NovelToon NovelToon
Saga Delapan Kristal

Saga Delapan Kristal

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Action / Anime / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: AryaAulani

Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 AWAL SEBUAH PETUALANGAN

Sesuatu yang kecil dan ribut sedang berdiri di atas dadaku.

Aku membuka mata perlahan. Langit-langit putih berukir bunga-bunga halus, selimut yang jauh lebih empuk dari tanah mana pun yang pernah kutiduri, dan cahaya pagi yang menyelinap lewat tirai tipis. Untuk sesaat aku lupa di mana aku berada. Lalu sebuah wajah muncul tepat di depan hidungku.

"HEI..BANGUN!"

Aku menjerit tertahan, menendang selimut, dan terguling dari kasur dengan bunyi gedebuk yang cukup keras untuk membangunkan seisi rumah. Punggungku menghantam lantai kayu. Di atasku, Vivi terbang berputar sambil memegangi perutnya, tertawa sampai sayapnya nyaris tak bisa mengepak lurus.

"hahahahahah......wajahmu itu loh....!" ia terengah di sela tawa. "Wajahmu tadi, Arka! Seperti baru melihat entitas aja"

"Vivi!!!!!" Aku bangkit sambil mengusap pinggang. "Itu tidak lucu."

"hahahahahahahahah........lucu sekali."

Aku menyambar bantal terdekat dan melemparnya. Vivi menghindar dengan lincah, bantal itu menghantam lemari, dan ia menjulurkan lidah dari balik tirai. Kami berkejaran mengelilingi kamar. Aku melompati kursi, ia menyelinap di bawah meja, aku menerjang ke kiri, ia sudah pindah ke atas lampu gantung. Sepuluh tahun latihan bela diri, dan aku tak bisa menangkap seorang peri yang tingginya sejengkal.

"Kamu lambat untuk lulusan selatan!" ejeknya.

"Turun sini, kalau berani!"

Lalu tiba tiba pintu kamar terbuka.

Aku membeku dengan satu kaki di atas kursi, tanganku terulur ke arah lampu gantung. Vivi berhenti di udara. Di ambang pintu berdiri Cecilia dengan busur di punggung dan alis terangkat tinggi, dan di belakangnya seorang pemuda yang berusaha keras menahan senyum.

"Oh, maaf ya...tadi Aku mengetuk kok," kata Cecilia datar. "Dua kali."

"Kami..... Kami..sedang latihan kok," kataku, turun dari kursi dengan sisa martabat yang bisa kukumpulkan.

"Latihan menangkap peri?"

"Latihan refleks."

Vivi terkikik di atas lampu. Cecilia menarik napas panjang, tapi sudut bibirnya bergerak naik sedikit. "baiklah, sekarang rapikan dirimu. nanti aku tunggu di ruang makan."

Rumah singgah yang diberikan Cecilia kemarin malam ternyata sebuah mansion kecil di sudut kota, dua lantai dengan taman mungil dan dinding kaca yang memantulkan cahaya pagi. Aku masih belum terbiasa. Seumur hidup aku tidur di barak latihan berdinding kayu, dan sekarang aku punya kamar sendiri dengan kasur yang bisa menenggelamkan tubuhku.

"Ini mansion milik korps," jelas Cecilia ketika kami duduk mengelilingi meja panjang di ruang makan. Di atas meja sudah tersedia roti hangat, sup bening, dan buah-buahan yang belum pernah kulihat. "Rumah untuk anggota yang bertugas lama di luar kota. Kau boleh tinggal di sini selama kau bagian dari korps."

"Terima kasih," kataku tulus.

"Jangan berterima kasih dulu. Kamu nanti akan jarang menempatinya." Ia meletakkan cangkirnya. "Soalnya misimu dimulai hari ini."

Aku menegakkan punggung. Roti di tanganku terlupakan.

"Oh ya sebelum itu, ada seseorang yang harus kamu kenal dulu." Cecilia menoleh pada pemuda di sampingnya. "Dia ini nanti akan menjadi rekan perjalananmu."

Pemuda itu melangkah maju. Usianya mungkin dua tahun di atasku, tubuhnya tegap dan liat, rambut cokelat acaknya diikat sembarangan, dan di pinggangnya tergantung sepasang gada pendek dari logam kelabu. Lencana delapan sudut di dadanya sama persis dengan milikku: pangkat pemula.

"Salam kenal namaku Iyan," katanya, mengulurkan tangan dengan senyum lebar. "Aku bergabung dengan korps ini tiga bulan lalu. Pangkatnya sama denganmu, jadi kita sama-sama anak baru. Rolenya fighter pula."

Aku menjabat tangannya. Genggamannya hangat dan mantap. "Namaku Arka, Aku dari distrik selatan. Aku juga seorang fighter."

"Oh, bagus dong...!" Matanya berbinar. "Aku sudah lama ingin punya partner yang gaya bertarungnya sama. Selama ini aku selalu latihan dengan Robert, dan dia terlalu menakutkan."

"Dia tidak menakutkan kok," sahut Cecilia.

"Tapi dia mematahkan tiga gadaku bulan lalu." keluh iyan

"Itu karena kamu menyerangnya dari depan."

"ya iyalah, Dia itukan tank, dia memang selalu ada di depan, menjadi badan tim, wajar kalo sifatnya galak."

Vivi terkikik dari bahuku, dan ruangan terasa lebih ringan. Aku mulai menyukai Iyan.

Cecilia menunggu tawa kami mereda, lalu merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan selembar kertas tua yang dilipat berkali-kali. Warnanya kekuningan, tepinya berbulu karena usia. Ia meletakkannya di meja dengan hati-hati, seperti benda yang bisa hancur kalau salah sentuh.

"Ini silahkan dibuka."

Aku membukanya perlahan. Lipatan demi lipatan terbentang menjadi sebuah peta besar berwarna kecokelatan, bergambar benua dengan garis-garis pegunungan, sungai, dan hutan. Lima titik ditandai tinta merah pudar, masing-masing dengan simbol batu kecil berbentuk tetes air.

"Itu lokasi lima batu akik yang tersebar," kata Cecilia. "Peta ini disalin dari catatan sang jenius. Empat titik berada di distrik daratan, dan satu di tengah lautan." Jarinya menelusuri tiap titik. "Ini ada kota Artheria di barat, kota yang seluruhnya dipenuhi hutan. Lalu Kota Karang di utara, Lembah Embun di timur. Pegunungan Sorha di selatan, Dan yang terakhir, ditengah lautan, tempat yang bahkan peta ini tak berani menamainya."

Iyan bersiul pelan. "Lima tempat, lima batu ya..."

"Tolong dengarkan baik-baik." Cecilia menatap kami berdua bergantian. "Batu-batu ini bukan sekadar segel cadangan. Menurut catatan sang jenius, kalau kelimanya dikumpulkan dan disatukan, batu-batu itu bisa memanggil kembali kedelapan kristal dari tangan siapa pun yang menyimpannya."

Aku menahan napas. "Memanggil kembali? Dari dunia mereka?"

"Dari mana pun mereka berada, termasuk dari tangan Zaranos." Cecilia mengetuk meja. "Tapi ada satu hal penting. Setiap batu akik tidak memanggil semuanya sekaligus. Satu batu hanya bisa memunculkan satu atau dua kristal."

Iyan mengerutkan kening. "Jadi setiap kita mengumpulkan satu batu akik, nanti bakal muncul satu atau dua batu akik ya...kalo itu terkumpul berarti nanti lima batu menjadi delapan kristal..."

"ya...Kira-kira begitu. Tidak ada yang tahu pembagian pastinya. Yang jelas, kita butuh kelimanya." Cecilia melipat tangannya. "Kalau satu aja hilang, ada kristal yang tak akan kembali."

Aku menatap peta itu lama sekali. Lima titik merah, delapan cahaya yang hilang, dan dunia yang bergantung pada keduanya.

"Aku yakin para entitas juga mencarinya," kataku.

"Oh tentu pasti." Wajah Cecilia mengeras. "Karena itu aku tak mau mengirim pasukan besar. Pasukan besar mudah terlacak. Dua orang pemula yang terlihat seperti pengembara biasa lebih mungkin lolos dari pengawasan mereka."

"Maksudmu kami ini umpan?" tanya Iyan, setengah bercanda.

"Bukan gitu, Maksudku kalian tidak mencolok." Ia tersenyum tipis. "lagian juga, kalian dua petarung yang kupercaya."

Pujian itu hampir membuatku tersedak. Kemarin aku seorang asing tanpa kartu identitas, dan sekarang aku dipercaya membawa salah satu rahasia terpenting dunia.

"lalu tujuan pertama kita kemana?" tanyaku.

Cecilia menunjuk titik di sisi barat peta, sebuah lingkaran hijau dengan simbol pohon. "Pertama kalian ke kota Artheria terlebih dahulu. Sebuah Kota hijau, yang hampir sepertiganya pepohonan, sekitar tiga hari perjalanan dari sini kalau cepat. Kota itu dibangun di dalam hutan raksasa, rumah bagi sebagian besar peri dan penjaga alam. Menurut catatan, batu akik pertama tersembunyi di jantung kota."

Vivi tersentak di bahuku. "Ah....kota Artheria! Aku punya kerabat di sana!"

"Kamu memangnya akan ikut?" tanya Iyan, menatapnya dengan rasa ingin tahu.

"Tentu saja ikut!" Vivi menegakkan dada. "Mereka butuh penunjuk jalan yang tahu seluk-beluk hutan."

"Dia tidak salah juga sih," gumamku.

Cecilia mengangguk sambil melipat peta dan menyerahkannya padaku. "Jaga ini dengan nyawamu ya. Kalau jatuh ke tangan mereka, semuanya berakhir."

Aku menerima kertas tua itu dengan kedua tangan. Rasanya ringan, tapi bebannya jauh lebih berat dari pedang mana pun.

"Aku mengerti," kataku.

"Oh iya satu hal terakhir." Cecilia berdiri dan menatap kami berdua dengan sorot yang jarang kulihat darinya: sorot seseorang yang sedang menyembunyikan kekhawatiran. "Karena kalian masih pemula, Aku tidak memintamu menjadi pahlawan. Aku hanya memintamu kembali hidup-hidup."

Iyan menepuk dadanya. "Kami akan kembali. Janji."

"Aku tidak percaya janji dari orang yang gadanya sudah patah tiga," balas Cecilia.

"DIBILANG ITU SERANGAN DARI DEPAN!" sahut iyan dengan nada kesal.

Satu jam kemudian, kami berdiri di gerbang barat Sendira. Matahari baru naik, menyinari jalan tanah yang membentang ke arah cakrawala hijau. Aku membawa bekal yang disiapkan Hana, pedangku tergantung di punggung, dan peta batu akik terselip aman di balik jubahku. Iyan berdiri di sampingku dengan ransel besar dan senyum lebar yang tak kunjung hilang.

"Kalian siap?" tanyanya.

"Belum," jawabku jujur. "Tapi aku akan jalan juga."

"heheheh...Itu jawaban yang bagus untuk seorang pengembara."

Vivi terbang berputar di antara kami, sayapnya berkilau ditimpa cahaya pagi. "Cepat! Hutan tidak akan menunggu kita!"

Aku menoleh ke belakang. Dari kejauhan, di atas bukit kecil dekat tembok kota, kulihat sosok Cecilia berdiri bersama Robert, Dax, dan Hana. Tak ada yang melambai. Mereka hanya menatap kami berangkat, seperti menyaksikan sesuatu yang mereka harap bisa kembali.

Aku mengangkat satu tangan sebagai salam. Cecilia membalas dengan anggukan kecil.

Lalu aku berbalik, dan bersama Iyan serta Vivi, kuambil langkah pertama menuju Artheria, kota hijau di barat. Di langit di atas kepala kami, retakan berpendar samar seperti garis tipis yang menjadi saksi perjalanan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!