NovelToon NovelToon
JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.

Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.

Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.

Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: JEMBATAN SERATUS LENTERA

Pelarian dari sergapan Pasukan Bayangan Paviliun Tianjian membawa Shen Rui dan Lian Yue jauh ke selatan, menerobos perbatasan terpencil hingga mereka tiba di Kota Fengling—sebuah kota pelabuhan kuno yang dipenuhi kanal air jernih dan jembatan-jembatan batu berukir klasik.

Berbeda dengan Kota Luoshui yang dipenuhi kebencian dan perburuan, Kota Fengling sedang merayakan malam perayaan tahunan: Festival Seratus Lentera. Ribuan lentera kertas berwarna merah, kuning keemasan, dan putih pualam digantung berderet di sepanjang tepian kanal, memantulkan pendar cahaya hangat ke atas permukaan air yang tenang. Aroma kue beras manis dan dupa kayu gaharu menguar di udara, menyamarkan jejak qi spiritual mereka di antara kerumunan manusia biasa.

Untuk menghindari kecurigaan para pengawas gerbang kota, Shen Rui dan Lian Yue mengenakan pakaian warga lokal—sebuah jubah kain katun sederhana berwarna biru tua, dengan tudung kain tipis yang membayangi wajah mereka.

Mereka berjalan berdampingan menyusuri jembatan batu lengkung yang ramai oleh para pedagang keliling dan anak-anak kecil yang membawa lampion kertas berbentuk ikan koi. Di tengah hiruk-pikuk manusia yang tertawa dan menikmati malam perayaan, dunia seolah berputar dalam ritme yang sangat lambat bagi Shen Rui dan Lian Yue.

Jari-jemari mereka saling bertaut erat di balik lipatan lengan baju jubah.

Lian Yue menoleh ke kiri dan ke kanan, menatap takjub pada kerlip cahaya lentera yang terpantul di dalam mata peraknya. Sepanjang hidupnya yang terlelap selama seribu tahun dan dibayangi oleh kengerian reinkarnasi serta buronan, ia tidak pernah merasakan pemandangan dunia manusia yang begitu damai, hangat, dan hidup.

"Kau menyukainya?" bisik Shen Rui pelan. Pria itu berjalan sedikit merapat, melindungi tubuh Lian Yue dari desakan orang-orang yang berlalu-lalang di atas jembatan sempit.

Lian Yue mengangguk pelan, seulas senyum tipis yang tulus terukir di bibirnya. "Tempat ini... begitu berbeda dari pegunungan Wuyin atau Lembah Karang. Di sini, tidak ada pedang yang terhunus, tidak ada tatapan penuh kebencian, dan tidak ada kutukan yang mengejar."

Shen Rui menatap wajah Lian Yue di bawah temaram cahaya lentera merah. Hati pria itu tersayat oleh rasa haru sekaligus kepedihan yang teramat dalam. Lian Yue tidak meminta keabadian, tidak pula meminta kekuatan siluman agung; perempuan di sampingnya ini hanya mendambakan kesederhanaan hidup layaknya manusia biasa—berjalan di atas jembatan, melihat lentera, dan bernapas tanpa rasa takut.

"Suatu hari nanti," kata Shen Rui dengan suara rendah yang penuh tekad, "setelah semua kekacauan ini berakhir dan rantai kutukan itu terputus... kita akan tinggal di tempat seperti ini. Jauh dari Paviliun Tianjian, jauh dari kejaran para dewa langit."

Lian Yue mendongak, menatap mata elang Shen Rui yang memancarkan ketulusan mutlak. Rasa hangat menjalar di dada kirinya, membuat tanda bulan sabit di lengannya berdenyut lembut seirama dengan detak jantung sang pemburu.

Mereka terus melangkah menyeberangi Jembatan Seratus Lentera, menuju ke sebuah kedai teh kecil yang berdiri tenang di seberang kanal.

Di sudut kedai yang temaram, di balik meja kayu bundar yang menghadap langsung ke arah air kanal berhias lentera, mereka duduk berhadapan. Seorang pelayan paruh baya menyajikan dua cangkir teh krisan hangat dan sepiring kue osmanthus manis yang mengepulkan uap tipis.

"Silakan dinikmati, Tuan dan Nyonya muda," ujar pelayan itu ramah sebelum pergi melayani meja lain.

Lian Yue menyesap teh hangatnya perlahan. Rasa manis bunga krisan merayap di lidahnya, menghapus sisa-sisa rasa dingin dari pelarian panjang mereka. Ia menatap Shen Rui yang hanya mengaduk tehnya tanpa berniat meminumnya.

"Kau melamun lagi," ucap Lian Yue lembut, menyodorkan piring kue osmanthus ke dekat tangan Shen Rui. "Ada hal lain yang mengusik pikiranmu?"

Shen Rui mendongak. Ia meletakkan sendok kecilnya, lalu menatap lurus ke dalam mata perak Lian Yue. Ada bayang-bayang kegelapan yang melintas di balik netranya.

"Aku mengkhawatirkan Qing Luo," aku Shen Rui jujur. "Sejak kita berpisah di Hutan Bambu Hitam, ia tidak kunjung memberikan kabar tentang hasil penyelidikannya mengenai racun pembusuk darah dan siapa dalang sesungguhnya di balik rekayasa pembantaian di Desa Wuxi."

Lian Yue meletakkan cangkirnya, raut wajahnya turut berubah serius. "Qing Luo adalah siluman ular hijau yang licik, tapi ia tidak pernah mengkhianatiku. Aku yakin ia sedang mempertaruhkan nyawanya di suatu tempat untuk mencari kebenaran tentang kutukan kita."

"Dan bukan hanya itu," lanjut Shen Rui, suaranya merendah hingga hampir tak terdengar di antara riuh suara musik tradisional dari kedai seberang. "Peringatan Guru Xuan He tentang batas waktu hari ke-49 terus menghantuiku. Setiap hari yang berlalu membuat esensi jiwamu kian sempurna kembali ke wujud aslinya... dan itu berarti Pasukan Bayangan Tianjian akan semakin dekat melacak posisi kita."

Mendengar kata-kata itu, suasana hangat Festival Seratus Lentera di luar jendela mendadak terasa begitu jauh.

Lian Yue meraih tangan Shen Rui di atas meja kayu. Jemarinya menggenggam erat telapak tangan pria itu yang kasar.

"Aku tidak takut pada hari ke-49 itu, Shen Rui," ucap Lian Yue dengan ketenangan yang mengejutkan. Matanya menatap tajam dan tulus. "Yang kutakutkan bukanlah kematian atau hilangnya wujudku... melainkan kenyataan bahwa waktu yang kita miliki di dunia ini selalu dicuri oleh takdir orang lain."

Shen Rui tertegun. Ia merengkuh tangan Lian Yue, membawa jemari itu ke dekat bibirnya dan mengecupnya pelan. "Aku tidak akan membiarkan takdir merenggutmu dariku lagi. Kali ini, aku yang akan menulis akhir dari kisah kita."

Namun, di tengah kehangatan janji yang terucap di bawah pendar ribuan lentera Kota Fengling, udara di sekitar kedai mendadak berubah dingin secara drastis. Nyala lilin di meja-meja pengunjung bergoyang liar, dan permukaan air di kanal luar kedai berhenti bergelombang—sebuah tanda mutlak bahwa medan qi tingkat tinggi sedang dilepaskan di sekitar kawasan tersebut.

Shen Rui langsung berdiri dari kursinya, tangannya secara refleks meraba kain pembungkus pedang di punggungnya.

"Mereka sudah menemukan kita," bisik Shen Rui dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!