabar Bapak kalau habis pulang kerja. Sekarang rumah ini cuma suara nyonya yang suka teriak-teriak."

"Kenapa ya Mbok, Pak... orang baik kayak Kak Zahira justru selalu disakiti?" bisik Vidi dengan nada suara yang bergetar menahan sedih.

Sebelum Mbok Jumi sempat menjawab, ponsel di saku celana Vidi bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Kak Zahira:

"Vidi Sayang, malam ini ada PR sekolah yang susah enggak? Kalau ada yang bingung, tanya Kakak ya. Kakak lagi senggang nih."

Mata Vidi seketika berbinar. Wajah muramnya hilang seketika digantikan oleh senyuman lebar. Tanpa berpikir panjang, Vidi langsung menekan tombol panggilan video (Video Call).

Hanya dalam dua kali dering, wajah cantik nan teduh Zahira muncul di layar ponsel. Ia sedang duduk di meja belajar kayu paviliunnya, mengenakan pakaian santai dengan rambut terikat rapi.

"Hai, Jagoan!" sapa Zahira dengan senyum terkembang paling hangat.

"Kak Zahira!" panggil Vidi setengah berteriak girang, membuat Mbok Jumi dan Pak Bimo ikut tersenyum lega melihatnya. "Kakak lagi apa? Tempat tinggal Kakak bagus enggak? Kakak sudah makan belum?!"

Zahira tertawa renyah melihat kehebohan adiknya. "Satu-satu tanyanya, Vidi. Kakak sudah makan kok, tadi dimasakkan sup enak sama Ibunya Gisel. Tempatnya nyaman banget, tenang. Ada ruang belajar besar buat Kakak nulis."

Vidi mengarahkan kameranya sedikit ke arah Mbok Jumi dan Pak Bimo. "Lihat nih, Kak! Mbok Jumi sama Pak Bimo juga kangen banget sama Kakak!"

"Non Zahira! Sehat-sehat ya di sana, Non..." sapa Mbok Jumi mengusap air matanya yang menetes haru lewat layar HP.

"Iya Mbok, Pak Bimo... Zahira sehat kok. Terima kasih ya sudah jagain Vidi," balas Zahira tulus, matanya berkaca-kaca melihat kesetiaan orang-orang berhati tulus itu.

Setelah Mbok Jumi dan Pak Bimo pamit ke dapur, Vidi kembali memeluk ponselnya erat-erat, menatap kakaknya dengan penuh kerinduan.

"Kak..." bisik Vidi pelan. "Vidi kangen banget. Tapi Vidi bahagia banget lihat muka Kakak malam ini... Kakak kelihatan lebih tenang, enggak ada beban lagi di mata Kakak."

Zahira tersenyum matang, menatap adik bungsunya yang begitu peka. "Terima kasih ya, Vidi. Ini semua juga karena keberanian kamu. Ingat pesan Kakak, ya. Belajar yang rajin, jangan lawan Mami, dan kalau Vidi kangen, pintu tempat tinggal Kakak selalu terbuka buat kamu."

Di bawah pendar lampu kamar paviliunnya yang hangat, Zahira tahu, meski jalannya masih panjang dan penuh kelok, langkah pertamanya menuju kedamaian telah dimulai malam ini.

1
sunaryati jarum
Semoga lulus dengan nilai sempurna dengan predikat Cumlaude, Zahira
fazry_fazriyah: aamiin....

terima kasih doakan selalu Zahira ya
total 1 replies
Best
apa sih si Imelda ini, jahat
Best
Mampir lagi Thor. semangat up ceritanya...✨
Best
lanjut Thor... semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!