NovelToon NovelToon
PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 - AKU TERDAMPAR DI SINI

Bau dupa dan kayu cendana menusuk hidungku.

Pekat, bercampur dengan aroma sesuatu yang pahit hingga membuat perutku mual. Kepalaku berdenyut. Ketika mencoba menggerakkan jari, rasanya seolah ada beban berat yang menindih seluruh tubuhku.

Aku mengerang pelan.

“Gusti Putri?”

Suara seorang perempuan terdengar dari dekatku. Nadanya ragu, lalu berubah panik ketika aku kembali menggerakkan tangan.

“Gusti Putri Kahiyang sudah sadar! Cepat panggil Tabib!”

Langkah kaki berlarian terdengar di sekelilingku. Seseorang menangis. Yang lain berbicara dengan suara berbisik, tetapi aku terlalu pusing untuk memahami kata-kata mereka.

Aku berusaha membuka mata.

Pandangan pertamaku buram. Aku hanya melihat hamparan kain merah yang tergantung di atas ranjang. Ketika penglihatanku perlahan membaik, tampak sulaman benang emas berbentuk burung hong dan naga yang saling melilit di permukaannya.

Aku mengernyit.

Ini bukan plafon rumah sakit.

Bukan pula lampu-lampu museum yang biasa kulihat ketika melakukan penelitian.

Lalu, di mana aku?

Aku mencoba mengangkat tubuh, tetapi gerakan sederhana itu membuat kepalaku semakin pening. Gaun yang membungkus tubuhku terasa berat, seolah aku sedang mengenakan beberapa lapis selimut sekaligus. Kain merah darah itu dipenuhi bordiran emas dan manik-manik kecil yang berbunyi setiap kali aku bergerak.

Aku menunduk, memperhatikan kedua tanganku.

Jari-jarinya panjang dan lentik. Kukunya dihiasi emas serta mutiara kecil. Kulitnya pucat, tanpa bekas luka kecil di dekat ibu jari yang kudapat ketika memasak di dapur kos.

Aku mengangkat tangan itu lebih dekat ke wajah.

Bukan tanganku.

Napas yang sejak tadi tertahan mendadak terasa sesak.

Ingatan datang sedikit demi sedikit, menyakitkan seperti pecahan kaca yang menusuk kepala.

Namaku Kahiyang Gayatri Ayuningtyas. Aku mahasiswi Sejarah angkatan 2022. Beberapa waktu lalu, aku sedang melakukan observasi di gudang belakang Museum Nasional untuk penelitian tentang Kerajaan Langit.

Aku masih ingat rak-rak kayu tua yang menjulang hingga mendekati langit-langit. Aku ingat debu yang beterbangan ketika aku membuka salah satu kotak penyimpanan. Aku juga ingat bunyi kayu berderit dari atas kepala.

Setelah itu, semuanya terjadi begitu cepat.

Sebuah kotak kayu kuno terjatuh. Benturannya keras. Kepalaku terasa sakit luar biasa.

Lalu gelap.

Aku tidak ingat apa yang terjadi setelahnya.

Namun, jika ingatanku benar, seharusnya aku berada di rumah sakit sekarang. Atau mungkin—

Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa perih, seperti baru saja menelan sesuatu yang membakar dari dalam.

Aku terbatuk. Rasa pahit tertinggal di lidahku.

“Gusti, jangan bergerak dahulu!”

Perempuan tua yang berdiri di samping ranjang segera menopang bahuku. Wajahnya tampak lelah. Matanya sembap, seolah ia telah menangis berjam-jam.

“Syukurlah Gusti akhirnya sadar. Mbok kira Gusti tidak akan membuka mata lagi.”

Ia menggenggam tanganku erat-erat.

“Kenapa Gusti melakukan hal seperti ini? Kenapa Gusti meminum racun itu lagi?”

Racun?

Aku menatapnya dengan bingung.

“Ha... hari ini...” Perempuan itu menarik napas, berusaha mengendalikan tangisnya. “Hari ini Gusti menikah dengan Kaisar. Mengapa Gusti justru ingin mengakhiri hidup?”

Pernikahan?

Kaisar?

Aku memandang wajah perempuan tua itu, lalu menyapu ruangan dengan mata yang mulai terbuka lebar.

Dinding kayu jati berukir memenuhi sisi kamar. Lantai marmer memantulkan cahaya dari beberapa lentera. Di sudut ruangan berdiri meja rias dengan cermin perunggu berukuran besar. Tirai sutra menjuntai dari jendela, menutupi sebagian taman yang terlihat di baliknya.

Tidak ada satu pun benda yang kukenal.

Ini bukan rumah sakit.

Dan jelas bukan museum.

Kesadaran itu merambat perlahan, membuat ujung jariku terasa dingin.

Aku mencoba turun dari ranjang. Kedua kakiku hampir tidak sanggup menopang tubuhku, tetapi dua pelayan muda segera datang membantu. Mereka membawaku ke depan cermin, seolah ingin memastikan bahwa aku sudah benar-benar sadar.

Aku tidak sempat menolak.

Sosok di dalam cermin membuatku terdiam.

Perempuan itu memiliki wajah yang sangat mirip denganku. Bentuk mata, hidung, dan garis bibirnya nyaris sama. Namun, kulitnya lebih pucat, rambutnya jauh lebih panjang, dan kecantikannya tampak seperti sesuatu yang berasal dari lukisan kuno.

Tusuk konde emas bertatahkan permata menghiasi rambut hitamnya. Sebuah mahkota kecil bertengger di kepalanya.

Aku menyentuh pipiku.

Perempuan di dalam cermin melakukan hal yang sama.

Aku menunduk, lalu kembali menatapnya. Di lehernya terlihat bekas kemerahan yang mulai membiru. Ada sisa buih putih di sudut bibirnya.

Dadaku mendadak sesak.

Aku mengenal wajah ini.

Bukan karena pernah bertemu dengannya, melainkan karena pernah membaca namanya di dalam catatan sejarah.

Kahiyang Gayatri Ayuningtyas.

Calon permaisuri Kerajaan Langit yang meninggal pada malam pertamanya sebagai istri kaisar. Dalam beberapa catatan, kematiannya disebut sebagai akibat penyakit mendadak. Catatan lain menyebutkan bahwa ia dibunuh karena dianggap membawa kesialan setelah banjir bandang menghancurkan lumbung kerajaan menjelang pernikahannya.

Tidak banyak informasi tentang dirinya. Hanya beberapa baris pendek, seolah hidupnya tidak cukup penting untuk dicatat lebih jauh.

Namun, satu hal selalu muncul dalam berbagai versi cerita itu.

Permaisuri Kahiyang tidak pernah hidup lama setelah menikah dengan Kaisar Segara El-Bhumi.

Aku menatap pantulan wajahku sendiri.

“Tidak mungkin...” bisikku.

“Gusti mengatakan sesuatu?”

Aku menggeleng pelan. Tenggorokanku terlalu sakit untuk menjelaskan apa yang sebenarnya kupikirkan.

Aku berada di dalam tubuh perempuan yang seharusnya sudah mati lima ratus tahun sebelum kelahiranku.

Aku terdampar di masa lalu.

Dan tubuh yang kutempati sekarang bahkan belum pulih dari percobaan bunuh diri pemilik aslinya.

Belum sempat aku memahami semuanya, pintu kamar terbuka.

Tidak ada ketukan.

Hanya bunyi kayu yang bergerak, disusul langkah kaki yang teratur.

Suasana seketika berubah.

Para pelayan menjatuhkan diri berlutut. Perempuan tua di sampingku ikut menundukkan kepala hingga dahinya hampir menyentuh lantai.

Aku masih berdiri di depan cermin ketika menyadari bahwa seseorang telah memasuki ruangan.

Jubah hitamnya bergerak mengikuti langkahnya. Sulaman emas di sepanjang tepi kain membentuk pola ombak yang menghantam gunung, lambang kerajaan yang kukenal dari buku-buku sejarah. Rambutnya diikat tinggi, dihiasi mahkota kaisar dari giok hitam.

Lalu aku melihat wajahnya.

Rahang tegas, hidung mancung, dan bibir tipis yang tidak menunjukkan sedikit pun kehangatan. Namun, yang paling sulit kulupakan adalah matanya. Cokelat gelap, hampir hitam, dengan tatapan yang membuat siapa pun merasa sedang diadili tanpa diberi kesempatan membela diri.

Kaisar Segara El-Bhumi.

Penguasa Kerajaan Langit. Naik takhta ketika berusia delapan belas tahun. Dalam catatan yang kubaca, ia dikenal sebagai kaisar yang tidak segan menghukum siapa pun yang dianggap mengancam kekuasaannya.

Tiga perempuan yang pernah menyandang gelar permaisuri sebelum Kahiyang disebut meninggal dalam keadaan mencurigakan.

Dan sekarang, aku akan menjadi istrinya.

Segara berhenti beberapa langkah di hadapanku. Ia tidak menyapa. Tidak pula bertanya apakah aku sudah pulih.

Tatapannya turun dari mahkota di kepalaku hingga gaun merah yang kusut dan ternoda sisa muntahan.

“Jadi, ini Kahiyang Gayatri Ayuningtyas dari keluarga Adiningrat?”

Suaranya rendah dan tenang. Justru ketenangan itulah yang membuatku semakin waspada.

“Perempuan yang kabarnya kecantikannya melebihi bidadari.”

Ia mengamati wajahku tanpa ekspresi.

“Ternyata kau bahkan tidak cukup berani menghadapi pernikahanmu sendiri.”

Aku ingin menjelaskan bahwa aku bukan perempuan yang ia maksud. Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak tahu apa-apa tentang pernikahan ini, apalagi tentang alasan tubuh ini mencoba mengakhiri hidupnya.

Namun, lidahku terasa kelu.

Tubuhku gemetar tanpa bisa kukendalikan. Lututku melemah, dan aku terpaksa mencengkeram tepi meja rias agar tidak jatuh.

Itu bukan hanya ketakutanku sendiri. Ada sesuatu yang tertinggal dalam tubuh ini—semacam naluri yang membuatku ingin mundur setiap kali Segara mendekat.

Ia melangkah satu kali.

Aku refleks memejamkan mata.

Tangannya terulur ke arah bahuku. Aku menahan napas, membayangkan jari-jarinya mencengkeram leherku seperti yang mungkin dilakukan seseorang sebelum tubuh ini meminum racun.

Namun, yang ia lakukan justru menarik selendang sutra merah dari bahuku.

Ia melemparkannya ke lantai.

“Aku tidak menyukai warna merah seperti ini.”

Aku membuka mata perlahan.

“Ganti pakaiannya,” perintahnya kepada para pelayan. “Pernikahan tetap dilaksanakan satu jam lagi.”

Mbok mengangkat kepala sedikit. “Ampun, Paduka. Kondisi Gusti Putri masih—”

Segara menoleh.

Perempuan tua itu langsung terdiam.

“Jika dia mati sebelum pernikahan selesai, buang mayatnya ke Sungai Serayu. Katakan kepada keluarganya bahwa dia melarikan diri.”

Darahku serasa berhenti mengalir.

Ia mengatakannya begitu saja. Seolah nyawaku tidak lebih berharga daripada benda rusak yang bisa dibuang kapan pun.

Segara berbalik menuju pintu.

Aku ingin memanggilnya, tetapi rasa sakit di tenggorokanku membuat suaraku tertahan. Dalam kepalaku, hanya ada satu pikiran yang terus berulang.

Aku harus keluar dari tempat ini.

Aku harus menemukan cara untuk pulang.

Namun, bahkan sebelum aku sempat memikirkan langkah pertama, sebuah bunyi nyaring meledak di dalam kepalaku.

DING!

Aku tersentak.

Sebuah layar transparan berwarna biru muncul di hadapanku. Tulisan-tulisan bercahaya bergerak di permukaannya, begitu jelas hingga aku sempat mengangkat tangan untuk menyentuhnya.

[PERINGATAN! JIWA ASING TERDETEKSI DI DALAM TUBUH HOST!]

[IDENTITAS JIWA: KAHIYANG GAYATRI AYUNINGTYAS]

[ASAL: ABAD KE-21]

[PENYEBAB PERPINDAHAN: KECELAKAAN MUSEUM]

[KESERASIAN JIWA DAN HOST: 100%]

[SELAMAT! HOST TELAH TERHUBUNG DENGAN SISTEM YANG JATUH DARI LANGIT.]

Aku membeku.

Sistem?

Aku berkedip beberapa kali. Layar itu tetap berada di sana.

Tulisan baru muncul setelahnya.

[SISTEM PERMAISURI LANGIT VERSI 1.0 AKTIF]

[LOKASI: KERAJAAN LANGIT]

[PERKIRAAN WAKTU: 500 TAHUN SEBELUM ERA ASAL HOST]

[STATUS HOST: DIDUGA MENGALAMI KERACUNAN]

[PERINGATAN: KONDISI FISIK HOST BELUM STABIL.]

Aku menelan ludah dengan susah payah.

Kalau ini halusinasi, otakku memilih cara yang sangat aneh untuk membuatnya.

Layar itu kembali berkedip.

[MISI PERTAMA DIMULAI]

[JUDUL: BERTAHAN DI SARANG NAGA]

[TUJUAN: BERTAHAN HIDUP SELAMA SEPULUH JAM PERTAMA TANPA DIUSIR ATAU DIBUNUH KAISAR SEGARA EL-BHUMI.]

[HADIAH: SATU KOTAK P3K LENGKAP DARI ABAD KE-21 DAN PETUNJUK MENGENAI SEBUAH RAHASIA ISTANA.]

[HUKUMAN KEGAGALAN: KELANGSUNGAN JIWA HOST TIDAK DAPAT DIJAMIN. KEMBALI KE ERA ASAL TIDAK AKAN DIMUNGKINKAN.]

Aku membaca tulisan itu berulang kali.

Sepuluh jam.

Aku hanya harus bertahan selama sepuluh jam pertama.

Kedengarannya sederhana jika dibandingkan dengan kenyataan bahwa aku sedang berada di istana seorang kaisar yang baru saja mengancam akan membuang mayatku ke sungai.

Kakiku kehilangan tenaga. Aku jatuh terduduk di lantai. Gaun merah yang berat mengembang di sekelilingku.

“Gusti Putri!”

Mbok segera berlutut di sampingku, tetapi aku hampir tidak mendengar suaranya. Pandanganku tertuju pada layar biru yang masih melayang di hadapan mata.

Aku tidak tahu siapa yang menciptakan sistem itu. Aku juga tidak tahu mengapa aku yang terpilih.

Yang kutahu hanya satu: aku belum siap mati.

Aku bahkan belum menyelesaikan skripsiku. Masih ada buku-buku yang belum kubaca, catatan penelitian yang belum kurapikan, dan kehidupan yang kutinggalkan begitu saja di abad ke-21.

Aku tidak akan membiarkan semuanya berakhir di sini.

Dengan susah payah, aku mengangkat kepala. Segara sudah hampir mencapai ambang pintu.

“Paduka...”

Suaraku serak dan nyaris tidak terdengar.

Ia berhenti.

“Apa lagi?”

Aku menggenggam kain gaunku, berusaha menahan gemetar yang belum juga hilang.

“Aku akan bertahan.”

Kalimat itu keluar lebih pelan daripada yang kuinginkan. Bukan tantangan besar, bukan pula janji bahwa aku akan mengalahkannya. Hanya pernyataan sederhana dari seseorang yang sedang berusaha mempertahankan hidupnya.

Segara berbalik.

Untuk beberapa detik, tatapannya tertuju padaku. Aku tidak bisa membaca apa pun di balik mata gelap itu. Ia tidak tampak terkesan. Tidak pula marah seperti yang kuduga.

Ia hanya mengamatiku, seolah sedang mencoba memahami mengapa perempuan yang beberapa saat lalu hampir mati kini masih berani menjawabnya.

“Pagi tadi, kau bahkan tidak sanggup menatap orang lain.”

Ia menatap tanganku yang mencengkeram gaun.

“Sekarang kau bicara seolah hidupmu berada di tanganmu sendiri.”

Aku tidak menjawab.

Aku sendiri tidak tahu apakah keberanian itu benar-benar milikku atau hanya sisa ketakutan yang berubah menjadi keputusasaan.

Sudut bibirnya bergerak tipis. Bukan senyum ramah. Lebih menyerupai tanda bahwa ia belum memutuskan apa yang akan dilakukannya terhadapku.

“Jangan membuatku menunggu di Balairung.”

Setelah mengatakan itu, ia pergi.

Pintu tertutup. Suara langkahnya menjauh, meninggalkan ruangan yang kembali dipenuhi aroma dupa.

Aku baru menyadari bahwa sejak tadi aku menahan napas. Udara keluar dari paru-paruku dengan gemetar.

Layar biru itu berkedip sekali lagi.

[KETERTARIKAN KAISAR SEGARA EL-BHUMI: +5%]

[WAKTU MISI TERSISA: 09:59:59]

Aku menatap angka-angka itu dengan tidak percaya.

“Lima persen?” gumamku. “Aku bahkan belum tahu bagaimana cara pulang, dan kau malah menghitung ketertarikannya?”

Tidak ada jawaban.

Layar itu hanya terus menyala, seolah sengaja mengabaikan keberatanku.

Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengumpulkan pikiran. Tubuhku masih lemas. Tenggorokanku sakit. Aku belum tahu siapa yang meracuni Kahiyang asli, mengapa ia begitu takut kepada Segara, atau apa yang sebenarnya terjadi sebelum aku membuka mata di kamar ini.

Satu jam lagi, aku akan menikah dengan seorang kaisar yang menganggap nyawaku tidak penting.

Dan sepuluh jam dari sekarang, sistem itu akan menentukan apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bertahan.

Aku membuka mata dan menatap pantulanku di cermin perunggu.

“Baiklah,” bisikku. “Kalau aku memang terdampar di sini, aku akan mencari cara untuk bertahan hidup.”

Aku tidak tahu apakah aku akan berhasil.

Aku bahkan belum tahu apakah dunia ini memiliki jalan pulang untukku.

Namun, satu hal sudah pasti.

Aku tidak akan menyerahkan hidupku begitu saja kepada Kaisar Segara El-Bhumi.

Bukan setelah aku kehilangan segalanya hanya dalam satu malam.

Aku akan bertahan. Apa pun yang terjadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!