Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Hari mulai terbuka
Suasana kantor siang itu cukup ramai, namun di ruangan Arin baru saja selesai mengerjakan beberapa berkas. pintu diketuk pelan.
Tok.. tok.. tokk..
“Masuk,” ucapnya tanpa menoleh.
Begitu pintu terbuka, wajah ceria Jingga muncul.
“Arin… gue mau cerita?” tanyanya sambil setengah menutup pintu kembali.
Arin langsung mengangkat alis.
“Wah, ada apa nih? Tumben banget wajah lo kelihatan penuh rahasia. Duduk sini, Ji.”
Jingga duduk di kursi depan meja Arin, meletakkan tasnya, lalu menarik napas panjang.
“Lo tahu kan malam reuni kemarin?”
Arin tersenyum lebar. “Tahu banget. Jangan bilang… ada drama seru?”
Jingga langsung menutup wajah dengan kedua tangannya, lalu menghela napas pasrah.
“Drama banget, Rin. Lo nggak akan percaya.”
“Coba cerita.” Arin sudah bersandar sambil menyilangkan tangan, jelas siap jadi pendengar setia.
Jingga akhirnya memulai ceritanya.
“gini kemarin kan gue jadi tuh ketemu sama temen-temen gue … pas lagi asik ngobrol sama Dinda, Rara, sama Vivi, tiba-tiba Levin dateng. Tahu-tahu dia langsung nyium pipi gue depan semua orang!”
Arin sontak terbatuk kaget. “Hah?! Seriusan, Ji?!”
“Iya! Gue aja kaget. Rasanya pengen masuk ke bawah meja saat itu juga. Apalagi dia terus-terusan panggil gue ‘sayang’ depan mereka, Rin. Semua orang melotot ke gue berasa kayak gue udah pacaran tiga tahun sama dia.”
Arin menahan tawa keras-keras, sampai akhirnya terbahak.
“Hahaha, oh my God, Ji! Itu antara super romantis atau super gila sih. Terus? Teman-temanmu gimana reaksinya?”
“Ya jelas kaget lah! Vivi sampai bilang Levin itu tampan banget, karismatik, idaman semua wanita. Dan… yang bikin gue makin salah tingkah, dia malah nawarin hotelnya GRATIS buat pernikahan Vivi. Seenaknya banget kan?” Jingga mendengus, mengingat adegan itu.
Arin menggeleng tak percaya. “Astaga, dia tuh CEO apa badut sih? Lucu banget, Tapi aku tahu banget satu hal…”
“Apa?” tanya Jingga penasaran.
“Dia jatuhnya makin bucin sama lo, Ji.”
Jingga spontan melempar pandangan kesal, tapi pipinya memerah.
“Rin! Jangan asal ngomong. Gue malah malu banget.”
Arin menyender ke kursi, tersenyum nakal.
“Malu sih wajar. Tapi jujur deh, bagian kecil dari hatimu bahagia kan diperlakuin kayak gitu?”
Jingga terdiam. Jemarinya saling meremas di pangkuan.
“…Mungkin… sedikit.” jawabnya lirih, hampir tak terdengar.
Arin langsung bersorak kecil. “Nah kan! Gue tahu banget tatapan lo waktu nyebut ‘sedikit’ barusan.”
Jingga menunduk, wajahnya makin merah. Dalam hati, ia tahu Arin benar, tapi gengsinya tetap terlalu tinggi untuk mengakuinya terang-terangan.
----
Sore itu, selepas pulang dari kantor, Jingga masih merasa pikirannya penuh. Obrolan dengan Arin siang tadi, juga sikap Levin yang semakin intens membuat dia goyah . Ia butuh tempat untuk bernapas lega. Maka ia menghubungi Moza dan Grey, mengajak mereka bertemu di mall.
Malam mulai turun ketika ketiganya sudah duduk di sebuah restoran dengan lampu temaram. Aroma kopi dan makanan hangat menemani mereka. Moza menatap Jingga lama, seperti bisa membaca isi hatinya.
“De kamu kenapa sih akhir-akhir ini kelihatan bingung banget?” ujar Moza, membuka percakapan.
Jingga tersenyum miris, memainkan sendok di tangannya. “Aku sendiri kadang nggak ngerti, kak. Semua yang terjadi terlalu cepat. Aku belum sepenuhnya siap, tapi… Levin datang seperti badai. Seenaknya dia masuk, bikin semua orang percaya kalau aku bakal baik-baik aja sama dia. Padahal aku sendiri masih ragu.”
Grey yang sedari tadi diam, ikut menyahut. “Ragu karena apa, kak? Karena sikap Levin yang keras itu? Atau karena lo masih belum yakin sama perasaan sendiri?”
Pertanyaan itu membuat Jingga terdiam sejenak.
Moza menghela napas panjang, lalu menepuk tangan Jingga lembut. “De… kaka tahu kamu trauma. Kaka tahu hatimu pernah hancur karena masa lalu. Tapi kamu nggak bisa terus menutup hati. Kalau kamu terus ragu, kamu nggak akan pernah tahu siapa sebenarnya yang tulus buat kamu de. Dan Levin, dia bukan tipe orang yang main-main.”
Jingga menunduk. Suara Moza membuat dadanya semakin hangat sekaligus berat.
Grey tiba-tiba menyeringai kecil, mencoba mencairkan suasana. “Kak, gue ini sahabat Levin dari kecil. Gue tahu banget sifatnya. Iya, dia keras kepala, egois, suka seenaknya. Tapi kalau sudah mutusin sesuatu apalagi soal orang yang dia sayang dia bakal jaga sampai mati. Gue kaget kak liat Levin sekarang dulu dia cuek banget sama cewe Justru anehnya, sama Lo dia bisa berubah drastis. Itu tandanya dia serius, kak.”
Moza mengangguk mantap. “Iya, Ji. Jangan terus-terusan memgelak. Lihat juga bagaimana dia berusaha buat kamu. Bahkan kaka bisa lihat, Levin itu rela nurunin egonya cuma biar bisa deket sama kamu. Itu udah bukti besar.”
Jingga menggigit bibirnya, matanya berkaca-kaca. Ada kehangatan yang tumbuh dari kata-kata mereka, tapi di sisi lain juga ketakutan.
“Tapi kalau aku takut kak, takut ketika aku gak bisa menjadi apa yang dia mau dia bakal merilik wanita lain, sama seperti yang Ardian lakuin?”
Grey langsung menggeleng cepat. “Kalau soal itu, Lo jangan khawatir. Levin itu bukan cowok sembarangan. Kalau dia udah bilang Lo miliknya, maka dia akan tanggung jawab. Bahkan kalau kamu jatuh, dia bakal jadi orang pertama yang nyamperin dan ngebantu kamu berdiri lagi.”
Moza menambahkan dengan suara lembut, “Kadang kita harus berani ambil risiko, de. Jangan biarin masa lalu ngerusak masa depanmu. Kamu pantas bahagia. Dan aku rasa… Levin bisa jadi orang itu buat kamu.”
Hening sejenak. Hanya terdengar denting sendok dan suara pelayan yang lewat. Jingga menutup wajahnya sebentar dengan kedua tangan, lalu menarik napas panjang.
“ Aku juga capek menolak semua yang datang. Aku nggak mau terus-terusan lari.” suaranya bergetar.
Moza merangkul pundaknya. “Ya sudah, berhenti lari. Coba hadapi. Biar waktu yang buktiin, tapi jangan kunci rapat-rapat hatimu.”
Grey ikut menepuk bahu Jingga, suaranya mantap. “Dan kalau lo ragu sama Levin, ingat ini kak, gue yang jamin dia bakal jadi suami yang tanggung jawab. Kalau perlu, gue sendiri yang bakal jadi saksi hidupnya. Karena Levin itu sahabat gue, dan gue tahu persis dia nggak akan pernah main-main soal cinta.”
Kata-kata itu membuat air mata Jingga akhirnya menetes. Ia tersenyum kecil di tengah tangisnya. Ada rasa hangat yang menyusup di sela-sela hatinya yang dingin.
Malam itu perasaan Jingga merasa sedikit lebih ringan. Seolah beban yang dipikulnya selama ini mulai terangkat, meski perlahan.
Tak lama kemudian, Egha pun datang setelah mendapat telepon dari Moza. Wajahnya terlihat sedikit lelah, tapi senyum hangatnya membuat suasana jadi lebih cair.
“Lama banget lo Mas, nungguin sampe lapar lagi nih,” goda Grey sambil menyikut lengan Egha.
"Sorry ge tadi macet banget di jalan" jawab Egha.
Mereka akhirnya duduk bersama di meja restoran. Hidangan demi hidangan tersaji, obrolan mengalir tanpa henti. Ada yang serius, ada juga yang kocak sampai membuat mereka tertawa keras-keras, sesekali jadi pusat perhatian pengunjung lain.
Bagi Jingga, momen itu terasa seperti jeda indah di tengah segala keruwetan hidupnya.
Selesai makan, mereka sepakat untuk tidak langsung pulang. Moza tiba-tiba mengajak,
“Eh, sekalian yuk kita belanja. Kayaknya udah lama banget kita nggak window shopping bareng.”
Tanpa banyak protes, mereka pun berkeliling mall. Tawa dan candaan terus bergema, terutama saat Grey sibuk mengomentari pakaian yang Jingga coba. Hingga akhirnya masing-masing membawa beberapa kantong belanjaan, wajah mereka penuh kepuasan sekaligus hangatnya kebersamaan.