NovelToon NovelToon
Dari Yatim Piatu Menjadi Ratu Mafia

Dari Yatim Piatu Menjadi Ratu Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Edina Gonçalves

Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.

Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.

Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.

Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.

Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.

Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Tak Pernah Kulupakan

POV Luna

Namaku Luna Salvatore Rigone, dua puluh empat tahun, putri bungsu keluarga Salvatore. Aku selalu menjalani hidup dengan ringan dan ceria, berusaha mengabaikan sisi kelam keluargaku.

Aku selalu pandai berpura-pura.

Berpura-pura semua baik-baik saja. Berpura-pura hidupku ringan, sempurna, biasa saja. Berpura-pura sisi kelam keluargaku tidak ada.

Sampai hari itu tiba.

Waktu itu usiaku enam belas tahun, dan sore itu Florence terlihat lebih indah dari biasanya. Matahari menyinari bangunan-bangunan tua, orang-orang berjalan santai, dan aku… aku hanya ingin menjadi gadis biasa.

Karena itu, seperti biasa, aku mencari cara untuk mengecoh para pengawalku.

Menurutku itu berlebihan.

Sebuah penjara yang menyamar sebagai perlindungan.

Aku ingin kebebasan.

Dan aku mendapatkannya.

Hanya untuk beberapa menit.

Aku merasakannya.

Perasaan aneh seolah sedang diawasi. Awalnya kuabaikan. Lalu kupercepat langkahku. Jantungku mulai berdebar kencang, tapi kuyakinkan diriku itu cuma paranoia.

Sampai aku membelok di tikungan.

Dan berhadapan langsung dengannya.

Tinggi.

Diam tak bergerak.

Wajahnya tertutup topeng.

Saat itu, aku mengerti.

Terlambat sudah.

Aku telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku.

Aku mencoba berlari.

Aku tak bisa.

Semuanya terjadi terlalu cepat. Ia mencengkeramku kuat-kuat, membungkam setiap upayaku menjerit, menyelubungkan karung ke kepalaku… dan duniaku pun lenyap.

Saat aku kembali sadar, aku sudah berada di dalam sebuah van.

Dan di situlah…

Neraka bagiku bermula.

Sepuluh hari lamanya.

Sepuluh hari yang terasa seperti keabadian.

Nyaris tanpa makanan.

Air dijatah.

Kegelapan.

Ketakutan.

Dan yang paling buruk dari semuanya… kata-kata itu.

Ancaman-ancaman itu.

Ada seorang pria.

Aku tak pernah melihat wajahnya dengan jelas, tapi suaranya… tak akan pernah kulupakan.

Menjijikkan.

Kejam.

"Begitu kakakmu membayar…" katanya, dengan nada yang membuatku gemetar, "aku akan bermain-main denganmu sampai kau lupa namamu sendiri."

Aku ingin menjadi kuat.

Tapi aku hanya seorang gadis kecil.

Dan aku takut.

Sangat takut.

Pada hari kesepuluh…

Aku sudah tak punya tenaga lagi.

Tak punya harapan lagi.

Kalau kakakku sendiri… Paolo Salvatore… pria yang membuat seluruh Italia gemetar… saja tak berhasil menemukanku…

Maka tak ada seorang pun yang bisa.

Aku pun menyerah.

Menerima bahwa itulah akhir bagiku.

Lalu…

Dia muncul.

Lutero Russo.

Cinta dalam hidupku.

Ia masuk bagai badai.

Senyap, mematikan, tanpa cela.

Aku ingat suaranya.

Jeritan-jeritan itu.

Kekacauan itu.

Lalu… hening.

Ketika ia menyingkirkan karung dari kepalaku, itulah pertama kalinya dalam berhari-hari aku melihat cahaya.

Dan hal pertama yang kulihat…

Adalah dia.

"Sudah berakhir," ucapnya.

Hanya itu.

Tapi, bagiku…

Itu berarti segalanya.

Aku selalu jatuh cinta padanya.

Sejak masih sangat kecil.

Lutero selalu ada di sekitarku. Kuat, tertutup, selalu berada di sisi kakak-kakakku. Ia tak pernah seperti pria-pria lain dalam keluarga kami. Ada sesuatu yang berbeda pada dirinya.

Sesuatu yang membuatku merasa… aman.

Ketika usiaku lima belas tahun, kukira aku sudah tahu apa itu cinta.

Dan aku menyatakan perasaanku.

Aku masih mengingatnya sampai sekarang.

Jantungku serasa mau melompat keluar dari mulut.

Dan ia…

Menolakku.

"Kau masih anak-anak, Luna," katanya, serius. "Kau tidak tahu apa yang sedang kau rasakan."

Kalimat itu saja sudah cukup untuk melukaiku.

Tapi ia melanjutkan.

"Dan seandainya pun kau tahu… aku tak akan pernah mengkhianati kepercayaan kakakmu."

Aku tersenyum di hadapannya.

Tapi, di dalam…

Aku hancur.

Di situlah masa pemberontakanku bermula. Pesta, pertengkaran, tindakan gegabah… semua demi menarik perhatiannya.

Dan aku nyaris membayarnya dengan nyawaku.

Setelah penculikan itu…

Aku tak pernah lagi menjadi diriku yang dulu.

Aku kembali ke rumah.

Tapi aku tak kembali utuh.

Berbulan-bulan aku mengurung diri di kamar. Menangis. Menghindari kontak dengan siapa pun. Dunia kehilangan maknanya.

Aku kehilangan makna.

Sampai suatu hari ibuku masuk ke kamar.

Ia duduk di sisiku, menangkup wajahku, lalu berkata:

"Luka seorang anak adalah luka seorang ibu."

Kalimat itu meremukkanku dengan cara yang berbeda.

Aku sadar bukan hanya aku yang menderita.

Dan aku memutuskan untuk mencoba.

Bukan karena aku mau.

Tapi karena aku harus.

Aku pun melangkah maju.

Atau setidaknya, aku mencoba.

Tapi, jauh di dalam…

Aku sudah tak punya gairah untuk apa pun.

Sampai aku melihat sebuah video.

Brasil.

Muncul begitu saja.

Penuh warna.

Penuh kehidupan.

Berbeda dari segala yang kukenal.

Dan, saat itu juga, aku tahu.

"Aku mau ke sana."

Ayahku dan Pietro langsung setuju.

Paolo…

Menolak.

Tentu saja ia menolak.

Tapi pada akhirnya ia mengalah.

Dan begitulah aku sampai di sini.

Dan di sinilah…

Aku kembali hidup.

Maria Cecília dan Ana Paula.

Sahabat-sahabat terbaikku.

Keluargaku.

Cecília… atau Cissa, panggilan yang kusukai, adalah salah satu orang terkuat yang pernah kukenal. Kisah hidupnya berat, menyakitkan… tapi ia tak pernah membiarkan dirinya hancur.

Ia cantik.

Tapi ia tak menyadarinya.

Dan mungkin justru itu yang membuatnya makin memesona.

Ana Paula sebaliknya. Cahaya murni. Ribut, menyenangkan, mustahil untuk diabaikan. Lukanya berbeda, tapi luka itu ada.

Dan kami bertiga…

Saling menemukan.

Aku punya sebuah apartemen besar di São Paulo.

Mewah.

Dingin.

Kosong.

Tapi aku hampir tak pernah tinggal di sana.

Rumah Cecília…

Itulah rumah yang sesungguhnya.

Meski begitu…

Ada satu hal yang tak pernah lepas dariku.

Lutero.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun mencintai seseorang yang tak pernah menginginkanku.

Empat tahun tanpa berjumpa dengannya.

Kadang…

Aku merasa aku mulai gila.

Karena, di beberapa momen, aku bersumpah aku melihatnya.

Di jalan.

Di pesta-pesta.

Di tempat-tempat acak.

Tapi, ketika aku menoleh lagi…

Ia sudah tak ada di sana.

Obsesi.

Pasti begitu.

Tak mungkin bukan begitu.

Dan sekarang…

Wisuda.

Seluruh keluargaku ada di sana.

Seperti biasa.

Berwibawa.

Tak tersentuh.

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mendekati meja.

Dua tahun.

Dua tahun sejak terakhir kali aku melihat mereka semua berkumpul.

Ibuku yang pertama berdiri.

"Putri kecilku!"

Ia memelukku erat-erat, dan sesaat aku memejamkan mata.

"Aku rindu padamu…"

"Aku juga, Ibu."

Ayahku menyusul tak lama kemudian.

"Kau adalah kebanggaanku," ucapnya, serius, tapi dengan kilau di matanya.

Pietro muncul sambil tersenyum.

"Selamat, adik kecil. Sekarang kau akan mulai mengatur hidupku."

"Kan memang ada yang harus melakukannya," jawabku sambil tertawa.

Lalu…

Paolo.

Kakakku.

Pria yang ditakuti seluruh dunia.

Tapi, bagiku…

Ia selalu hanya kakakku.

Ia menarikku ke dalam pelukan, mengecup keningku, lalu berkata:

"Sekarang kau pulang ke rumah."

Aku tersenyum.

Tapi tak menjawab.

Karena, jauh di dalam…

Aku sudah tak tahu lagi di mana rumahku.

Lalu…

Dia muncul.

Jantungku berhenti.

Lutero.

Empat tahun.

Dan ia ada di sana.

Lebih tampan.

Lebih kuat.

Lebih… dirinya.

Ia menyapa kedua orang tuaku.

Kakak-kakakku.

Dengan hormat.

Seperti biasa.

Lalu ia menatapku.

Dan, sesaat…

Aku lupa cara bernapas.

"Permisi," ucapnya, memandang Paolo. "Bolehkah aku memberikan sebuah hadiah untuk Nona Luna?"

Paolo mengangguk.

Sesederhana itu.

Tapi, bagiku…

Itu berarti segalanya.

Ia menyerahkan sebuah kotak kecil.

Tanganku gemetar.

"Untuk kelulusanmu."

Suaranya… masih sama.

Aku mencoba berbicara.

"Terima kasih…"

Nyaris keluar sebagai bisikan.

Aku membukanya.

Sebuah kalung kecil.

Sederhana.

Cantik.

Dengan liontin berbentuk hati.

Dan tiga huruf.

KFK.

"Apa artinya?" tanyaku, memandangnya.

"Kekuatan. Fokus. Keyakinan."

Tidak mahal.

Tidak mewah.

Tapi itu hadiah pertama yang pernah ia berikan padaku.

Dan itu…

Bernilai lebih dari apa pun.

"Bolehkah… aku memelukmu?"

Aku bahkan tak sempat berpikir.

Aku hanya mengucapkannya.

Ia memandang Paolo.

Selalu menghormati batas.

Paolo mengangguk kecil.

Izin.

Lalu…

Ia memelukku.

Dan dunia terhenti.

Jantungku berpacu.

Aroma tubuhnya…

Aku memejamkan mata.

Dan, sesaat, aku ingin tinggal di sana selamanya.

Ketika kami saling melepaskan, aku sudah merindukannya.

"Selamat," ucapnya.

"Terima kasih…"

Ia minta diri.

Hendak pergi.

Tapi Paolo memotongnya.

"Tinggallah. Duduk bersama kami."

Jantungku melonjak.

Ia menerimanya.

Dan duduk.

Di meja kami.

Bersama keluargaku.

Aku menarik napas dalam-dalam.

"Bolehkah aku memanggil sahabat-sahabatku?"

Semua memandangku.

"Tentu," kata ibuku.

"Kalau mereka sahabatmu, mereka disambut baik," tambah ayahku.

Aku tersenyum.

Dan pergi menjemput mereka.

Cecília datang lebih dulu.

Malu-malu.

Penuh pengamatan.

Ana Paula menyusul di belakang, sambil tersenyum.

Lalu…

Aku melihatnya.

Tatapan Paolo.

Tertuju pada Cecília.

Intens.

Berbeda.

Dan…

Aku merasakan sesuatu yang tak terduga.

Harapan.

Mungkinkah ada seseorang…

Yang akhirnya berhasil menembus hati batu Paolo Salvatore?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!