Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sapu Bersih Gandaru
Ayunan parang Sekar membelah udara kegelapan, menjatuhkan makhluk bertubuh besar menyerupai raksasa kerdil berbulu lebat yang baru saja melompat menerjang dari balik reruntuhan batu di ujung ruangan lantai satu. Tubuh makhluk itu, dengan mata merah menyala dan taring pendek mencuat dari mulutnya yang lebar, ambruk seketika, luka tebasan dalam menganga di lehernya.
"Gandaru," gumam Sekar, menyeka percikan darah gelap dari pipinya sambil melangkah maju melewati bangkai monster pertama yang mereka temui di lantai satu dungeon ini.
Sejak memasuki ruangan luas tempat kawanan Gandaru bersarang, pertarungan berlangsung nyaris tanpa jeda. Satu demi satu makhluk berbulu lebat itu bermunculan dari balik pilar batu dan reruntuhan, menyerang dengan gerakan kasar namun bertenaga besar, jauh lebih kuat dari Tuyakra yang pernah dihadapi Galih di hutan. Bau tanah lembap bercampur darah gelap monster memenuhi udara ruangan yang minim ventilasi, membuat setiap napas terasa berat namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani berhenti barang sejenak untuk mengambil napas panjang.
Lorong dungeon yang sempit membuat setiap pertarungan terasa lebih intens, ruang gerak yang terbatas memaksa mereka bertiga bergerak dalam formasi ketat, saling melindungi satu sama lain tanpa ruang untuk kesalahan sedikit pun.
Galih berdiri siaga di tengah, kerisnya tergenggam erat, matanya mengawasi setiap sudut yang bisa menjadi celah serangan. Peluh membasahi punggungnya, namun tangannya tetap stabil, hasil tiga bulan penuh gemblengan brutal Sekar yang kini terasa membuahkan hasil nyata di medan sesungguhnya. Beberapa kali seekor Gandaru berhasil menyelinap dari tebasan depan Sekar, mencoba memutar arah menuju posisi Larasati yang berdiri di belakang, tempat paling rentan dalam formasi mereka.
"Kiri!" teriak Galih, matanya menangkap gerakan seekor Gandaru yang melompat menghindar dari serangan Sekar, mengarah lurus ke arah Larasati yang sedang fokus mempertahankan buff tanpa sempat menyadari ancaman di sisinya.
Tanpa berpikir dua kali, Galih melesat maju, menghalau makhluk itu dengan tebasan keris yang meski kecil, cukup untuk mengalihkan arah serangannya dan memberi waktu bagi Sekar berbalik menghabisinya dengan tebasan susulan yang mematikan.
"Bagus, Galih!" seru Sekar, tidak sempat menoleh penuh namun jelas mendengar kesigapan rekannya menahan posisi, suaranya penuh apresiasi tulus yang jarang ia lontarkan dengan begitu terbuka.
Pola serupa terulang berkali-kali seiring mereka menembus lantai demi lantai. Setiap kali sebuah Gandaru mencoba lolos dari garis pertahanan depan, Galih selalu berada di posisi yang tepat, menahan, mengalihkan, memberi ruang bagi Sekar untuk menyelesaikan serangan tanpa harus mengorbankan perlindungan terhadap Larasati. Ia mulai hafal ritme pertarungan itu, seolah tubuhnya sendiri sudah belajar mengantisipasi arah gerak musuh tanpa perlu berpikir panjang lagi, sesuatu yang dulu terasa mustahil ia capai secepat ini.
Larasati sendiri tidak tinggal diam, terus mengalirkan buff pertahanan dan kekuatan secara bergantian, sesekali melepaskan mantra kejut kecil untuk melumpuhkan sementara Gandaru yang terlalu dekat sebelum sempat menyerang lebih jauh.
"Kalian berdua semakin sinkron," puji Larasati di sela pertarungan lantai lima, suaranya penuh kekaguman melihat bagaimana Sekar dan Galih kini bergerak seolah membaca pikiran satu sama lain, tanpa perlu banyak kata untuk saling mengoordinasikan setiap gerakan.
Galih tersenyum kecil mendengar pujian tulus itu, meski tidak sempat menjawab karena harus segera menahan serangan Gandaru lain yang mencoba menerobos dari sisi kanan. Kerisnya menari cepat, menepis, mengalihkan, membuka celah bagi Sekar melancarkan pukulan mematikan. Ia mulai merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, kepercayaan diri yang tumbuh perlahan setiap kali gerakannya berhasil melindungi rekan-rekannya tanpa cela.
Lantai demi lantai mereka lalui dengan ritme yang semakin mantap. Lantai enam, tujuh, delapan, semuanya dipenuhi kawanan Gandaru dengan pola serangan serupa, namun formasi Laskar Cakra sudah cukup teruji untuk menghadapinya tanpa kesulitan berarti yang pernah mereka bayangkan sebelum memasuki dungeon. Setiap kali mereka menuruni tangga menuju lantai berikutnya, rasa gentar yang dulu menghantui benak Galih perlahan digantikan oleh kepercayaan diri yang tumbuh bersama setiap kemenangan kecil yang mereka raih bersama.
Keringat membasahi wajah ketiganya, namun bukan keringat kepanikan seperti pertarungan-pertarungan awal mereka, melainkan keringat hasil kerja keras yang terkoordinasi rapi. Setiap gerakan Sekar diimbangi kesiagaan Galih, setiap buff Larasati tepat waktu memperkuat keduanya di momen yang paling dibutuhkan. Sesekali mereka bertukar pandang singkat di sela pertarungan, cukup untuk saling meyakinkan bahwa formasi mereka benar-benar berfungsi seperti yang diharapkan.
Ketika mereka akhirnya menembus lantai sembilan, ruangan terakhir sebelum tangga menuju lantai sepuluh, kawanan Gandaru terakhir di sana tumbang dalam waktu yang jauh lebih singkat dibanding pertarungan pertama mereka di lantai satu.
Sekar menebas Gandaru terakhir dengan gerakan bersih, tubuh makhluk itu ambruk menimbulkan debu tipis yang mengambang di udara sebelum akhirnya menghilang, menyisakan Inti Monster kecil yang berkilau redup di lantai batu, seukuran kelereng namun memancarkan cahaya samar kehijauan.
Ketiganya berdiri terengah-engah, napas mereka memburu ringan, bukan karena kelelahan berlebihan melainkan hasil ketegangan panjang yang baru saja mereka lalui bersama. Senyuman optimis perlahan menghiasi wajah masing-masing, sebuah kepuasan yang jauh berbeda dari rasa frustrasi yang selalu mengiringi kekalahan mereka melawan Naga Selatan. Bahkan Galih, yang biasanya paling dipenuhi keraguan, kini berdiri tegak dengan dada membusung, merasakan kebanggaan yang belum pernah ia rasakan sejak pertama kali terdampar di dunia asing ini.
"Sembilan lantai," gumam Galih, masih tidak percaya dengan pencapaian besar yang baru saja mereka raih. "Kita baru saja menembus sembilan lantai Loka Gaib Desa dalam satu malam. Ini gila."
"Dan tidak satu pun dari kita terluka parah," tambah Larasati, memeriksa tongkat sihirnya yang masih berpendar samar sisa energi yang digunakan sepanjang pertarungan panjang tadi malam. Ia meniup ujung tongkatnya pelan, seolah ritual kecil untuk menenangkan mana yang masih bergolak di dalamnya.
Sekar mengusap keningnya yang berkeringat, senyum tipis namun jelas terukir di wajahnya yang lelah. "Formasi kita mulai terbentuk sungguhan. Ini baru awal, dan aku sudah bisa membayangkan seberapa jauh kita bisa melangkah setelah ini."
Di ujung ruangan lantai sembilan, tersembunyi di balik bayangan pilar batu besar, sebuah tangga batu curam mengarah turun ke kegelapan pekat, menyambut kedatangan mereka dengan hawa dingin yang berbeda dari lantai-lantai sebelumnya. Suasana di sekitar tangga itu terasa lebih berat, lebih mencekam, seolah menandakan bahwa apa pun yang menanti di lantai sepuluh jauh lebih berbahaya dari sekadar kawanan Gandaru yang baru saja mereka taklukkan. Udara di sana bahkan terasa lebih dingin beberapa derajat, menyusup lewat celah kain baju mereka yang masih basah oleh keringat pertarungan panjang tadi.