Rakanza Elson adalah mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Dingin, tak tersentuh, dan bos terkuat organisasi Teratai Hitam. Namun di balik kekuasaan dan ketampanannya, Rakanza menyimpan dua rahasia. Mysophobia parah dan ketakutan akan sentuhan yang membuatnya menganggap pernikahan sebagai sebuah kutukan.
Hingga suatu malam di Meksiko, sebuah misi membawanya pada Annabella. Gadis misterius yang terkurung di laboratorium eksperimen ilegal. Dipenuhi rasa jijik pada tempat yang kotor dan terkontaminasi, Rakanza seharusnya membiarkan gadis itu tewas. Namun, karena tuntutan orang tuanya untuk segera menikah, Rakanza terpaksa menikahi gadis itu. Namun tak sangka, setelah wajah istrinya disembuhkan, ternyata istrinya mirip dengan adik iparnya.
Di sisi lain, Rafandra, adik Rakanza merasa telah menemukan cinta sejati saat berhasil melamar Luviana Winston. Namun, dibalik senyum manis Luviana sang pianis terkenal, ada kebohongan besar yang siap menghancurkan segalanya. Luviana yang dicintainya ternyata menyimpan agenda balas dendam yang mematikan.
Siapa sebenarnya Annabella? Dan apa hubungannya dengan keluarga Winston?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luviana Asli
Rakanza buru-buru menghempaskan jauh-jauh rasa percaya dirinya. “Cih, untuk apa mafia sepertiku peduli dia terharu atau tidak?” pikirnya angkuh.
Ia maju dua langkah, namun gadis itu tiba-tiba mundur menjaga jarak sesuai aturan perjanjian pernikahan.
Rakanza berhenti, baru teringat pada aturan konyol yang ia buat sendiri. Tanpa membuang kata, Mafia itu berjalan ke meja makan, menaruh mangkuk buburnya yang masih berasap tipis itu di atas permukaan kayu, lalu mengarahkan pandangannya ke arah sang istri.
"Makan," titahnya datar.
"Jangan sampai Nenek pikir aku menyiksamu di sini."
Gadis itu hanya diam. Kepalanya menunduk dalam, tidak bergerak seinci pun untuk mendekati meja.
Rakanza menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa? Kau malu? Atau curiga aku kasih racun di dalamnya?"
Tetap hening. Tak ada jawaban, tak ada pergerakan. Kesabaran Rakanza yang setipis tisu mulai teruji.
"Jangan bilang... kau mau aku menyuapimu?" terka Rakanza menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Jangan manja. Ingat posisimu. Aku memungutmu dan menjadikanmu istri cuma supaya aku terhindar dari tuntutan orang tuaku. Jangan berharap lebih."
Lagi-lagi, tidak ada suara. Emosi Rakanza seketika naik ke ubun-ubun. Ia paling benci diabaikan.
"Annabella Arumi! Jawab!" gertak pria itu dengan suara baritonnya yang menggelegar.
"Sudah capek-capek dibuatkan bubur, bilang terima kasih kek! Pelit amat mulutnya itu!" gerutu Rakanza dalam hati.
Panggilan nama itu membuat tubuh gadis di depannya tersentak. Cengkeraman jemarinya pada kain gaunnya semakin erat. Perlahan, ia menegakkan kepalanya.
Rakanza tertegun. Untuk pertama kali, ia melihat sorot mata di balik cadar itu memancarkan kilatan tajam, kepedihan, kemarahan, dan kekecewaan yang sama sekali berbeda dari tatapan rapuh nan ketakutan yang biasa gadis itu tunjukkan.
Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Aku bukan Annabella," ucapnya serius.
Rakanza diam. Mulutnya sedikit terbuka, meragukan pendengarannya sendiri. "Bu-Bukan Annabella? Apa maksudmu? Jangan ngelantur. Berkas identitasmu jelas-jelas tercatat atas nama Annabella."
"Aku sudah ingat sebagian ingatanku," potong gadis itu cepat, air matanya membasahi kain cadarnya, namun tatapannya tak gentar sedikit pun mengunci mata bos Mafia itu. "Gadis di foto itu bukan aku. Sebelum rusak, wajahku tidak seperti itu. Aku bukan Annabella."
Sorot mata Rakanza mendadak berubah gelap. Muka dinginnya mengeras dan berubah makin kelam. Aura intimidasi khas pemimpin Black Lotus menguar pekat di udara. Ia merasa tengah dipermainkan oleh wanita yang berada di bawah perlindungannya.
"Oh... lantas siapa kau sebenarnya?" cecar Rakanza dengan nada yang menusuk. "Jangan-jangan kau ini salah satu mata-mata dari si pengkhianat itu? Dan setelah misimu gagal, kau dikorbankan dan sekarang pura-pura amnesia demi masuk ke dalam keluargaku?”
Gadis itu menggeleng keras dua kali. Ia maju satu langkah, menepuk dadanya sendiri dengan telapak tangan, mempertegas setiap kata yang keluar dari bibirnya.
"Aku bukan Annabella, dan aku sama sekali tak punya hubungan dengan musuhmu," serunya nyaring, suara isakan dan ketegasan bersatu di udara.
"Aku LUVIANA WINSTON!"
Keheningan mencekam seketika melingkupi dapur. Nama Luviana Winston yang terucap dari bibir gadis itu berhasil membekukan udara di ruangan tersebut selama beberapa detik.
Namun pada detik berikutnya, Rakanza menajamkan tatapannya. Tanpa peringatan, tangan Rakanza terulur untuk menarik cadar istrinya. Namun dengan refleks luar biasa cepat yang terasah akibat siksaan di lab, gadis itu bergerak mundur, berhasil menghindar dalam sekejap mata.
Rakanza kian kesal. Mengira istrinya sedang bermain sebuah drama konyol, ia mendesis tajam.
"Luviana Winston adalah gadis cantik yang berbakat, bukan gadis buruk rupa sepertimu. Lagi pula, tidak ada data nama Luviana di dalam laboratorium itu. Jelas sekali namamu tercatat sebagai Annabella. Berhenti mengaku-ngaku sebagai putri Winston.”
Suara bariton Rakanza menggelegar hingga terdengar sampai ke koridor luar.
“Sudah kuduga... dia pasti tidak akan percaya. Dasar pantat besar! Padahal aku ada di sini!” batin gadis itu menundukkan kepala.
Rasa sedih dan kesal bercampur aduk di dalam dadanya. Ya, dialah Luviana Winston yang asli. Putri kandung Winston yang identitasnya telah dicuri oleh gadis licik yang saat ini sedang tersenyum manis di samping Rafandra sebagai calon pengantin.
Bang Lucian... seandainya kamu tak meninggalkanku, aku tak akan pernah berakhir sesakit ini... Mengapa Abang meninggalkanku?
Jleb!
Rakanza terhenyak di tempatnya. Ia menyaksikan sendiri setetes air mata jatuh ke kain cadar istrinya. Gadis itu tak berteriak lagi, ia hanya menahan tangis dalam hening tampak begitu hancur dan kesepian.
Melihat itu, Rakanza perlahan mengepalkan sebelah tangannya. Ada rasa nyut-nyutan asing yang menusuk dadanya. Namun, ego dan pemikiran rasionalnya yang kaku mulai berbisik, berpikir ini semua bisa saja cuma akting manipulatif untuk menarik simpati.
Baru saja Rakanza mau buka mulut untuk bicara lagi, langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat. Gavin dan Lily masuk ke dapur dengan raut panik.
Tanpa ragu, Gavin dan Lily pasang badan dan berdiri melindungi Luviana dari gertakan sang bos mafia.
"Bos… Tolong tenang dulu. Jangan main bentak begini, kasihan Nyonya baru saja siuman," cegah Gavin iba.
Lily ikut mendongak menatap Rakanza dengan mata membulat. "Uncle Laka pengecut! Masa belani sama pelempuan aja? Kalau Uncle gentleman, lawan Ayah Lily sana!" ultimatum bocah cilik itu tanpa takut.
Rakanza menatap mereka bertiga bergantian. Bibirnya terkatup rapat. Dengan aura dingin yang menusuk, ia berbalik meninggalkan dapur tanpa menoleh lagi.
Sepeninggal Rakanza, Lily mendongak lagi, menatap mata Luviana yang teduh namun dipenuhi telaga air mata. Hati kecil bocah empat tahun itu mendadak ikut merasa engap dan berkaca-kaca melihat kesedihan yang memancar dari sana.
Gavin mencoba menenangkan. "Nyonya Muda... tidak apa-apa, ya? Bos memang begitu kalau lagi emosi."
Sementara itu, Lily berjinjit meraih mangkuk bubur di atas meja. Dengan sangat hati-hati, ia membawanya mendekat dan membujuk. "Aunty, makan dulu. Kata Ayah, kalau pelutnya sudah kenyang, nanti ndak bakal stless lagi."
Luviana menatap Lily dan mangkuk bubur yang diulurkan anak itu. Hatinya tersentuh. Ia menerima uluran tangan kecil Lily yang menuntunnya duduk di salah satu kursi makan.
Namun, ketika mangkuk itu mendekat dan aroma gurihnya terhirup oleh Luviana, gadis itu mendadak menghentikan gerakan tangannya. Ia mendorong pelan mangkuk bubur tersebut menjauh.
Gavin yang melihat hal itu mengerutkan dahi bingung. "Kenapa tidak dimakan, Nyonya? Bubur buatan Bos itu kelihatan enak banget, lho."
Luviana menggeleng, "Saya... tidak bisa makan ini. Saya alergi."
Gavin tersentak, matanya sedikit melebar.
Alergi...?
Luviana dengan lembut menyodorkannya ke arah Lily.
"Untuk kamu saja, ya?"
Namun, bocah cilik itu buru-buru menutup mulutnya dengan tangan mungilnya, menggeleng berulang kali hingga rambutnya terombang-ambing.
"Ndak mau, Aunty. Lily juga punya alelgi. Nanti muka Lily bentol-bentol kaya ulat bulu. Bisa lusak,” seru Lily polos setelah melepaskan tangannya dari mulut.
Mendengar hal itu, Gavin di sebelah mereka semakin melotot. 'Bisa-bisanya dua orang ini sama-sama punya Alergi?' batin asisten itu heran.
Sesaat kemudian, mata bulat Lily berbinar cerah. Sebuah senyum lebar yang sangat menggemaskan terhias di wajah cantiknya. Anak itu menggenggam jemari tangan Luviana dengan erat.
"Wah, Aunty. Sepeltina kita beljodoh," seru Lily riang. "Aunty kelual aja dali lumah ini, telus pulang baleng Lily. Nanti Aunty jadi Bunda Lily sama jadi Istli Ayah. Aunty mau, ndak?"
Gavin yang mendengar tawaran itu menepuk jidatnya keras-keras. "Nona Lily, dia Nyonya Muda saya. Tolong jangan asal main culik buat dijadiin istri bapakmu."
"Uncle bisa caliin yang balu. Benal kan, Aunty?"
"Cari Istri nggak segampang beli gorengan, Nona Kecil," ucap Gavin gemas dan capek.
Luviana yang tadinya dipenuhi rasa sedih mendadak tersenyum di balik cadarnya. Di tengah kekacauan dan keraguan Raka, kepolosan dan kehangatan dari anak ini sedikit mengobati rasa sesak di dadanya. Namun sesaat kemudian, senyumnya pudar setelah orang tua Rakanza pulang.
Omaa…
Opaaaa…
___
dasar anabella hantu gila astaga 😡😡😡
jangan lama ya thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻