Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah, Air Mata, dan Hangatnya Sujud
Malam itu, jam di dinding baru saja menunjukkan pukul tiga pagi ketika kesunyian istana di atas bukit dipecah oleh suara decitan ban mobil yang mengerem mendadak di halaman depan.
Aisyah Humaira, yang sedang terbangun di sepertiga malam terakhirnya untuk melaksanakan salat tahajud, menghentikan bacaan doanya. Jantungnya mendadak berdegup kencang dengan irama yang tidak biasa. Firasat buruk langsung menghantam dadanya, membuat napasnya terasa sesak.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kamar yang diketuk dengan tidak sabar membuyarkan keheningan. Disusul oleh suara napas terengah-engah dan suara seorang pengawal kepercayaan Kenzie dari balik pintu besi.
"Nyonya! Nyonya besar, mohon buka pintunya! Ini darurat!" teriak suara pengawal itu dengan panik.
Aisyah segera bangkit, merapikan cadar yang menutupi wajahnya, lalu bergegas membukakan pintu. Begitu pintu terbuka, ia melihat salah satu pengawal senior Kenzie berdiri dengan wajah pucat pasi dan pakaian berlumuran darah segar di bagian lengan.
"Ada apa?" tanya Aisyah dengan suara bergetar.
"Tuan Kenzie... Tuan Kenzie terluka parah, Nyonya!" lapor pengawal itu dengan napas memburu. "Terjadi penyergapan di pelabuhan tikus. Baku tembak tidak bisa dihindarkan. Tuan berhasil melumpuhkan musuh, tapi beliau terkena tikaman pisau di bagian perut dan luka tembak di bahunya. Beliau menolak dibawa ke rumah sakit karena alasan keamanan sindikat!"
Dunia di sekeliling Aisyah seolah runtuh seketika. Tanpa memikirkan status mereka atau kebencian yang selama ini ditunjukkan Kenzie kepadanya, naluri seorang manusia dan seorang istri langsung mengambil alih.
"Bawa saya ke kamar beliau sekarang!" titah Aisyah dengan suara lantang dan penuh ketegasan yang membuat sang pengawal tertegun sejenak sebelum mengangguk cepat.
Aisyah berlari mengikuti pengawal tersebut menyusuri lorong menuju sayap barat istana, tempat kamar pribadi utama Kenzie berada.
Begitu ia mendorong pintu kamar besar itu, pemandangan yang tersaji di depan matanya membuat darahnya mendadak berdesir dingin. Kenzie Al-Ghazali pria arogan, dingin, dan tak tersentuh itu kini terbaring lemah di atas ranjang king-size dengan kemeja hitam yang sudah robek dan berlumuran darah merah pekat. Wajahnya sangat pucat pasi, butiran keringat dingin bercucuran di pelipisnya, dan napasnya tersengal-sengal berat. Luka tusukan di perut bagian samping dan luka tembak di dekat bahu kirinya terus mengeluarkan darah.
Dua orang asisten medis kepercayaan sindikat tampak kebingungan dan panik memegang peralatan medis steril, berusaha menghentikan pendarahan.
"Minggir," ucap Aisyah tegas, melangkah mendekati ranjang dengan langkah pasti.
"Tapi, Nyonya—" salah satu tenaga medis ragu.
"Saya bilang minggir!" potong Aisyah dengan suara penuh wibawa yang tidak bisa dibantah.
Tenaga medis itu mundur perlahan. Aisyah langsung mendekati ranjang. Ia melihat Kenzie setengah sadar, mengerang tertahan sambil mencengkeram seprai kasur dengan buku-buku jari yang memutih menahan rasa sakit yang luar biasa.
Tanpa keraguan sedikit pun, Aisyah melepaskan tas kecil yang dibawanya. Di dalam pesantren, selain menghafal Al-Qur'an, Aisyah juga diajarkan ilmu dasar pengobatan darurat dan meracik obat herbal oleh sang paman yang merupakan seorang tabib tradisional sekaligus dokter.
"Ambilkan air hangat, mangkuk steril, kain bersih, dan kotak P3K lengkap sekarang juga!" perintah Aisyah kepada pengawal dan tenaga medis di dalam kamar. Mereka bergegas bergerak cepat melaksanakan perintahnya.
Aisyah membungkuk di sisi ranjang. Ia mendekatkan wajahnya ke dekat Kenzie. Pria itu membuka matanya perlahan, menatap sayu ke arah sosok wanita bercadar yang kini berada tepat di atasnya.
"K... kau..." suara Kenzie melemah, parau, dan terbata-bata. Darah segar menetes dari sudut bibirnya akibat menahan rasa sakit. "Buat apa... ke mari... biarkan aku mati..."
"Diam, Tuan!" ucap Aisyah tegas, namun ada kelembutan yang teramat dalam di balik suaranya. "Anda tidak akan mati malam ini. Allah belum mengizinkan nyawa Anda dicabut dalam keadaan bermaksiat."
Aisyah dengan cekatan merobek sisa kemeja Kenzie di sekitar luka tembak dan luka tusuk tersebut untuk memperjelas area yang harus dibersihkan. Melihat luka robekan yang cukup dalam dan bau anyir darah yang menyengat, tangan Aisyah sempat bergetar hebat. Namun, ia segera membaca basmalah dan zikir di dalam hatinya, menepis rasa takut.
Air hangat dan peralatan medis datang. Dengan telaten, Aisyah membersihkan luka tembak di bahu Kenzie dari kotoran dan serpihan mesiu.
"Ini akan terasa sangat sakit, Tuan. Tahan sebentar," bisik Aisyah lembut.
Ketika cairan antiseptik menyentuh luka terbuka di bahu Kenzie, pria berdarah dingin itu mengerang kesakitan. Otot-otot tubuhnya tegang seketika, dan tangannya secara refleks mencengkeram pergelangan tangan Aisyah dengan sangat kuat hingga membuat gadis itu meringis menahan sakit.
Namun Aisyah tidak menarik tangannya. Ia justru membiarkan tangannya dicengkeram erat, sementara tangan kanannya terus bekerja membersihkan luka.
"Cengkeram tangan saya sekuat yang Anda mau, Tuan... jika itu bisa mengurangi sedikit rasa sakit Anda," ucap Aisyah tulus.
Kenzie menatap tajam ke dalam manik mata biru Aisyah yang tampak basah oleh air mata. Di tengah kabut kesakitan yang menderas di kepalanya, ada kehangatan yang luar biasa menjalar dari genggaman tangan gadis itu langsung ke dalam aliran darahnya. Tidak ada makian, tidak ada rasa jijik, tidak ada ketakutan—yang ada hanyalah ketulusan murni dari seorang wanita yang sedang mempertaruhkan perhatiannya untuk menyelamatkan nyawa suami yang telah menyiksanya.
Selama hampir dua jam penuh, kamar itu berubah menjadi ruang operasi darurat. Aisyah dengan teliti menjahit luka robekan di perut Kenzie menggunakan jarum dan benang bedah steril, lalu mengeluarkan proyektil peluru yang bersarang di dekat bahu pria itu dengan hati-hati.
Setiap kali jarum jahit itu menusuk kulit Kenzie, keringat dingin semakin deras membasahi wajah tampan pria itu. Dan setiap kali itu pula, Aisyah tidak henti-hentinya melantunkan doa dan ayat-ayat syifa (penyembuh) tepat di dekat telinga suaminya.
"Bismillah... ya Syafi, ya Allah... sembuhkanlah beliau..." bisik Aisyah berulang-ulang, air matanya perlahan menetes jatuh, menimpa punggung tangan Kenzie yang terkulai lemah di atas kasur.
Kenzie merasakan tetesan air mata hangat itu di kulitnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh lima tahun hidupnya, air mata seseorang jatuh karena mengkhawatirkan nyawanya. Bukan karena takut pada kekuasaannya, bukan pula karena mengharapkan hartanya, melainkan murni karena rasa kemanusiaan dan cinta kasih seorang istri di hadapan Sang Pencipta.
Menjelang subuh, tindakan darurat itu akhirnya selesai. Luka-luka Kenzie telah dibersihkan, dijahit rapat, dan dibalut dengan perban steril. Pengawal dan tenaga medis segera membereskan sisa peralatan medis dan meninggalkan kamar tersebut untuk memberikan privasi.
Kamar kembali sunyi. Kenzie terbaring dengan napas yang mulai stabil, meski wajahnya masih sangat pucat akibat kehilangan banyak darah.
Aisyah duduk bersimpuh di samping ranjang. Ia menyeka keringat di dahi Kenzie dengan handuk kecil yang dibasahi air hangat. Tangannya yang lelah terasa mati rasa, namun ia sama sekali tidak berniat beranjak.
Tiba-tiba, sebuah gerakan lemah menghentikan tangan Aisyah.
Kenzie perlahan membuka matanya. Ia meraba pelan pergelangan tangan Aisyah, menahannya agar tetap berada di dekat wajahnya. Pria itu menatap lurus ke dalam sepasang mata biru jernih Aisyah yang tampak lelah namun memancarkan ketulusan yang menyilaukan mata.
"Kenapa..." suara Kenzie sangat parau, hampir tidak terdengar. "Kenapa kau menyelamatkanku, Aisyah...? Aku... aku telah memperlakukanmu seperti sampah di rumah ini... aku membawa pelacur... aku membuat hari-harimu seperti neraka... kenapa... kau tidak membiarkan aku mati saja?"
Aisyah menatap suami yang kini tak berdaya itu. Di balik cadarnya, sebuah senyuman tulus terukir indah.
"Karena saya adalah istri Anda, Tuan," jawab Aisyah lembut. Suaranya bergetar namun penuh keyakinan. "Dalam ajaran agama saya, seorang istri diwajibkan berbakti dan merawat suaminya dalam keadaan suka maupun duka, sehat maupun sakit. Dosa besar bagi saya jika membiarkan suami saya meregang nyawa di depan mata kepala saya sendiri, sementara saya memiliki kemampuan untuk menolongnya."
Kenzie tertegun hebat. Air mata yang selama ini ia tahan mati-matian sejak masa kecilnya yang kelam akhirnya tumpah begitu saja, merembes keluar dari sudut matanya yang tajam.
Seumur hidupnya, Kenzie diajarkan bahwa dunia ini adalah tempat yang kejam siapa yang kuat dia yang menang, tidak ada kasih sayang tanpa pamrih, dan semua orang berbuat baik hanya karena ada uang atau kepentingan. Namun malam ini, seorang gadis Hafizah bercadar membuktikan bahwa ada cinta yang tulus tanpa syarat di muka bumi ini cinta yang lahir dari keimanan dan ketulusan hati yang bersih.
"Aku... adalah manusia berdosa, Aisyah..." bisik Kenzie terbata-bata, suaranya pecah oleh isak tangis tertahan yang menyayat hati. "Tanganku sudah kotor oleh darah... aku tidak pantas mendapatkan wanita sepertimu..."
Aisyah menggeleng perlahan. Ia mengangkat tangan kanannya yang bebas, lalu dengan penuh kelembutan, untuk pertama kalinya ia menyentuh puncak kepala Kenzie, mengusap rambut hitam pria itu layaknya seorang ibu yang menenangkan anaknya yang ketakutan.
"Tidak ada manusia yang tidak punya masa lalu, Tuan... dan tidak ada pintu taubat yang tertutup bagi hamba yang ingin kembali kepada Tuhannya," ucap Aisyah penuh kedamaian. "Selama Anda masih bernapas, Allah memberi Anda kesempatan untuk berubah. Mulailah membuka lembaran baru... kembalilah kepada Allah, Kenzie."
Mendengar namanya disebut tanpa embel-embel 'Tuan' untuk pertama kalinya, dan merasakan kehangatan usapan tangan sang istri di kepalanya, benteng pertahanan terakhir di jiwa gelap Kenzie Al-Ghazali runtuh berkeping-keping.
Pria berdarah dingin itu menarik tangan Aisyah, mendekatkan ke wajahnya, lalu membenamkan wajahnya di telapak tangan sang istri sambil menangis sejadi-jadinya melepaskan seluruh beban, kebencian, dan trauma masa lalu yang selama belasan tahun mendekam di dalam dadanya.
Aisyah tidak menarik tangannya. Ia membiarkan suaminya menangis di hadapannya, sementara bibirnya terus melafalkan doa-doa keselamatan dan zikir penenang jiwa.
Di luar jendela kamar, fajar mulai menyingsing di ufuk timur, membawa sinar keemasan yang menembus celah kaca istana menghalau kegelapan malam, dan menyalakan secercah cahaya hidayah di hati seorang mafia yang paling ditakuti dunia.