NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:365
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Mas Bram Menembus Badai

Perintah Laras baru selesai diteruskan ketika dinding debu menghantam peternakan.

Angin menyapu halaman begitu keras hingga kerikil kecil memukul dinding. Pekerja berlari menutup pintu luar. Wahyu mengikat motor ke tiang kokoh, sementara Wati membawa kotak obat ke bangunan tengah.

"Peluit dua kali!" teriak Laras.

Simulasi yang mereka ulang semalam mengambil alih kepanikan. Setiap pekerja mencari pasangan. Kelompok merah digiring melalui jalur samping. Sapi bunting masuk lebih dulu, disusul kambing lemah dan anak ternak. Pak Yohanes berdiri di persimpangan lorong, mengarahkan orang tanpa harus mengulang instruksi.

Debu membuat mata perih. Laras menutup hidung dengan kain dan memeriksa tanda warna di pintu. Seekor kambing berbalik karena suara seng bergetar. Wati tidak mengejarnya dari belakang. Ia memutar melalui sisi tenang, menutup jalan keluar, lalu menggiring hewan itu kembali seperti yang diajarkan Laras.

"Bagus. Tutup pintunya!"

Langit pecah oleh kilat. Hujan turun mendadak, besar dan miring. Tanah yang berbulan-bulan mengeras tidak menyerapnya. Dalam beberapa menit, air cokelat bergerak di atas halaman seperti sungai dangkal.

Saluran barat menerima arus pertama. Air sempat naik mendekati pintu kandang, lalu berbelok ke parit utama. Pak Yohanes menyorotinya dengan senter.

"Kalau kemiringannya tidak diperbaiki kemarin, habis kita!"

Atap menjerit diterpa angin, tetapi kawat silang menahannya. Terpal melindungi gudang. Karung pakan yang diangkat di atas palet tetap kering meski air masuk setinggi mata kaki di lorong luar.

Listrik padam.

Lampu darurat menyala hampir bersamaan. Tak seorang pun perlu mencari kunci lemari. Laras menghitung kepala pekerja, lalu meminta mereka memeriksa pasangan masing-masing. Semua ada, kecuali satu orang yang ternyata sedang menutup pintu unggas.

"Jangan keluar sendiri lagi," kata Laras setelah lelaki itu kembali. "Pohon sudah mulai patah."

Telepon kehilangan sinyal. Pesan terakhir dari Bram hanya menunjukkan satu tanda kirim.

Aku pulang lebih cepat. Jangan tinggalkan bangunan aman.

Laras mencoba membalas, tetapi pesan tidak bergerak. Ia tidak tahu di mana kendaraan Bram berada atau jalan mana yang sudah tertutup.

"Bu, induk sapi nomor dua belas mulai kontraksi," lapor Wati.

Sapi itu memang diperkirakan melahirkan beberapa hari lagi. Tekanan badai dan pemindahan mungkin mempercepat proses. Laras memeriksanya dari sisi aman. Ketuban belum pecah, posisi anak tampak wajar, tetapi induk gelisah dan terus mencoba berdiri.

"Pindahkan pembatas agar dia punya ruang. Kurangi orang di sekitarnya. Kita pantau, jangan mengganggu kalau belum perlu."

Laras tetap di kandang tengah. Ia memeriksa sapi, menenangkan kambing, lalu membantu mengeringkan anak ayam yang terkena percikan. Hujan memukul atap tanpa jeda. Setiap guntur membuat hewan melonjak, sehingga suara Laras harus tetap datar meski jantungnya ikut menegang.

Di jalan kabupaten, mobil yang membawa Bram berhenti di belakang pohon tumbang. Arus air melintasi aspal. Pengemudi menyarankan mereka menunggu alat berat.

"Berapa jauh ke peternakan dari sini?" tanya Bram.

"Lima kilometer lewat jalan utama. Mungkin empat lewat jalur desa, tetapi ada titik longsor kecil. Mobil tidak bisa lewat."

Bram melihat pesan Laras yang tidak terkirim. Informasi dari pos menyebut peternakan belum bisa dihubungi. Ia membuka bagasi, mengambil jas hujan, tali, senter, dan tas pertolongan.

"Kita jalan," katanya kepada Wahyu, yang menyusul dengan kendaraan bantuan sebelum jalan tertutup.

"Mayor, arusnya kuat."

"Kita tidak menyeberang tanpa pengaman. Cari jalur tinggi."

Mereka meninggalkan kendaraan di tempat aman bersama pengemudi. Hujan segera menembus celana dan sepatu. Lumpur menahan setiap langkah. Pada titik pertama, sebuah saluran meluap menutupi jalan. Bram mengikat tali pada pohon, menguji pijakan dengan batang, lalu menyeberang satu per satu.

Di sisi lain, tebing kecil runtuh menumpuk tanah setinggi lutut. Mereka memanjat melalui kebun, beberapa kali terpeleset. Wahyu melihat Bram menahan pinggangnya sejenak, tempat luka lama sering nyeri saat cuaca buruk.

"Kita bisa menunggu tim membuka jalan."

"Laras tidak tahu aku aman. Aku juga tidak tahu kondisinya."

Jawaban itu menutup perdebatan.

Di peternakan, satu lembar seng pada bangunan luar mulai terangkat. Bunyi pukulannya membuat sapi nomor dua belas semakin gelisah.

Pak Yohanes hendak keluar, tetapi Laras menahannya. "Tunggu angin turun. Jangan berdiri di bawah sisi yang terangkat."

"Kalau lepas, bisa mengenai gudang."

"Nyawa lebih penting daripada seng. Kita amankan dari bagian dalam sebisanya."

Mereka memasang tali melalui rangka tanpa naik ke atap. Angin masih berhasil mengangkat sudutnya beberapa sentimeter. Air masuk melalui celah, menetes di bahu Laras. Bajunya sudah basah oleh hujan dan keringat. Tangan Wati gemetar ketika memegang tali.

"Lihat saya," kata Laras. "Tarik saat saya hitung, bukan saat guntur. Satu, dua, tiga."

Tali menegang. Sudut seng turun, tetapi belum terkunci.

Pintu luar tiba-tiba digedor tiga kali. Semua orang membeku.

"Pak Yohanes! Buka!"

Suara itu hampir tenggelam dalam badai. Laras mengenalinya.

Pintu dibuka secukupnya. Bram masuk lebih dulu, penuh lumpur dari dada sampai sepatu. Air mengalir dari rambutnya. Wahyu berada di belakang membawa gulungan tali tambahan.

Mata Bram langsung mencari Laras.

"Kamu tidak apa-apa?"

Ia tidak bertanya tentang pakan atau kerusakan. Ia bahkan tidak mengeluhkan perjalanan. Telapak tangannya memegang bahu Laras, memeriksa wajah, tangan, lalu noda gelap di bajunya.

"Itu lumpur," kata Laras. "Aku tidak terluka. Mas Bram, kamu berjalan kemari?"

"Jalan tertutup."

Baru setelah memastikan Laras berdiri utuh, Bram melepaskan jas hujan bagian dalam yang masih lebih kering dan menyelubungkannya ke tubuh istrinya. Laras hendak menolak karena Bram sendiri basah kuyup.

"Pakai," katanya. "Tanganmu dingin."

Laras menunduk. Tali sepatunya terlepas dan penuh lumpur. Bram langsung berjongkok, menarik kedua ujungnya, lalu mengikat simpul ganda.

"Aku bisa sendiri."

"Aku tahu. Diam sebentar."

Di tengah suara ternak dan atap bergetar, pemandangan seorang mayor berlutut mengikat sepatu istrinya membuat Wati memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyum.

Dada Laras terasa panas dengan cara yang tidak disebabkan demam. Selama dua tahun bersama Rendra, perhatian selalu datang bersama tuntutan. Bram menembus badai bukan untuk memerintahnya pulang, melainkan untuk memastikan ia aman.

"Ada seng terangkat," kata Laras setelah berhasil menguasai suara. "Kita harus menahannya sampai angin turun."

Bram tidak menyuruhnya meninggalkan pekerjaan. Ia menggulung lengan baju, memeriksa titik ikat bersama Pak Yohanes, lalu memasang tali kedua melalui tiang dalam. Wahyu menjaga pintu. Pada jeda angin, mereka menarik serempak dan mengunci rangka dengan kawat.

Seng berhenti memukul.

Ketika Bram melepaskan tali, Laras melihat darah tipis di telapak tangannya. Kawat telah menggores kulit di bawah ibu jari.

"Kamu terluka."

"Hanya goresan."

"Kalimat itu dilarang di depan tenaga medis."

Laras menarik Bram ke meja perawatan. Ia mencuci luka dengan air bersih, mengangkat serpihan kecil, lalu mengoleskan antiseptik dan membalutnya. Bram duduk diam, tetapi pandangannya tidak pernah lepas dari wajah Laras.

"Sakit?" tanya Laras.

"Tidak."

"Bohong. Otot tanganmu tegang."

"Aku pernah mengalami yang lebih buruk."

"Itu tidak membuat luka kecil boleh kotor. Besok periksa lagi. Kalau merah atau bengkak, ganti balutan."

Bram mengangguk sepatuh pasien terbaik. Pak Yohanes yang melihat dari jauh berdeham lalu pura-pura sibuk memeriksa palang pintu.

Laras menyelesaikan simpul balutan. Baru ketika jemarinya hendak dilepas, Bram menutup tangannya sebentar.

"Terima kasih," katanya.

Hangat telapak tangannya menembus sarung tangan tipis. Laras segera menarik diri dengan alasan merapikan kotak obat, tetapi telinganya sudah memanas.

Sapi nomor dua belas mulai tenang. Kontraksinya berjarak dan belum masuk tahap aktif. Laras mengusap lehernya, lalu memeriksa semua kelompok sekali lagi.

"Peternakan aman," kata Pak Yohanes setelah hujan mulai melemah. "Atap utama utuh. Gudang kering. Tidak ada ternak hilang."

Tak seorang pun bersorak keras. Mereka terlalu lelah. Namun wajah-wajah yang disinari lampu darurat menunjukkan kelegaan yang sama.

Bram menunggu sampai Laras menyelesaikan serah terima. Ia tidak sekali pun mendesak. Ketika jalan utama masih tertutup, mereka pulang melalui rute tinggi bersama kelompok bantuan. Garang, yang dibawa petugas untuk membantu pencarian di sekitar kompleks, bergabung di persimpangan dan berjalan di sisi yang menerima angin.

Lumpur mencapai betis. Di bagian licin, Bram berjalan lebih dulu dan mengulurkan tangan. Laras menerimanya. Genggaman itu kuat, hangat, dan tidak dilepas sampai pijakannya aman.

Mereka tiba di rumah menjelang dini hari. Listrik masih padam. Bram menyalakan lampu minyak, mengambil handuk, lalu berdiri di belakang Laras.

Sebelum duduk, Laras memaksa Bram mengganti pakaian basah dan minum air hangat. Ia mengambil dua cangkir, menambahkan jahe, lalu membagi pisang rebus yang tersisa. Untuk pertama kalinya, ia tidak membuka buku pengeluaran untuk menghitung siapa membayar apa. Pada malam ketika mereka sama-sama pulang dengan lumpur sampai lutut, pembagian itu terasa tidak penting.

Bram menyadarinya, tetapi tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendorong cangkir yang lebih hangat ke arah Laras.

"Duduk."

Ia mengeringkan rambut Laras perlahan. Jemarinya kadang menyentuh tengkuk, membuat Laras menahan napas. Kedekatan itu sederhana, tetapi terlalu lembut untuk disebut sekadar kewajiban.

"Mas Bram," katanya pelan, "lain kali jangan mengambil risiko seperti tadi."

"Lain kali jangan menunggu aku." Tangan Bram berhenti sesaat di rambutnya. "Aku yang akan mencarimu."

Laras memegang ujung handuk. Jantungnya berdetak lebih cepat daripada saat seng hampir terlepas.

Sebelum ia sempat menjawab, suara orang menggedor pintu terdengar dari ujung kompleks. Seorang perempuan menangis meminta makanan dan pertolongan.

Di antara sisa guntur, suara Bu Marni terdengar paling keras.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!