Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.
Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.
Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: TITIK BALIK TERBURUK
Saat keluar dari ruang Wali Kelas, Raina mengacak rambutnya frustrasi. Ia menatap Devan dengan tatapan paling tajam yang pernah ia miliki. Sementara Devan hanya bisa mengusap wajahnya kasar, menyadari bahwa hidupnya beberapa bulan ke depan akan berada di bawah kendali cewek paling nyebelin yang paling ia hindari.
BAB 8: LES PERTAMA DI PERPUSTAKAAN
Aroma kertas tua dan keheningan yang mencekat menyambut Raina dan Devan di sudut perpustakaan sekolah. Jam menunjukkan pukul empat sore, dan perpustakaan sudah hampir kosong. Raina menata tiga buku tebal Fisika dan dua buku modul latihan soal di atas meja kayu, sementara Devan duduk bersandar di kursinya dengan menyilangkan kaki dan tangan melipat di dada.
"Bisa duduk yang benar?" tegur Raina tanpa mendongak, jemarinya sibuk membuka halaman modul. "Kita di sini buat belajar, bukan buat ujian kesabaran."
Devan menghela napas berat, merubah posisinya menjadi agak tegak walau wajahnya kentara sekali menunjukkan rasa malas. "Raina, kita baru mulai lima menit tapi muka kamu udah kayak mau mengeksekusi tahanan perang. Santai sikit, napa?"
"Bagaimana aku bisa santai kalau waktu belajarmu cuma tinggal dua minggu sebelum ulangan harian?" Raina menggeser buku latihan ke hadapan Devan, menunjuk sebuah soal vektor dengan ujung pulpennya. "Kerjakan soal nomor satu sampai tiga. Aku mau tahu sejauh mana pemahaman dasarmu."
Devan menatap rumus-rumus di kertas itu seolah-olah tulisan tersebut ditulis dalam bahasa alien. Ia memegang pulpennya dengan canggung, mengetuk-ngetukkannya ke meja hingga menimbulkan suara yang memecah keheningan.
Tuk. Tuk. Tuk.
Devan, stop mengetuk," bisik Raina menahan kekesalan.
Devan menghentikan ketukannya, lalu mulai mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Gw kagak ngerti, Raina! Ini huruf v, ini t, terus kenapa tiba-tiba ada sudut theta nyelip di tengah-tengah? Ini Fisika apa pelajaran mantra sihir?"
"Itu rumus gerak parabola, Devan! Kamu cuma perlu memasukkan angka yang sudah diketahui di soal!" Raina memijit pelipisnya yang mulai terasa pening. "Lihat sini."
Raina menggeser kursinya agak mendekat ke arah Devan agar bisa menjelaskan lebih jelas. Jarak mereka kini hanya terpaut belasan sentimeter. Aroma wangi samar dari rambut Raina mendadak terhirup oleh Devan, membuat cowok itu terdiam seketika
Raina yang tidak menyadari perubahan sikap Devan mulai menggambar diagram sederhana di kertas buram. Tangannya yang cekatan menggoreskan garis dan komponen gaya sambil menjelaskan dengan suara pelan namun tegas.
"Kecepatan awalnya dibagi jadi dua sumbu, x dan y. Sumbu x itu yang mendatar, pakai cos. Sumbu y yang vertikal, pakai sin. Paham?" Raina mendongak, menatap mata Devan dari balik kacamata tebalnya.
Namun, Devan tidak sedang melihat kertas buram itu. Matanya terkunci rapat pada wajah Raina dari jarak dekat—memperhatikan bagaimana bulu matanya bergerak dan bagaimana bibir gadis itu bersungut-sungut saat menjelaskan.
"Devan! Kamu dengerin aku gak sih?!" cetus Raina sambil mengetukkan pulpennya ke dahi Devan pelan.
"Aduh!" Devan tersentak kaget, memegang dahinya lalu terbatuk canggung untuk menutupi salah tingkahnya. "I-iya, denger! Sumbu x mendatar, sumbu y berdiri, kan?"
Raina menghela napas panjang, menatap Devan curiga. "Kalau dalam lima menit kamu gak bisa selesaikan soal nomor satu, aku bakal kasih tahu Bu Sisca kalau kamu menolak kerja sama."
"Eeh, jangan gitu dong! Iya, iya, gw kerjain sekarang!" Devan buru-burung meraih kertas dan mulai mengorek-ngorek angka dengan panik.