NovelToon NovelToon
INVESTASI CINTA YANG SALAH

INVESTASI CINTA YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Fantasi
Popularitas:681
Nilai: 5
Nama Author: AwandaMw

INVESTASI CINTA YANG SALAH

Oleh: AwandaMw

"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."

Sinopsis:

Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.

Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.

Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

***Bab 7 penghinaan di restoran mewah

🌸🌸🌸🌸

Malam minggu di kawasan Senopati selalu dipadati kendaraan mewah. Lampu-lampu hias bernuansa hangat berpendar dari balik jendela kaca Le Ciel, sebuah restoran perancis kelas atas yang terkenal dengan hidangan privat dan suasana romantismenya.

Di dalam ruangan VIP mezzanine restoran tersebut, Reno duduk bersanding dengan Sella.

Reno tampak amat tampan dengan kemeja sutra gelap, sementara Sella mengenakan gaun malam merah bata dengan kalung berlian L'Aurore bernilai tiga ratus lima puluh juta rupiah yang baru saja dibelikan Reno melingkar indah di lehernya.

Di meja mereka, terhidang botol anggur berkelas dan hidangan steak mewah.

"Reno, kamu tahu nggak? Banyak temanku yang iri banget waktu lihat postingan aku tadi sore," ujar Sella manja, jemarinya mengelus permukaan kalung berliannya seraya tersenyum menggoda.

Reno tertawa bangga, menyesap anggur merah dari gelas kristalnya. "Biarkan saja mereka iri, Sel. Kamu pantas dapat perlakuan bak ratu. Lagipula, berinvestasi pada penampilan kamu itu investasi terbaik buat citra Apex Media."

"Kamu memang pria paling sempurna, Reno," puji Sella lembut, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Reno.

Di saat yang bersamaan, pintu area mezzanine terbuka.

Nadia melangkah masuk. Malam ini, ia hadir atas undangan makan malam resmi dari seorang mitra senior Cakrawala Capital yang kebetulan memilih tempat yang sama. Nadia tampil sangat anggun dengan gaun terusan berwarna hitam polos tanpa corak, dipadu dengan blazer tipis.

Langkahnya terhenti tepat beberapa meter dari meja Reno dan Sella.

Mata Nadia menangkap pemandangan di depannya: suaminya sendiri sedang merengkuh pinggang wanita lain yang mengenakan kalung berlian hasil penggelapan kas perusahaannya.

Keheningan mendadak tercipta.

Reno yang baru saja hendak menyuapkan makanan, mendongak. Matanya membelalak kaget saat melihat sosok Nadia berdiri tak jauh dari mejanya. Gelas anggur di tangan Reno hampir saja tergelincir.

"Nadia?!" seru Reno, suaranya dipenuhi keterkejutan dan rasa canggung yang mendadak menyeruak.

Sella yang berada di samping Reno tidak menunjukkan rasa takut sama sekali. Sebaliknya, Sella justru menyunggingkan senyum kemenangan yang amat tipis, membetulkan posisi duduknya agar kalung berlian di lehernya terpampang lebih jelas.

Nadia berdiri tegak, menatap pasangan itu dengan pandangan jernih tanpa emosi yang meledak-ledak.

"Reno," sapa Nadia pelan, suaranya tenang mengalun di tengah alunan musik klasik restoran. "Rupanya kamu ada rapat operasional di sini."

Mendengar sindiran halus itu, wajah Reno mendadak merah padam. Rasa canggungnya dalam hitungan detik berubah menjadi rasa malu yang amat sangat, bercampur amarah karena egonya terancam di depan Sella dan para tamu VIP lainnya.

Reno langsung berdiri dari kursinya dengan kasar hingga bunyi gesekan kaki kursi bergema nyaring.

"Kamu ngapain di sini, Nadia?!" bentak Reno dengan suara tertahan namun tajam.

Reno melangkah lebar-lebar mendekati Nadia, mencengkeram lengan atas istrinya dengan agak keras lalu menariknya sedikit menjauh dari meja.

"Kamu memata-matai aku, ya?!" tuduh Reno dengan mata melotot emosi. "Kamu ikutan ngikutin aku sampai ke restoran ini?! Kamu benar-benar nggak punya rasa malu!"

Nadia menatap cengkeraman tangan Reno di lengannya, lalu mendongak menatap mata suaminya tanpa rasa takut sedikit pun.

"Saya ke sini untuk urusan pekerjaan saya sendiri, Reno. Saya tidak punya waktu untuk memata-matai orang yang sedang menggunakan uang kas operasional untuk membelikan perhiasan," jawab Nadia datar dan tajam.

Kata-kata Nadia menghantam tepat di dada Reno. Bukannya merasa bersalah atau ragu, bisikan racun Sella di hari-hari sebelumnya justru meledak di dalam kepala Reno. Pria itu merasa harga dirinya sebagai CEO muda yang dipuja publik sedang diinjak-injak oleh istrinya sendiri.

"Cukup, Nadia!" pekik Reno gertak. Beberapa pengunjung di meja bawah mulai menoleh ke arah mereka.

"Kamu itu benar-benar wanita kampung yang nggak tahu diri!" maki Reno tanpa mempedulikan pandangan orang lain.

Reno menunjuk muka Nadia dengan telunjuknya yang bergetar emosi.

"Kamu pikir aku nggak tahu jalan pikiran kamu? Kamu iri kan lihat Sella?! Kamu cemburu karena Sella jauh lebih berkelas, jauh lebih anggun, dan jauh lebih berguna buat karier aku ketimbang kamu yang cuma bisa diam di rumah dan ngatur-ngatur uang aku!"

Sella melangkah mendekat, berdiri di samping Reno dengan raut wajah pura-pura prihatin, namun matanya berkilat puas.

"Reno, udah... jangan emosi di tempat umum, nggak enak dilihat orang," bujuk Sella dengan suara lembut yang dibuat-buat, seraya mengelus punggung Reno.

"Biarin, Sel! Supaya wanita ini sadar diri!" seru Reno makin menjadi-jadi, dibutakan oleh emosi dan rasa jumawanya.

Reno menatap Nadia dengan pandangan penuh rasa jijik.

"Lihat diri kamu, Nadia! Baju hitam kusam, penampilan kaku, nggak ada pantas-pantasnya berdiri di restoran mahal ini! Kamu itu cuma beban! Kamu merusak pemandangan dan merusak nama baik aku!"

Reno merogoh dompetnya, mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu lalu melemparkannya ke atas meja kecil di dekat Nadia.

"Nih! Pakai uang ini buat naik taksi dan pulang! Jangan pernah bikin malu aku lagi di depan kolega penting aku!" bentak Reno meluapkan seluruh kesombongannya.

Nadia menatap lembaran uang di atas meja, lalu beralih menatap Reno dan Sella yang berdiri berdampingan.

Di dalam dada Nadia, tidak ada lagi rasa sakit. Tali pernikahan yang tersisa lima persen itu baru saja diputus secara paksa oleh Reno malam ini. Pengorbanan lima tahun, penjualan emas almarhumah ibunya, dan seluruh kesabarannya telah dibalas dengan makian serta hinaan di depan publik.

Nadia tidak menangis. Ia bahkan tidak menaikkan nada suaranya satu oktaf pun.

Nadia melangkah satu tapak lebih dekat ke arah Reno. Tatapan matanya begitu tajam dan membeku, membuat Reno refleks terdiam dan mundur setengah langkah.

"Terima kasih atas ucapanmu malam ini, Reno," ujar Nadia dengan suara pelan, namun setiap katanya menancap bagai belati dingin.

Nadia melirik Sella sekilas, menatap kalung berlian di leher wanita itu.

"Nikmati malam mewah kalian. Nikmati setiap detik kemewahan yang kamu beli dengan uang perusahaan."

Nadia kembali memandang lurus ke dalam manik mata Reno.

"Karena mulai besok pagi... kamu akan merindukan saat-saat ketika kamu masih punya tempat untuk pulang."

Tanpa menunggu balasan dari Reno, Nadia memutar badannya dengan anggun. Ia melangkah pergi meninggalkan area mezzanine restoran itu dengan kepala ditegakkan tinggi-tinggi.

Reno berdiri terpaku di tempatnya, napasnya memburu emosi. Ada getaran aneh yang tiba-tiba merayap di dadanya saat melihat tatapan terakhir Nadia—sebuah rasa cemas yang tak bisa ia jelaskan. Namun, belai lembut tangan Sella di lengannya dengan cepat menghapus keraguan itu.

Nadia berjalan keluar menuju pelataran parkir Le Ciel. Udara malam menyapa wajahnya.

Ia masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menunggunya. Nadia menyandarkan punggungnya di jok kulit, lalu mengambil ponsel pribadinya.

Ia menelpon satu nomor kontak yang tersimpan rapat.

"Halo, Pak Hendra?" suara Nadia terdengar tanpa keraguan sedikit pun.

"Iya, Bu Nadia. Ada arahan baru dari Cakrawala Capital?" sahut suara pengacara hukum finansial pribadinya di ujung telepon.

Nadia menatap ke arah jendela, memperhatikan megahnya bangunan restoran tempat suaminya sedang bersenang-senang.

"Siapkan seluruh berkas gugatan, bukti penggelapan dana kas, dan audit sertifikat saham 60 persen Apex Media," perintah Nadia dingin.

"Game over. Rencana pembalasan kita resmi dimulai."

🌸🌸🌸

1
falea sezi
lanjut
Arieee
laki" mokondo yang terlalu percaya diri🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!