Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Ivy benar-benar menghilang
Setelah memencet bel apartemen itu beberapa kali, akhirnya pintu itu terbuka. Namun, sosok yang muncul di balik pintu itu bukanlah Ivy.
Seorang wanita berdiri di sana dengan wajah penuh kebingungan, Gilbert yang sejak tadi berharap bisa menemukan Ivy langsung bertanya dengan suara terburu-buru.
“Maaf, apakah Ivy ada di sini?” Tanya Gilbert pada wanita itu.
Wanita itu mengerutkan keningnya bingung.
“Ivy?”
“Ya, Ivy Alexandra Myles. Bukannya dia yang tinggal di apartemen ini?”
Wanita itu semakin bingung, dia kemudian menggeleng pelan.
“Maaf, tapi saya tidak mengenal wanita itu.”
Gilbert terdiam.
Cassandra yang berdiri di sampingnya juga langsung menatap wanita itu dengan wajah terkejut.
“Bukankah ini apartemen milik Ivy?” tanya Gilbert lagi, berusaha memastikan.
“Bukan, ini apartemen saya. Teman saya telah memberikan apartemen ini untuk saya.” Ucap Wanita itu.
“Teman? Boleh aku tau siapa?” Tanya Gilbert.
“Namanya David.” Kata wanita itu, menatap heran pada Gilbert dan Cassandra.
Mendengar nama itu, Gilbert dan Cassandra saling berpandangan. Mereka sama sekali tidak mengenal pria bernama David itu, apa dia salah satu teman Ivy.
Gilbert segera meminta kontak pria itu, untuk memastikan hubungan pria itu dan Ivy.
“Apa aku bisa meminta nomor ponsel David?” Tanya Gilbert, sekarang hanya pria bernama David jtu harapan mereka satu-satunya. Tapi jika pria itu juga tidak mengetahui dimana Ivy saat ini, entah kemana lagi mereka harus mencari Ivy.
Awalnya wanita itu ragu, tetapi akhirnya dia memberikan nomor David kepada Gilbert dan Cassandra. Tanpa membuang waktu, Gilbert langsung menelepon nomor tersebut. Beberapa detik kemudian, panggilan itu tersambung.
“Halo?”
“David?” tanya Gilbert memastikan apakah itu orang di seberang sana benar-benar David.
“Ya, ini siapa ya?” Tanya David di seberang sana.
“Perkenalkan saya Gilbert, ayah mertua Ivy.” Ucap Gilbert memperkenalkan diri.
Di ujung telepon David berdecih, ayah mertua katanya, kenapa baru sekarang mereka mengakui Ivy sebagai menantu. Kenapa tidak dari dulu di saat Ivy masih berstatus sebagai istri dari putra mereka. Mendengar hal itu membuat David muak bahkan ingin muntah.
“Ayah mertua Ivy?” Tanya David datar.
“Ya, saya ayah mertua Ivy. Tujuan saya menelpon anda adalah untuk menanyakan tentang menantu saya, apa anda tau dimana menantu saya saat ini tuan David?" Tanya Gilbert penuh harap.
Sedangkan di seberang sana, David mencibir pria yang mengaku sebagai ayah mertua Ivy itu.
“Maaf, Pak. Saya benar-benar tidak tahu dimana Ivy saat ini.” Kata David datar, tidak mungkin dia mengatakan jika dia mengetahui dimana Ivy. Karena sampai kapanpun dia tidak sudi memberitahu keberadaan Ivy pada orang-orang yang dulu telah menyakiti sahabatnya itu.
Mendengar Jawaban David, hati Gilbert semakin resah. Jika David tidak mengetahui dimana Ivy saat ini, lalu dimana lagi mereka harus mencari Ivy.
“Apa kau benar-benar tidak tau dimana Ivy saat ini? Tolong jawab yang jujur, tidak mungkin kau tidak tau dimana Ivy saat ini. Bukankah kau teman Ivy, pasti kau tau sesuatu.” Desak Gilbert.
“Benar, saya memang teman Ivy,” jawab David dengan suara tenang. “Tapi saya tidak tahu keberadaannya sekarang.”
Gilbert mengepalkan tangannya erat.
“Tapi kenapa apartemen Ivy bisa ada padamu?” Tanya Gilbert, karena setahunya apartemen ini adalah milik Ivy. Lalu kenapa tiba-tiba bisa berganti kepemilikan.
David yang mulai mengetahui masalahnya, akhirnya menjawab.
“Ivy memang pernah meminta saya membantu menyiapkan apartemen itu untuknya, awalnya dia berencana tinggal di sana. Tapi tiba-tiba dia menelpon saya, kalau dia tidak jadi menempati apartemen ini. Untuk alasannya, saya juga tidak tau.”
David menarik napas sebelum melanjutkan.
“Karena saya juga tidak bisa menempati apartemen itu, makanya saya meminta teman saya untuk menempati apartemen itu sementara agar tidak kosong."
“Jadi Ivy tidak tinggal di sini? Apa kau tau Ivy tinggal dimana? ” tanya Gilbert dengan suara berat.
“Maaf tuan Gilbert, tapi saya tidak tau. Saya terakhir berkomunikasi dengan Ivy kemarin saat dia batal menempati apartemen ini. Untuk dimana dia tinggal, saya tidak pernah menanyakan itu pada Ivy, karena itu bukan urusan saya.” Kata David.
Gilbert menutup matanya sejenak, sementara itu Cassandra mulai meneteskan air mata. Harapan mereka untuk menemukan Ivy di apartemen itu kembali runtuh.
“David,” kata Gilbert akhirnya, “apakah Ivy benar-benar tidak mengatakan ke mana dia akan pergi?”
“Tidak.”
Jawaban dari David, membuat Gilbert merasa putus asa. Gilbert langsung menatap Cassandra yang sejak tadi terus menangis.
Kini Gilbert semakin yakin bahwa Ivy memang telah merencanakan semuanya dengan sangat matang.
Dia bukan hanya pergi, tapi dia juga memastikan agar tidak ada seorang pun yang bisa dengan mudah melacak keberadaannya.
“Oke, terimakasih David. Kalau kau mendengar kabar tentang Ivy, tolong hubungi saya." Kata Gilbert, ada kekecewaan di balik suara pria paruh baya itu.
“Tentu, Pak.”
Panggilan pun berakhir.
Gilbert masih berdiri diam di depan pintu apartemen tersebut, Cassandra memandang suaminya dengan mata berkaca-kaca.
“Gilbert…”
“Aku tahu,” jawab Gilbert pelan.
Dia menatap lorong apartemen yang sunyi.
“Ivy benar-benar tidak ingin ditemukan.”
Dan kini Gilbert menyadari bahwa Ivy mungkin sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan kehidupan lamanya sepenuhnya.
Sementara itu, jauh dari tempat mereka berada, Ivy mungkin sudah berada di tempat yang sama sekali tidak mereka ketahui. Dan kali ini, bahkan Gilbert tidak tahu harus mulai mencarinya dari mana.
Gilbert masih berdiri di depan apartemen itu selama beberapa saat setelah panggilan dengan David berakhir, Gilbert meletakkan kembali ponselnya di dalam tas miliknya.
Cassandra mengusap air matanya.
“Gilbert, sekarang bagaimana?” Tanya Cassandra
Gilbert mendongak menatap Cassandra yang berdiri di depannya, lalu tatapannya berpindah ke wanita yang kini menempati apartemen Ivy.
“Maaf sudah mengganggu Anda, kami tidak tahu kalau Ivy sudah memberikan apartemen ini kepada orang lain.” Kata Gilbert penuh penyesalan.
“Tidak apa-apa, saya mengerti.” jawab wanita itu lembut.
Setelah itu, Gilbert dan Cassandra berjalan meninggalkan apartemen tersebut. Begitu mereka masuk ke dalam mobil, Cassandra kembali menangis.
“Aku tidak mengerti…” Lirih Cassandra
Gilbert menoleh.
“Tidak mengerti apa?” Tanya Gilbert pada istrinya itu.
“Bukannya kau bilang Ivy ada di sini, tapi kenapa setelah kita sampai di sjni. Ivy tidak ada dimana pun, kita seperti kehilangan jejak Ivy.” Kata Cassandra, suaranya bahkan sampai bergetar.
Gilbert hanya diam, menggenggam tangan istrinya agar wanita itu bisa tenang.
"Kau tau Gilbert, sampai hari ini aku masih menyesali segalanya." Lanjut Cassandra.
Sejujurnya bukan hanya istrinya yang menyesali semuanya tapi dia juga. Dia merasa gagal, karena telah salah mendidik putranya Mateo agar menjadi suami yang baik. Semua ini adalah salahnya, hingga Mateo harus menyakiti istri dan anaknya.
“Cassandra…”
Gilbert akhirnya berkata pelan.
“Kita harus menerima satu hal.”
“Apa?”
“Ivy mungkin memang tidak ingin kita menemukannya.”
Cassandra terdiam.
Air mata kembali mengalir di pipinya.
“Tapi kita tetap harus mencarinya, untuk meminta maaf, untuk memperbaiki semua yang telah di rusak putra kita dan untuk bertanya dimana makam cucu kita.” Kata Gilbert sambil menghela nafas.
Cassandra mengangguk.
“Tentu.”
Benar, apapun yang terjadi mereka tidak boleh menyerah. Bahkan sampai saat ini mereka belum mengetahui dimana lokasi makam cucu mereka.
Bersambung