Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran di Tengah Kekacauan
Alya menatap Sarah yang berdiri di ambang pintu balkon, kebingungan jelas terpancar di wajahnya. Raka pun tampak sama kagetnya, tubuhnya menegak dari posisi bersandar di pagar balkon.
"Diundang?" tanya Raka, suaranya penuh keheranan. "Sama siapa?"
"Ibumu," jawab Sarah, melangkah masuk ke balkon dengan ekspresi yang mulai berubah—dari kebingungan menjadi sesuatu yang lebih berat, seolah ia baru saja menyadari sesuatu. "Bu Marlina bilang ada acara keluarga penting, dan dia pikir aku juga harus ada di sini karena..." Sarah berhenti sejenak, matanya berpindah dari Raka ke Alya, lalu kembali ke Raka. "Karena dia pikir aku sama kamu ada hubungan serius."
Keheningan canggung menyelimuti balkon itu. Alya bisa melihat rahang Raka mengeras, jelas tidak nyaman dengan situasi yang tiba-tiba menjadi jauh lebih rumit dari yang seharusnya.
"Sarah," kata Raka pelan, "aku rasa ada kesalahpahaman besar di sini. Aku nggak pernah bilang ke ibuku kalau kita punya hubungan lebih dari rekan kerja."
Wajah Sarah memerah, entah karena malu atau sakit hati—mungkin keduanya. "Jadi ibumu ngundang aku ke sini berdasarkan asumsinya sendiri?"
"Aku minta maaf," kata Raka, suaranya tulus. "Ini bukan salah kamu. Ibuku mungkin terlalu berharap, karena aku memang pernah cerita kalau kita sering kerja bareng, tapi aku nggak pernah kasih dia alasan buat mikir ada sesuatu yang lebih."
Sarah menatap Alya sejenak, lalu kembali ke Raka, dan tiba-tiba tawa kecil yang pahit keluar dari mulutnya. "Ya ampun. Aku ngerasa bodoh banget sekarang." Ia menghela napas, mencoba mengumpulkan kembali kepercayaan dirinya. "Oke. Aku ngerti sekarang kenapa kamu selalu jaga jarak sama aku, meskipun aku udah kasih sinyal jelas-jelas selama ini."
"Sarah—" Alya mencoba menyela, merasa perlu mengatakan sesuatu meski ia sendiri tidak yakin apa yang pantas dikatakan dalam situasi seperti ini.
"Nggak apa-apa," potong Sarah, mengangkat tangannya. Ia menatap Alya dengan tatapan yang mengejutkan—bukan kebencian, melainkan semacam pengertian yang jujur. "Waktu aku ketemu kamu di kantin minggu lalu, aku udah curiga sebenarnya. Cara Raka nyebut nama kamu, cara dia jadi beda kalau ada kamu di ruangan... aku cuma nggak mau ngakuin itu ke diri aku sendiri."
Alya tidak tahu harus merasa lega atau semakin bersalah mendengar pengakuan itu.
"Aku rasa," lanjut Sarah, menegakkan bahunya, mencoba mempertahankan martabatnya di tengah situasi yang memalukan itu, "aku akan turun dulu, kasih tau ke Bu Marlina kalau ada kesalahpahaman. Aku nggak mau ganggu urusan keluarga kalian." Ia melangkah ke pintu, lalu berhenti sejenak, menoleh ke arah Raka. "Tapi Raka, lain kali, tolong jujur dari awal. Jangan biarin orang berharap sesuatu yang nggak akan pernah terjadi."
Kalimat itu menghantam Raka lebih keras dari yang terlihat, dan ia hanya bisa mengangguk pelan. "Kamu benar. Maaf, Sarah."
Sarah tersenyum tipis, senyum yang jelas dipaksakan, sebelum akhirnya berbalik dan menghilang di balik pintu, meninggalkan Alya dan Raka kembali berdua di balkon yang kini terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
---
"Aku harus minta maaf," kata Raka setelah beberapa saat, menghela napas berat. "Ini bukan cara yang aku mau buat semuanya terungkap."
"Kamu nggak salah," jawab Alya, meski hatinya masih terasa berat memikirkan ekspresi Sarah sebelum pergi. "Ibumu yang salah paham. Tapi... aku juga ngerti kenapa dia berharap begitu. Sarah orang baik, dan mungkin di mata orang tua kamu, dia kelihatan seperti pilihan yang 'aman' dibanding aku, yang penuh sejarah rumit."
"Aku nggak pernah nganggep kamu rumit," kata Raka cepat, menatap Alya dengan sungguh-sungguh. "Kamu satu-satunya hal dalam delapan tahun terakhir yang selalu terasa jelas buat aku, di tengah semua kekacauan hidup aku yang lain."
Alya menatap Raka, merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya, meski ia masih berusaha menahan diri untuk tidak terlalu cepat larut dalam perasaan itu. "Raka, aku masih butuh waktu. Yang tadi aku bilang di balkon ini, itu masih berlaku."
"Aku tau," jawab Raka, mengangguk. "Aku nggak akan buru-buru. Aku cuma... aku seneng akhirnya bisa jujur ke kamu, ke semua orang, setelah delapan tahun nyimpen semuanya sendirian."
Mereka berdua kembali masuk ke ruangan privat, di mana suasana sudah berubah menjadi sedikit kacau—Bu Marlina tampak panik setelah mendengar penjelasan singkat dari Sarah sebelum perempuan itu pamit pulang, sementara Pak Hendra mencoba menenangkan istrinya dengan wajah yang juga tidak kalah cemas.
"Raka, Bu Marlina benar-benar minta maaf soal kesalahpahaman ini," kata Bu Marlina begitu melihat anaknya masuk, wajahnya penuh penyesalan. "Ibu kira—ibu pikir kamu udah move on, jadi ibu ngundang Sarah supaya suasana nggak terlalu canggung."
"Nggak apa-apa, Bu," jawab Raka, mencoba menenangkan ibunya. "Tapi ke depannya, tolong jangan ambil keputusan soal hidup aku tanpa nanya aku dulu."
Ucapan itu, meski ditujukan pada ibunya, terasa seperti pesan yang lebih besar untuk kedua keluarga yang selama ini terlalu sering ikut campur dalam menentukan jalan hidup anak-anak mereka.
Ayah Alya, yang sedari tadi memperhatikan dengan seksama, akhirnya berdiri dan berdeham pelan, menarik perhatian semua orang di ruangan. "Saya rasa," katanya, "kita semua sudah cukup jelas sekarang bahwa keputusan ini ada di tangan Alya dan Raka sepenuhnya. Sebagai orang tua, tugas kita adalah mendukung, bukan menentukan."
Semua orang di ruangan mengangguk setuju, meski ketegangan masih terasa menggantung di udara. Alya melirik ke arah Raka, dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu dimulai, mereka berbagi senyum kecil yang tulus—senyum yang mengatakan bahwa, apa pun yang akan terjadi selanjutnya, setidaknya sekarang semuanya sudah berada di atas meja, tanpa rahasia yang tersembunyi lagi.
Tapi di tengah kelegaan itu, ponsel Alya tiba-tiba bergetar di dalam tasnya. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal:
"Alya, ini Sarah. Aku tau ini aneh, tapi ada sesuatu yang harus kamu tau soal Raka—sesuatu yang menurutku dia sendiri belum sepenuhnya jujur ke kamu. Bisa ketemu besok?"