Alina adalah seorang mahasiswa semester akhir yang tiba-tiba dijodohkan dengan anak sahabat orang tua nya yang merupakan dosen di tempatnya menimbah ilmu.
Sayangnya Farhan sudah memiliki kekasih yang sangat ia cintai.
Suatu hari Alina tidak sengaja melihat Farhan dan kekasihnya melakukan sesuatu hal yang menjijikan.
Bagaimana reaksi Alina saat tau laki-laki yang akan menjadi suaminya adalah orang yang sangat dia benci.
Ikuti cerita dari Mengejar Kesempatan ke dua setelah perceraian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
Setelah melewati hari yang cukup menguras tenaganya.
Alina memasuki rumahnya,dia melewatkan makan malam bersama orang tuanya, jujur saja Alina belum siap untuk berhadapan langsung dengan ayah bundanya,dia takut jika ada hal yang akan mengecewakan jika dia mendengarnya.
Alina langsung merebahkan diri di kasurnya,dia menatap langit-langit kamarnya.
"Aku suka hidupku yang sekarang,aku suka jadi anak ayah bunda,aku suka masa kuliah,aku suka semua kegiatan yang aku lakukan,tapi aku ga kalau ada hal buruk yang terselip di dalamnya." ucap Alina.
"Besok aku bakalan ngomong langsung ke ayah kalau aku ga mau di jodohkan,aku mau menikah sama orang yang aku cintai dan mencintai aku,aku mau cari cowok yang bisa memperlakukan aku kaya ayah ke bunda."
Akhirnya saking capeknya Alina langsung tertidur.
Keesokan harinya, karena hari ini weekend Alina sengaja bangun siang.
Sementara ayah Alina sedang berjemur di halaman bersama bundanya.
"Alina pulang jam berapa semalam?." tanya bunda
"Jam 9, kemarin aku lihat waktu lagi ambil kunci mobil." jawab ayah.
"Mas yakin mau jodohin Alina sama anaknya temen mas." tanya bunda.
"Semua itu tergantung Alina,kalau Alina mau ya gapapa kalau ga mau ya ga maksa sayang,yang menjalani seumur hidup kan Alina,lagi pula kebahagiaan Alina yang paling utama." ucap ayah Alina sambil memeluk bunda Alina.
Alina yang baru bangun langsung mencari keberadaan orang tuanya,dan benar saja mereka sedang berduaan di halaman.
Alina berjalan pelan-pelan kemudian memeluk ayah dan bundanya dari belakang.
"Enak banget yang masih pagi udah mesra-mesraan." ucap Alina
"Sayang udah bangun?." bunda terkejut melihat putrinya.
"Saking mesranya sampai ga tau kalau anaknya udah nyariin dari tadi." ucap Alina sambil cemberut.
Alina langsung duduk diantara ayah dan bundanya.
"Makanya kamu buruan cari pacar biar ga gangguin ayah sama bunda terus." ucap ayah Alina sambil mencubit pipi Alina.
"Ga mau,Alin pengen jadi anak ayah sama bunda selamanya." ucap Alina.
"Selamanya kamu akan jadi anak kesayangan ayah bunda." ucap ayah Alina sambil memeluk Alina,bunda pun tidak mau membuang kesempatan langsung ikut memeluk anaknya.
"Ayah,kalau Alin ga mau di jodohin ayah marah ya?." Alina mencoba bertanya dengan pelan.
"Ayah marah." ucapan ayah Alina membuka Alina Ling lung.
"Ayah marah kalau kamu tidak bahagia dalam menjalani hidup, jangan jadikan keputusan ayah sebagai patokan hidup kamu nak,jalani hidup kamu se bahagia-bahagiannya." ucapan ayah Alina ini membuat Alina langsung menangis di pelukan ayahnya.
Sambil menangis Alina berkata,"aku pikir ayah bakalan maksa ternyata engga, makasih ya yah karena ga pernah memaksa ke Alin."
"Lihat nih Bun,anak masih bayi kok mau kita nikahin,yang ada suaminya repot ngurus Alin." Alina memukul dada ayahnya dengan pelan, sedangkan sang ayah malah tertawa.
"Udah ah ayo sarapan dulu,biar bunda ingetin makannya,kamu cuci muka sama gosok gigi dulu sayang." ucap bundanya.
"Jadi princess kita belum gosok gigi? Pantas aja ada bau apa gitu." lagi-lagi ayah Alina menggoda anaknya.
"Bundaaaa,ayah ngejek aku." Alina berganti memeluk bundanya.
Orang tua Alina tertawa melihat tingkah laku putrinya. Alina berharap jika kebahagiaan ini berjalan selamanya.
Keadaan Farhan berbanding balik dengan Alina,saat ini dia sedang berada di kediaman keluarganya.
"Kapan kamu mau nikah?." tanya mamanya sambil menyiapkan lauk untuk sarapan.
"Lanjut ke pertanyaan selanjutnya." ucap Farhan.
"Kapan kamu ngasih mama cucu?."
"Kalau udah nikah." jawab Farhan singkat.
Mama Farhan langsung berdecak pinggang melihat kelakuan anaknya yang di bilang muda tapi ketuaan dibilang tua yang engga tua-tua banget.
"Mama sampai bingung sama kamu,temen mama udah pada gendong cucu lah kamu disuruh nikah aja kaya bangun candi."
"aku lebih baik bangun candi kalau bisa." kembali Farhan menjawab ucapan mamanya, sementara papa Farhan hanya cekikikan melihat perdebatan antara anak dan istrinya.
"Tau ah kamu itu pinter banget ngeles nya, mama udah kasih kebebasan buat cari sendiri katanya gampang, terus di kenalin sama anak temen papa malah nolak."
"Udah ma ayo makan keburu dingin makanannya." papa Farhan langsung menarik istrinya untuk duduk.