Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Huruf-Huruf di Bawah Bayangan
Keesokan paginya, Maya bangun dengan sebuah tekad baru yang terukir kuat di dalam dada kecilnya. Kemarin ia merasa telah melakukan kesalahan besar. Ia telah membuat ibunya marah, membuat ibunya berteriak, dan ia yakin seratus persen bahwa semua itu adalah murni kesalahannya karena ia terlalu lemah menahan lapar.
Hari ini aku harus lebih kuat, batin Maya sambil mengikat tali sandalnya yang sudah putus dengan seutas karet gelang kusam. Hari ini aku akan mengepel dengan sangat bersih, sampai lantai itu bisa dipakai berkaca. Kalau lantai itu berkilau, Ibu pasti akan tersenyum.
Pagi itu, Maya bekerja seperti sebuah mesin kecil yang tak kenal lelah. Di saat anak-anak lain seusianya baru saja dimandikan dengan air hangat oleh pengasuh mereka, Maya sudah merendam tangannya ke dalam air karbol yang perih menggigit kulit. Ia mengepel ujung ke ujung koridor kelas dua dengan kecepatan ekstra, memastikan tidak ada satu debu pun yang luput dari jangkauan lap kusamnya. Ia ingin menebus kesalahannya kemarin.
Namun, sebaik apa pun Maya berusaha bersembunyi dari interaksi dunia luar, takdir selalu memiliki cara untuk menariknya kembali.
Sekitar pukul sembilan pagi, saat jam istirahat pertama berdentang, Maya sedang bersembunyi di balik dinding toilet belakang sekolah. Ia sengaja menghindari keramaian, takut ibunya akan melihatnya berada di dekat murid-murid. Ia duduk berjongkok sambil memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya di balik lengannya yang kurus.
"Maya!"
Sebuah suara riang yang sangat familier membuat bahu Maya tersentak. Ia mendongak dengan panik. Elena berlari menghampirinya, senyum lebarnya memperlihatkan deretan gigi susunya yang rapi. Hari ini Elena mengenakan bando merah muda yang sangat serasi dengan seragamnya yang wangi semerbak.
"Kenapa kamu sembunyi di sini? Aku mencarimu ke mana-mana dari tadi," keluh Elena dengan nada manja, berjongkok tepat di hadapan Maya tanpa memedulikan rok putihnya yang bisa saja kotor terkena lantai toilet.
"A-aku... aku sedang istirahat," bohong Maya, matanya bergerak gelisah melirik ke ujung lorong, takut jika bayangan Clara tiba-tiba muncul. "Kamu harusnya main sama teman-temanmu di kantin, Elena. Nanti bajumu kotor kalau dekat-dekat aku."
"Aku tidak mau main sama mereka. Mereka membosankan, cuma suka pamer mainan baru," celetuk Elena jujur. Tangan kecilnya kemudian merogoh ke dalam tas jinjing bergambar putri duyung yang ia bawa. "Lihat apa yang aku bawa untukmu hari ini!"
Jantung Maya berdegup kencang saat melihat apa yang dikeluarkan Elena. Itu bukan makanan. Itu adalah sebuah buku. Sebuah buku cerita anak-anak bersampul tebal dengan ilustrasi binatang yang sangat indah dan penuh warna. Di atas buku itu, terdapat sebuah kotak pensil plastik berisi tiga batang pensil kayu yang belum diserut, sebuah penghapus wangi berbentuk stroberi, dan sebuah buku tulis kosong bergaris.
"Ini... apa?" bisik Maya, matanya membelalak takjub. Ia bahkan tidak berani mengulurkan tangannya, seolah benda-benda itu terbuat dari kaca tipis yang akan hancur hanya dengan sentuhannya.
"Ini buku cerita kesukaanku waktu aku masih TK. Kemarin aku bilang padamu kalau aku akan mengajarimu membaca, kan?" Elena tersenyum bangga, menyodorkan tumpukan harta karun itu ke pangkuan Maya. "Mamaku membelikan banyak sekali buku baru, jadi yang ini sudah tidak kupakai. Dan alat tulis ini untukmu berlatih menulis huruf. Kamu mau, kan?"
Napas Maya tertahan di tenggorokan. Seluruh sel di dalam tubuh kecilnya menjerit kegirangan. Buku! Ia memiliki bukunya sendiri! Sebuah buku yang bisa ia pegang, bisa ia buka halamannya, bisa ia cium aroma kertasnya tanpa harus takut dimarahi guru atau dituduh mencuri. Hati Maya membumbung tinggi hingga menembus awan.
Namun, bayangan roti stroberi yang hancur di atas lumpur kemarin siang kembali menghantam kepalanya dengan keras. Senyum yang hampir mekar di bibir Maya layu seketika.
"Tidak bisa, Elena," tolak Maya dengan suara bergetar, kedua tangannya mendorong pelan buku itu kembali ke arah sahabatnya. "Ibuku... ibuku akan sangat marah. Ibuku melarangku menerima apa pun darimu. Tolong bawa kembali."
Elena mengerutkan keningnya, tidak mengerti. "Kenapa ibumu marah? Aku kan cuma meminjamkannya. Lagipula, kalau kamu bisa membaca, bukankah ibumu akan bangga padamu?"
Kalimat itu menembus pertahanan logika Maya. Kalau aku bisa membaca... bukankah Ibu akan bangga?
Selama ini, ibunya selalu marah karena hidup mereka susah. Kalau Maya bisa cepat pintar, kalau Maya bisa membaca dan menulis, ia bisa cepat besar dan bekerja menghasilkan uang. Kalau ia punya uang, ibunya tidak perlu mengepel lagi. Ibunya akan bahagia. Ibunya akan bangga.
Dorongan untuk membanggakan Clara menutupi rasa takut Maya. Dengan tangan gemetar, Maya akhirnya menyentuh sampul buku cerita itu. Kertasnya terasa begitu halus di telapak tangannya yang kasar. "Boleh... boleh aku meminjamnya? Hanya meminjam. Nanti kalau aku sudah pintar, aku akan mengembalikannya padamu."
"Ambil saja! Aku masih punya banyak di rumah!" Elena tertawa senang, menepuk pundak Maya. "Nanti sepulang sekolah, kita belajar di bawah tangga ya! Jangan lupa!"
Hari itu, Maya bekerja dengan kecepatan cahaya. Setiap kali ada waktu luang beberapa menit, ia akan bersembunyi di dalam bilik toilet atau di balik pintu gudang yang gelap, membuka buku cerita itu dengan hati-hati agar ujung halamannya tidak terlipat. Ia menatap ilustrasinya dengan penuh kekaguman. Ia mengambil pensil dari kotak plastik itu, lalu dengan beralaskan lantai semen, ia mencoba meniru bentuk huruf yang ada di buku cerita ke buku tulis kosongnya.
Tangan Maya masih kaku. Huruf I' yang ia tulis tampak miring dan tidak beraturan. Huruf 'B' nya terlalu besar. Tapi gadis kecil itu tersenyum lebar. Ia merasa dirinya seperti anak sekolah sungguhan. Di bawah cahaya lampu gudang yang temaram, Maya mengeja mimpi-mimpinya di atas kertas bergaris itu.
I - B - U.
Maya menulis kata itu dengan penuh konsentrasi. Ia membayangkan suatu hari nanti, ia akan duduk di samping Clara yang sedang beristirahat, lalu membacakan buku cerita yang indah ini untuk ibunya. Ibunya pasti akan tertawa dan membelai rambutnya. Maya memeluk buku itu erat-erat ke dadanya, merasakan kehangatan yang luar biasa menyelimuti hatinya yang sepi.
Namun, kebahagiaan bagi Maya adalah sebuah kemewahan yang tidak pernah diizinkan bertahan lebih dari hitungan jam.
Sore harinya, saat sekolah sudah sepi, Maya sedang merapikan ember-ember di sudut gudang. Buku cerita dan kotak pensil itu ia sembunyikan dengan rapi di bagian paling dasar tas kain lusuhnya. Ia sudah berencana akan membawanya pulang dan belajar di bawah sinar lampu jalan depan kontrakannya nanti malam.
Tiba-tiba, suara langkah kaki Clara terdengar mendekat. Maya segera berdiri tegak, memasang wajah patuh.
Clara masuk ke dalam gudang dengan wajah kelelahan. Ia melempar kain pel ke sudut ruangan dengan kasar, lalu tanpa diduga, tangannya meraih tas kain lusuh milik Maya untuk mengambil botol air minum.
Waktu seolah membeku.
Maya membelalakkan matanya dengan horor yang melumpuhkan nadinya. "Ibu, jangan! Biar Maya saja yang ambil!" jerit Maya, melompat maju mencoba merebut tas itu.
Tapi terlambat. Tangan Clara sudah merogoh terlalu dalam. Alih-alih menyentuh botol plastik, jemari Clara menyentuh permukaan licin sebuah buku bersampul tebal dan sebuah kotak pensil plastik. Kening Clara berkerut tajam. Ia menarik benda itu keluar dari dalam tas.
Sebuah buku cerita anak-anak yang mahal dan alat tulis baru yang bersih.
Suasana di dalam gudang itu mendadak menjadi sangat dingin, seolah seluruh oksigen baru saja disedot keluar. Clara menatap buku itu. Di sudut kanan atas sampul, tertulis dengan rapi menggunakan spidol emas nama pemiliknya: Elena Danendra.
Mata Clara terbelalak. Nama itu. Nama belakang pria yang mengkhianatinya. Nama anak kandungnya yang dirampas haknya untuk memanggilnya ibu. Segala kebencian, rasa rendah diri, trauma pengkhianatan, dan rasa bersalah yang membusuk di dalam jiwa Clara meledak keluar seperti gunung berapi yang muntah.
Ia menoleh menatap Maya yang kini gemetar hebat, mundur merapat ke dinding gudang dengan wajah sepucat kapas.
"Sudah berapa kali Ibu bilang..." suara Clara terdengar mendesis, sangat pelan, namun getarannya lebih mengerikan daripada teriakan paling keras sekalipun. "Jangan pernah... menerima apa pun... dari anak itu."
"I-ibu... ampun... Maya cuma meminjamnya..." air mata Maya tumpah seketika, suaranya pecah oleh isak tangis ketakutan. "Maya mau belajar... Maya mau pintar supaya bisa kerja... supaya Ibu tidak capek lagi... ampun, Bu..."
"Pintar?" Clara tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar sangat kejam dan menusuk tulang. Ia melangkah mendekati Maya, menatap gadis kecil itu dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan yang luar biasa menyiksa. "Kau pikir kau siapa, Maya? Kau pikir dengan membaca buku ini kau bisa berubah menjadi orang kaya? Kau pikir takdirmu bisa diubah hanya dengan sebatang pensil?!"
Kata-kata itu tidak diucapkan untuk mengedukasi, melainkan murni untuk menghancurkan. Clara melampiaskan seluruh kebenciannya pada takdirnya sendiri kepada anak kecil di depannya. Di mata Clara, melihat Maya menikmati barang dari Elena adalah sebuah penghinaan tak termaafkan bagi penderitaannya.
Dengan tangan kosong, Clara membuka buku cerita tebal itu tepat di tengah-tengahnya.
"Jangan, Ibu! Kumohon, jangan! Nanti Elena sedih!" jerit Maya histeris, jatuh berlutut memohon, menangkupkan kedua tangan kecilnya ke arah ibunya.
Tanpa ampun, Clara mengerahkan seluruh tenaganya dan mengoyak buku cerita bersampul tebal itu. Suara kertas tebal yang sobek terdengar sangat keras di dalam gudang yang sunyi.
Kraaaakk! Sreett!
Halaman demi halaman yang dipenuhi ilustrasi indah itu tercabik menjadi dua, lalu dicabik lagi menjadi empat. Clara merobeknya dengan penuh kebengisan, membiarkan serpihan kertas-kertas itu berjatuhan ke lantai yang basah seperti salju yang mati. Belum puas, Clara membuka kotak pensil plastik itu, mematahkan ketiga pensil kayu baru itu menjadi dua bagian, dan melemparnya ke wajah Maya.
"Ingat ini baik-baik di kepala kecilmu, Maya!" bentak Clara, napasnya memburu, matanya berkilat oleh kegilaan yang lahir dari dendam. "Tempatmu adalah memegang gagang pel! Bukan memegang pensil! Berhenti berkhayal menjadi putri orang kaya! Mulai besok, kalau kau berani berbicara lagi dengan anak itu, Ibu akan pastikan kau tidak akan pernah keluar dari kamar kita lagi!"
Clara berbalik dan berjalan keluar dari gudang dengan langkah berdentum, membanting pintu seng itu hingga tertutup rapat, meninggalkan Maya sendirian di dalam kegelapan.
Maya terduduk lemas di lantai semen yang basah. Hatinya tidak sekadar patah, hatinya hancur lebur digiling oleh kekejaman yang tidak ia pahami. Ia menatap potongan-potongan kertas buku cerita yang berserakan di genangan air sabun. Huruf-huruf yang baru saja ia pelajari paginya kini hancur mengambang. Pensil-pensil kayu yang tadi ia gunakan untuk menulis kata 'I-B-U' kini patah dan kotor.
Maya tidak berteriak. Ia tidak meraung marah.
Dengan tangan kecilnya yang bergetar hebat, ia memungut potongan kertas itu satu per satu. Air mata terus mengalir deras membasahi pipinya yang kotor, namun bibirnya yang gemetar perlahan menyunggingkan sebuah senyum yang sangat tragis. Senyum yang dipaksakan untuk mempertahankan kewarasannya.
"Tidak apa-apa..." bisik gadis kecil itu sambil mendekap serpihan kertas basah itu ke dadanya, tersedu-sedu dalam kesunyian yang mematikan. "Ibu benar... Maya memang bodoh. Maya anak pemulung. Maya tidak pantas baca buku. Ibu merobeknya supaya Maya tidak malas mengepel... Ibu sayang sama Maya... Ibu cuma mau Maya rajin..."
Maya memungut patahan pensil itu dan memasukkannya ke dalam saku bajunya dengan sangat hati-hati, menyembunyikan sisa-sisa mimpinya dalam-dalam. Di dalam kegelapan gudang itu, Maya meyakinkan dirinya sendiri bahwa monster yang baru saja merobek hatinya adalah seorang ibu yang sedang mengajarkan kebaikan. Ia merangkul rasa sakit itu, karena hanya dengan menyalahkan dirinya sendiri, Maya merasa ia masih memiliki alasan untuk hidup dan dicintai.