Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Kaisar yang tak pernah ada
Ye Chan mengetuk permukaan cangkir tanah liatnya yang retak. Uap teh meliuk tipis ke udara, membawa aroma melati murah yang pekat. Ia menggeser selembar peta wilayah administrasi ke tengah meja kayu yang berminyak.
Pria bermata tajam di seberang meja menatap peta itu. Pandangannya kemudian beralih pada sekeping perak di sela jemari Ye Chan. Ia mengusap dagunya yang ditumbuhi janggut jarang dengan gerakan lambat.
"Aku sudah membaca daftar pejabat tinggi di tiga wilayah perbatasan," kata Ye Chan pelan. Ia menunjuk area tengah peta yang kosong tanpa lambang keluarga penguasa. "Siapa yang menduduki takhta pusat?"
Pedagang informasi itu tidak langsung menjawab. Ia meraih cangkir tehnya, menghirupnya lambat-lambat, lalu meletakkannya kembali dengan ketukan pelan.
"Tidak ada," jawabnya datar.
Ye Chan menaikkan sebelah alisnya. Jarinya berhenti mengetuk cangkir.
'Lagi, tidak ada pertanda dari kaisar itu, apakah benar semua penglihatan yang aku lihat itu?' pikirnya.
Pedagang itu mencondongkan tubuh, mengurangi volume suaranya di tengah bisingnya kedai teh.
"Takhta itu kosong. Semua orang tahu itu, untuk apa mempertanyakan hal yang jelas."
Ye Chan menarik kembali keping peraknya, menahannya di bawah telapak tangan yang kokoh.
"Struktur sebesar ini tidak mungkin berjalan tanpa kendali terpusat. Siapa yang memungut pajak dan menggerakkan pasukan perbatasan?"
"Dewan Menteri dan para gubernur wilayah, sudah dari dulu seperti itu," sahut pedagang itu cepat.
Matanya masih melirik keping perak di bawah tangan Ye Chan.
"Sistemnya sudah berjalan secara mandiri. Hukum kekaisaran tetap tegak, upeti tetap mengalir ke ibu kota, tanpa kaisar pun wilayah tetap jalan."
Ye Chan membasahi bibirnya yang kering. 'Sudah jelas, aku tahu itu.'
"Menurut sejarah, berapa lama takhta itu dibiarkan kosong?" tanya Ye Chan lagi.
Pedagang itu bersandar pada sandaran kursi bambunya yang berderit. "Sejak catatan sejarah pertama kali ditulis ratusan tahun lalu. Tidak pernah ada nama kaisar tunggal yang tercantum di dokumen resmi."
Ye Chan terdiam sejenak, mencerna informasi tersebut. Ia mendorong keping perak itu hingga berdenting di atas meja, membayar informasi yang baru saja ia terima.
Pedagang itu mengambil keping perak itu dengan sigap, kemudian terkekeh kecil.
"Kalau butuh jasa bilang saja, kapan lagi aku dapat hadiah dari sebuah informasi umum seperti ini."
Ye Chan tidak menyahut.
Ia bangkit dari kursi bambunya, lalu melangkah keluar dari kedai teh yang pengap. Cahaya matahari pagi langsung menyengat pundaknya saat ia menyusuri jalan berbatu menuju distrik administratif. Debu jalanan beterbangan, dikocok oleh roda-roda kereta kuda yang melintas cepat.
Di dekat gerbang batu distrik, sekelompok kultivator paruh baya sedang berkumpul di bawah pohon beringin tua. Ye Chan memperlambat langkahnya. Ia berpura-pura mengamati deretan papan pengumuman di dinding batu yang berlumut.
Seorang pria paruh baya dengan jubah kelabu yang agak koyak di bagian lengan sedang berbicara dengan rekannya. Ia mengunyah biji labu kering dengan berisik.
"Pejabat pengawas yang baru ditunjuk di wilayah barat dikabarkan sudah menembus tingkat Master," bisik pria berjubah kelabu itu. "Kekuatannya setara dengan tetua agung sekte kelas dua."
Pria di sebelahnya hanya mendengus, membersihkan sela giginya dengan kuku ibu jari yang kotor.
"Kekaisaran tidak membutuhkan seorang kaisar jika mereka punya orang-orang sekuat itu di setiap sudut kota," lanjut pria berjubah kelabu itu lagi, lalu meludah ke tanah.
Ye Chan berjalan melewati mereka dengan wajah tenang tanpa ekspresi.
'Tingkat Master bersedia melayani birokrasi tanpa penguasa tunggal. Ada sesuatu yang menahan mereka di tempatnya,' pikirnya sambil terus melangkah.
Ia mempercepat langkahnya menuju gedung arsip berkubah batu hitam di ujung jalan. Ia bertekad memverifikasi struktur kekuasaan ini langsung dari dokumen resmi kekaisaran.
***
Dua jam berselang di bawah terik siang yang menyengat, bau kertas tua yang lembap memenuhi hidung Ye Chan di dalam aula arsip yang sunyi. Ia berdiri di depan meja tinggi yang dijaga oleh seorang petugas setengah baya berjubah hitam.
Petugas itu menggeser sebuah buku besar bersampul kulit kusam setelah menerima tiga keping perunggu dari Ye Chan. "Hanya catatan umum yang boleh dibaca. Jangan menyentuh rak di baris ketiga."
Ye Chan mengangguk patuh sebagai jawaban. Ia membawa buku itu ke meja sudut yang paling gelap, lalu mulai membalik halaman demi halaman dengan saksama.
Jemarinya menyusuri daftar silsilah pejabat kekaisaran dari masa ke masa. Nama-nama menteri keuangan, jenderal pertahanan, dan hakim agung berganti setiap beberapa dekade. Namun, kolom untuk lambang kaisar selalu digantikan oleh stempel merah berbentuk lingkaran kosong.
Ye Chan mengetatkan rahangnya. 'Takhta kosong ini bukan kelalaian sejarah. Ini adalah keputusan politik yang disengaja, tapi aku tidak punya bukti untuk pemikiranku ini, hanya ingatan dari reruntuhan itu.'
Ia menutup buku tebal itu dengan deburan pelan yang menerbangkan debu tipis ke udara. Ia mengembalikan buku tersebut ke meja petugas, lalu berjalan keluar menuju halaman samping yang rindang.
Sambil bersandar pada pilar batu yang dingin, Ye Chan mengamati kesibukan para juru tulis yang berlalu-lalang membawa tumpukan dokumen. Otaknya bekerja cepat, memetakan berbagai kemungkinan yang ada di kepalanya.
'Apakah kekaisaran ini dikendalikan oleh kekuatan tersembunyi? Atau takhta itu sengaja dibiarkan kosong sebagai umpan untuk sekte-sekte besar?' batinnya mencari jawaban.
Ia mengusap tengkuknya yang terasa kaku. 'Terlalu sedikit informasi. Aku tidak boleh menarik kesimpulan terlalu cepat.'
Sebagai mantan tetua sekte, ia tahu betul bahwa membuat asumsi tanpa bukti kuat adalah langkah tercepat menuju kematian. Kehati-hatian adalah hal yang menyelamatkannya selama ini.
Langkah kakinya kembali mengayun, meninggalkan pelataran gedung arsip saat bayang-bayang tiang mulai memanjang ke timur. Hari mulai beranjak petang ketika ia sampai di tempat tujuannya.
Menjelang malam, Ye Chan telah berada di dalam kamar sewaannya yang sempit di penginapan. Lampu minyak di sudut meja bergoyang pelan, memantulkan bayangan tubuhnya di dinding kayu yang retak.
Ia menggelar peta wilayah di atas meja, menatap titik-titik yang menandai batas kekuasaan Sekte Awan Putih dan jalur administrasi kekaisaran. Pikirannya terbagi menjadi tiga fokus utama sekarang.
'Shi Zhong yang melesat cepat ke puncak Pembentukan Inti. Sekte lamaku yang tampaknya mulai terlibat dengan kekaisaran. Dan takhta kosong ini,' pikirnya dengan dahi berkerut.
Ia menghela napas panjang, merasakan sirkulasi Qi di dalam meridiannya yang masih terasa hangat namun terbatas. Lalu, ada Giok kehampaan yang tersambung ke semua meridiannya.
'Aku tidak boleh menganggap dunia masih sama setelah melewati semua kesengsaraan iru. Terutama setelah mendapatkan Giok Kehampaan.'
Ia melipat kembali petanya dengan gerakan rapi, lalu menyelipkannya ke dalam saku jubah bagian dalam. Pandangannya beralih ke jendela yang menghadap langsung ke jalan perdagangan utama di bawah sana.
'Jika aku ingin tahu apa yang terjadi pada sekte tanpa memicu kecurigaan, aku hanya perlu menunggu di sini, sambil mengumpulkan kekuatan, pelan tapi pasti,' batinnya menetapkan rencana.
Jalur perdagangan ini adalah nadi utama bagi para kultivator yang bepergian dari berbagai penjuru wilayah. Informasi dari luar pasti akan lewat melalui tempat ini.
Ye Chan mematikan api lampu minyak dengan kibasan lengan bajunya yang cepat. Kamar itu seketika tenggelam dalam kegelapan. Ia kemudian duduk bersila di atas ranjang kayu yang keras untuk memulai meditasi malamnya.