Mo Tianxia pernah berdiri di puncak dunia.
Sebagai seorang kultivator yang telah mencapai Absolute Realm, tidak ada lagi lawan yang mampu menandinginya dan tidak ada lagi batas yang mampu menghalanginya. Namun, setelah mencapai segala sesuatu yang bisa dicapai, yang tersisa baginya hanyalah kebosanan.
Dalam sebuah keputusan yang tidak masuk akal bagi siapa pun, Mo Tianxia menghancurkan jiwanya sendiri dan memulai kembali kehidupannya dari nol.
Kini, ia terbangun dalam tubuh yang lemah dengan kultivasi paling dasar.
Tidak ada kekuatan absolut. Tidak ada kedudukan tinggi. Tidak ada nama besar.
Hanya pengetahuan tentang jalan yang pernah ia tempuh.
Dengan sikap tenang dan pengalaman yang jauh melampaui usianya, Mo Tianxia kembali melangkah di jalan kultivasi. Sekte, turnamen, dunia rahasia, para jenius, dan berbagai ancaman mulai muncul di hadapannya.
Namun kali ini, tujuannya bukan menjadi yang terkuat. Ia hanya ingin menikmati kembali perjalanannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Kabar tentang kedatangan Deacon Song dari Tian Yun Sect menyebar ke seluruh Desa Qingluo dalam waktu kurang dari satu hari.
Pagi hari, Lonceng balai desa dibunyikan lebih keras dari biasanya, memanggil seluruh penduduk untuk berkumpul di lapangan tengah desa.
Mo Tianxia berjalan di sisi Mo Feng dan Su Wan menuju lapangan, memperhatikan wajah-wajah penduduk lain yang dipenuhi campuran rasa penasaran dan harapan.
'Menarik juga,' pikirnya, mengamati keramaian yang mulai terbentuk. 'Bagi mereka, ini mungkin satu-satunya kesempatan seumur hidup untuk keluar dari desa kecil seperti ini.'
Di dunia sebelumnya, ia pernah menyaksikan ribuan ujian serupa—dari yang paling sederhana di desa terpencil hingga yang paling megah di ibu kota kekaisaran, tempat ribuan kandidat berbakat bersaing memperebutkan satu posisi. Bagi seorang yang pernah berdiri di Absolute Realm, ujian macam ini tidak lebih dari formalitas. Namun bagi penduduk desa yang berkumpul di lapangan itu, ini adalah segalanya.
Di depan lapangan, seorang pria berjubah biru muda dengan lambang awan berputar di dadanya berdiri dengan tenang, memancarkan aura yang membuat seluruh penduduk secara alami menjaga jarak. Chen Feng berdiri di sampingnya, sedikit lebih rendah posisinya.
"Ini adalah Deacon Song," Chen Feng memperkenalkan, suaranya cukup keras untuk didengar seluruh kerumunan. "Beliau datang mewakili Tian Yun Sect untuk mencari calon disciple baru."
Deacon Song melangkah maju satu langkah. Suaranya terdengar tenang namun jelas terdengar hingga ke ujung lapangan.
"Tian Yun Sect membuka kesempatan bagi anak-anak berusia antara tujuh hingga dua belas tahun untuk mengikuti ujian masuk," katanya. "Ujian akan dilaksanakan tiga hari dari sekarang, di lapangan ini. Setiap kandidat akan diuji berdasarkan akar spiritual, kekuatan fisik dasar, dan pemahaman dasar terhadap Qi."
Bisik-bisik mulai terdengar di antara kerumunan. Beberapa orang tua saling berpandangan, mempertimbangkan apakah anak mereka layak dicoba.
"Bagi yang lolos," lanjut Deacon Song, "akan dibawa ke Gunung Qingfeng untuk memulai kehidupan sebagai disciple luar Tian Yun Sect. Sekte akan menanggung kebutuhan dasar, dan keluarga akan menerima kompensasi sebagai penghormatan."
Kata "kompensasi" itu membuat sebagian penduduk semakin bersemangat. Bagi keluarga petani yang hidup dari musim ke musim, kesempatan ini bisa berarti perbedaan antara kelaparan dan kecukupan.
Mo Feng menggenggam tangan Mo Tianxia lebih erat, meski tidak sepenuhnya sadar ia melakukannya.
"Tianxia," bisiknya, "apa kau ingin mencoba?"
Mo Tianxia menatap ayahnya. Ada harapan sekaligus ketakutan di mata Mo Feng—harapan akan masa depan yang lebih baik bagi anaknya, dan ketakutan akan kehilangan.
'Aku sudah merencanakan ini sejak lama,' pikir Mo Tianxia. 'Namun melihat wajahnya seperti ini... aneh rasanya.'
Ia belum pernah, dalam seribu dua ratus tahun hidupnya, melihat seseorang mengkhawatirkan kepergiannya dengan cara seperti ini. Di masa lalu, orang-orang yang "kehilangan" dirinya biasanya adalah musuh yang gagal membunuhnya, bukan keluarga yang mencemaskan keselamatannya.
"Aku ingin mencoba, Ayah," jawab Mo Tianxia akhirnya, suaranya lembut namun mantap. "Aku janji akan baik-baik saja."
Mo Feng menatapnya lama, lalu mengangguk pelan, meski matanya sedikit berkaca-kaca.
Di tengah kerumunan, seorang anak laki-laki lain menatap pengumuman itu dengan mata berbinar penuh semangat—jauh berbeda dari kebanyakan anak lain yang terlihat gugup.
Wang Dazhi.
Anak petani miskin yang tinggal tidak jauh dari gubuk keluarga Mo Feng. Mo Tianxia mengenalnya sebagai anak yang selalu berusaha keras dalam segala hal, meski hasilnya jarang sebanding dengan usahanya.
Wang Dazhi berlari mendekati Mo Tianxia begitu pengumuman selesai, wajahnya penuh semangat. "Tianxia! Kau dengar itu? Kau akan ikut ujian, kan?"
"Ya," jawab Mo Tianxia singkat.
"Aku juga akan ikut!" seru Wang Dazhi, kepalan tangannya terangkat penuh semangat. "Aku tahu bakatku tidak sebagus kandidat lain, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga!"
Mo Tianxia menatap sahabatnya itu.
'Bakat mungkin memang bukan miliknya,' pikirnya. 'Tapi tekad seperti itu... jarang aku temui, bahkan di antara para jenius yang pernah kutemui sepanjang seribu dua ratus tahun.'
"Kita berlatih bersama sampai hari ujian," kata Mo Tianxia. "Aku akan membantumu sebisaku."
Wajah Wang Dazhi berbinar semakin cerah. "Sungguh? Terima kasih, Tianxia!"
'Tiga hari ke depan,' pikir Mo Tianxia sambil menatap langit sore yang mulai berubah warna, akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dari yang disadari siapa pun di desa ini.