Warning! Reverse Harem!!
Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:
Jangan mencolok.
Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.
Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.
Menahan analisis yang terlalu dalam.
Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.
Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.
Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.
Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Andito
Bel istirahat pertama berakhir dengan cepat. Satu per satu siswa kembali memasuki kelas sambil membawa sisa jajanan dari kantin.
"Melody! Jajanan kamu banyak banget? Itu ngemil apa mukbang?" seru Putri begitu kaget.
Sedangkan sang tersangka malah cengengesan tanpa rasa bersalah.
"A-aku nggak bisa mikir kalo lagi laper," kekehnya sembari menggaruk kepala bagian belakangnya.
"Duhh..."
"Yaudah sini kita tarik pajaknya beberapa."
"M-mana bisa kek gitu?"
Putri dan Amanda pun mengejar Melody yang masih tergopoh-gopoh dalam membawa makanannya. Membuat gadis berambut panjang itu refleks melarikan diri keluar kelas.
Tak lama kemudian, Bu Denise muncul dari ambang pintu. Sontak membuat ketiga gadis yang sebelumnya saling mengejar, spontan asal duduk karena panik.
"Anak-anak, Ibu hanya ingin menyampaikan informasi."
Bu Denise membuka buku jurnal harian piket.
Putri, Amanda, dan Melody terus memperhatikan dengan khidmat untuk menutupi tingkah laku mereka sebelumnya.
"Untuk pelajaran sosiologi setelah ini, Bu Rika hari ini berhalangan hadir."
Suara riuh langsung memenuhi kelas.
"Yeay!"
"Asyik!"
Beberapa siswa bahkan saling tos pelan.
Bu Denise mengangkat telapak tangannya, meminta kelas kembali tenang.
"Tapi..."
Sorak-sorai itu langsung mereda.
"Beliau meminta untuk mengerjakan sumatif pada halaman 46-50. Kerjakan di buku tugas ya."
"Kalau sudah selesai, kumpulkan minggu depan."
"Selamat mengerjakan!" pungkas Bu Denise sembari mengedipkan sebelah matanya. Lalu berjalan keluar meninggalkan kelas.
Suasana kelas berubah menjadi jauh lebih santai. Karena memang tak biasanya guru mapel yang terkenal sangat disiplin itu—jam kosong hari ini.
Andito mengembuskan napas panjang—terlalu panjang seolah baru saja lolos dari sesuatu.
Ia baru saja berniat untuk membuka ponselnya, namun atensinya teralihkan oleh tiga orang yang menghampirinya dari arah depan.
"Dit!"
Andito mendongak.
Di depannya berdiri Rendy, Michel, dan Rio—teman-temannya di ekstrakurikuler basket.
"Paan?"
"Ke lapangan yok!"
"Ngapain?"
"Main lah."
Andito mulai goyah.
Matanya melirik buku tugas.
Lalu melirik ke arah jendela.
Kemudian kembali ke buku.
"..."
"Bentaran aja."
Andito terkekeh kecil. Kemudian menutup bukunya.
"Iya, iya."
Pulpen dilemparkan begitu saja ke dalam tas. Tanpa pernah merasa butuh untuk membeli kotak pensil.
Sebelum berdiri, matanya tanpa sengaja melirik ke samping.
Gadis itu terlihat sudah membuka buku Sosiologi, sembari jemarinya bergerak pelan menulis beberapa baris jawaban. Seolah keramaian di sekitarnya sama sekali tidak ada.
Andito menggaruk pipinya.
"Yun."
Yuna tidak langsung menoleh.
"Hm?"
"Aku ke lapangan dulu ya."
Yuna hanya mengangguk kecil. Jemarinya yang mungil kembali membalik halaman untuk memeriksa jawaban, sembari bergumam pelan membaca soal.
"Kamu nggak mau ikutan?"
"Buat apa? Bukannya sekarang disuruh untuk mengerjakan sumatif ya?" jawabannya tetap datar. Dan memang sesuai perintah.
Andito tersenyum kecut.
"Iya juga sih."
"Tapi..."
Ia memperhatikan jemari Yuna yang kembali menari diatas halaman buku.
"Sesekali nikmatin waktu jamkos."
Gerakan tangan Yuna seketika terhenti. Matanya tiba-tiba membulat.
"Menikmati?"
Yuna mendongak. Mencoba mengerti apa maksud yang barusan Andito ucapkan.
Melihat tatapan itu, Andito nampak salah tingkah. Entah karena salah bicara, atau karena memang perbedaan sifat mereka yang terlalu kontras membuatnya spontan mengatakan itu.
Pada akhirnya—
"Y-yaudah lah ya. Aku mau ke lapangan dulu...."
"Nanti kalo semisal gurunya dateng, kamu panggil aku."
"Baiklah."
Jawaban itu terdengar singkat. Namun entah mengapa membuat langkah Andito ke lapangan terasa lebih ringan dari biasanya.
Begitu Andito keluar kelas bersama teman-temannya, suasana di bangku belakang kembali tenang. Hanya tersisa suara goresan pensil dan halaman buku yang dibalik.
Beberapa menit kemudian, Yuna menatap halaman buku yang kini sudah terisi jawaban lebih dari setengah. Lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas.
Di sana, ia mendapati suasana kelas yang jauh berbeda dibanding beberapa menit yang lalu. Seolah jam kosong benar-benar mengubah ritme kelas.
Di sudut dekat jendela, beberapa siswi sibuk merekam video TikTok dengan suara yang sengaja dipelankan.
Di bangku paling belakang dengan kursi-kursi yang disusun sedemikian rupa, sekelompok siswa tertawa akibat permainan daring yang entah sudah memasuki ronde ke berapa.
Sementara itu, di dekat pintu, dua siswi baru saja kembali dari kantin dengan kantong plastik berisi aneka jajanan yang seharusnya tidak boleh dibawa ke kelas.
Yuna kembali menunduk. Tatapannya jatuh pada buku Sosiologi di hadapannya.
Lalu...
Sebuah kalimat terngiang kembali.
"Sesekali nikmatilah jamkos."
Suara Andito seolah kembali terdengar di kepalanya.
Yuna mengulangnya pelan.
"...Nikmati jamkos?"
Ia mengembuskan napas panjang. Kemudian menutup bukunya perlahan.
"Apa seharusnya aku ikut menikmati waktu senggang ini ya?"
Pandangannya bergeser ke arah bangku depan.
Melihat Melody yang tengah tertawa bersama Amanda dan Putri. Yang sesekali salah satu dari mereka menepuk meja karena terlalu asyik membicarakan sesuatu.
Melihat pemandangan itu, senyum tipis akhirnya muncul di wajah Yuna.
"Aku akan mencoba untuk bergabung kalau begitu."
Ia bangkit, mendorong kursinya ke belakang.
Dan baru saja ia hendak keluar dari bangkunya—
Tap.
Tap.
Tap.
Suara langkah kaki mendekat dari belakang.
Ia menoleh setengah. Lalu mendapati seorang siswa berjalan mendekati mejanya.
Seragamnya tetap rapi meski jam istirahat telah lama usai. Di tangan kirinya masih terbuka buku Sosiologi yang terus ia baca sambil berjalan.
Bahkan...
Hingga berhenti di samping bangku Yuna pun, ia belum sekalipun melihat ke arah jalan yang dilewatinya.
"Sorry, Yun," ucapnya setengah ragu.
"Boleh nanya bentar nggak?"
Yuna sedikit memiringkan kepala.
"Tentang?"
Siswa itu membuka halaman bukunya. Mendekatkan ke arah pandang Yuna. Sembari telunjuknya yang berhenti pada salah satu soal.
"Aku merasa..."
"Paragraf ini yang menjelaskan hubungan antara nilai sosial dan norma, keknya kurang konsisten deh. Aku aja sempet baca ulang sampe tiga kali."
"Tiga kali?"
"Iya, bener. Tapi tetep aja loh ngerasa kek ada yang ganjil."
"Kalau setelah tiga kali masih membingungkan, berarti kalimatnya memang layak dipertanyakan."
Siswa itu mengangguk. Kemudian menyodorkan bukunya sedikit lebih dekat.
"Menurutmu gimana?"
...****************...
Lapangan basket sekolah dipenuhi pantulan bola yang saling bersahutan.
Dug! Dug! Dug!
Empat orang siswa berseragam Pramuka bergantian melakukan lay-up sederhana.
Tak ada pertandingan.
Tak ada latihan serius.
Gerakan mereka pun terasa lebih santai. Karena seragam sekolah jelas bukan pakaian yang nyaman untuk berlari atau melompat terlalu tinggi.
Andito menangkap bola yang memantul ke arahnya.
Menggiringnya pelan, sembari matanya fokus ke arah ring.
Lalu berhenti beberapa langkah dari garis tembakan.
Di sampingnya, Michel tiba-tiba bersuara.
"Dit."
"Hm?"
"Gimana sama Yuna?"
Andito masih membidik ring.
"Gimana apanya?"
"Ya... udah akrab kek? Atau apa kek?"
Tanpa mengalihkan fokus, Andito melepaskan bola.
Bola melambung membentuk busur yang cukup indah.
Namun...
Dung!
Lemparan itu hanya membentur ring. Lalu memantul keluar.
"Anjir lah..." gerutu Andito sembari menepuk udara.
Michel malah tertawa kecil.
Entah karena gagalnya lemparan itu, atau memang karena hal yang akan ia ucapkan setelahnya.
"Lu emang nggak nyadar ya?"
Andito berjalan mengambil bola yang menggelinding. Langkahnya sedikit melambat setelah mendengar ucapan Michel.
"Nyadar apaan?"
Posisi duduk Michel nampak berubah lebih serius.
"Yuna itu..."
"...kayaknya cuma sama lu doang deh yang lumayan banyak ngobrol."
Bola basket kembali berada di tangan Andito. Ia memantulkannya pelan sambil berjalan.
"Emang iya?"
Rendy yang sejak tadi diam ikut menyahut.
"Iya, Goblok. Nggak peka amat jadi cowo."
Andito kembali mengarahkan bola ke ring.
"Yaa menurut gue dia emang orangnya pemalu banget."
"Selebihnya..."
"...orangnya asyik kok."
"Asyik?"
Michel mengulang kata itu sambil mengernyit.
Andito refleks menoleh.
Michel tertawa tidak percaya.
"Seingat gue..."
"...Yuna ngobrol sama gue cuma buat nyuruh gue minggir doang jir."
"Pas waktu itu gue nggak sengaja nutupin jalan pas dia lagi piket."
Rendy langsung menimpali.
"Gue juga pernah pas nanya materi."
"Eh dia malah jawab, 'bukannya sudah dijelaskan minggu lalu'?"
"Kek anjir lah. Sama gue sejudes itu loh."
Michel kembali menatap Andito.
"Nah bener kan?"
"Dan lu barusan bilang dia asyik?"
Andito mengangkat bahu.
"Ya emang. Dia baik kok."
"Lagian kalo diajak ngobrol dia juga ngejawab. Bahkan sering ngajarin gue."
Michel dan Rendy saling pandang. Lalu bersamaan menggeleng pelan sembari cekikikan.
"Maksudnya apaan sih sebenarnya, Anjir?" tanya Andito mulai curiga.
Michel menyeringai lebar.
"Ya bisa aja..."
"...hehe."
Alis Andito langsung terangkat sebelah. Senyum Michel terlalu mencurigakan.
"Kenapa senyum lu begitu?"
Michel malah menyenggol bahu Rendy.
Dan bukannya menjawab lebih jelas—
"Sini gue contohin tembakan yang bener," ucapnya sembari merampas bola yang ada di cengkeraman tangan Andito.
Bahkan cengkeraman itu terlalu lemas untuk jemari terlatih Andito.
"Masalah Yuna..."
"...nanti juga lu ngerti sendiri."
Michel langsung melompat.
Swish.
Kali ini bola masuk mulus menembus jaring.
"Biasanya orang baru nyadar pas udah telat."
Andito mematung.
Bukan memikirkan bola yang barusan masuk.
Melainkan...
Apa sebenarnya maksud senyum aneh Michel tadi.
sebelumnya lebar lapangan