Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 26: Latihan
Belum pernah ada perempuan lain, dan tetap belum ada penjelasan mengapa hanya Kirana.
Pertanyaan itu membuat latihan malam berikutnya terasa lebih berbahaya.
Bima memusatkan sesi pada adegan hujan terakhir, klimaks saat Nara dan Aluna bertemu sebelum berpisah selamanya. Mesin hujan belum digunakan, tetapi lampu biru, suara guntur, dan musik sudah membuat panggung terasa basah.
Sebelum menyentuh adegan, Bima melakukan pengecekan kondisi. Kirana menyetujui tangan di pinggang dan wajah, tetapi tidak ingin tengkuk disentuh karena membuatnya refleks. Arya meminta agar angkatan tubuh dihapus sampai matras pengaman tersedia.
“Bagus,” kata Bima. “Batas hari ini bisa berubah besok, tapi perubahan harus diucapkan. Diam bukan persetujuan.”
Cindy mencatat posisi. Fajar menyebutkan bahwa pergelangan tangannya sedang cedera ringan, sehingga adegan tarik-menarik diubah menjadi blocking bahu. Winda memperbarui lembar gerak dan meminta semua pemain membubuhkan paraf.
“Teater kampus rasa produksi film,” goda Cindy.
“Biar nggak ada yang pulang bawa trauma,” jawab Winda.
Pemanasan berlangsung tiga puluh menit. Mereka berlatih jatuh di atas matras, mengukur jarak lampu, dan menyelaraskan napas sebelum dialog. Bima meminta Kirana dan Arya berdiri saling membelakangi lalu menyebutkan tiga hal yang diinginkan karakter.
“Nara ingin Aluna tinggal,” kata Arya. “Ingin dipercaya. Ingin berhenti mengejar.”
Kirana menoleh sedikit. Kalimat terakhir bukan hanya tentang Nara.
“Aluna ingin pulang,” katanya. “Ingin tetap punya dirinya sendiri. Ingin seseorang menunggu tanpa mengurung.”
Ruangan hening sesaat.
“Nah,” kata Bima. “Simpan itu. Sekarang baru kita sentuh adegannya.”
“Adegan ini berakhir dengan ciuman,” kata Bima. “Untuk latihan, kita pakai sudut palsu. Tidak ada kontak bibir kecuali dua aktor setuju mengubah.”
Kirana mengangguk. Arya juga.
Mereka mengulang dari pelukan. Tangan Arya berada di pinggang, tangan Kirana di dada. Dahi bertemu, lalu wajah dimiringkan agar dari penonton terlihat seperti berciuman.
“Terlalu aman,” kata Bima. “Kalian kelihatan seperti foto kartu identitas.”
“Bukannya tadi bilang sudut palsu?” tanya Kirana.
“Palsu bukan berarti mati. Rasakan kehilangan.”
Pengulangan kedua lebih dekat. Napas Arya menyentuh bibir Kirana. Ia lupa menoleh tepat waktu.
“Jeda,” katanya.
Arya langsung mundur.
Fajar yang menunggu di sisi panggung mengembuskan tawa pendek. “Kalau pemeran utama terus jeda, kapan selesai?”
Bima menoleh. “Jeda adalah bagian latihan, bukan kegagalan.”
“Saya cuma tanya.”
“Dan saya jawab. Fokus pada adeganmu.”
Winda menyerahkan air kepada Kirana. “Lo aman?”
“Aman. Cuma terlalu dekat.”
“Padahal di vila lebih dekat,” bisik Winda.
Kirana tersedak. “Lo tahu dari mana?”
“Saya nggak tahu. Tapi wajah lo barusan mengaku.”
Kirana meminum setengah botol. Arya menunggu beberapa langkah darinya, tidak mendekat sampai Kirana sendiri mengangguk tanda siap.
“Mas menikmati ini, ya?” tanyanya pelan.
“Menikmati apa?”
“Punya alasan memeluk saya di depan semua orang.”
“Saya lebih suka saat tidak ada semua orang.”
Wajah Kirana memanas. “Fokus latihan.”
“Saya sangat fokus.”
Bima memanggil mereka kembali. Pada putaran berikutnya, ia menghentikan setiap kali emosi tampak dibuat-buat. Arya diminta menurunkan suara, Kirana diminta menahan air mata, dan keduanya harus menjaga kontak mata selama sepuluh hitungan setelah dialog.
Sepuluh hitungan pertama gagal pada angka tiga. Kirana tertawa gugup.
Putaran kedua mencapai enam. Putaran ketiga selesai sepuluh, tetapi seluruh tubuh Kirana terasa panas.
“Itu,” kata Bima. “Penonton tidak butuh kalian berteriak kalau diam saja sudah membuat ruangan sesak.”
Cindy mengakui hasilnya dengan anggukan kecil. Bahkan Fajar tidak bisa menyangkal bahwa ketegangan di antara pemeran utama terlihat nyata.
Saat makan malam singkat, Winda menunjukkan jadwal pemotretan poster keesokan hari. Bima sudah meminjam fotografer profesional dari timnya. Cindy langsung menawarkan konsep glamor, tetapi Bima memilih bangunan heritage kampus dan hujan buatan agar sesuai naskah.
“Pemeran utama harus siap dekat lagi besok,” katanya.
Kirana menatap makanannya. Arya di seberang meja justru terlihat terlalu tenang.
Latihan dilanjutkan. Kali ini Bima meminta semua pemain lain diam dan mematikan lampu aula, menyisakan sorot panggung.
“Jangan pikirkan siapa yang menonton,” katanya. “Nara, ini terakhir kali kamu menyentuh Aluna. Aluna, kamu ingin tinggal tetapi sudah memilih pergi.”
Musik dimulai.
Arya menarik Kirana ke dalam pelukan.
“Aku bisa melawan keluargamu,” katanya sebagai Nara.
“Tapi aku tidak ingin hidupku menjadi perang.”
“Lalu untuk apa kau kembali?”
Kirana menatapnya. “Untuk mengingat bagaimana rasanya dipilih.”
Itu dialog naskah, tetapi suara Kirana bergetar oleh kebenaran sendiri.
Arya memegang wajahnya. “Aku memilihmu bahkan ketika kau terus pergi.”
Mereka bergerak menuju sudut ciuman. Kirana memiringkan kepala, berhenti sejengkal.
“Bagus,” kata Bima dari gelap. “Tahan.”
Lampu menyala. Kirana mundur dan menepuk tangan dua kali untuk keluar karakter.
Arya melepaskan, meski matanya masih gelap.
Fajar naik untuk adegan berikutnya. Ia beberapa kali mengubah tempo agar masuk sebelum Arya benar-benar menjauh. Pada pengulangan ketiga, ia berdiri terlalu dekat dengan Kirana.
Arya memotong. “Posisimu di tanda putih.”
“Dari sini lebih alami.”
“Dari sana kamu menutup lampu dan jalur keluar Kirana.”
Bima memeriksa lalu menunjuk tanda putih. “Arya benar.”
Fajar kembali ke posisi dengan wajah keras.
Menjelang tengah malam, kru mulai lelah. Bima meminta satu pengulangan terakhir dari klimaks tanpa berhenti.
“Jangan kejar teknik,” katanya. “Percaya pada partner.”
Kirana menarik napas. Arya mengulurkan tangan.
“Siap?”
“Siap.”
Adegan dimulai. Kali ini semua kalimat mengalir. Saat Arya menarik pinggangnya, Kirana tidak kaku. Saat dahi mereka bertemu, ia tetap menatap.
“Katakan kau tidak mencintaiku,” bisik Arya.
“Aku tidak bisa.”
“Kalau begitu, jangan pergi.”
Musik naik. Arya menunduk untuk sudut palsu.
Kirana, masih tenggelam dalam Aluna dan dirinya sendiri, mengangkat wajah sedikit terlalu jauh.
Bibir mereka bertemu.
Tidak ada sudut. Tidak ada pura-pura.
Arya membeku sepersekian detik, lalu instingnya membalas ciuman sebelum akal sempat menghentikan. Tangan di pinggang Kirana mengencang. Kirana mencengkeram kostumnya.
Lampu panggung berubah putih.
Musik berhenti.
Seluruh aula sunyi.
Bima berdiri dari kursi. Winda menutup mulut. Cindy menatap tanpa berkedip, sementara wajah Fajar berubah gelap.
Kirana membuka mata.
Bibir Arya masih menyentuh bibirnya.
Ia seharusnya segera menepuk tangan dua kali. Seharusnya keluar dari karakter dan mundur seperti setiap latihan.
Namun tangannya justru tetap mencengkeram dada kostum Arya. Lelaki itu tidak bergerak lebih jauh, menunggu keputusan Kirana meski napasnya berat.
Satu detik berlalu. Lalu dua.
Winda akhirnya berbisik, “Jeda.”
Kata aman dari luar memecahkan sihir. Arya melepaskan dengan perlahan, tetapi tatapannya mengatakan ciuman tadi akan tetap tinggal setelah lampu latihan dimatikan.
Tidak seorang pun di ruangan itu masih percaya bahwa mereka hanya sedang berakting malam itu di atas panggung bersama.