Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.
Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Titik Balik Pertempuran
Udara bergetar dan memekakkan telinga dengan sisa-sisa energi Qi yang saling berbenturan, menyisakan jejak kehancuran di setiap sudut reruntuhan kuno. Batu-batu pilar raksasa yang dulunya menjulang gagah kini roboh berserakan, membentuk labirin puing yang menyesakkan, diselimuti debu kelabu dan aroma tanah hangus. Di tengah kekacauan itu, siluet Liliyana tampak anggun namun mematikan. Ia berdiri tegak di atas tumpukan pecahan altar, sementara aura kejamnya memancar, menyelimuti area reruntuhan dengan dinginnya bayangan, seolah kegelapan itu sendiri adalah jubahnya. Matanya yang tajam menyapu Kaelen dan Lyra yang berdiri berdekatan. Seringai tipis terukir di bibir merahnya, seolah mereka hanyalah mangsa yang siap dicabik. Ia mengangkat tangan, dan di telapaknya, energi gelap berputar membentuk cakar bayangan yang mengerikan, siap menerkam.
"Jiwa Artefak Reruntuhan Langit itu akan menjadi milikku," desisnya. Suaranya bagai bisikan maut yang menggetarkan. "Dan kalian... hanyalah penghalang yang tak berarti yang akan kubersihkan tanpa ampun."
Kaelen berdiri tegap di hadapan Lyra. Pedang besi berkarat miliknya bergetar pelan di genggaman; meskipun usang, bilah itu memancarkan aura kegelapan yang tenang, seolah menanti saatnya untuk melepaskan murka terpendam yang telah lama terikat. Wajahnya keras, menolak tunduk pada ancaman Liliyana, sementara tekadnya membara bagai bara api di tengah badai. Di sampingnya, Lyra bersiap dengan jemari lincah yang meracik ramuan kecil dari kantung pinggang. Sorot matanya yang misterius memancarkan konsentrasi dan kesetiaan yang luar biasa, sementara racun api yang berdenyut di telapak tangannya telah siap dilepaskan kapan saja.
"Jangan pernah berpikir untuk menyentuh sehelai rambutnya, Liliyana!" seru Kaelen. Suaranya menggelegar membelah keheningan yang mencekam. "Kau harus melangkahi mayatku dulu!"
Pedang berkarat miliknya—yang selama ini dianggap sampah oleh banyak pendekar—kini seolah memanggil jiwa pedang purba untuk bangkit, memancarkan resonansi yang dalam.
Seringai Liliyana semakin lebar, menunjukkan kilatan gigi putih yang tajam. "Begitu, ya? Baiklah. Mari kita lihat seberapa jauh pedang sampahmu itu bisa melindungimu dari takdir!"
Dengan gerakan secepat kilat yang nyaris tak terlihat, ia melesat maju. Jurus Telapak Bayangan Iblis miliknya mengoyak udara, dan cakar bayangan raksasa yang terbuat dari energi gelap pekat melesat menargetkan jantung Kaelen dengan presisi mematikan.
Namun, Kaelen tidak gentar. Dengan kecepatan tak terduga, ia mengangkat pedang berkaratnya, dan sebuah dinding energi hampa berwarna kelabu gelap yang berputar-putar liar muncul di hadapan untuk melindungi diri dan Lyra dengan kekuatan luar biasa. Teknik Jiwa Pedang Hampa! Benturan energi itu mengguncang reruntuhan, mengirimkan gelombang kejut yang merobohkan lebih banyak puing kuno dan mengangkat awan debu tebal.
Lyra tidak tinggal diam. Sebuah bola api hijau kebiruan yang memancarkan aroma racun menusuk hidung dan mendidihkan udara melesat dari telapak tangannya dengan kecepatan kilat, mengarah ke sisi tubuh Liliyana yang terbuka pascaserangan.
Liliyana mendengus jijik, terkejut dengan pertahanan Kaelen yang jauh lebih kuat dari perkiraannya—seharusnya pendekar rendahan dengan pedang busuk itu tak mampu menahan serangannya. "Kekuatan picisan!" desisnya, namun ia terpaksa menghindar dari bola api beracun Lyra yang gesit dan mematikan. Kelincahannya luar biasa; ia berputar di udara, membiarkan bola api meledak di belakangnya dan menyebarkan kabut racun hijau kebiruan yang langsung melarutkan batu-batu pilar di sekitar menjadi bubur.
"Racun murahan," ejeknya, meski ada sedikit kekhawatiran yang tak mampu ia sembunyikan di matanya. "Tapi kau, pendekar sampah, sudah membuatku membuang waktu dan menguji kesabaranku."
Kali ini, bukan hanya satu cakar bayangan, melainkan belasan bayangan iblis kecil yang menyerupai hantu ganas bermata merah—masing-masing dengan gigi runcing dan aura haus darah—muncul dari kegelapan yang mengikutinya untuk menyerbu Kaelen dari segala arah. Pertempuran baru saja dimulai, dan titik baliknya sudah di ambang mata, siap mengubah segalanya.
Iblis-iblis bayangan yang tak terhitung jumlahnya—masing-masing tak lebih besar dari bocah namun memancarkan aura kelaparan purba yang ganas—menyerbu Kaelen dengan kecepatan mengerikan. Mata merah mereka berpendar seperti bara api di tengah remang-remang reruntuhan, dan gigi runcing mereka menjanjikan akhir yang mengerikan. Namun, Kaelen tak gentar. Pedang berkarat di tangannya bergetar, bukan karena rasa takut, melainkan karena antisipasi. Aura hampa yang semula hanya berbentuk dinding pertahanan kini melebar dan berputar lebih cepat, membentuk sebuah pusaran kelabu gelap yang melingkupi dirinya dan Lyra.
Bukan lagi sekadar tameng, Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa kini menjelma menjadi badai mini yang menyedot energi di sekitar. Saat iblis-iblis bayangan pertama menerjang, mereka tidak membentur permukaan padat, melainkan terhisap ke dalam pusaran, sementara tubuh eterik mereka terkoyak dan lenyap menjadi serpihan-serpihan kegelapan yang tak berdaya.
Namun, jumlah musuh terlalu banyak. Meskipun pusaran hampa Kaelen efektif menghancurkan mereka yang mendekat, beberapa iblis bayangan yang lebih lincah berhasil menyelinap, melesat di pinggiran pusaran untuk mengincar celah sekecil apa pun. Lyra, dengan mata tajamnya, tak membiarkan itu terjadi. Dari telapak tangannya yang ramping, bola-bola api hijau kebiruan yang lebih kecil namun jauh lebih banyak melesat bagai kawanan kunang-kunang mematikan. Setiap bola api itu meledak dengan desis tajam saat menyentuh iblis bayangan, menguapkan wujud eterik mereka menjadi kepulan asap beracun yang lantas ditarik oleh pusaran hampa Kaelen, seolah membersihkan udara dari sisa-sisa kegelapan.
Kaelen sendiri, di tengah pusaran energinya, merasakan beban yang kian besar. Pedang berkaratannya berdengung keras, memancarkan resonansi jiwa yang dalam, namun retakan-retakan halus mulai terlihat di permukaan bilah besi tua itu. Bukan karena rapuh, melainkan seolah menampung terlalu banyak energi purba yang bergejolak dan siap meledak.
Liliyana menyaksikan pemandangan itu dengan ekspresi yang tak lagi sekadar jijik. Kerutan tipis muncul di keningnya, dan senyum sinisnya sedikit memudar. "Menarik," desisnya pelan, suaranya mengandung nada kekaguman yang samar namun cepat menghilang digantikan amarah. "Sepertinya pedang sampahmu itu punya sedikit kejutan, Kaelen. Dan si penyihir racun ini... kau lebih merepotkan dari yang kubayangkan."
Matanya menyipit, memancarkan kilatan kejam yang lebih gelap dari sebelumnya. Tiba-tiba, ia mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi. Energi bayangan di sekelilingnya, yang tadinya hanya menjadi aura, kini memadat dan mengental menjadi kabut hitam pekat yang berputar-putar liar. Dari dalam kabut itu, sebuah bayangan raksasa berbentuk cakar iblis—jauh lebih besar dan lebih padat dari serangan pertamanya—muncul perlahan, memancarkan aura kehancuran yang tak terlukiskan. Udara di sekitar mendidih, dan puing-puing reruntuhan bergetar hebat, seolah tak mampu menahan tekanan energi gelap itu. Ini bukan lagi sekadar serangan biasa, melainkan Jurus Telapak Bayangan Iblis yang sesungguhnya, sebuah teknik yang mampu merobek dimensi dan menghancurkan gunung.
Cakar bayangan raksasa itu turun perlahan, namun dengan kekuatan yang sanggup meremukkan jiwa. Tekanan yang dipancarkannya begitu hebat hingga pusaran hampa Kaelen mulai melambat, sementara energinya dipaksa kembali ke dalam diri sendiri seolah alam semesta menolak keberadaan teknik tersebut di hadapan kekuatan gelap Liliyana. Kaelen merasakan setiap serat ototnya menegang dan setiap tulangnya berderit di bawah tekanan. Ia tahu, tekniknya saat ini tidak akan cukup. Ini adalah pertaruhan hidup atau mati, sebuah momen yang akan menentukan segalanya.
"Lyra!" serunya dengan suara serak namun penuh tekad. "Kita harus berikan semua yang kita punya! Sekarang!"
Lyra, yang juga merasakan ancaman mematikan dari cakar bayangan itu, mengnoduk tanpa ragu. Wajahnya pucat, namun matanya memancarkan api tekad yang membara. Dengan gerakan yang terkoordinasi secara insting, Kaelen mengarahkan pedang berkaratnya ke atas, menusuk langit-langit reruntuhan yang runtuh. Bersamaan dengan itu, Lyra menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Kaelen, memancarkan aliran energi racun api murni yang berdenyut-denyut ke dalam tubuh pemuda itu.
Seketika, pedang berkarat yang selama ini dianggap hanya seonggok besi tua itu meledak dengan cahaya keemasan bercampur hijau kebiruan yang membutakan. Retakan di bilahnya melebar, namun bukan untuk hancur, melainkan untuk memancarkan cahaya yang lebih terang, seolah-olah tabir yang menyembunyikan kekuatan sejati telah terkoyak. Aura hampa yang semula kelabu gelap kini dipenuhi dengan binar-binar emas dan nyala api beracun, membentuk spiral energi yang jauh lebih dahsyat, lebih buas, dan jauh lebih berbahaya.
Teknik Jiwa Pedang Hampa: Fusi Penghancur! Kaelen meraung, menyalurkan seluruh kekuatan dan jiwanya ke dalam satu serangan pamungkas. Energi yang terakumulasi itu, kini diperkuat oleh Tangan Pemurni Racun Api milik Lyra, melesat ke atas, berbenturan dengan cakar bayangan raksasa Liliyana. Tabrakan itu bukan hanya menghasilkan suara, melainkan getaran yang menembus tulang, meruntuhkan sisa-sisa reruntuhan, dan menciptakan lubang hitam kecil sesaat di pusat benturan, seolah ruang itu sendiri tak sanggup menahan kekuatan yang baru saja dilepaskan—sebuah kilatan cahaya dan kegelapan yang saling merobek, menandai puncak pertempuran ini, sebuah titik balik yang akan mengubah takdir mereka semua.