NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:103
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Ingin Ganti Nama

Beberapa hari setelah kembali dari Bekasi, aku duduk bersama Om Bram di ruang makan Puri Cendana.

Dia membaca laporan di tablet. Aku mengerjakan formulir kampus yang meminta nama lengkap, alamat tetap, dan kontak keluarga.

Pada kolom nama, kutulis `Sekar Ayu Pramesti`.

Pada alamat, kutulis Puri Cendana.

Pada kontak keluarga, kutulis `Bramantyo Adiwangsa`.

Tiga baris itu membuatku berhenti.

Secara hukum, namaku tidak pernah berubah setelah proses pengangkatan anak. Keputusan pengadilan mencatat Om Bram sebagai orang tua angkat, tetapi dokumen identitasku tetap memakai nama pemberian ibu. Aku menyukai nama itu. `Sekar` adalah bunga, `Ayu Pramesti` adalah bagian terakhir yang masih diberikan keluargaku sebelum semuanya berantakan.

Namun ada hari-hari ketika aku ingin satu bagian namaku juga menunjukkan rumah yang kupilih setelahnya.

"Om," panggilku.

"Ya?"

"Kalau aku mau menambah Adiwangsa di namaku, bisa nggak?"

Jarinya berhenti di layar tablet.

"Kenapa tiba-tiba bertanya?"

Aku memutar pena. "Nggak tiba-tiba. Aku sudah kepikiran lama."

"Kamu ingin menghapus Pramesti?"

"Nggak. Aku nggak mau menghapus pemberian Ibu." Aku menunjukkan formulir. "Mungkin jadi Sekar Ayu Pramesti Adiwangsa. Panjang, sih."

Om Bram meletakkan tablet.

"Nama bukan bukti bahwa kamu keluarga di rumah ini."

"Aku tahu."

"Dan menambahkan nama keluarga tidak sesederhana menulis di formulir. Ada permohonan, alasan, penetapan, lalu pembaruan dokumen sipil. Kamu sudah dewasa, jadi keputusan dan tanda tangan harus milikmu."

"Aku juga tahu itu. Aku nggak minta Om mengurus diam-diam."

Bayangan sesuatu melintas di wajahnya, terlalu cepat untuk kupahami.

"Lalu apa yang kamu minta?" tanyanya.

"Aku ingin tahu apakah Om keberatan."

"Kalau saya setuju, apa alasan yang akan kamu tulis dalam permohonan?"

Aku memikirkan pertanyaan itu. "Bahwa aku ingin identitasku mencatat dua bagian hidupku. Nama dari Ibu tetap ada. Nama rumah yang membesarkanku juga ada."

"Bukan karena ingin membuktikan hubungan kita kepada Nadia atau orang kampus?"

"Bukan." Aku menggeleng. "Kalau suatu hari hubungan kita berakhir, aku tetap pernah menjadi bagian keluarga ini. Tapi mungkin justru karena hubungan kita sekarang rumit, waktunya harus dipikirkan."

Tatapannya melunak. "Itu jawaban yang lebih dewasa daripada perkiraan saya."

"Om kira aku akan bilang biar semua orang tahu aku milik Om?"

"Kamu pernah menggigit leher saya dengan alasan serupa."

Wajahku panas. "Itu kasus berbeda."

"Tentu."

Ruangan menjadi sunyi. Dari dapur terdengar Mbok Nah menutup lemari dan air mengalir di bak cuci.

Om Bram mengulurkan tangan. "Boleh?"

Aku mengangguk. Dia mengusap rambutku sekali, gerakan yang sudah dikenalnya sejak aku remaja tetapi kini selalu didahului izin.

"Nanti saja, Sekar," katanya. "Semua ada waktunya. Biar Om urus dengan cara yang benar."

"Itu artinya Om keberatan?"

"Tidak."

"Artinya setuju?"

"Artinya saya tidak mau menjadikan keinginan besar sebagai keputusan terburu-buru saat hubungan kita belum memiliki kedudukan yang jelas."

Jawaban itu masuk akal, tetapi tetap meninggalkan kekecewaan kecil.

"Baik," kataku.

Om Bram membaca wajahku. "Kamu boleh kecewa."

"Aku memang sedikit kecewa."

"Terima kasih sudah jujur."

"Tapi aku nggak akan beli barang aneh atau pergi minum."

Dia menatapku datar. "Kemajuan yang sangat membanggakan."

Aku tertawa dan menutup formulir. Kami pindah ke sofa setelah makan malam, memilih serial yang sudah berminggu-minggu tidak selesai. Setengah episode habis untuk berdebat tentang tokoh utama yang terus menyembunyikan masalah dari pasangannya.

"Dia seharusnya bicara," kataku.

"Akhirnya kita setuju tentang sesuatu."

"Om dulu sama saja."

"Makanya saya tahu akibatnya."

Aku menyandarkan kepala pada ujung sofa, menyisakan jarak di antara kami. Om Bram mengulurkan tangan dengan telapak terbuka. Aku memilih meletakkan tanganku di sana.

Kami menonton sampai mataku berat.

"Aku tidur dulu," kataku.

"Selamat malam."

"Malam, Om."

Kekecewaan tentang nama belum benar-benar hilang, tetapi genggaman singkatnya membuatku ingat bahwa penundaan tidak selalu berarti penolakan.

POV Bram

Setelah Sekar naik ke kamar, aku masuk ke ruang kerja dan mengunci pintu.

Di laci paling bawah terdapat map cokelat yang sudah disiapkan beberapa bulan lalu. Aku mengeluarkannya dan membaca label di bagian depan.

`Dokumen identitas Sekar Ayu Pramesti.`

Di dalamnya ada salinan keputusan pengangkatan anak, akta kelahiran, pendapat hukum tentang perubahan nama orang dewasa, serta rancangan surat dukungan keluarga. Tidak ada permohonan final yang diajukan tanpa sepengetahuan Sekar. Tanda tangannya tetap diperlukan, begitu pula penetapan lembaga berwenang dan pembaruan catatan sipil.

Pendapat hukum itu menekankan satu hal yang tidak bisa kutawar: perubahan nama tidak boleh menciptakan kesan garis keturunan biologis yang palsu atau menghapus asal-usul pengangkatan anak. Semua dokumen harus tetap transparan. Nama baru boleh menjadi identitas sosial dan keluarga, bukan pemalsuan nasab.

Aku sudah meminta tim menyiapkan jalur yang menghormati aturan itu. Mereka belum mengajukan apa pun. Persiapan tersebut hanya memastikan bahwa ketika Sekar benar-benar memilih, dia tidak perlu berhadapan sendirian dengan birokrasi.

Namun ada satu dokumen lain di bagian belakang, berisi rencana yang jauh lebih pribadi dan belum berani kubicarakan.

Jika waktunya tepat, aku tidak ingin Sekar sekadar meminjam nama Adiwangsa sebagai bukti bahwa dia pernah menjadi anak angkatku. Aku ingin dia menerimanya melalui pilihan baru yang setara, tanpa menghapus nama pemberian ibunya.

Aku menatap halaman itu lama, lalu memasukkan semuanya kembali ke dalam map.

Map kembali ke laci, tetapi pertanyaannya tinggal di meja pikiranku. Sekar meminta nama sebagai tanda pulang. Aku ingin memberinya lebih dari tanda, namun belum berhak menjanjikan masa depan sebelum berani berdiri di depan keluarga dan hukum dengan niat yang jelas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!