Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stella Lingga 17.
"Bebas pilih kelompok sendiri, atau mau Ibu yang bagi?"
Pertanyaan Bu Retno langsung disambut korus gaduh khas anak kelas dua belas A. Stella, yang saat itu sedang mencoret-coret pinggiran buku tulisnya, langsung menoleh ke arah Rara.
Tanpa bersuara, hanya dengan isyarat mata, mereka sudah sah menjadi tim. Masalahnya, tugas proyek Seni Budaya kali ini mewajibkan satu kelompok berisi empat orang untuk membuat konsep pameran instalasi mini.
"Raka! Sini lo!" panggil Rara setengah berteriak, melambaikan tangan pada cowok jangkung yang baru saja selesai melempar gulungan kertas ke tempat sampah.
Raka menoleh, menyengir, lalu menyeret kursinya mendekat. "Gue pasrah ya. Tapi jangan suruh gue mikirin estetika, otak gue mentok di visual knalpot motor."
"Gampang, yang penting lo ada gunanya buat angkat-angkat galon atau tripleks nanti," sahut Rara sadis. "Satu lagi siapa?"
Stella mengedarkan pandangan. Di sudut paling belakang dekat jendela, seorang cowok sedang menopang dagu, menatap kosong ke luar lapangan. Lingga. Dia tipe murid yang eksistensinya sering terlupakan kalau guru absen. Pendiam, jarang nongkrong di kantin, dan selalu memakai jaket yang agak kedodoran.
"Lingga belum punya kelompok tuh," bisik Stella pada Rara.
Raka ikut menoleh. "Oh, si Lingga. Boleh sih, anaknya kagak banyak cincong. Daripada kita dapet yang rewel."
Setelah Rara memastikan ke Bu Retno, sore itu juga diputuskan, kerja kelompok pertama akan diadakan di rumah Lingga.
Alasan Lingga singkat saja saat ditanya,
"Di rumah gue aja. Sepi." Stella tidak terlalu memikirkannya saat itu. Ia pikir 'sepi' berarti lingkungan perumahan yang tenang, bukan arti yang sebenarnya.
Hari Sabtu tiba. Pukul empat sore, mobil yang disetir Raka yang membawa Rara dan Stella di dalam, mobil itu berhenti di depan sebuah rumah berpagar hitam tinggi. Rumah itu cukup besar, berdesain minimalis modern dengan cat abu-abu yang agak pudar di beberapa bagian.
Saat melangkah masuk setelah Lingga membukakan pagar, Stella mendadak merasakan sensasi aneh.
Rumah Lingga benar-benar sepi. Bukan sekadar sunyi karena jauh dari jalan raya, tapi sepi yang terasa kosong dan dingin.
Tidak ada suara televisi yang menyala, tidak ada harum masakan seorang mama, tidak ada derap langkah kaki lain, bahkan tidak ada pasang sepatu atau sandal di rak selain milik Lingga sendiri.
"Nyokap bokap lo kerja, Ling?" tanya Raka kasual sambil melepas sepatunya di teras.
"Nyokap di Surabaya, dinas. Bokap udah nggak ada," jawab Lingga datar, hampir tanpa intonasi, seolah itu adalah informasi cuaca harian.
Stella agak tersentak. Ia melirik Rara, yang juga tampak sedikit kikuk. Stella memandang punggung Lingga yang berjalan di depan mereka, menuntun menuju ruang tengah.
Rumah ini bersih, sangat rapi, tapi seperti ruang pameran. Ada foto keluarga di dinding, tapi warnanya sudah agak usang, menampilkan Lingga saat masih kecil bersama kedua orang tuanya. Keheningan di rumah ini terasa begitu pekat, membuat suara tawa Raka yang biasanya renyah mendadak terdengar terlalu keras.
'Gimana rasanya tiap hari pulang ke rumah sebesar dan sesunyi ini sendirian?' batin Stella. Ada secercah rasa empati yang mendadak mencubit hatinya.
Cowok misterius di kelas ini ternyata menyimpan ruang kosong yang begitu besar di hidupnya.
"Kita bagi tugas dulu aja," ujar Stella membuka obrolan begitu mereka duduk melingkar di lantai ruang tengah yang beralas karpet bulu tebal.
Selama satu setengah jam berikutnya, suasana mulai mencair. Rara yang ekspresif berkali-kali berdebat dengan Raka soal pemilihan warna maket. Stella bertindak sebagai penengah sekaligus perancang konsep utama. Yang mengejutkan, Lingga bukan tipe orang yang pasif. Dia jarang bicara, tapi setiap kali dia mengeluarkan pendapat, solusinya selalu taktis dan masuk akal.
"Kalau pakai lampu LED yang ini, dayanya terlalu besar buat baterai kotak. Mending pakai yang paralel mini, biar awet selama pameran," kata Lingga, jarinya menunjuk sketsa yang dibuat Stella.
Stella menatap Lingga, menyadari untuk pertama kalinya bahwa cowok ini punya suara bas yang hangat dan tenang. "Lo tahu banyak soal ginian, Ling?"
"Suka utak-atik aja di kamar," jawabnya pendek, lalu bangkit berdiri. "Bentar, ya. Gue ke belakang dulu. Kalian lanjutin aja."
Jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Perut Stella mulai berbunyi kecil, dan tampaknya Raka juga sudah mulai kehilangan fokus karena kelaparan.
Fokus mereka teralih ketika samar-samar terdengar bunyi gesekan wajan dan aroma gurih yang sangat familier mulai merayap dari arah dapur.
"Bau apa nih? Enak banget semerbaknya," gumam Raka, hidungnya kembang-kempis.
"Jangan-jangan Lingga pesen ojol?" tebak Rara.
Stella penasaran. Ia berdiri, "Gue izin ke toilet bentar ya sekalian liat."
Stella berjalan melewati koridor pendek yang membatasi ruang tengah dan dapur. Begitu sampai di ambang pembatas, langkahnya terhenti seketika. Matanya melebar penuh rasa tidak percaya.
Di balik meja konter dapur yang bersih, berdiri Lingga yang sudah melepas jaketnya, menyisakan kaus hitam polos.
Tangan kanannya dengan lihai memegang spatula, melakukan gerakan tossing, melempar dan membalikkan nasi goreng di udara dengan teknik yang sangat luwes, layaknya koki profesional.
Tangan kirinya dengan cekatan menaburkan sejumput garam dan merica tanpa perlu melihat takaran sendok.
Di atas meja saji, sudah tertata rapi empat piring nasi goreng gila dengan kepulan asap yang menggoda, lengkap dengan telur mata sapi yang bagian kuningnya masih setengah matang sempurna dan irisan timun yang dipotong simetris.
Stella terpaku di tempatnya. Lingga yang dia kenal di sekolah adalah cowok yang acuh tak acuh, jarang bergaul, dan seolah tidak punya energi untuk hidup. Namun di sini, di dapur yang diterangi lampu kuning hangat, Lingga terlihat begitu hidup, fokus, dan... terampil.
Lingga mematikan kompor, lalu menoleh dan mendapati Stella sedang memperhatikannya dengan mulut agak terbuka. Cowok itu sempat kikuk sebentar, berdehem pelan, lalu mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Sori, gue gak nanya dulu kalian alergi apa enggak," kata Lingga, suaranya kembali agak pelan. "Gue cuma liat ada bahan sisa di kulkas. Daripada kalian kelaparan."
Stella mengerjapkan mata, perlahan senyumnya mengembang. Rasa kagum yang belum pernah ada sebelumnya mendadak menyelinap di dadanya. "Lo... bisa masak serapi ini, Ling? Ini keren banget, sumpah."
Lingga menatap Stella, dan untuk pertama kalinya sejak mereka sekelas selama hampir dua tahun, Stella melihat sudut bibir cowok misterius itu terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang tulus.
"Biasa aja. Tuntutan hidup sendirian," jawab Lingga pelan, namun kali ini, nadanya tidak lagi terdengar dingin. Melewati Stella yang masih mematung, hingga Stella tidak sengaja melihat bekas luka sayatan di otot tangan kanan Lingga yang terekspos.
......................
...****************...
Tbc,