Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
capek tapi nikmat
setelah mengisi di acara pernikahan Olivia kembali bekerja di cafe senja
"Mely kemana mas?" tanya Olivia kepada kakok
"sudah pulang vi"
Olivia melihat jam yang ada di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 22.15 menit
"kamu ndak capek vi? baru pulang langsung kerja lagi"
"aman mas... yok kita gas" ajak Olivia. perfome masih menggunakan dress yang dia kenakan tadi
Dalam sekejap Olivia teringat Linda teman bety yang dia beri bros.
Di satu meja duduk pak haikal bersama dengan istrinya bu Ratna
"bagus suaranya pa" puji bu Ratna
"kayaknya aku pernah ketemu dengan dia ma. tapi dimana ya?" ucap pak haikal sambil mencoba mengingat
"namanya juga penyanyi pa, ya jelas dimana saja" ejek bu Ratna
"iya ya ma... dimas dimana ya ma? kok ndak kelihatan"
"di ruangnya mungkin, kita kesana yuk"
pak haikal dan bu Ratna menghampiri dimas di ruang kerjanya
Tanpa mengetuk pintu bu Ratna membuka pintu ruangan dimas
"mama... papa?"
"kenapa? kaget ya?" ucap bu Ratna
"kenapa ndak ngabari aku kalau mau kesini ma"
"memangnya ndak boleh langsung datang ke tempat anak sendiri?"
"boleh lah ma... mau minum apa? aku pesankan" tawar dimas
"kita sudah minum tadi di luar. oh ya mas.. bagus sekali suara penyanyimu itu?"
"bagus ya ma?"
"siapa namanya mas?" tanya pak haikal
"namanya Olivia pa"
"Olivia? Olivia.. seperti papa pernah ketemu tapi lupa dimana"
"ah papa.. namanya juga penyanyi pa, dunia malam ya pasti ndak asing. papa kan sering ke club malam. bisa jadi dia disana. iya kan?"
"iya juga ya ma"
Hati dimas rasanya mendidih mendengar kedua orang tuanya mencela Olivia.
"dia hanya kerja disini pa, selebihnya mengisi di event pernikahan, juga rapat dan acara besar lainnya"
"wahhh... pasti itu. cewek ndak bener ini"
"mama kok bilang begitu?" tanya dimas
"iya mas. penyanyi cafe, jadi penyanyi di acara besar. pasti cabutan tuh. apalagi yang booking orang-orang penting. bisa-bisa jadi perempuan simpanan"
"sudah ma stopp.. mama kesini mau ngapain? mau mencela Olivia apa mau menemui aku?"
"mama ndak pernah ketemu sama kamu mas, siang ke kantor, malam kesini. pulang kalau tidur aja"
"namanya juga kerja ma"
"oh ya.. bagaimana kamu dengan dinda?"
"dinda lagi... dinda lagi"
"kalian sudah di jodohkan lho mas. jangan macam-macam kamu"
"kalau aku ndak minat bagaimana ma?"
"apa alasanmu ndak berminat dengan dinda? dia anak orang kaya, pendidikan tinggi. mau cari yang bagaimana lagi?"
"aku ndak suka dengan dia ma"
"sudah -sudah kok malah ribut. kamu juga ma, jangan maksa dimas menikah dengan dinda"
"tapi pa"
"kamu mau menikah di jodohkan dengan orang yang ndak kamu suka?"
"ya ndak pa"
"nah ndak mau kan? jangan maksa dimas"
Dalam hati dimas berterimakasih karena papanya mendukung dia
setelah berbincang lama di ruang kerja dimas kedua orang tua dimas berpamitan untuk pulang
****
Waktu sudah malam, Olivia bersiap untuk pulang
"ayok vi" ajak dimas
"biar bareng sama aku aja mas" tawar ujang
"aku sama mas dimas aja mas. maaf ya" ucap Olivia
Ujang sakit hati dengan penolakan Olivia, melihat Olivia pergi bersama dimas.
"sayang... kok kita kesini?" tanya Olivia ketika dimas mengendarai mobilnya tidak searah jalan pulangnya
"kali ini kamu jangan menolak ya sayang"
Olivia menurut ajakan dimas
"kita mau ngapain kesini mas?" Olivia bingung ketika dimas membelokan mobilnya ke sebuah hotel
"aku sudah tidak tahan lagi sayang. jangan menolak sekarang, jika ingin menolak nanti waktu di dalam"
Olivia tercekat. dia ingin juga melakukan hal itu, tapi tidak secepat ini
Setelah memesan satu kamar
"kamu pernah kesini mas?"
"pernah"
Olivia diam
"tapi waktu ada acara rapat dengan client"
"serius?"
"iya sayang.. aku ndak bohong"
Olivia dan dimas masuk kedalam kamar yang sudah dia pesan. setibanya di dalam kamar
"malam ini kita menginap di sini ya sayang" rayu dimas
"kamu sedang ndak mempermainkanku kan mas?"
"kenapa kamu bicara seperti itu, tidak ada niat untuk mempermainkanmu sayang" dimas memegang tangan Olivia, dan menciumnya dengan mesra
"apa kamu ndak percaya dengan aku? jika aku masih perawan?"
"bukan ndak percaya"
"ohhh... aku tau... mungkin juga kamu ndak percaya kalau aku dan mas tejo ndak ngapa-ngapain kan?" oceh Olivia
dimas meraih wajah Olivia, melumat dengan buas bibir indah itu
"lakukan mas, kamu akan tau sendiri" bisik Olivia semakin membuat darah dimas memanas mendapatkan ijin dari yang punya
dimas mengangkat tubuh Olivia naik keatas tempat tidur. membuka baju yang menutupi tubuh mulus itu
"ini kan yang kamu mau sayang?" bisik Olivia ketika dimas melepas satu persatu gaunnya
Olivia membantu dimas untuk melepaskan kemejanya, membelai dada bidang dimas.
"sudah siap sayang? jika ini yang pertama pasti akan terasa sakit" bisik dimas
"lakukan sayang, aku siap"
Tangan dimas meremas jemari Olivia, gairah mereka semakin memuncak.
"kamu juga menginginkannya kan sayang hemmm"
"lakukan sayang... aku ingin"
Malam itu menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua. erangan dan desahan yang terdengar dari kamar 201 itu, dua insan tengah beradu asmara tanpa batas waktu.
dimas sudah mencapai puncaknya, kepuasan sama-sama mereka rasakan
Sama-sama tertidur dalam balutan selimut tanpa sehelai benang.
Satu jam dimas terlelap dalam tidurnya, matanya terbuka dan mengamati wajah cantik yang ada di dalam pelukannya. sentuhan tangan dimas membangunkan Olivia.
"sayang"
"hmmm"
"sakit?"
"sakit mas"
"terimakasih.. kamu membuktikannya"
"he em" ucap Olivia masih lemas
Dimas kembali meluapkan gairahnya, menyusuri setiap jengkal tubuh Olivia
"sayang..." desah Olivia
"kenapa sayang? aku mau lagi"
"masih sakit... "
"tapi enak kan?"
dimas kembali menghunjamkan joninya membuat Olivia menggeliat
*****
pagi hari Olivia terbangun mendapati tubuhnya masih telanjang bulat. Olivia turun dari tempat tidur, merasakan sakit pada alat vitalnya
"kemana sayang?"
"mandi mas.. auuuwww... "
"kenapa? sakit?" tanya dimas
"sakit mas" Olivia menuju kamar mandi dengan kesakitan. dimas membuka selimut yang mereka kenakan, di situ ada bercak darah segar. kali ini dimas benar-benar percaya dengan ucapan Olivia, hanya dia yang melakukan pertama kali.
Setelah Olivia selesai membersihkan tubuh.
"bangun mas. jam berapa ini"
"mau kemana? nginap lagi juga ndak pa-pa" goda dimas
"nanti kalau disini terus, kamu jadi ketagihan bagaimana?"
"aku sekarang sudah ketagihan. yuk lagi"
"kamu ndak capek?"
"capek... tapi nikmat"
"dasar mesum"
"lagi yuk sayang... sekali lagi"
"katanya capek"
"kan aku bilang nikmat sekali sayang" dimas menarik tangan Olivia dan jatuh ke dalam pelukannya
"bagaimana kalau aku kecanduan sayang?"
"bagaimana juga kalau aku kecanduan mas?"
kali itu dimas mengangkat tubuh Olivia tepat di atasnya
"hajar aku sayang"