"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."
Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?
💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA: Deru Badai (Bagian 2)
A lonely road cross another cold state line
Miles away from those I love purpose hard to fine...
“Dik, jangan keras-keras nyetel musiknya! Mbak besok ujian nih!” suara kakak perempuanku dengan sukses membatalkan acara karaokeku. Aku melengos.
“Kamu ini, Mbak!” ujarku tanpa ada reaksi lagi dari kakakku. Kulihat dia memang sedang mati-matian menghafal buku setebal ensiklopedia di kamar seberang. Maklum, dia mahasiswi akademi keperawatan. Mungkin dia sedang menghafalkan anatomi tubuh manusia, nama penyakit, atau entahlah.
“Ibu mana, Mbak?”
“Dari tadi di kamar tuh, Dik. Nggak tahu kenapa,” jawaban mbak Senja membuatku mengernyit. Tidak biasanya ibu ada di kamar pada jam seperti ini. Tadi pagi sebelum berangkat sekolah kuingat ibuku masih baik-baik saja, beliau juga mengajar. Sepertinya ada yang tidak beres.
“Tapi bagaimana dengan anak-anak?” suara lirih ibu dari dalam kamar membuatku batal mengetuk pintunya. Aku tahu ibu berbicara sambil menangis. Kupikir lebih baik aku berdiam saja di depan pintu. Tidak peduli perbuatanku menguping ini baik atau tidak.
“Tidak bisakah kita membicarakan masalah ini dulu bersama anak-anak? Kamu tahu sendiri Izang sangat dekat denganmu. Senja juga sebentar lagi akan menyelesaikan kuliahnya. Ini akan menjadi guncangan bagi mereka.”
Guncangan? Apa-apaan ini? Ayah dan ibu bertengkar?
“Izang akan menghadapi ujian kenaikan kelas beberapa bulan lagi. Pikirkanlah dia!”
Sepertinya ibu memang sedang bertengkar dengan ayah. Tapi masalah apa?
“Baiklah jika kamu memang tidak mau mengubah pikiranmu. Minggu depan kita bertemu di kantor pengacara untuk mengurus perceraian kita,” kalimat ibu barusan sontak membuat tubuhku lemas. Selama ini ayah dan ibu selalu terlihat baik-baik saja di depan kami. Akur meski sesekali saja bertengkar masalah kebiasaan merokok ayah. Tapi aku baru tahu mereka ternyata menyembunyikan sesuatu yang besar, yang sekarang telah menggerogoti hubungan keluarga kami. Dan entah kenapa aku tidak buru-buru berlari ke kamar kakakku. Aku malah memencet tombol di telepon genggamku. Memencet nomor yang kuhafal di luar kepala.
“Halo!”
“Chan...” panggilku lirih.
“Ya? Kenapa Chan?” pertanyaan Ara membuatku menelan ludah.
“Orang tuaku...mau bercerai”
...***...
“Mbak Senja gimana?”
“Mbak Senja ikut ibu, tahu sendiri kan mbak Senja sedekat apa sama ibu?”
“Terus kamu, Chan?”
“Aku juga milih tinggal sama ibu aja. Kalau ayah kan ada kerjaan yang penghasilannya lumayan, belum lagi kerjaan sampingannya. Nah, ibu cuma guru, nggak ada kerjaan sampingan pula. Ini juga yang sebenernya mau aku omongin sama kamu,” aku menatap Ara lamat-lamat. Dia juga memberiku tatapan serupa.
“Aku boleh ikut balapan liar?”
“Hm?” sudah kuduga Ara akan mengubah rautnya secepat itu.
“Aku ditawari temenku kerja di bengkel...” dengan sengaja aku menggantung kalimatku. Ara masih menunggu.
“Aku ditawarin jadi montir atau jadi joki. Aku nggak mungkin nolak tawaran temenku apalagi kondisi ibuku lagi kayak gini. Kalau urusan menjanjikan jelas joki lebih nguntungin daripada montir. Meskipun risikonya juga jauh lebih berat.”
“Emang harus itu?” wajah Ara mengeras. Ah, aku benci sekali wajah Ara yang seperti itu.
“Aku bilang gini karena aku tahu kamu nggak bakal semudah itu ngizinin aku. Tapi aku nggak ada pilihan lain apalagi aku masih belum punya pengalaman buat cari kerjaan formal. Aku janji nggak bakal ngerepotin kamu, ibu, atau siapa pun.”
“Iya nggak ngerepotin tapi semua orang bakal khawatir gara-gara kamu. Cari pekerjaan lain ajalah, Chan! Waktumu masih panjang, sekarang pikirin ujian kenaikan kelasmu aja!” Ara tetap tidak memberiku keputusan.
“Kerjaan ini cuma buat sementara, Chan. Setelah lulusan, aku bakal cari kerja yang lebih baik lagi. Aku...juga nggak bakal di Malang, Chan.”
“Maksud kamu?”
“Iya, aku harus pindah ke Bandung. Ibu yang minta,” Ara seketika menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Aku tidak pernah tahu Ara bisa menatapku dengan cara seperti itu. Tatapan itu membuatku merasa bersalah, sangat bersalah. Baru setengah tahun dia menjadi pacarku tapi cobaan yang dia dapat sudah lebih dari cukup. Intan yang masih tidak terima, Joan yang tiba-tiba menjauh, belum lagi LDR, aaarrggh! Aku sendiri mulai gila. Jika sampai Ara memutuskan hubungan kami, aku pasti mati di tempat.
“Kalau waktu kamu jadi joki kamu kenapa-napa, usahain jangan minta uang atau apa pun ke ibu. Tanggung sendiri semua risiko yang kamu ambil karena ini pilihanmu. Dunia malam pasti nggak lepas dari rokok, miras, narkoba, cewek panggilan, atau hal negatif lain. Jangan mudah terpengaruh lingkungan. Jangan lupa kasih kabar ke aku. Nggak harus tiap hari tapi kamu sendiri pasti tahu kapan waktunya. Aku percaya kamu bisa jaga dirimu sendiri. Aku...” kalimat Ara terhenti karena dengan kurang ajarnya aku menghamburkan pelukanku ke arahnya. Tidak peduli seberapa kaku tubuh Ara begitu ada di pelukanku. Aku kehabisan kata. Otakku macet. Buntu.
“Kamu kenapa, Chan?” kudengar nada bicara Ara sedikit aneh. Tubuhnya pun tetap kaku dan tak ada pelukan balasan untukku.
“Makasih udah mau ngertiin aku. Aku nggak tahu harus bilang apalagi ke kamu. Besok aku selesein masalah sama Joan, biar kamu nggak kepikiran lagi.”
“Oh. Iya. Oke,” Ara menjawabku dengan kikuk. Mungkin karena dia baru pertama kali merasakan pelukan laki-laki selain keluarganya. Tapi aku masih enggan melepaskan pelukanku begitu saja. Kubiarkan hidungku menghirup parfumnya yang manis. Kubiarkan rambutnya yang panjang melingkari tanganku. Dan kurasakan tubuh Ara yang awalnya kaku akhirnya perlahan mengendur. Menyadari respons Ara yang tidak memberontak saja sudah membuatku lega. Dan aku memang tidak berharap Ara akan bereaksi lebih. Namun saat aku akan melepaskan pelukanku, kurasakan tangan Ara mengelus punggungku. Nyaman sekali.
“Just...take care for me!” ucap Ara lirih. Dan saat itulah, dengan tanpa kusadari, air mataku menetes. Panas.
“I...I will,” ucapku terbata sambil membenamkan wajahku dalam bahunya.
...***...