NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: tamat
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu / Tamat
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Cindy terbangun di pagi hari, ia segera turun dari ranjangnya dan menghampiri boks bayi ternyata sudah kosong. Tanpa pergi ke kamar mandi wanita itu segera keluar kamar mencari kemana perginya putrinya.

Saat langkahnya menuju ke arah ayunan yang di buat Damian dengan kekuatannya di teras belakang rumah. Terlihat pria itu sedang menggoyangkan ayunan itu untuk Helena yang tidur di atasnya.

Langkah Cindy berhenti tepat di ambang pintu, menatap pada punggung Damian yang begitu kokoh.

Dari semua kejadian yang ia alami sejak pertemuannya dengan Damian yang tak masuk akal. Perlahan-lahan logika manusianya mulai memahami apa yang telah terjadi dengan tubuh dan jiwanya.

Menangis? Meratapi? Atau menyerah? Cindy tak pernah melakukan hal itu. Berkat besarnya cinta Damian padanya membuat ia abai pada fakta bahwa ia jatuh hati dengan sosok hantu atau sosok yang bisa di bilang lebih kuat dari hantu itu sendiri.

Ia mulai mengerti semua logika-logika nya yang tiba-tiba tersamarkan, membuat dia berpikir bahwa apa yang di lakukan Damian semuanya benar. Dan apa yang di ucapkan Damian terasa normal.

Namun apa daya dirinya telah jatuh cinta dengan pria di depannya yang saat ini sosoknya begitu kokoh berbeda dengan hantu yang di ceritakan orang-orang.

Merasa di perhatikan Damian menoleh dan mendapati Cindy yang berdiri di ambang pintu. Dalam sekali kilat kini Damian sudah berada di depannya. Seolah-olah yang di lakukan Damian, berpindah tempat dan sejenisnya itu sangatlah mudah baginya.

“Kenapa melamun hm?“ tanya Damian, tangan dingin pria itu mengelus lembut pipi Cindy yang hangat.

Cindy mengerjapkan matanya, merasakan kontras yang begitu nyata antara kulit pipinya yang hangat dan telapak tangan Damian yang sedingin es. Hawa dingin itu tidak lagi membuatnya merinding ketakutan seperti saat pertama kali mereka bertemu di rumah kolonial ini yang kini, dinginnya tangan Damian justru terasa seperti candu yang menenangkan jiwanya.

"Aku... aku kaget pas bangun boks bayi sudah kosong," jawab Cindy lirih, suaranya agak serak khas orang baru bangun tidur. Ia mendongak, menatap lumat-lumat mata biru sedingin es milik Damian. "Aku pikir Helena ke mana. Gak tahunya bapaknya sudah bawa dia ke sini."

Damian tersenyum tipis, sebuah lengkungan lembut yang jarang ia perlihatkan kepada siapa pun kecuali kepada wanita di depannya ini. Ia memajukan wajahnya, mengecup kening Cindy dengan kecupan yang lama dan posesif, seolah sedang menegaskan kembali bahwa wanita ini adalah miliknya seutuhnya.

"Putri kita terbangun sejak fajar, Cindy. Dia tidak menangis, hanya meracik ocehan kecil yang bisa mengganggu tidurmu," bisik Damian rendah, suaranya yang serak terdengar begitu memikat. "Saya tidak ingin tidurnya ibunya terusik. Ragamu masih butuh banyak istirahat setelah malam Satu Suro kemarin lusa."

Cindy menolehkan kepalanya sedikit, memandang ke arah teras belakang di mana sebuah ayunan kayu jati yang dibuat Damian dari material yang di dapat dari rumah Damian dalam semalam menggunakan kekuatan gaibnya yang kini sedang terayun pelan tanpa ada angin yang menggerakkannya. Di atasnya, Helena tertidur begitu pulas, terbungkus kain jarik dengan napas yang teratur.

Logika manusia Cindy yang sempat kabur kini berputar di kepalanya. Pria di depannya ini bisa berpindah tempat dalam sekejap mata, bisa menghancurkan ratusan mahluk gaib dengan sekali tebas, dan bisa memanipulasi ruang di sekitarnya. Pria ini bukan manusia. Dia adalah entitas yang jauh lebih mengerikan dari sekadar hantu penunggu rumah. Tapi anehnya, hati Cindy sama sekali tidak menolak. Rasa cintanya yang terikat mati oleh segel gaib membuat semua ketidakwajaran ini terasa sebagai kebenaran mutlak.

"Kamu... selalu berlebihan kalau menjagaku, Damian," kata Cindy pelan, tangannya bergerak naik, memberanikan diri menyentuh dada bidang Damian yang kaku laksana marmer di balik kemeja hitamnya. "Tapi, terima kasih. Aku beneran merasa aman kalau ada kamu."

Mendengar pengakuan jujur dari bibir rubah Cindy, binar mata Damian berkilat pekat oleh kepuasan yang absolut. Ia menyusupkan tangan panjangnya ke pinggang Cindy, menarik tubuh mungil itu mendekat hingga tidak ada jarak di antara mereka.

"Kamu adalah pusat dari eksistensi saya di dunia ini, Cindy," tekan Damian dengan suara berat yang bergetar penuh dominasi dan obsesi abadi. "Saya menguasai tempat ini selama ratusan tahun, menghancurkan apa pun yang mengganggu saya. Tapi untukmu dan Helena... saya akan menekuk lutut saya dan menjadi pelindung terbaik yang pernah ada. Jadi, jangan pernah berpikir untuk menjauh, mijn liefde."

Cindy tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya di dada dingin Damian, mendengarkan keheningan tanpa detak jantung dari pria itu yang entah bagaimana justru menjadi irama paling menenangkan bagi hidupnya sekarang. "Aku gak akan ke mana-mana, Damian. Jalanku sudah terkunci di sini, bersamamu dan Helena."

Damian tersenyum mendengar kata-kata Cindy yang begitu dalam. Pria itu tahu bahwa Cindy mulai sdara bahwa dirinya bukan manusia. Namun bukannya menjauh rasa cinta Cindy makin besar pada Damian.

Damian mengajak Cindy untuk duduk di pangkuannya di sofa yang di depannya ada ayunan bayi yang tengah bergerak dengan ritme pelan.

Tangan Damian memeluk pinggang Cindy begitu erat sedangkan Cindy memeluk leher Damian saling menatap, terkunci pada masing mata. Mata biru Damian begitu indah, berpendar halus di terpa sinar matahari. Di sisi lain mata coklat terang Cindy begitu hidup membuat Damian memejamkan mata untuk menghirup jiwa Cindy yang harum.

“Saya tidak menyangka takdir menjadikan kita menyatu di dua dunia. Saya benar-benar mencintaimu Cindy, mijn lifde,”

Cindy membuka matanya saat merasakan kecupan lembut di pelipisnya berganti menjadi usapan ibu jari Damian yang dingin di sudut bibirnya. Ia membiarkan jemarinya meraba tengkuk Damian, merasakan tekstur rambut hitam pria itu yang tebal dan halus di sela-sela jarinya.

"Dua dunia yang berbeda, ya?" bisik Cindy lirih, matanya menatap pantulan dirinya di manik mata biru Damian yang jernih. "Dulu kalau ada yang bilang aku bakal menikah dan punya anak dengan... dengan sosok sepertimu, aku pasti berpikir orang itu sudah gila. Tapi sekarang, melihat Helena tidur di sana, rasanya batasan itu sudah tidak ada artinya lagi."

Damian membuka matanya, menatap Cindy dengan kedalaman rasa yang pekat. Rangkulannya di pinggang Cindy semakin mengetat, menarik tubuh mungil itu tanpa menyisakan celah, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, ilusi kebahagiaan ini akan menguap.

"Batasan itu memang sudah hancur sejak malam pertama saya mengunci sukmamu di rumah ini, Cindy," sahut Damian, suaranya berat, bergema rendah dari dalam dadanya yang tak berdetak. "Bagi bangsa saya, cinta adalah kepemilikan mutlak. Ketika saya memilihmu, jalanku dan jalanmu telah dilebur menjadi satu. Tidak akan ada perpisahan, tidak akan ada kematian yang bisa mengambilmu dari saya."

Cindy tersenyum tipis, ada secuil rasa geli sekaligus haru mendengar diktator romantis di depannya ini berbicara. "Kamu selalu bicara soal 'kepemilikan mutlak' dan 'mengunci sukma'. Kadang-kadang kamu terdengar sangat menakutkan, tahu. Untung saja aku sudah terbiasa."

"Apakah saya menakutimu pagi ini, mijn liefde?" tanya Damian dengan seringai tipis yang menawan, menaikkan satu alis aristokratnya.

"Tidak lagi," Cindy menggeleng pelan, lalu mengecup rahang tegas Damian yang sedingin marmer. "Sekarang aku justru takut kalau bangun pagi dan tidak melihat hawa dinginmu di sampingku. Aneh, kan? Tubuh manusiaku malah mencari dinginnya dirimu untuk merasa hangat."

Damian terkekeh rendah, suara tawa tanpa napas yang terdengar sangat seksi di keheningan teras belakang. Ia menolehkan kepalanya sekilas ke arah ayunan kayu jati tempat Helena sesekali melenguh kecil dalam tidurnya, memamerkan semburat aura biru keemasan tipis yang langsung diredam oleh mantra perlindungan teras.

"Putri kita memiliki adaptasi yang luar biasa," ujar Damian kembali menatap Cindy. "Dia memiliki kehangatan darah manusiamu, namun jiwanya sekokoh es gaib saya. Dia tidak akan menjadi mahluk yang lemah."

"Aku cuma berharap dia bisa tumbuh dengan normal, Damian. Setidaknya, dia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi anak-anak tanpa harus terus-menerus bersembunyi dari kejaran mahluk-mahluk seperti malam Satu Suro kemarin," kata Cindy, menyuarakan secuil kekhawatiran keibuannya.

Damian membawa tangan hangat Cindy ke bibirnya, mengecup punggung tangan itu dengan khidmat. "Selama saya masih berdiri di atas tanah ini, tidak akan ada satu pun mahluk, baik dari dunia bawah maupun dunia manusiamu yang bisa menyentuh sehelai rambut Helena. Saya akan membangun benteng yang paling kokoh untuk keluarga kecil kita."

Cindy memeluk leher Damian lebih erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu, menghirup aroma mint dan wangi tanah basah yang maskulin. Di bawah siraman cahaya matahari pagi yang menembus kanopi pohon beringin tua, kedua anak manusia beda alam itu saling mengunci janji dalam keheningan yang absolut, membiarkan waktu bergulir sesuka hatinya di rumah kolonial mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!