NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Karena kamu adalah istriku

Pukul sepuluh malam, para tamu akhirnya pamit pulang. Pintu utama penthouse tertutup rapat, mengembalikan kediaman mewah itu ke dalam kesunyian pekat. Staf rumah tangga telah merapikan meja makan dan kembali ke area pelayan.

Aisyah berdiri sendirian di dekat meja makan yang telah bersih, jemarinya mengelus pinggiran meja marmer yang dingin. Pikiran tentang tatapan iba Pak Hendra dan nama ayahnya terus berputar-putar di kepalanya.

Langkah kaki Ayden terdengar melangkah dari arah ruang tamu. Pria itu telah melepas jas tuksedonya, menyisakan kemeja putih dengan gulungan lengan hingga siku dan dua kancing atas yang terbuka.

"Malam yang sangat sukses," kata Ayden pelan, berjalan mendekati Aisyah. "Pak Gunawan setuju menandatangani investasi baru minggu depan."

Aisyah memutar tubuhnya, menatap Ayden dengan riak gelisah yang tidak lagi bisa ia tahan. "Ayden... kenapa tadi kamu memotong ucapan Pak Hendra secara kasar?"

Ayden menghentikan langkahnya, menatap istrinya datar. "Kasar? Aku tidak memotongnya secara kasar, Aisyah. Aku hanya mengembalikan fokus pembicaraan ke jalur yang benar."

"Tapi Pak Hendra mengenal Papaku!" desak Aisyah, suaranya sedikit bergetar emosi. "Dia bicara seolah-olah dia tahu sesuatu tentang kebangkrutan keluarga kami! Kenapa kamu harus menghentikannya saat dia mau menceritakannya padaku?"

Ayden melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga sosok tegapnya membayangi tubuh Aisyah. Kehangatan yang ia pamerkan di hadapan para tamu beberapa jam lalu telah menguap tanpa sisa, menyisakan raut wajah kaku dan berjarak.

"Untuk apa kamu mendengarkan omong kosong pria tua yang sudah pikun, Aisyah?" tanya Ayden dengan nada suara dingin dan tenang yang mengerikan.

"Dia tidak pikun, Ayden! Tatapan matanya... dia menatapku dengan rasa iba yang sangat tulus!" tegas Aisyah, menahan napasnya. "Selama ini aku hanya tahu Papa bangkrut karena ditipu mitra bisnisnya. Tapi Pak Hendra seolah tahu cerita yang lebih dalam. Kenapa kamu bersikap seolah ingin menyembunyikan hal itu dariku?"

Ayden menghela napas panjang. Ia mengulurkan tangannya, meraih kedua lengan atas Aisyah. Pegangannya tidak menyakitkan, namun begitu mengunci dan posesif, menahan Aisyah agar tidak bergeming.

"Dengar baik-baik ucapanku, Aisyah," bisik Ayden, suaranya rendah dan menusuk tepat di depan wajah istrinya. "Orang-orang tua seperti Pak Hendra di dunia bisnis itu beracun. Mereka suka mengorek-ngorek luka lama orang lain hanya untuk dijadikan bahan gosip murah di klub golf mereka."

"Tapi itu keluargaku, Ayden!"

"Keluargamu yang sudah mati!" potong Ayden tajam, membuat Aisyah tersentak kaget oleh intonasi tegas tersebut.

Mata Ayden berjelaga pekat, menatap Aisyah tanpa kedip. "Masa lalu keluargamu yang hancur itu sudah selesai. Tidak ada gunanya kamu mengorek bangkai yang sudah membusuk. Apakah dengan mengetahui detail kebangkrutan itu, orang tuamu akan hidup kembali? Tidak, Aisyah."

"Ayden..." air mata mulai merembes di sudut mata Aisyah, merasa dadanya sesak oleh tekanan mendadak dari suaminya.

"Aku melakukan ini untuk melindungimu," lanjut Ayden, menyuarakan kebohongan dinginnya dengan sangat meyakinkan seraya membelai pipi Aisyah yang basah menggunakan ibu jarinya. "Aku tidak ingin hatimu yang rapuh terluka lagi karena mengingat penderitaan masa lalu. Tugasmu di rumah ini adalah melihat ke depan, bersamaku."

Aisyah menggelengkan kepala pelan dalam tangisnya. "Tapi bersikap seolah Papaku tidak pernah ada dan melarangku mendengar ceritanya... itu membuatku merasa asing, Ayden."

Cengkeraman Ayden di lengan Aisyah sedikit memadat. Wajah pria itu mendekat, memperingatkan dengan nada posesif mutlak yang terselubung.

"Mulai malam ini, aku memperingatkanmu satu hal, Aisyah," ujar Ayden pelan, kalimatnya mengepung kewarasan Aisyah. "Jangan pernah lagi terlalu banyak berbicara atau membuka diri tentang masa lalumu kepada orang asing. Jangan pernah membiarkan orang lain memengaruhi pikiranmu di rumah ini."

"Kenapa?" bisik Aisyah pasrah, menatap mata suaminya yang tak lagi memancarkan kehangatan cinta, melainkan dominasi penuh.

"Karena kamu adalah istriku," jawab Ayden dingin. "Hidupmu, rasa amanmu, dan seluruh urusanmu sekarang adalah milikku. Kamu hanya perlu percaya padaku, bukan pada orang luar. Mengerti?"

Aisyah membisu. Kata-kata Ayden tidak memberikan rasa aman seperti yang selalu pria itu janjikan, melainkan meninggalkan rasa ngilu yang tajam dan pekat di dalam relung hatinya—sebuah kepedihan asing yang merambat pelan, menyadarkannya bahwa sangkar ini perlahan-lahan mulai mengunci pintu-pintunya rapat.

Ayden menunduk, mendaratkan ciuman singkat di kening Aisyah yang terasa dingin.

"Masuklah ke kamar dan istirahatlah," perintah Ayden lembut namun tak terbantahkan. "Aku masih ada beberapa dokumen kerja yang harus kuperiksa."

Aisyah tak menjawab. Ia membalikkan badan dan melangkah menuju kamar utama dengan langkah kaku. Di belakangnya, Ayden berdiri membisu dalam remang cahaya ruang makan, memperhatikan kepergian istrinya dengan tatapan beracun yang dipenuhi kalkulasi dendam yang kian meruncing.

***

​Matahari siang merambat naik, memancarkan sinar terik yang menembus kaca-kaca jendela penthouse. Cahaya terang itu memantulkan kilau sempurna pada cermin besar yang mendominasi dinding kamar tidur utama. Di dalam ruangan yang begitu harum aroma lavender dan kayu cendana itu, Aisyah berdiri seorang diri, mengamati bayangan dirinya di dalam cermin.

​"Kenapa rasanya masih seperti bermimpi?" bisik Aisyah pelan pada bayangannya sendiri, meraba gaun kasual katun lembut yang kini melekat di tubuhnya.

​Suara ketukan pintu yang halus memecah keheningan kamar. Bi Sumi, asisten rumah tangga paruh baya yang disewa Ayden untuk membantu perawatan penthouse, melangkah masuk membawa keranjang berisi seprai linen bersih.

​"Permisi, Ibu Aisyah," sapa Bi Sumi sopan seraya membungkuk kecil. "Saya mau mengganti seprai dan merapikan kamar utama. Apakah Ibu ingin saya kerjakan sekarang atau nanti?"

​Aisyah segera memutar tubuhnya dan tersenyum ramah. "Ah, Bi Sumi. Tidak perlu formal begitu, panggil Aisyah saja. Biar saya saja yang merapikan tempat tidurnya, Bibi tidak perlu repot."

​"Eh, jangan begitu, Bu Aisyah," cegah Bi Sumi dengan raut wajah agak cemas. "Pak Ayden pesan betul pada saya tadi pagi sebelum berangkat. Katanya, Ibu Aisyah tidak boleh terlalu lelah dan tidak boleh mengerjakan pekerjaan berat."

​Aisyah terkekeh pelan, melangkah mendekati tempat tidur berukuran king size tersebut. "Ayden memang terlalu berlebihan, Bi. Merapikan bantal dan melipat selimut bukan pekerjaan berat. Lagi pula, aku lebih suka beraktivitas daripada hanya duduk diam melamun."

​Bi Sumi tersenyum haru melihat kelembutan Aisyah. "Bapak sangat menyayangi Ibu, ya. Baru kali ini saya melihat Pak Ayden begitu perhatian pada seseorang. Biasanya beliau sangat dingin dan formal."

​"Benarkah, Bi?" tanya Aisyah penasaran, tangannya telaten menarik ujung seprai agar licin dan rapi. "Di mataku, Ayden selalu terlihat hangat dan lembut. Apakah di luar dia memang sosok yang sangat kaku?"

​"Wajar kalau Pak Ayden dingin pada orang lain, Bu," sahut Bi Sumi seraya membetulkan posisi sarung bantal. "Beliau pemimpin perusahaan besar, tanggung jawabnya banyak. Tapi kalau di depan Ibu, tatapan matanya beda sekali. Senyumnya tulus."

​"Tulus..." ulang Aisyah lirih. Kata itu mendadak menggetarkan benaknya, memanggil kembali rasa cemas janggal yang sempat menyelinap di dadanya tadi pagi.

​"Iya, Bu. Sangat tulus," tambah Bi Sumi, lalu pandangannya bergulir ke sudut kamar utama, tepat di mana sebuah meja kerja kayu mahoni tua yang megah berdiri kokoh. "Tapi Bu, ada satu hal yang harus Ibu ingat kalau sedang merapikan kamar ini."

​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!