Mati konyol tersedak bakso akibat mencak-mencak membaca novel dark romance, Ceisya malah bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran malang yang tak dianggap. Di hari pernikahannya, sang mafia kejam—Sylus Blackwood, The Apex Sovereign penguasa Manhattan sekaligus The Crimson King bermata merah di dunia bawah Brooklyn—malah mangkir dan hanya mengirim seekor anjing berjas untuk mewakilinya.
Alih-alih menangis, jiwa mafia asli Ceisya bangkit. Ia mempermalukan keluarga toksiknya, menikahkan anjing utusan Sylus dengan anjing lain, lalu kabur usai menghajar para pengawal dengan keahlian bela dirinya.
Aksi ugal-ugalan itu justru memicu obsesi liar sang raja mafia. Di tengah kerasnya jalanan New York, perburuan maut pun dimulai, mengubah sang penguasa dingin menjadi pecandu abadi di bawah kaki istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Penuh Luka Manis dan Rencana Licik di Balik Selimut
Sinar matahari pagi yang menembus dinding kaca raksasa penthouse pribadi milik Sylus di puncak menara Manhattan jatuh tepat di atas hamparan seprai hitam sutra yang kusut masai. Udara di dalam ruangan terasa hangat, berat, dan masih menyisakan aroma parfum maskulin yang pekat bercampur wangi mawar segar serta sisa-sisa keringat dari malam panjang yang melelahkan.
Ceisya mengerjap perlahan, merasakan sengatan cahaya matahari pagi yang langsung menyapa manik mata hijau terangnya. Namun, gerakan kecil itu seketika memicu gelombang rasa sakit yang luar biasa di seluruh persendian tubuhnya. Otot-ototnya terasa seperti baru saja dilindas truk kontainer gandeng. Setiap inci kulitnya terasa panas terbakar, dan bagian pinggangnya seolah remuk redam akibat malam brutal penuh tuntutan yang diciptakan oleh sang raja mafia.
Ia mendengus kesal, mencoba menggeser posisi tubuhnya yang terasa kaku. Tapi niat itu langsung gagal total saat menyadari sebuah lengan kokoh berotot melingkar erat di pinggang telanjangnya, mendekap tubuhnya tanpa celah sedikit pun ke dada bidang yang keras bagai tembok baja.
Ceisya menoleh perlahan dengan napas tertahan. Di sebelah kanannya, Sylus Blackwood tengah terlelap dalam ketenangan yang kontras dengan sifat aslinya. Rambut hitam legamnya yang sedikit acak-acakan jatuh menutupi keningnya, dan dalam posisi tidur seperti itu, garis wajah sang penguasa dunia hitam tampak begitu sempurna, mematikan, sekaligus berbahaya—jauh berbeda dengan monster posesif yang menyiksanya semalaman penuh.
Manik mata hijau Ceisya menyipit tajam. Tanpa bersuara, ia mulai menghitung dalam hati, Satu... dua... tiga... Alih-alih merasa terbuai, tersentuh, atau terpesona oleh kehangatan pagi hari itu, ingatan tentang apa yang terjadi semalam justru membuat darah Ceisya mendidih seketika hingga ubun-ubun.
"Sialan... Sialan banget si iblis merah ini!" gerutu Ceisya dalam hati dengan gigi gemeretak menahan amarah yang membara. "Dia bener-bener ngerusak tubuh gue semaleman kayak gak ada hari esok! Janji kontrak 5 miliar sialan itu bisa-bisa cuma jadi angan-angan kosong kalau gue keburu mati kelelahan di tangan ni psikopat gila!"
Dengan gerakan sangat hati-hati, ekstra lambat, dan penuh perhitungan agar tidak sampai membangunkan pria di sebelah kanannya, Ceisya mulai mengangkat lengan berat Sylus dari pinggangnya. Ia menahan napas saat tangan besar itu sempat bergerak sedikit, lalu menghembuskan napas lega yang amat panjang begitu berhasil melepaskan diri dari dekapan maut tersebut.
Ia hendak merangkak turun dengan hati-hati dari atas ranjang raksasa itu untuk mencari sehelai pakaian penutup tubuh, namun baru saja telapak kaki kanannya menyentuh lantai marmer dingin, sebuah suara bariton yang serak, dalam, berat, dan sarat akan kekuasaan mutlak langsung menghentikan seluruh gerakan tubuhnya.
"Mau ke mana, Ratu kecilku?"
Tangan besar Sylus tiba-tiba bergerak secepat kilat, menyambar pergelangan kaki Ceisya dengan gesit, lalu menarik tubuh gadis itu kembali ke atas ranjang dalam satu sentakan mudah. Sebelum Ceisya sempat melayangkan protes atau makian, Sylus sudah menindih tubuhnya dengan sebelah tangan, sementara sepasang manik mata merah menyala bagai delima itu terbuka sempurna, menatap tajam penuh kemenangan mutlak.
"Lepasin gue, bajingan!" maki Ceisya spontan tanpa rasa takut, kedua tangannya mendorong kuat dada bidang Sylus dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. "Gue mau mandi! Jangan mentang-mentang semalem lu bertindak semena-mena di luar batas kewajaran, lu bisa seenaknya ngurung gue di sini seharian!"
Alih-alih merasa tersinggung atau marah mendengarkan umpatan kasar dari istrinya, sudut bibir Sylus justru terangkat semakin lebar, membentuk sebuah smirk paling seksi, dominan, dan berbahaya yang pernah ada di dunia. Pria itu menunduk perlahan, mengecup sekilas bibir Ceisya yang masih terlihat sedikit bengkak, merah, dan merona akibat ciuman-ciuman brutal semalam.
"Pagi yang sangat indah untuk istriku yang paling berisik dan keras kepala," bisik Sylus serak, suaranya terdengar sangat memanjakan namun menyimpan mutlak kepemilikan yang mengerikan. "Bagaimana kualitas tidurmu semalam, hım? Apakah seluruh sel di dalam tubuhmu sudah cukup merekam, mencatat, dan memahami dengan sangat baik siapa pemilik mutlak dirimu?"
"Najis!" desis Ceisya sengit, memalingkan wajahnya dengan cepat untuk menghindari tatapan lapar itu, meskipun kulit pipinya tak bisa berbohong—merona panas karena sisa-sisa amarah dan gelombang gairah yang belum sepenuhnya mereda. "Jangan sok puitis deh, bos mafia! Lu cuma manfaatin situasi karena gue keburu ketangkep basah di arena balap. Asal lu tahu ya, kontrak satu tahun itu masih sah berlaku! Begitu Bianca siuman dan waktu setahun itu habis, gue bakal tetep cabut bawa uang 5 miliar gue!"
Mendengar kata-kata itu diucapkan kembali oleh Ceisya di pagi hari setelah malam penuh keintiman yang membakar, manik mata merah menyala Sylus mendadak menyala semakin pekat, memancarkan gelombang bahaya murni. Aura dominasi yang menekan hebat kembali meruap dari seluruh tubuh pria itu, membuat atmosfer kamar mendadak berubah mencekam.
Tanpa aba-aba yang ramah, Sylus menangkup kedua pipi Ceisya dengan kedua tangan besarnya, memaksa wajah gadis itu untuk mendongak dan menatap lurus ke dalam manik mata merahnya yang menyala bagai api di kegelapan malam.
"Dengarkan baik-baik ucapan ini untuk kesekian kalinya, Ceisya, dan simpan dalam-dalam di dalam kepala pintarmu itu," ucap Sylus dengan nada suara rendah, dingin, namun penuh tekanan mutlak yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun di muka bumi ini. "Tidak ada kontrak, tidak ada kata perceraian, dan tidak ada uang 5 miliar untuk pelarian bodohmu itu. Bahkan jika Bianca siuman detik ini juga, posisimu di sampingku tidak akan pernah bergeser sejengkal pun. Kau adalah istri sahku, Ratu dari The Crimson King, dan kematian adalah satu-satunya hal mutlak di dunia ini yang bisa memisahkanmu dariku."
Tekanan dan keseriusan mutlak dari suara bariton itu sempat membuat jantung Ceisya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ada getaran aneh, asing, dan membingungkan yang merayap di dalam rongga dadanya, namun jiwa mantan pemimpin mafia sejati di dalam dirinya langsung menepis keras-keras segala bentuk kelemahan emosional tersebut.
Sial, cowok ini benar-benar red flag level dewa yang paling berbahaya, batin Ceisya bergidik ngeri di balik ekspresi wajahnya yang tetap garang menantang. Kalau gue ngelawan secara frontal terus-menerus kayak gini, gue bisa-bisa dinjurung seumur hidup di dalam kandang macan tanpa pernah bisa tunduk, cari celah kelemahan sistem, lalu hack jaringan keuangannya buat ambil modal kabur lintas benua! Masalahnya gue juga kok merasa alur novel berubah seharunya si Sylus bucin sama Bianca cinta masa kecilnya. Seharusnya gue hanya pengganti binca yang koma yang tidak di pedulikan kok tiba-tiba jadi begini nih alur, bikin kepala gue pusing tujuh tanjakan, turunan, belokan dan perapatan.
Melihat kilat mata hijau Ceisya yang berputar sangat cepat menyusun rencana licik di balik kepalanya, tawa kecil yang rendah, seksi, dan penuh arti mendadak terlepas dari bibir Sylus. Pria itu tahu betul bahwa istri mungilnya ini tidak pernah benar-benar menyerah pada keadaan, dan justru sifat liar serta membangkang itulah yang membuat sang raja mafia semakin tergila-gila setengah mati.
"Kau sedang merencanakan sesuatu yang licik di dalam kepala indahmu itu, ya, Ratu kecilku?" bisik Sylus tepat di daun telinga Ceisya, bibirnya sengaja menggesek kulit sensitif gadis itu hingga sekujur tubuhnya merinding hebat. "Silakan coba meretas sistem keamanan dan keuangan kembarku jika kau mampu. Karena setiap kali kau mencoba melarikan diri atau berkhianat dariku, aku akan menghukummu dengan cara yang sama seperti semalam—membuatmu tak berdaya di bawahku, menangis memanggil namaku, sampai kau benar-benar lupa jalan keluar dari kamar ini."
"Iblis mesum! Psikopat kejam!" geram Ceisya kesal setengah mati, mencoba mencubit keras pinggang Sylus dengan sekuat tenaga.
Namun Sylus justru tertawa renyah menikmati perlawanan itu, menangkap kedua pergelangan tangan Ceisya dengan mudah dan mengecup telapak tangan gadis itu dengan penuh kelembutan yang sangat kontras dengan sifat aslinya yang kejam.
Setelah perdebatan pagi itu berakhir, Sylus akhirnya membiarkan Ceisya beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Air hangat yang membasahi tubuhnya sedikit banyak meredakan rasa sakit di persendian Ceisya. Di depan cermin wastafel berbalut marmer putih, Ceisya menatap pantulan dirinya sendiri. Leher dan bahunya dipenuhi oleh tanda kemerahan yang ditinggalkan oleh Sylus—bukti nyata kepemilikan mutlak yang membuat Ceisya mendengus sebal sambil merapikan jubah mandinya.
"Awas aja lu, Sylus. Begitu ada celah sekecil apa pun, gue bakal kabur bawa helikopter pribadi lu sekalian," gerutu Ceisya pelan penuh tekad.
Namun, saat ia melangkah keluar dari kamar mandi menuju ruang ganti, suasana di dalam penthouse mendadak terasa begitu sunyi. Sylus sudah tidak ada di atas ranjang; pria itu tampaknya sudah turun ke lantai bawah untuk mengurus urusan sindikat Blackwood, meninggalkan instruksi ketat kepada puluhan pengawal elit yang berjaga di luar pintu agar memastikan Ratu mereka tidak melangkah keluar ruangan selangkah pun tanpa izin.
Ceisya memanfaatkan kesempatan emas ini. Dengan gerakan kilat, ia mengenakan pakaian santai berupa celana jogger hitam dan kaus longgar, lalu segera duduk di depan meja kerja pribadi yang terhubung dengan komputer super canggih milik Sylus yang dibiarkan menyala. Manik mata hijau terangnya memancarkan kilat tajam penuh konsentrasi. Jari-jarinya yang lincah langsung menari di atas keyboard, mulai mengetikkan barisan kode-kode enkripsi tingkat tinggi untuk meretas brankas data utama sindikat Blackwood.
"Mari kita lihat seberapa canggih sistem pengamanan raja mafia ini," gumam Ceisya penuh percaya diri, layar monitor di depannya mulai menampilkan barisan data rahasia dunia bawah yang sangat berharga.
Namun, belum sempat garis progress bar peretasannya mencapai angka lima puluh persen, layar monitor komputer tersebut tiba-tiba berubah menjadi warna merah darah secara total. Sebuah logo tengkorak perak yang bersinar terang memenuhi layar, disusul oleh suara sistem otomatis bernada dingin yang menggema ke seluruh ruangan.
Peringatan. Akses ilegal terdeteksi. Sistem pertahanan utama mendapati upaya intrusi dari pengguna lokal.
Detik berikutnya, pintu ruang kerja pribadi itu terbuka lebar tanpa suara.
Sylus Blackwood berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata merah menyala yang menatap lurus ke arah Ceisya. Pria itu melangkah masuk perlahan, melepas sarung tangan hitamnya dengan tenang, sementara seringai tipis yang mengerikan terukir jelas di sudut bibirnya.
"Kau benar-benar tidak pernah jera, ya, Ratu kecilku?" suara serak Sylus mengalun rendah, menghantam udara kamar dengan dominasi mutlak yang membuat bulu kuduk Ceisya berdiri tegak.
Ceisya menelan ludahnya mentah-mentah, namun ia tetap mendatarkan wajahnya, menolak untuk menunjukkan rasa takut di hadapan sang predator utama dunia hitam.
Contoh visual Sylus... Jika ingin detail visual dan ada videonya lihat videonya di tiktok.com/@ceisyafaizah
Contoh visual Ceisya