Satu Atap Bersama Mantan
Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.
Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.
Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.
Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Misi Nekat
"Maksud lu gimana, Ra?" Sandy menaikkan satu alisnya, merasakan ada perubahan nada bicara dari sahabatnya. "Kan lu sendiri yang bilang kemarin... lu mau ikuti permainan Om Surya. Nikah resmi, dapet akses kartu kredit balik, terus dalam tiga bulan bikin tuh cowok minta cerai?"
Aira bangkit dari posisi tidurnya, duduk bersila sambil memeluk lututnya. Raut wajahnya tak lagi bercanda. Ada kilat nekat di matanya.
"Gue gak bisa, Ra," bisik Aira pelan. "Gue gak bisa nunggu tiga bulan buat cerai. Gue gak bisa membayangkan diri gue berdiri di samping cowok itu, ngucapin janji suci, terus tinggal seatap sama orang yang gak gue kenal."
"Terus lu mau gimana?"
Aira menatap Sandy lurus. "Gue mau kabur."
Sandy langsung melonjak duduk dari karpet sampai kaleng soju-nya hampir tersenggol. "Hah?! Lu gila ya, Aira?! Kabur?!"
"Ssshh! Jangan teriak-teriak, ntar tetangga lu mikir ada perampokan!" tegur Aira cepat, menarik lengan piyama Sandy .
"Lu yang gila, bukan tetangga gue!" pekik Sandy , menekan volume suaranya jadi bisikan histeris. "Kabur gimana maksud lu?! Hari h pernikahan lu tinggal beberapa hari lagi! Rumah lu dijaga ketat banget sama pengawal Om Surya! Lu mau kabur lewat mana? Terbang pake helikopter?!"
"Bukan kabur dari rumah sebelum hari H," kata Aira dengan suara mantap, matanya berbinar-binar memancarkan rencana yang sudah ia simpan di kepalanya sejak semalaman. "Gue bakal kabur di hari H pernikahan itu."
Sandy terdiam. Mulutnya menganga lebar, menatap Aira seolah-olah sahabatnya itu baru saja mengaku sebagai anggota alien. "Lu... lu beneran udah kehilangan akal sehat ya, Ra?"
"Dengerin gue dulu!" Aira memajukan tubuhnya, memegang kedua bahu Sandy . "Pernikahan ini kan privat banget. Papi sama tim WO pasti fokus ngurusin tamu-tamu VIP dan pengamanan di area luar."
"Terus?"
"Pas hari H, begitu gue selesai didandanin... sebelum gue disuruh turun ke area akad, gue bakal nyelinap keluar lewat pintu belakang area service atau balkon," terang Aira berapi-api. "Di situ kan pengamanan biasanya agak longgar karena semua orang fokus ke area utama. Nah, di situ lu harus udah nunggu gue di luar pake mobil lu!"
"Aira Calista Hermawan!" Sandy menepis tangan Aira dari bahunya, raut wajahnya berubah panik dan cemas. "Lu pikir ini film action Hollywood?! Om Surya bakal marah besar, Ra! Lu bisa dicoret dari silsilah keluarga Hermawan! Lagian, lu mau kabur ke mana tanpa uang?! Kartu lu kan masih dibekuin!"
Aira tersenyum tipis—sebuah senyuman nekat dari seseorang yang merasa tak punya hal lain untuk dipertaruhkan.
"Gue bakal jual beberapa perhiasan sama jam tangan gue yang masih ada di dalam koper," sahut Aira santai. "Gue bisa dapet puluhan juta tunai dari situ. Buat modal gue sembunyi di Bali atau Jogja selama beberapa bulan sampai suasana mendingin."
"Ra, please... jangan nekat deh," mohon Sandy, memegang tangan Aira erat. Suaranya penuh kecemasan. "Gue tahu lu benci dipaksa. Gue tahu lu kesel sama Om Surya. Tapi ini resikonya gede banget! Kalau lu ketangkap pas mau kabur gimana? Kalau calon suami lu dan keluarganya merasa dipermalukan terus menuntut keluarga lu gimana?"
"Biarin!" potong Aira tajam. "Biar Papi tahu kalau gue bukan boneka yang bisa dijual-belikan seenaknya demi urusan bisnis! Lagian, calon suami gue itu juga palingan nikahin gue cuma gara-gara disuruh bapaknya! Dia gak bakal rugi apa-apa kalau gue kabur!"
Aira menatap Sandy dengan mata yang mulai berkaca-kaca, melunakkan nada bicaranya. "Sandy ... please. Lu satu-satunya sahabat gue. Gue cuma butuh lu buat parkir mobil lu di area belakang rumah gue jam sepuluh pagi pas hari H. Cuma itu. Lu gak perlu ikut kabur sama gue. Cuma jemput gue dan anterin gue ke stasiun atau bandara."
Sandy menatap Aira cukup lama. Ia bisa melihat keputusasaan di mata Aira. Sandy tahu, di balik sifat manja, boros, dan gengsi tingginya Aira, sahabatnya ini sebenarnya menyimpan luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh sejak Devan meninggalkannya delapan tahun lalu.
Pernikahan paksa ini menjadi pemicu emosi Aira.
Sandy menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. Rasa frustrasi melingkupi dadanya.
"Ra..." suara Sandy terdengar amat berat. "Gue tetep mikir ini rencana paling bodoh yang pernah lu bikin sepanjang dua puluh lima tahun lu hidup."
"Sandy ..."
"Tapi," potong Sandy cepat sebelum Aira sempat memotongnya lagi. Sandy menatap Aira dengan pasrah. "Gue juga tahu, kalau gue melarang lu sekarang, lu bakal tetep nekat jalanin rencana ini sendirian tanpa ada yang menjaga lu."
Mata Aira membelalak pelan. "Maksud lu..."
"Gue nggak mendukung rencana gila lu ini," tegas Sandy, menunjuk muka Aira pake telunjuknya. "Gue bakal tetep mencoba membujuk lu buat batalkan rencana ini sampai detik terakhir nanti. Tapi... kalau pas hari H lu tetep nekat mau lari... gue bakal ada di dalam mobil di area belakang buat jemput lu."
Aira seketika berhambur memeluk Sandy, menenggelamkan wajahnya di bahu sahabatnya itu. "Makasih, Sandy ... makasih banyak! Lu emang sahabat terbaik gue!"
Sandy hanya menepuk-nepuk punggung Aira dengan perasaan campur aduk.
"Jangan makasih dulu," gumam Sandy prihatin. "Gue cuma berdoa semoga Om Surya nggak membantai gue hidup-hidup kalau sampai rencana gila lu ini berhasil... atau malah berujung konyol."
Aira melepaskan pelukannya, mengusap sudut matanya yang agak basah lalu tersenyum penuh kemenangan. "Nggak bakal ketahuan. Gue udah perhitungkan semuanya. Hari H nanti bakal jadi hari kebebasan gue."
Malam makin larut. Sandy sudah tertidur pulas di sampingnya, mendengkur halus dibalik selimutnya.
Namun, Aira masih terjaga. Ia menatap ke luar jendela kaca apartemen Sandy yang menampilkan pemandangan gemerlap lampu-lampu pencakar langit Jakarta dari ketinggian lantai dua puluh.
Jemarinya meremas ujung selimut. Di balik semangat dan rasa nekat yang tadi ia tunjukkan di depan Sandy, ada sebuah keraguan kecil yang menyeruak di relung hatinya.
Bayangan wajah Devan saat berada di restoran kemarin malam melintas lagi di ingatannya.
Senyuman Devan yang menawan, tatapan mata elangnya yang tenang, dan aroma parfum maskulin yang seolah-olah masih tertinggal di udara.
Kenapa gue harus ketemu dia tepat saat hidup gue lagi kacau begini? batin Aira perih.
Aira memejamkan matanya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan untuk kabur di hari pernikahan adalah jalan terbaik.
Ia tidak mau dipenjara dalam pernikahan tanpa rasa cinta, dan ia juga tidak mau terus-terusan dihantui oleh bayang-bayang Devan yang kini sudah kembali ke Jakarta.
Ia tidak pernah membayangkan, bahwa rencana kabur yang dipikirkannya begitu matang malam ini, justru akan membawanya berhadapan langsung dengan kejutan paling membagongkan sepanjang hidupnya.
semangat thorr💪💪😍