NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Senja Mencium Damar

Senja membuka pintu perlahan.

Bintang meringkuk di bawah selimut. Damar duduk di tepi ranjang, punggungnya kaku, seperti sedang menghadapi rapat yang tidak dapat ia kendalikan.

"Mama datang," kata Senja.

"Bintang nggak punya Mama." Suara anak itu teredam bantal. "Cuma punya pengasuh yang digaji."

Senja duduk di sisi lain. "Kalau cuma pengasuh, nama Mama enggak akan ada di buku nikah sama Papa."

Bintang mengintip. "Buku nikah mana?"

Senja menoleh kepada Damar. Ia belum pernah memegang buku itu setelah akad.

"Di brankas," jawab Damar. "Tapi kamu belum bisa membaca isinya."

"Bintang bisa lihat foto."

"Besok Papa tunjukkan."

"Sekarang."

Damar menghela napas. Brankas berada di ruang kerja dan kata sandinya adalah tanggal lahir Bintang, tetapi mengambil buku itu tidak akan menyelesaikan ketakutan anak tersebut. "Buku bisa disimpan. Orang tetap bisa pergi."

Bintang kembali menangis. "Nah, Papa bilang sendiri. Kalian bohong. Cepat atau lambat pisah. Bintang mau Mama yang beneran, yang nemenin selamanya."

Senja mengusap punggung kecilnya. "Mama yang sekarang juga sayang Bintang."

"Kalau sayang, cium Papa. Terus kasih Bintang adik."

Senja menahan napas. "Adik bukan sesuatu yang bisa diminta malam ini."

"Cium bisa."

Damar berdiri. "Sudah. Jangan rewel."

"Papa takut dicium Mama?"

Senja melihat telinga lelaki itu memerah. Perasaan takutnya sedikit berkurang, digantikan keberanian yang lahir dari kenyataan bahwa Damar ternyata sama gugupnya.

Ia berdiri di depan Damar. "Cuma supaya Bintang tenang."

"Aku tidak meminta."

"Saya tahu."

Senja menutup mata, mendekat, lalu menyentuhkan bibir ke pipinya.

Hanya satu detik.

Namun tubuh Damar membatu. Tidak ada perempuan yang pernah menciumnya seperti itu. Kehangatan kecil tertinggal di kulit, membuat jantungnya memukul keras sampai ia takut Senja dapat mendengarnya.

Senja mundur dengan wajah merah. "Sudah. Sekarang Bintang tidur."

Damar masih berdiri seperti patung. Ia dapat menghadapi ruang rapat penuh orang yang ingin menjatuhkannya tanpa kehilangan satu kata, tetapi satu sentuhan di pipi membuat lidahnya kelu. Tangannya hampir terangkat untuk menahan Senja agar tidak menjauh, lalu berhenti karena takut gerakan itu dianggap tuntutan.

Senja salah membaca diamnya. "Maaf kalau Mas enggak suka."

"Aku tidak bilang tidak suka."

Jawaban itu keluar terlalu cepat. Damar mengencangkan rahang, sedangkan mata Senja membesar. Udara di kamar berubah rapat dan hangat.

Bintang bertepuk tangan sekali. "Kalau suka, ulangi."

"Bintang," tegur keduanya bersamaan.

Anak itu menutup mulut, tetapi matanya tetap berharap.

"Bukan begitu," protes Bintang. "Papa-Mama cium di bibir."

"Siapa yang mengajarimu?"

"Di film kartun. Kalau cium pipi, Bintang juga sering."

Damar masih merasakan bekas bibir Senja. Ia sebenarnya ingin membiarkan permintaan itu terjadi, tetapi wajah perempuan tersebut sudah penuh malu. "Cukup. Jangan paksa Mama."

"Bintang cuma mau Mama yang enggak pergi!" Anak itu menangis lebih keras. "Mau adik juga. Semua teman punya saudara. Bintang sendirian."

Senja duduk kembali dan mencoba menghapus air matanya. "Punya adik bukan jaminan Mama tinggal. Dan enggak punya adik bukan berarti Bintang sendirian."

"Mama bilang nanti pergi kalau uangnya sudah balik."

Senja membeku. Rupanya Bintang bukan hanya mendengar kata cerai. Anak itu juga mengumpulkan serpihan pembicaraan tentang Rp 288 juta dan menyusunnya dalam pengertian sendiri.

"Bintang enggak perlu memikirkan uang," katanya lembut.

"Kalau uang bikin Mama pergi, Bintang kasih tabungan celengan."

"Bukan begitu."

"Terus gimana? Orang gede selalu bilang Bintang belum ngerti."

Damar memandang Senja, dan untuk sesaat pertanyaan anak mereka terasa seperti tuntutan kepada keduanya. Mereka menuntut Bintang percaya, tetapi terus menyembunyikan kebenaran yang ia rasakan setiap hari.

"Papa akan pastikan kamu tidak ditinggalkan sendirian," katanya.

"Mama juga?"

Damar tidak bisa menjawab atas nama Senja. Keraguan singkat itu cukup membuat Bintang kembali terisak.

"Kalau terus rewel, Papa marah."

Untuk pertama kalinya suara Damar benar-benar keras kepada putrinya. Bintang terdiam sesaat, lalu tangisnya pecah dengan rasa terluka yang lebih dalam.

"Papa jahat. Papa bikin semua Mama pergi."

Wajah Damar berubah. Ia berdiri untuk keluar sebelum emosinya semakin buruk.

Senja melihat Bintang meraih udara kosong, melihat punggung Damar menjauh, dan tahu malam itu akan menjadi luka baru jika dibiarkan.

Ia bangkit dan menangkap ujung dasi Damar.

Lelaki itu berbalik karena tarikan mendadak. Senja berdiri di ujung kaki, menarik dasinya lebih rendah, lalu menempelkan bibir mereka.

Pikiran Damar kosong.

Ciuman itu kaku pada detik pertama. Senja tidak tahu harus meletakkan tangannya selain tetap menggenggam dasi. Bibir Damar hangat, napasnya terhenti, aroma sabun dan kopi memenuhi jarak yang tidak lagi ada.

Senja seharusnya segera mundur. Namun Bintang harus melihat jelas. Ia bertahan satu detik lagi, lalu satu detik berikutnya.

Pada detik ketiga, napas Damar menyentuh pipinya. Senja merasakan jemari lelaki itu bergerak seolah ingin memegang pinggangnya, kemudian mengepal dan kembali diam. Pengendalian diri itu justru membuat dada Senja bergetar. Ia tahu, bahkan dalam keterkejutan, Damar tidak akan mengambil lebih dari yang diberikan.

Keberanian Senja berubah menjadi kesadaran yang menyengat. Ini bukan lagi kecupan cepat di pipi. Bibir mereka benar-benar bertemu, hangat dan rapat, sementara detak jantungnya memukul sampai ke ujung jari yang menggenggam dasi.

Damar menahan napas terlalu lama. Ketika akhirnya mengembuskannya, bibir mereka bergeser sangat sedikit. Gerakan kecil itu mengirim rasa panas ke tengkuk Senja dan membuat lututnya kehilangan tenaga.

Damar tidak menyentuhnya. Kedua tangannya menggantung di sisi tubuh, seolah satu gerakan dapat membuat Senja sadar dan melarikan diri. Darah terasa mengalir cepat ke wajah dan dadanya. Seluruh dunia menyempit pada bibir lembut yang selama ini hanya ia bayangkan tanpa berani mengakui.

"Hore!" seru Bintang dari ranjang. "Beneran suami istri!"

Suara itu menyadarkan Senja. Ia melepaskan dasi dan mundur. Tumitnya hampir tersangkut karpet, tetapi Damar refleks memegang siku agar tidak jatuh.

Tatapan mereka bertemu dari jarak sangat dekat.

Tangan Damar masih menopang sikunya. Ibu jarinya tanpa sengaja menyentuh bagian dalam lengan Senja, tempat denyut nadinya bergerak cepat. Ia dapat merasakannya dan sadar detaknya sendiri tidak lebih tenang.

"Kamu hampir jatuh," katanya.

"Karpetnya licin."

"Karpetnya tidak bergerak."

"Dasi Mas terlalu panjang."

Alasan itu sama buruknya, tetapi Damar tidak membongkar. Jika ia tersenyum sekarang, Senja mungkin benar-benar melarikan diri.

Senja melihat mata Damar yang biasanya dingin berubah gelap dan tidak fokus. Damar melihat bibir Senja sedikit terbuka, pipinya merah sampai telinga.

Tidak satu pun mampu bicara.

"Bisa kasih Bintang adik sekarang?" tanya Bintang.

Senja tersedak udara. Ia merapikan dasi Damar yang miring, padahal gerakan itu justru membuat jarinya kembali menyentuh dada lelaki tersebut.

"Dasi Mas berantakan," katanya asal.

"Kamu yang menariknya."

Suara Damar lebih serak daripada biasa.

"Saya cuci muka dulu."

Senja berbalik dan hampir berlari ke pintu.

Damar menyentuh bibirnya sendiri. Kegembiraan yang baru muncul segera digantikan rasa tidak nyaman. Senja ingin mencuci muka setelah menciumnya. Apakah perempuan itu merasa jijik?

"Mama malu," kata Bintang, seolah membaca pikirannya. "Bukan marah."

"Tidur."

"Papa senang dicium Mama?"

"Tidur, Bintang."

Anak itu berbaring dengan senyum puas. "Besok harus sayang-sayangan lagi. Setiap hari. Nggak boleh berantem."

Damar menarik selimut sampai bahunya. "Tidak semua hal bisa kamu atur."

"Tapi Papa enggak marah waktu dicium."

Damar tidak bisa menyangkal. Ia bahkan belum mampu mengatur napasnya sendiri.

Di kamar mandi, Senja membasuh wajah dengan air dingin, tetapi tidak menyentuh bibir. Ia menatap pantulan diri yang matanya terlalu cerah dan pipinya terlalu merah.

Ia membuka keran lebih besar untuk menutupi napasnya. Dalam ingatan, Damar tidak membalas ciuman, tetapi juga tidak menolak. Lelaki itu diam seolah memberinya kendali penuh. Senja seharusnya lega. Sebaliknya, sebagian kecil dirinya bertanya bagaimana rasanya jika Damar benar-benar membalas.

Pikiran itu membuatnya menekan telapak ke dada. "Sudah gila," bisiknya kepada cermin.

Ia berkumur agar punya alasan berada di kamar mandi lebih lama, lalu langsung menyesal. Bagaimana jika Damar mengira ia sedang membersihkan bekas ciumannya karena jijik? Senja hendak keluar, berhenti, lalu kembali memeriksa wajah. Tidak ada pilihan yang tidak memalukan.

Itu hanya sandiwara, katanya dalam hati. Satu ciuman demi Bintang dan demi mempertahankan tempatnya.

Namun tubuhnya tidak memahami alasan. Jantungnya masih berlari, dan bibirnya masih mengingat kehangatan Damar.

Ketika ia kembali, Bintang sudah terlelap. Damar berdiri di dekat jendela.

"Saya enggak bermaksud kurang ajar," kata Senja. "Tadi cuma supaya dia berhenti menangis."

"Aku tahu."

Jawaban itu terlalu datar. Senja mengira ia marah, sementara Damar sedang menahan diri agar tidak bertanya apakah ciuman tadi benar-benar menjijikkan.

"Saya temani Bintang tidur. Mas bisa kembali ke kamar."

Damar mengangguk. Di pintu, Bintang bergumam dalam tidur, "Papa Mama harus sayang-sayangan tiap hari."

Damar menarik pintu sampai hampir tertutup, tetapi tidak langsung melepaskan gagang. "Besok pagi jangan menghindar."

Senja menatapnya. "Saya enggak menghindar."

"Bagus."

"Mas juga jangan marah karena tadi."

"Aku tidak marah."

Nada itu tetap tenang, tetapi ujung telinganya kembali merah. Senja melihatnya dan untuk pertama kali percaya bahwa Bik Inah mungkin tidak sepenuhnya salah.

Langkah Damar berhenti.

Senja menunduk, pura-pura membetulkan selimut. Damar menatapnya sekali lagi, lalu keluar tanpa suara.

Malam itu, keduanya berbaring di kamar terpisah dengan mata terbuka, sama-sama menyentuh bibir sendiri dan sama-sama yakin hanya dirinya yang tidak dapat melupakan ciuman tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!