NovelToon NovelToon
CINTAKU DI PRAMBANAN

CINTAKU DI PRAMBANAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT

Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.

Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.

Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.

Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?

Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.

SELAMAT MEMBACA... ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 MALAM DI SEL PENJARA

🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕

🏤🏤🏤🏤🏤🏤🏤

Dinginnya lantai semen itu terasa menusuk hingga ke sumsum tulang.

Di dalam ruang tahanan sementara yang berukuran tak lebih dari tiga kali empat meter persegi itu, Harumi meringkuk di sudut ruangan, memeluk kedua lututnya erat-erat.

Ruangan itu pengap, diwarnai oleh aroma pesing yang samar, bau karbol murahan yang menyengat, serta aroma karat dari jeruji besi tebal yang mengurungnya.

Pakaian luar kebesarannya—kostum putri kerajaan berwarna merah yang ia kenakan saat perlombaan tadi—telah disita oleh polisi sebagai barang bukti, karena di pakaian itulah cipratan darah kakaknya paling banyak bersarang. Kini, Harumi hanya mengenakan kaus oblong berwarna abu-abu pudar milik kepolisian yang ternyata ukurannya terlalu kebesaran di tubuhnya, dipadukan dengan celana training panjang.

Namun, sekencang apa pun ia memeluk dirinya sendiri, tubuh gadis itu tak berhenti gemetar. Ia kedinginan, bukan hanya karena suhu malam hari atau tiupan angin dari ventilasi kecil di atas dinding, melainkan karena kengerian yang membekukan kewarasannya dari dalam.

Harumi menunduk, menatap kedua telapak tangannya yang bertumpu pada lutut. Polisi sudah menyuruhnya mencuci tangan berulang kali saat pengambilan sidik jari, tetapi di mata Harumi, tangannya masih berwarna merah kelam. Bau anyir darah sang Kakak, Haruma, seolah telah meresap ke dalam pori-pori kulitnya, menolak untuk pergi.

"Kak Haruma..." bisik Harumi dengan bibir yang pucat dan gemetar.

Air matanya sudah mengering sejak berjam-jam yang lalu, menyisakan perih yang luar biasa di kedua pelupuk matanya. Tenggorokannya terasa seperti disayat pisau silet setiap kali ia menelan ludah.

Pikirannya masih sangat kacau. Kepingan-kepingan ingatan dari atas panggung itu terus berputar-putar layaknya kaset kusut. Ia ingat Yuda berdiri di depannya, meneriakkan dialog kutukan Bandung Bondowoso. Ia ingat alunan gamelan yang menggema. Namun setelah itu, ingatannya terputus.

Gelap...

Dan...

Kosong.

Kesadarannya baru kembali saat ia merasakan percikan cairan hangat di wajahnya, diiringi suara denting logam yang jatuh ke lantai semen.

Dan hal pertama yang ia lihat saat membuka mata adalah tubuh kakaknya, Haruma, yang perlahan ambruk dengan luka menganga di perut, sementara tangannya sendiri berlumuran darah.

"Bagaimana mungkin aku melakukannya?" jerit batin Harumi putus asa.

"Kak Haruma adalah separuh jiwaku. Dia yang merawatku, membelaku, menyayangiku... Bahkan dirinyalah yang juga mendukung hubungan cintaku dengan Yuda..."

"Dari mana pisau itu berasal?"

"Kenapa tanganku bisa bergerak sendiri?"

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menyiksanya Harumi, bagaikan ribuan jarum yang ditusukkan ke kepalanya.

Saat diinterogasi oleh penyidik wanita beberapa jam yang lalu, Harumi hanya bisa menangis histeris. Ia tidak bisa menjawab satu pun pertanyaan logis. Ia tidak tahu menahu soal pisau kuno itu. Ia tidak punya motif.

Yang ia tahu hanyalah, pada satu detik ia sedang berakting, dan pada detik berikutnya, ia telah menjadi seorang monster yang menghancurkan keluarganya sendiri.

Harumi menyandarkan kepalanya ke dinding beton yang kasar. Di luar selnya, sayup-sayup terdengar suara ketikan keyboard komputer dari meja piket penjagaan, diselingi suara sepatu pantofel petugas yang sesekali berjalan mondar-mandir.

Kehidupan di luar jeruji ini terus berjalan normal, sangat kontras dengan dunia Harumi yang baru saja terasa seperti kiamat.

Ia memikirkan ayah dan ibunya...

Nisa dan Zaki pasti sudah tiba di rumah sakit sekarang...

"Apakah mereka akan membenciku?"

"Apakah mereka mengutuk hari di mana mereka memutuskan untuk mengadopsiku?"

Dan Yuda...

Membayangkan wajah pemuda itu membuat dada Harumi semakin sesak. Yuda pasti sangat terpukul. Pria yang berjanji akan menjaganya itu kini harus melihat kenyataan bahwa kekasihnya adalah seorang tersangka pembunuhan.

.....

.....

🕑🕑🕑🕑🕑🕑🕑

Waktu merambat dengan sangat lambat.

Jarum jam dinding di ujung lorong menunjukkan pukul 02.15 dini hari.

Tiba-tiba, suara ketikan dari meja penjagaan di luar sana berhenti.

Suara derap langkah petugas yang sesekali terdengar kini menghilang sepenuhnya.

Keheningan yang sangat pekat turun menyelimuti lorong ruang tahanan tersebut.

HENING YANG TERAMAT HENING DENGAN TIBA-TIBA.

Keheningan itu terasa tidak wajar, seolah-olah seluruh suara di dunia tiba-tiba disedot oleh ruang hampa. Udara di dalam sel Harumi, yang tadinya hanya sekadar dingin, kini merosot drastis dengan sangat cepat.

Harumi menggigil hebat.

Ia menghembuskan napas dari mulutnya, dan matanya seketika terbelalak saat melihat embusan napasnya membentuk kepulan uap putih tipis di udara.

Suhunya pasti berada di bawah 15 derajat celcius. Ini sangat mustahil untuk sebuah ruangan tertutup di dataran rendah pada malam hari.

Tiba-tiba...

Bzzzt... Bzzzt... Trik-trik-trik... Bzzzt-bzzzt... TRIK!!

Lampu neon panjang yang menempel di langit-langit lorong penjara mulai berkedip-kedip tak menentu, sebelum akhirnya mati total, menyisakan satu-satunya sumber cahaya dari lampu pijar kuning lima watt yang berada tepat di luar sel Harumi.

Cahaya remang-remang itu melemparkan bayangan jeruji besi ke dinding sel, membentuk garis-garis vertikal yang terlihat seperti kurungan bayangan.

Di tengah kesunyian yang mencekam itu, indera penciuman Harumi tiba-tiba diserang oleh perubahan aroma yang drastis.

Bau pesing dan karbol murahan yang tadinya mendominasi, kini lenyap tak berbekas.

Sebagai gantinya, semerbak aroma bunga yang sangat pekat menguar memenuhi ruangan, bercampur dengan bau kemenyan yang terbakar dan aroma tanah yang basah.

Bau itu begitu tajam hingga membuat Harumi mual. Ia menutup hidung dan mulutnya dengan tangan, jantungnya kini mulai berpacu liar tak terkendali.

Lalu...

Dari arah lorong yang gelap gulita di luar selnya, terdengar sebuah suara.

Tring... Tring... Tring...

Bunyi gemerincing logam yang saling beradu. Suara itu terdengar ritmis dan lambat, seolah-olah seseorang yang memakai puluhan gelang kaki berlonceng sedang berjalan menyeret langkahnya di atas lantai semen.

Tring... Tring... Tring...

Suara itu semakin mendekat ke arah sel tempat Harumi ditahan sementara.

Harumi memundurkan tubuhnya hingga punggungnya merapat erat ke dinding sudut sel. Napasnya memburu. Matanya tak berkedip menatap ke arah celah jeruji besi.

Ia ingin berteriak memanggil polisi wanita yang tadi menjaganya, tetapi pita suaranya seakan lumpuh. Udara di sekitarnya terasa sangat berat, menekan dadanya hingga ia kesulitan meraup oksigen.

Dan...

Langkah bergemerincing itu tiba-tiba berhenti, tepat di depan jeruji sel Harumi, namun tidak ada siapa pun di sana...

Hanya ada lorong remang-remang yang kosong.

Harumi baru saja hendak mengembuskan napas lega, mengira itu hanyalah halusinasinya akibat trauma, ketika tiba-tiba sudut matanya menangkap sebuah pergerakan...

DARI DALAM SELNYA SENDIRI.

Mata Harumi perlahan bergulir ke arah sudut seberang ruangan. Sudut tergelap yang tidak terjangkau oleh cahaya lampu kuning dari luar.

Di sana, udara tampak beriak seperti fatamorgana di atas aspal panas. Perlahan-lahan, riakan udara itu memadat, mengumpulkan kegelapan dari sekelilingnya, dan membentuk sesosok siluet tubuh manusia.

Jantung Harumi seakan berhenti berdetak.

Darahnya membeku di pembuluh nadinya.

Siluet itu semakin jelas.

Itu adalah sosok seorang wanita yang berdiri membelakanginya.

Posturnya tinggi semampai, dengan rambut hitam legam yang sangat panjang dan lebat, menjuntai tak beraturan hingga menyapu lantai semen.

Meskipun pencahayaan sangat minim, Harumi bisa melihat detail pakaian kuno yang dikenakan oleh sosok tersebut.

Wanita itu memakai kemben yang membalut tubuh bagian atasnya, dipadukan dengan kain batik dengan motif kuno yang sudah tampak lapuk. Sebuah selendang berwarna merah darah melingkar di bahunya, ujung selendang itu melayang-layang perlahan di udara, meskipun sama sekali tidak ada angin di dalam ruangan pengap tersebut.

Sosok itu berdiri mematung.

Diam.

Sama sekali tidak bersuara.

"S-si-siapa..." Harumi mencoba bersuara, namun yang keluar hanyalah cicitan parau yang nyaris tak terdengar.

Tubuhnya gemetar hebat, air mata ketakutan kembali merebak di pelupuk matanya.

Mendengar suara Harumi, sosok wanita bergaun kuno itu mulai bergerak.

Perlahan, sangat perlahan, ia memutar kepalanya ke belakang.

Bunyi tulang leher yang bergemeletuk merobek kesunyian sel, berbunyi krek... krek... krek...

Wajah wanita itu tertutup oleh juntaian rambutnya yang kusut dan berbau anyir. Namun, dari sela-sela rambut hitam yang menutupi wajahnya itu, Harumi bisa melihat sepasang mata.

Bukan mata manusia.

Mata itu seluruhnya berwarna hitam pekat, tanpa pupil maupun bagian putih sama sekali.

Sepasang mata gelap itu menatap langsung ke kedalaman jiwa Harumi, membawa aura kebencian, kemarahan, dan dendam yang telah berkarat selama ribuan tahun.

Lalu, perlahan-lahan, bibir pucat yang mengelupas di balik rambut itu tertarik ke atas.

Membentuk sebuah senyuman.

Senyuman menyeringai yang ditarik terlalu lebar hingga menyalahi batas wajar rahang manusia.

Dan... Senyuman itu...

Senyuman yang persis sama dengan senyuman yang terbentuk di wajah Harumi saat ia berada di atas panggung Candi Prambanan tadi.

Sosok itu mengangkat tangan kanannya yang pucat dan dipenuhi urat-urat hitam yang menonjol. Jari-jarinya yang berkuku panjang, hitam, dan runcing menggenggam sebuah benda imajiner di udara.

Lalu, dengan gerakan lambat namun penuh tenaga, sosok itu memperagakan gerakan menusuk ke arah depan, tepat di mana Harumi duduk meringkuk.

CRAAAKKK!!!

Sebuah suara sobekan daging bergema nyaring di dalam kepala Harumi, seolah memutar ulang detik-detik saat pisau pusaka itu menembus perut Haruma.

Dalam satu detik yang sangat mengerikan itu, kewarasan Harumi akhirnya mencapai batasnya.

Kenyataan menghantamnya dengan sangat brutal.

Ia tidak gila. Ia tidak sedang berhalusinasi.

Benda yang menggerakkan tangannya di atas panggung, entitas kuno yang bersemayam di Candi Prambanan itu, benar-benar nyata.

Dan makhluk itu kini mengikutinya, mengklaim tubuhnya, dan mengurungnya di dalam penjara.

Sosok wanita bergaun kuno itu memiringkan kepalanya, menatap wajah Harumi yang pucat pasi dan dilumpuhkan oleh teror.

Sring...

Satu langkah ia ambil, mendekat ke arah Harumi. Hawa dingin yang mematikan langsung menerpa wajah gadis itu.

Dan...

"TIDAAAAAAAKKKKKK!!!"

Jeritan melengking Harumi meledak, memecah keheningan malam di kantor polisi, menggemakan teror absolut dari seorang gadis yang baru saja menyadari bahwa ia telah menjadi wadah bagi iblis (dendam) masa lalu yang haus akan darah.

1
Ilham
lanjut bg
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kak Ilham... 💪💪💪
total 1 replies
My.mitsubishi.triton Adventure X
Kenapa nama tokoh pemerannya sama dengan tirakat tp cerita nya berbeza bahkan tidak ada perewangan milik nisa dn haruma
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Karena novel "CINTAKU DI PRAMBANAN" ini adalah versi Alternate Universe (AU) dari Universe novel "TIRAKAT", Kak...

Jadi cerita utamanya berbeda, namun sebagian besar tokohnya sama.

Semoga Kakak juga suka ya... Dan, terima kasih banyak Kak, sudah komentar... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
di babb 20 keatas baru menangkap alur nya wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iyakah??? Hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bagus, rekomendasi juga buat yang suka bacaan horror.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TERIMA KASIH, KAK ASMARA... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyalah nisa sebagai ibu nggak bakalan diam sama iblis itu, jadi percaya saja harumi biar sulit pasti bisa dilawan
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe...

"SAYA AKAN LAWAN!!!"
#KataSalahSatuLelakiDariSolo
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang ini serem ya apalagi baca nya malem
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: iyaa serem
total 2 replies
Ilham
lanjut kak
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Berat berat baca cerita haruma harumi sii baling wangi. bener ini mah ujian nya lbh berat dari Nisa. dikejar kejar entintas kna baling wangi gimana nggak harus kerja keras bwt melawan nya.

kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: typo itu plot twist mksdnya ya
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Apa zaky masih bisa merasakan sesuatu yg ghoib setelah putus hubungan sama sekar mayang? 🤔 kek nya nggak. sekarang keknya Zaky lebih mengedepankan logika nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: awas aja klo anak anak nya dalam bahaya Zaky nggak bisa apa apa
total 4 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Masij menyimak kak.... blom bisa meraba wkwkwk penasaran juga sama yg sblom nya yg kejadian di gunung lawu itu, apakah ntar ada alur mundur nya?
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih, Kak Asmara... 😍😍😍
total 3 replies
Ilham
aku pengen Arumi sama Arum selamat mereka berdua kak
Ilham
lanjut bg...jadi kemana Perawang Arumi sama Arum kakak..masa ngk menolong mereka kak
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Ilham... 🥰🥰🥰

Perewangan Haruma dan Harumi akan muncul, Kak...

Oh iya, karena novel ini adalah AU (Alternate Universe) dari seri TIRAKAT, jadi nggak terlalu banyak kemunculan para perewangannya... 💪💪💪😍😍😍😍🥰
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduh ini lbh serem, perawangan harumi jenis yang berbeda kah
Author Melda
salam support kak👍
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Okeee... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!