NovelToon NovelToon
The Last Survivors

The Last Survivors

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Jejak Harapan Ke Bandung

Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, masing-masing tenggelam dalam bayang-bayang orang yang mereka tinggalkan. Aldo menghela napas panjang, dadanya terasa sesak menahan kegelisahan yang tak kunjung reda.

"Kau kenapa?" tanya Danu pelan, menyadari perubahan raut wajah temannya.

"Aku... aku hanya memikirkan istriku," jawab Aldo lirih, matanya menerawang ke kegelapan. "Entah apakah dia aman di sana. Tempat kami tinggal jauh dari pusat kota, semoga saja wabah ini belum sampai ke sana."

"Semoga saja begitu. Di mana tepatnya tempat tinggal mu?" tanya Natalia lembut.

"Di Bandung..." Aldo sejenak terdiam, lalu matanya berbinar seingat sesuatu. "Tunggu sebentar, aku masih menyimpan peta perjalanan ini."

Ia merogoh saku celana, mengeluarkan selembar peta jalan yang sudah agak terlipat-lipat, lalu membentangkannya perlahan di lantai yang bersih.

"Lihat... posisi kita sekarang masih di Jakarta. Jika kita lewat jalan tol, perjalanan ke Bandung seharusnya tidak memakan waktu lama," tunjuknya pada garis merah yang membelah peta.

Danu menggeleng pelan, jarinya menunjuk jalur yang berkelok melewati perbukitan. "Terlalu berisiko. Jalan tol biasanya menjadi jalur utama kepanikan orang-orang melarikan diri. Kita ambil jalur Puncak saja. Memang lebih lama, sekitar lima hingga enam jam perjalanan, tapi setidaknya lebih tersembunyi."

"Namun jika kita harus melewati pemukiman warga dan kota-kota kecil di pinggiran Bandung," potong Natalia serius, "kita hampir pasti akan berpapasan dengan mereka. Jumlahnya mungkin jauh lebih banyak dari yang kita hadapi sejauh ini."

Belum sempat Danu menjawab, suara Simon terdengar dari sudut tempatnya berjaga. "Tapi kalau lewat tol, biasanya ada pom bensin dan tempat istirahat yang masih utuh. Kita bisa mencari persediaan bahan bakar di sana."

Danu menatap remaja itu, lalu kembali menatap wajah mereka satu per satu. "Kau benar Simon. Tapi ingat, bahayanya pun berlipat ganda. Di jalan terbuka, kita tak punya tempat bersembunyi jika gerombolan besar datang."

Suasana kembali hening sejenak. Di hadapan mereka terbentang dua pilihan: jalan yang cepat namun penuh jebakan maut, atau jalan yang lebih lambat namun masih menyimpan ketidakpastian yang sama. Namun satu hal yang mereka yakini: tinggal diam di tempat ini perlahan akan mematikan mereka juga.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Keesokan paginya, cahaya matahari tipis mulai menembus celah jendela ruko yang tertutup rapat. Semua orang sudah bangun, merapikan perlengkapan seadanya, dan berkumpul di ruangan depan menunggu keputusan yang akan diambil Danu. Wajah mereka masih tampak lelah, namun ada tekad baru yang mulai menyala di sorot mata masing-masing.

Danu berdiri tegak di hadapan mereka, memastikan semua perhatian tertuju padanya.

"Tadi malam kita sempat berdebat tentang jalur mana yang paling aman," ucapnya tegas namun tenang. "Setelah mempertimbangkan segala kemungkinan, kita akan berangkat menuju Bandung. Ke tempat tinggal Aldo."

Suara berbisik terdengar samar, namun tak ada yang menentang.

"Aldo yakin tempat itu aman?" tanya Jodie memastikan.

"Aku pastikan rumahku terlindungi baik, persediaan makanan dan air cukup untuk beberapa minggu, dan lokasinya jauh dari keramaian," jawab Aldo mantap. "Itu satu-satunya tempat yang aku tahu bisa menjadi perlindungan sementara bagi kita semua."

"Kita lewat jalur alternatif Puncak," lanjut Danu memantapkan keputusan. "Memang lebih jauh dan memakan waktu sekitar 5 - 6 jam, tapi kita bisa menghindari kemacetan dan kerumunan mayat hidup yang pasti menumpuk di jalan tol. Kita bergerak saat ini juga, sebelum matahari semakin tinggi dan mereka semakin aktif."

Mereka pun segera bersiap. Memastikan senjata terisi, persediaan makanan dan air dibagi rata, lalu mengunci rapat pintu ruko itu satu per satu. Dengan hati-hati, mereka keluar kembali ke jalanan yang kini tampak lebih kelabu dan sunyi, melangkah menuju kendaraan yang masih bisa digunakan—menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar mencari tempat berlindung, melainkan perjuangan untuk menemukan sisa harapan yang mungkin masih tersisa.

Bersambung

1
Abyyasdemons
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!