NovelToon NovelToon
Salah Kirim Pesan Ke CEO: Magang Jadi Cinta

Salah Kirim Pesan Ke CEO: Magang Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Identitas Tersembunyi / Beda Usia
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: sphinxeditz77

Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.

Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.

Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.

Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.

Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.

Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.

Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Menjadi Manusia Normal

Sabtu pagi di Jakarta biasanya disambut dengan raungan knalpot motor yang pergi sunmori atau keramaian ibu-ibu di tukang sayur keliling. Bagi Andrian, Sabtu pagi idealnya berarti memeluk guling sampai matahari terik menyengat wajahnya menembus tirai kamar.

Namun pagi ini berbeda. Pukul delapan tepat, Andrian sudah terbangun dengan mata segar. Hal pertama yang dia lakukan bukan menyalakan televisi atau mencari sisa makanan semalam, melainkan meraih ponselnya di atas nakas.

Dia tersenyum tipis, membuka ruang obrolan dengan Elena.

Di seberang kota, di dalam sebuah penthouse mewah berlantai dua di kawasan Mega Kuningan, Elena sedang duduk di sofa kulit putihnya. Dia mengenakan jubah mandi berbahan sutra, secangkir earl grey panas ada di meja kaca di hadapannya. Tangannya sudah terulur, berjarak dua sentimeter dari tutup laptopnya. Otak korporatnya secara otomatis memerintahkannya untuk mengecek pergerakan saham Eropa semalam.

Tepat saat ujung jarinya menyentuh permukaan aluminium laptop tersebut, ponselnya berdering nyaring.

Elena menarik tangannya, melirik layar ponsel. Nama Andrian muncul.

> Andrian: Pagi, Len. Gue punya firasat lu sekarang lagi duduk di depan laptop sambil pura-pura bilang cuma mau cek satu laporan.

Mata Elena sedikit melebar. Bagaimana pemuda ini bisa menebak dengan begitu presisi? Dia terkekeh pelan, meraih ponselnya dan menyandarkan punggungnya ke sofa.

> Elena: Apakah kamu memasang kamera pengintai di apartemen saya, Andrian?

> Andrian: Insting anak magang. Gue tahu tabiat bos gue yang gila kerja. Ingat janji gue semalam? Hari ini gue bakal ngajarin lu jadi manusia normal.

> Pelajaran pertama: Pindahkan laptop lu ke laci meja, kunci, dan buang kuncinya sampai Senin pagi.

Elena menatap laptopnya dengan ragu. Dia tidak pernah melepaskan diri dari pekerjaannya selama lebih dari dua belas jam dalam lima tahun terakhir. Tapi entah mengapa, perintah dari anak magang yang jaraknya belasan kilometer darinya ini terdengar jauh lebih menarik daripada laporan margin perusahaan.

Dengan helaan napas panjang, Elena menutup laptopnya dan menyingkirkannya ke ujung meja, cukup jauh dari jangkauan tangannya.

> Elena: Sudah. Lalu apa selanjutnya, Pak Guru? Saya sudah bangun sejak jam enam dan saya tidak tahu harus melakukan apa jika tidak bekerja.

> Andrian: Ya ampun, lu bener-bener butuh diselamatkan. Pelajaran kedua: Sarapan santai. Jangan makan roti gandum yang keras atau salad sayur yang rasanya kayak rumput. Lu harus makan makanan yang bikin hati bahagia.

> Elena: Wagyu beef membuat hati saya bahagia.

> Andrian: Ditolak. Itu menu restoran bintang lima. Manusia normal sarapannya yang merakyat. Lu pernah makan bubur ayam abang-abang gerobak nggak? Yang kerupuknya tumpah-tumpah, sate ususnya dua, terus kuah kuningnya banjir.

Elena mengerutkan keningnya, membayangkan deskripsi kuliner yang sangat jauh dari standar kebersihan dan diet ahli gizinya.

> Elena: Andrian, saya tidak yakin lambung saya siap menerima makanan dengan tingkat higienitas yang patut dipertanyakan.

> Andrian: Percaya sama gue, Len. Sekali seumur hidup lu harus cobain. Kalau lu takut, suruh aja sopir atau asisten lu beli yang di ruko agak bersih, tapi request ala abang-abang gerobak. Terus lapor ke gue lu tim diaduk atau nggak diaduk.

Tantangan itu terdengar sangat konyol, namun anehnya berhasil memancing jiwa kompetitif Elena. Dia menekan tombol interkom yang terhubung ke dapur penthouse-nya.

"Bi Sumi," panggil Elena.

"Iya, Non Elena? Ada yang bisa Bibi siapkan?" suara asisten rumah tangganya terdengar segera.

"Tolong minta tolong Pak Yanto (sopir) untuk membelikan saya... bubur ayam. Yang ada kerupuknya banyak, sate usus dua, dan kuah kuningnya banyak. Tolong belikan secepatnya."

Hening sejenak di seberang interkom. Bi Sumi sepertinya sedang mengalami syok culture. "M-Maaf, Non? Non Elena mau sarapan bubur ayam di pinggir jalan? Bukan toast alpukat seperti biasa?"

"Iya, Bi. Bubur ayam. Pastikan hangat saat sampai."

"B-Baik, Non."

Empat puluh menit kemudian, semangkuk bubur ayam yang masih mengepul tersaji di meja makan marmer panjang milik Elena. Tampilannya sedikit berantakan dengan kerupuk yang meluap, sangat kontras dengan piring-piring porselen mewah di sekitarnya.

Elena menatap mangkuk itu dengan ragu. Dia mengambil ponselnya, memotret mangkuk tersebut, dan mengirimkannya kepada Andrian.

> Elena: (Membagikan Foto). Sudah di depan saya. Saya merasa sedang melakukan eksperimen biologi.

Andrian di kamarnya langsung tertawa terbahak-bahak melihat foto itu. Latar belakang mejanya marmer Italia, mangkuknya keramik mahal, tapi isinya bubur ayam komplit.

> Andrian: Luar biasa! Sekarang makan. Ingat, tim diaduk atau nggak diaduk menentukan kepribadian lu.

Elena mengambil sendoknya. Dia menatap tatanan kacang, ayam, dan daun bawang itu. Secara estetika, mengaduknya akan membuat makanan itu terlihat mengerikan. Elena menyendoknya dari pinggir dengan elegan, tanpa mengaduknya.

Suapan pertama masuk ke mulutnya.

Elena mengunyah pelan. Matanya sedikit membesar.

Ini... luar biasa lezat.

Kenapa selama ini dia rela menghabiskan hidup dengan salad hambar? Kalau tahu makanan seenak ini ada di dunia, dia seharusnya sudah pensiun dari salad sejak dulu.

> Elena: Saya tim tidak diaduk. Dan saya akui, ini jauh lebih nikmat dari yang saya perkirakan.

> Andrian: YES! Pilihan yang tepat. Orang elegan emang biasanya nggak ngaduk buburnya. Selamat datang di dunia nyata, Len.

Belum sempat Elena membalas pesan itu, pintu penthouse-nya terbuka dengan bunyi beep kode akses yang ditekan. Clara, dengan kacamata hitam besar dan tas branded di tangannya, melangkah masuk seperti biasa.

"El! Gue bawa croissant dari kafe baru di Senopati buat kita sarapan sambil bahas—"

Langkah Clara terhenti secara dramatis di ruang makan. Kacamata hitamnya melorot ke ujung hidungnya. Dia menatap sahabatnya yang sedang duduk di kursi kebesaran, mengenakan jubah mandi sutra, dan sedang menyendok... bubur ayam dengan sate usus, sambil tersenyum ke arah ponsel.

"Gue masih tidur atau dunia udah kiamat?" gumam Clara syok, menjatuhkan kotak croissant-nya ke atas meja. "Elena Puspasari makan karbohidrat jahat campur jeroan di Sabtu pagi?!"

Elena mendongak, sama sekali tidak terganggu dengan kedatangan sahabatnya. "Pagi, Clara. Mau? Rasanya sangat enak."

Clara langsung menarik kursi dan duduk di sebelah Elena, menatap mangkuk bubur dan ponsel Elena bergantian. Matanya menyipit penuh selidik.

"Lu kesurupan setan apa, El? Atau... ini ada hubungannya sama cowok bumbu soto yang bikin lu senyum-senyum di restoran kemarin?" tebak Clara dengan insting detektif yang setara dengan Maya.

Elena meletakkan sendoknya, menyesap tehnya dengan tenang. "Dia menyuruhku belajar menjadi manusia normal hari ini."

"Dan lu nurut?!" Clara memekik tertahan.

"Lu, CEO yang kalau ngasih perintah bikin direktur kencing celana, nurut disuruh makan bubur abang-abang sama cowok misterius ini?! Sumpah, El, gue harus ketemu sama pawang lu ini. Siapa dia? Pengusaha? Anak pejabat?"

Elena tersenyum misterius. "Hanya... rekan kerja."

"Rekan kerja dari Hong Kong! Nggak ada rekan kerja yang berani nyuruh lu ninggalin laptop di Sabtu pagi." Clara merebut ponsel Elena, berniat mengintip. Namun Elena dengan cepat menguncinya dan menyimpan ponsel itu ke dalam saku jubah mandinya.

"Jangan ikut campur, Clara. Saya sedang menikmati akhir pekan saya."

Melihat ekspresi wajah Elena yang begitu rileks, matanya yang tidak lagi dihiasi lingkaran hitam kelelahan, Clara perlahan tersenyum lembut. Sahabatnya ini selalu menanggung beban berat sejak remaja demi memenuhi ekspektasi orang tuanya. Jika pria di seberang telepon ini bisa membuat Elena tersenyum bebas dan makan dengan lahap, Clara tidak akan banyak protes.

"Terserah lu deh, El. Yang jelas, gue seneng lihat lu kayak gini. Lebih... hidup."

Siangnya, pelajaran dari Andrian berlanjut.

> Andrian: Pelajaran ketiga: Jangan nonton film dokumenter, berita politik, atau acara bedah rumah. Tonton film komedi yang bikin otak lu nggak perlu mikir. Gue rekomendasikan 'Gila Lu Ndro' atau film-film Warkop DKI jadul. Kita nonton bareng. Lu play dari sana, gue play dari sini.

Jam 14.00 teng.

Dan Elena melakukannya. Dia menyalakan home theater mewahnya yang biasanya hanya digunakan untuk memutar presentasi bisnis, dan mencari film komedi konyol yang disarankan Andrian.

Mereka menonton di tempat yang berbeda, namun terus bertukar pesan selama film berlangsung.

> Andrian: Lu lihat kan si Kasino jatuh ke got? Coba bayangin yang jatuh Mas Fajar.

> Elena: Hahaha. Saya rasa Fajar akan langsung resign besoknya karena malu.

Untuk beberapa jam, dunia Elena terasa jauh lebih sederhana. Tidak ada laporan, tidak ada rapat, tidak ada tekanan dari keluarganya. Hanya film konyol dan percakapan ringan dengan seseorang yang entah bagaimana selalu berhasil membuatnya lupa pada kesibukan.

Menjelang malam, hujan kembali turun dengan lembut. Elena berdiri di balkon penthouse-nya, memandang kelap-kelip lampu kota Jakarta dengan secangkir teh chamomile di tangan—minuman yang perlahan mulai menjadi favorit barunya sejak insiden lembur kemarin malam.

Ponselnya bergetar pelan.

> Andrian: Gimana hari pertama jadi manusia normal, Bos? Berhasil atau lu malah stres karena nggak kerja?

Elena menatap layar, jarinya mengusap tepian ponsel dengan lembut.

> Elena: Sangat berhasil, Pak Guru. Saya akui, ini adalah akhir pekan terbaik yang saya miliki dalam lima tahun terakhir. Terima kasih.

Andrian, yang sedang berbaring di kasurnya, membaca pesan itu dengan dada yang terasa hangat. Dia bisa merasakan ketulusan dari setiap kata yang diketik Elena.

> Andrian: Bagus. Besok kita ulangi lagi. Tapi besok agendanya cuma satu: Tidur seharian. Jangan chat gue sampai jam 12 siang. Lu butuh istirahat total. Malam, Len.

> Elena: Malam, Andrian.

Elena menyimpan ponselnya. Dia melangkah kembali ke dalam ruangan, menatap kalender digital di dindingnya. Besok adalah hari Minggu. Namun, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, Elena diam-diam menantikan datangnya hari Senin.

Dia tidak sabar untuk pergi ke kantor. Bukan untuk menandatangani kontrak, bukan untuk memimpin rapat, melainkan hanya untuk melihat apakah anak magang dengan kemeja birunya itu akan kembali tersenyum kaku saat berpapasan dengannya di lorong.

Di sisi lain kota, Andrian menatap langit-langit kamarnya. Detak jantungnya aneh. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan wajah Elena yang kelelahan tadi malam, dan bagaimana wajah itu mungkin terlihat hari ini saat tertawa karena pesan-pesannya.

"Kenapa gue seneng banget kalau di ketawa, sih?"

Andrian terdiam.

Kemudian dia menarik selimut sampai menutupi wajahnya.

"Bahaya"

Namun senyum di wajahnya mengkhianati penyangkalannya sendiri. Jarak di antara dua dunia yang bertolak belakang itu kini telah resmi terkikis.

Bersambung...

1
sphinxeditz77
Terima kasih buat kalian yang sudah mampir dan baca novel ini! 🥹❤️

Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥

Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆

Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥

Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!