Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Prok. Prok. Prok.
Tepuk tangan bergemuruh di dalam aula Menara Wijaya bagaikan gempa bumi yang menggetarkan ruangan.
Herman Wijaya masih duduk bersimpuh di atas panggung dengan tatapan kosong dan tubuh gemetar.
Wiu... Wiu... Wiu...
Suara sirene polisi tiba-tiba terdengar nyaring dari luar gedung pencakar langit tersebut.
Hanya dalam waktu beberapa menit, belasan petugas kepolisian berseragam lengkap menerobos masuk ke dalam aula.
"Tuan Herman Wijaya dan Tuan Lukman, Anda berdua kami tahan."
Seorang inspektur polisi membacakan surat perintah penangkapan dengan suara tegas.
"Anda berdua dituduh atas kasus penggelapan dana dalam jumlah masif dan pemalsuan dokumen publik."
Klak.
Borgol besi dingin langsung mengunci pergelangan tangan Herman dan Lukman tanpa ampun.
"Lepaskan aku! Aku dijebak oleh gembel ini!"
Herman meronta-ronta dengan sisa tenaganya sambil menatap Rizal dengan mata merah menyala penuh dendam.
Rizal hanya tersenyum tipis dan melambaikan tangannya dengan gerakan santai.
"Nikmati masa pensiun Anda di balik jeruji besi yang dingin, Paman Herman."
Para polisi itu langsung menyeret Herman dan Lukman keluar dari panggung melewati kilatan lampu kamera wartawan.
Kehidupan mewah dan ambisi kotor Herman hancur lebur di bawah sorotan jutaan mata rakyat Indonesia.
Klek.
Pintu ruang eksekutif VVIP di lantai teratas akhirnya tertutup rapat, menjauhkan hiruk pikuk media dari dua orang di dalamnya.
Clara Wijaya langsung berjalan menuju meja bar kecil dan menuangkan sampanye mahal ke dalam dua gelas kristal.
Wajah CEO muda itu kini tidak lagi pucat, melainkan berseri-seri dipenuhi rona kebahagiaan yang tulus.
"Bersulang untuk kemenangan mutlak kita hari ini, Tuan Rizal."
Clara menyodorkan satu gelas sampanye kepada Rizal dengan senyum termanis yang pernah ia tunjukkan.
Ting.
Denting dua gelas kristal itu berbunyi sangat jernih dan merdu.
Rizal menyesap sampanyenya perlahan sambil menatap pemandangan kota Jakarta dari balik dinding kaca raksasa.
"Mulai detik ini, Anda adalah pemegang saham mayoritas dan pemilik sah dari seluruh aset Wijaya Group."
Clara menundukkan kepalanya sedikit, menunjukkan rasa hormat dan kepatuhan yang luar biasa.
"Saya siap mundur dari posisi CEO sekarang juga jika Anda ingin mengambil alih operasional perusahaan ini secara langsung."
Rizal tertawa kecil mendengar penawaran yang sangat menggiurkan dan tulus tersebut.
"Tidak perlu Nona Clara, saya terlalu malas untuk mengurus tumpukan dokumen dan rapat direksi setiap hari."
Rizal meletakkan gelasnya di atas meja dan menatap wanita cantik di hadapannya.
"Anda tetaplah menjadi CEO dan wajah utama dari Wijaya Group di mata publik."
"Saya lebih suka bergerak di balik layar, menikmati kekayaan saya dengan tenang, dan membersihkan sampah-sampah yang berani mengganggu kita."
Clara menatap wajah tampan Rizal dengan pipi yang semakin merona merah.
Pesona dan kebijaksanaan pemuda ini benar-benar tidak bisa ditolak oleh akal sehatnya.
Banyak pria hidung belang yang akan langsung merebut kekuasaan jika berada di posisi Rizal, tapi pemuda ini justru mempercayainya seratus persen.
"Baiklah Tuan Rizal, nyawa dan pengabdian saya adalah milik Anda."
Clara mengucapkan janji setianya bukan lagi sebagai sekutu bisnis, melainkan sebagai seorang bawahan yang rela berkorban.
Rizal tersenyum puas melihat hasil kerja kerasnya menanamkan pengaruh pada sang CEO dingin tersebut.
Dengan Wijaya Group berada di bawah kendalinya, dia memiliki akses sumber daya tanpa batas di dunia nyata.
Sementara itu, di tempat yang sangat jauh dari Menara Wijaya.
Brak!
Sebuah asbak kristal mahal hancur berkeping-keping menghantam dinding marmer sebuah ruang kerja yang mewah.
Broto Sanjaya, pemilik raksasa dari Sanjaya Corp, berdiri dengan nafas memburu dan dada naik turun.
Di depannya, Dion Sanjaya sedang duduk gemetar di sofa dengan perban yang masih menempel di lututnya.
Layar televisi raksasa di ruangan itu sedang menyiarkan berita penangkapan Herman Wijaya secara langsung di semua saluran.
"Jadi, pemuda bernama Rizal yang mempermalukanmu dan merampas uang lima puluh miliarmu itu adalah orang yang sama?!"
Broto menunjuk wajah putranya dengan jari keriput yang bergetar hebat karena menahan amarah.
"I-iya Ayah... dia benar-benar monster yang licik dan punya ilmu hitam!"
Dion menjawab dengan suara merengek seperti anak kecil yang baru saja dipukuli.
"Bodoh! Kamu benar-benar membuat malu nama besar Keluarga Sanjaya!"
Broto memijat pelipisnya yang berdenyut keras karena tekanan darahnya langsung naik drastis.
Tidak ada yang tahu bahwa Herman Wijaya sebenarnya adalah pion rahasia Broto untuk menghancurkan Wijaya Group dari dalam.
Broto berencana membeli saham Wijaya Group dengan harga sangat murah begitu perusahaan itu hancur karena skandal Clara.
Namun kini, pion terbaiknya itu telah dihanguskan dalam hitungan detik oleh seorang pemuda antah berantah.
"Ayah harus membalas dendam untukku! Kita harus menghancurkan Rizal dan merebut kembali uangku!"
Dion terus saja merengek meminta keadilan atas kebodohannya sendiri.
Broto menatap layar televisi yang sedang menampilkan wajah tenang Rizal yang terekam kamera wartawan.
Mata tua yang penuh dengan kelicikan bisnis itu menyipit tajam bagaikan seekor ular kobra yang mengincar mangsa.
"Tentu saja kita akan menghancurkannya, tapi tidak dengan cara ceroboh seperti yang kamu lakukan, Dion."
Senyum sinis dan mematikan perlahan terbentuk di bibir Broto Sanjaya.
Rizal mungkin berhasil memenangkan pertarungan kecil melawan Herman yang bodoh.
Namun mengelola sebuah gurita bisnis bernilai triliunan rupiah tidak semudah membalikkan telapak tangan.
"Aku akan menghubungi beberapa konglomerat lama yang juga merasa terancam dengan kebangkitan tiba-tiba dari anak ingusan ini."
Broto berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil sebuah cerutu mahal dari Kuba.
"Kita akan menjepit Wijaya Group dari segala arah, memutus rantai pasokan mereka, dan membuat Rizal bangkrut secara perlahan."
"Dan saat dia sudah jatuh miskin lagi, aku sendiri yang akan mematahkan kedua kakinya."
Dion langsung tersenyum lebar mendengar rencana sadis dari ayahnya tersebut.
Keluarga Sanjaya tidak pernah melepaskan mangsanya hidup-hidup, dan Rizal kini berada di urutan pertama daftar buronan mereka.
Kembali ke kawasan Bukit Permata Indah.
Syuuu.
Gerbang besi Villa Garuda terbuka secara otomatis menyambut kepulangan sang majikan.
Rizal memarkirkan mobilnya dan melangkah masuk ke dalam istana pribadinya yang sejuk.
Hari ini dia telah melakukan banyak pekerjaan yang menguras tenaga sekaligus sangat memuaskan.
Rizal merebahkan tubuhnya di atas sofa kulit di ruang tamu dan melepas jas abu-abunya.
"Sistem, tampilkan status terbaruku sekarang."
Rizal membatin di dalam hatinya dengan perasaan yang sangat bersemangat.
Ting!
[Menampilkan status terbaru Tuan...]
Sebuah layar holografik berwarna biru cerah langsung muncul melayang tepat di depan mata Rizal.
[Nama: Rizal]
[Kekayaan Tunai: Rp 1.010.000.000.000 Satu Triliun Sepuluh Miliar Rupiah]
[Nilai Valuasi Aset: Rp 45.000.000.000.000 Empat Puluh Lima Triliun Rupiah - Estimasi kasaran Wijaya Group + Aset Pribadi]
[Status Perusahaan: Pemegang Saham Mayoritas Pemilik Mutlak Wijaya Group]
Rizal tersenyum sangat puas melihat kekayaan tunainya yang kini menembus angka satu triliun dengan tambahan banyak nol.
Angka itu adalah uang tunai murni hasil rampasan dari rekening lepas pantai Herman yang kini bisa dia gunakan sesuka hati.
Ditambah lagi nilai valuasi dari Wijaya Group yang membuat kekayaannya kini setara dengan deretan orang terkaya di Asia.
Rizal memejamkan matanya perlahan menikmati ketenangan yang disajikan oleh rumah pintar bernilai lima puluh miliar miliknya.
Semua pencapaian ini dia dapatkan hanya dalam waktu beberapa hari berkat memanen kebohongan orang-orang arogan.
Namun, instingnya mengatakan bahwa ketenangan ini hanyalah sebuah ilusi manis sesaat.
Dengan hancurnya Herman Wijaya, musuh-musuh sesungguhnya yang selama ini bersembunyi di dalam kegelapan pasti akan mulai bermunculan.
Orang-orang kaya lama di Jakarta sangat membenci keberadaan orang kaya baru yang tiba-tiba melesat tanpa permisi.
Mereka pasti akan mencoba menguji kekuatan Rizal dan mencari celah untuk menghancurkannya.
"Semakin besar badai yang datang, semakin banyak pula omong kosong yang akan tercipta."
Rizal bergumam pelan sebelum akhirnya terlelap dalam tidur siangnya yang sangat nyenyak.
Bagi Rizal, ancaman dari konglomerat lama bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan ladang emas baru yang siap untuk dipanen habis-habisan.
Sang Naga Baru dari Jakarta telah resmi menduduki tahtanya.