Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tembok Hitam
Hera memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Napasnya tercekat di tenggorokan. Kedua tangannya yang terbalut sarung tangan lapangan mendadak kaku.
Di tempat yang seharusnya menjadi jalur masuknya—tempat dua pohon purba raksasa dengan lilitan pita kain merah tebal yang menyala kontras—kini kosong melompong.
Batang pohon berdiameter lima meter itu lenyap seolah-olah baru saja dihapus dari muka bumi. Pita merah yang ia langkahi kurang dari sepuluh menit lalu tidak meninggalkan bekas selembar benang pun.
Di depannya kini hanya ada kegelapan pekat yang luar biasa padat. Kegelapan di Alas Purba malam ini terasa berbeda, bukan lagi seperti malam normal di bumi, melainkan seperti zat cair hitam yang berat dan siap menenggelamkannya.
"Tidak, tidak mungkin," bisik Hera. Suaranya terdengar sangat tipis, langsung lenyap ditelan kesunyian hutan. "Secara hukum fisika, materi tidak bisa menghilang begitu saja. Aku pasti salah arah. Aku pasti berputar tanpa sadar saat memetik bunga tadi." ucapnya lagi demi untuk mendapatkan ketenangan diri.
Hera mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang seperti genderang perang. Sebagai seorang profesor botani molekuler, dia dididik untuk memercayai data, koordinat, dan logika empiris. Dia menolak untuk percaya pada hal mistis.
"Tenang, Hera. Berpikir rasional," gumamnya pada diri sendiri, mencoba membangun benteng pertahanan di dalam kepalanya yang mulai pening akibat sisa aroma manis bunga Dream Flower. "Kamu membawa teknologi terbaik. Gunakan alatmu."
Hera meraba pergelangan tangan kirinya. Dia mengangkat tangan untuk melihat jam digital taktis miliknya yang dilengkapi dengan kompas magnetik internal dan pelacak GPS satelit. Namun, begitu matanya menatap layar jam, dahi Hera berkerut.
Layar LED yang biasanya menyala hijau terang itu kini berkedip-kedip kacau. Angka-angka digital di layarnya berubah menjadi simbol-simbol aneh yang acak, sebelum akhirnya meredup total dan mati.
"Baterainya mati? Baru diganti minggu lalu sebelum berangkat," gerutu Hera dengan nada panik yang kian meninggi.
Dia tidak menyerah. Hera meraba saku jaket gunungnya, mengambil telepon satelit berbalut karet tebal yang terhubung langsung dengan server utama Grahansa Corp.
Alat ini dirancang untuk tetap berfungsi bahkan di tengah badai gurun atau kutub utara sekalipun. Hera menekan tombol power dengan ibu jari yang gemetar hebat.
Layar telepon satelit itu menyala sesaat, memunculkan logo perusahaan, lalu sedetik kemudian terdengar suara bzzzt yang nyaring dari dalam mesinnya. Layarnya bergaris-garis putih, mengeluarkan bau hangus tipis seperti sirkuit yang terbakar akibat korsleting parah, lalu mati total. Komponen elektroniknya lumpuh.
"Sial! Kenapa semua alat ini rusak bersamaan?, ini mustahil, ini tidak mungkin, apa ya g sebenarnya terjadi?!" teriak Hera frustrasi.
Watak keras kepalanya mulai berbenturan keras dengan kenyataan yang tidak masuk akal.
Satu-satunya alat penerangan yang tersisa di tangannya adalah senter taktis kecil berkekuatan sangat besar.
Cahaya putih dari senter itu adalah satu-satunya pelindungnya dari tembok hitam kegelapan di sekelilingnya.
Namun, berkas cahayanya terasa sangat aneh. Cahaya senter itu seperti tertahan oleh kabut pekat yang mengambang di udara, hanya mampu menerangi area satu meter di depan ujung sepatunya. Lebih dari itu, cahaya tersebut terserap habis oleh kegelapan.
Klik. Klik.
Tiba-tiba, cahaya senter di tangannya mulai berkedip-kedip tidak stabil.
"Tidak, Ya Tuhan, Jangan sekarang, tolong, jangan sekarang," bisik Hera dengan suara memohon.
Dia memukul-mukul bagian belakang senter itu ke telapak tangannya berkali-kali. "Ayo menyala! Menyala!" teriaknya dengan penuh harapan agar dia. Ksa melihat jalan yang akan di laluinya.
Bzzzt-Klik.
Senter taktis itu padam sepenuhnya. Hutan di sekeliling Hera mendadak berubah menjadi gelap gulita yang absolut. Sensasi gelap ini begitu pekat hingga Hera tidak bisa melihat jemari tangannya sendiri yang diletakkan tepat di depan wajahnya. Ketakutan yang primitif dan murni langsung mencengkeram seluruh urat sarafnya.
"Baskara! Yudha! Kevin! Amara!" Hera berteriak sekuat tenaga. Suaranya melengking tinggi, dipenuhi keputusasaan yang mendalam. "Aku di sini! Senterku mati! Tolong senter ke arahku!"
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali.
Bahkan tidak ada suara angin yang menggesek dedaunan, tidak ada suara langkah kaki pengawal yang mencarinya, dan tidak ada lolongan hewan malam.
Alas Purba di titik ini terasa seperti ruang hampa udara yang kedap suara. Gema suaranya sendiri tidak memantul, seolah-olah kegelapan di sekelilingnya langsung memakan habis gelombang suara yang keluar dari mulutnya.
"Apa aku akan terjebak di dunia tanpa nama?" genggam erat tangan Nya sendiri.
Rasa panik yang luar biasa membuat akal sehat Hera lumpuh. Watak keras kepalanya beralih menjadi insting bertahan hidup yang buta. Dia tidak bisa diam di tempat ini dalam kegelapan total. Dia harus bergerak.
Hera mulai melangkah maju secara acak, menebak-nebak arah yang dia rasa benar. Kaki boots-nya melangkah dengan ceroboh di atas permukaan tanah yang tidak rata.
Krak!
Hera tersandung sebuah akar pohon yang mencuat tinggi. Tubuhnya terjajar ke depan, dan dia jatuh tersungkur di atas tumpukan daun-daun membusuk yang basah dan dingin.
Rasa perih langsung menjalar di lutut kirinya yang menghantam batu.
Ransel kecil di punggungnya yang berisi kantung sampel Dream Flower terasa menekan tubuhnya.
"Aduh." Hera meringis, air mata ketakutan dan rasa sakit akhirnya menetes di pipinya. Dia merangkak bangun dengan sisa-sisa kekuatannya, meraba-raba batang pohon terdekat untuk dijadikan pegangan berdiri. Kulit pohon yang dia sentuh terasa sangat aneh—licin, berlendir, dan dingin seperti kulit ular besar.
Hera menarik tangannya kembali dengan jijik. Dia berdiri tegak, memeluk tubuhnya sendiri yang mulai bergetar hebat karena kedinginan. Tanpa dia sadari, setiap langkah kaki yang dia ambil dalam kegelapan buta ini justru membawanya berjalan semakin jauh ke dalam jantung Alas Purba, menembus lapisan dimensi tersembunyi yang tidak pernah disentuh oleh peta geografi dunia manusia modern.
Di dalam kegelapan absolut itu, telinga Hera yang peka mendadak menangkap sebuah getaran suara yang sangat tipis dari kejauhan. Bukan suara teriakan tim penyelamatnya, melainkan sesuatu yang jauh lebih asing dan mengerikan suara gemuruh halus yang terdengar seperti derap langkah kaki kuda yang mulai bergerak mendekat ke arah posisinya berdiri.
Hera bersiap siaga, pakaian jaket tetap di pakai untuk melindungi mejanya, pikiran dan tatapannya masih terpancing oleh hilangnya jalan yang di lewati sebelum sampai disini.
Tera tak menyerah, terus berjalan menjauhi bising suara yang terdengar semakin mendekati.
Aku harus menemukan jalan itu, ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi, aku hanya mengambil bunganya saja, tidak menyentuh apapun yang kalian punya, batinnya sambil setetes air mata yang telah jatuh.