NovelToon NovelToon
Terpikat Suami Sahabatku

Terpikat Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:48
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**

Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.

Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.

Satu malam nekat mengubah segalanya.

Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.

*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*

Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.

Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 006

Gaun Putih Itu

Pagi datang terlalu cepat bagi Laras.

Ia baru tertidur menjelang azan Subuh dan terbangun oleh suara Tiara membuka lemari. Ketika keluar dari kamar, sahabatnya berdiri di depan cermin ruang tamu sambil menempelkan gaun putih panjang ke tubuh.

“Bagus nggak?” Tiara berputar. Kain tipis pada roknya bergerak seperti kabut. “Gue beli online, tapi kayaknya terlalu kalem.”

Laras menyentuh ujung lengan gaun itu. “Cantik.”

“Bram!” Tiara berteriak ke arah kamar utama. “Sini sebentar.”

Bram keluar dengan kemeja olahraga yang belum dikancingkan sampai atas. Pandangannya melewati Tiara dan berhenti sepersekian detik pada wajah Laras.

“Apa?”

“Gaun ini bagus nggak buat gue?”

Bram menilai sekilas. “Kepanjangan. Bikin kaki kamu kelihatan pendek.”

“Serius?” Tiara langsung manyun.

“Serius.”

“Ya sudah, gue retur.” Ia memasukkan gaun itu ke kantong bening. “Nanti kurir datang siang.”

Tiara pergi bekerja tidak lama kemudian. Sebelum pintu tertutup, ia mengingatkan Laras agar tidak pulang tanpa menunggunya libur.

Apartemen kembali sunyi.

Laras sedang mencuci cangkir ketika kantong berisi gaun putih diletakkan di meja dapur.

“Coba,” kata Bram.

Laras menoleh. “Katanya mau diretur.”

“Nggak jadi.”

“Tiara bisa marah.”

“Aku yang bayar.” Bram menyandarkan pinggul pada meja. “Dan gaun itu memang bikin kaki dia kelihatan pendek.”

Tatapannya turun ke kaki Laras.

“Kalau kamu, belum tentu.”

Laras mendorong kantong itu kembali. “Aku nggak mau.”

“Karena punya Tiara?”

“Karena kamu suaminya.”

“Apa hubungannya?”

“Kamu tahu hubungannya.”

Bram tersenyum tipis. “Kalau begitu kita beli yang bukan punya Tiara.”

Satu jam kemudian, Laras sudah duduk di mobil Bram menuju pusat perbelanjaan.

Ia berkali-kali mengatakan hanya ingin melihat-lihat. Bram mengabaikannya. Di butik pertama, laki-laki itu memilih gaun berdasarkan warna yang menurutnya cocok dengan kulit Laras. Di butik kedua, ia menyerahkan celana panjang, blus, dan rok kepada pramuniaga tanpa menanyakan harga.

“Aku nggak butuh sebanyak ini.” Laras berdiri di antara kantong belanja dengan wajah tegang. “Aku bahkan nggak punya tempat buat pakai.”

“Pakai di rumah.”

“Di rumah kontrakanku?”

“Di mana pun kamu mau.”

“Bram, ini keterlaluan.”

Laki-laki itu mengambil satu gaun putih yang mirip milik Tiara, tetapi potongannya lebih sederhana dan jatuh lembut di pinggang. “Coba yang ini.”

Laras melihat label harga, lalu langsung menggantungnya kembali.

“Terlalu mahal.”

“Aku nggak tanya harganya.”

“Tapi aku lihat.”

Bram menyerahkan gaun itu kepada pramuniaga. “Ukuran dia.”

“Bram!”

“Mau apa, aku beliin. Yang penting kamu suka.”

Kalimat itu menghentikan Laras.

Wahyu tidak pernah mengatakannya. Selama lima tahun, setiap keinginan Laras selalu harus melewati pertanyaan apakah mertua membutuhkan sesuatu lebih dulu. Bahkan pakaian yang ia pegang di pasar sering dikembalikan tanpa dicoba.

Matanya mendadak panas.

Bram yang tadi keras kepala langsung menurunkan suara. “Kenapa nangis?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Aku bisa batalin semuanya.”

Laras menatap tumpukan gaun, lalu wajah Bram. “Jangan.”

Jawaban itu membuat sudut bibir Bram naik.

Mereka keluar dari butik dengan hampir selusin kantong. Di toko parfum, Bram menyemprotkan satu aroma lembut pada pergelangan Laras, mengangkat tangannya, lalu mencium udara di dekat kulit tanpa menyentuh.

“Yang ini.”

Laras melihat harga Rp6.000.000. “Nggak.”

“Sudah dibayar.”

“Kapan?”

“Waktu kamu sibuk membaca nolnya.”

Laras ingin marah, tetapi Bram sudah berjalan ke kios es krim. Ia kembali membawa dua cone dan menyerahkan satu kepadanya.

Es krim mulai meleleh di bawah udara Jakarta yang panas. Laras menjilat bagian sampingnya agar tidak menetes.

“Jangan dijilat begitu,” kata Bram.

Laras mengernyit. “Terus makannya gimana?”

Tatapan Bram jatuh ke bibirnya. “Pelan-pelan. Aku juga manusia.”

Wajah Laras langsung memanas. Ia menggigit es krim terlalu besar sampai kepalanya ngilu, membuat Bram tertawa keras.

Sore menjelang ketika mereka naik ke rooftop observasi gedung. Laras berhenti di depan pagar kaca. Ia pernah tinggal di Jakarta selama kuliah, tetapi tidak pernah datang ke tempat itu karena tiketnya terlalu mahal.

“Bagus,” bisiknya.

“Iya.”

Laras menoleh. Bram tidak melihat pemandangan.

“Kamu lihat apa?”

“Kamu lihat pemandangan.” Bram memasukkan tangan ke saku. “Aku lihat kamu.”

Seorang abang penjual foto Polaroid menawarkan jasa. Bram langsung membayar sebelum Laras sempat menolak. Mereka berdiri berdampingan. Saat kamera berkedip, Bram menaruh tangan di pinggang Laras.

Foto keluar perlahan. Di sana Bram tampak besar dan gelap di samping Laras yang mengenakan gaun putih baru, telinganya merah, senyumnya gugup.

Laras memasukkan Polaroid itu ke tas, tepat di belakang foto rumah contoh.

Di parkiran, Laras menghentikan Bram sebelum kantong belanja dipindahkan dari bagasi.

“Tiara bakal tanya semua ini dari mana.”

“Bilang kamu beli.”

“Dia tahu aku nggak punya uang sebanyak ini.”

Bram menutup bagasi, lalu bersandar pada mobil. “Bilang hadiah dari teman.”

“Teman yang mana?”

“Aku.”

Laras menatapnya tidak percaya. “Kamu mau aku mengatakan itu ke istrimu?”

“Kalau kamu berani.”

“Aku serius, Bram.”

Senyum laki-laki itu hilang. Ia mengambil semua kantong dari bagasi dan hanya menyerahkan satu kantong kecil berisi parfum kepada Laras.

“Yang lain aku simpan dulu. Besok aku antar waktu Tiara kerja.”

“Aku tetap nggak bisa menerima.”

“Tadi kamu bilang jangan dibatalin.”

“Karena kamu bikin aku bingung.”

Bram menunduk sampai tatapan mereka sejajar. “Biasakan. Aku belum selesai bikin kamu bingung.”

Laras memeluk kantong parfum ke dada sepanjang perjalanan pulang, seolah benda mahal itu adalah bukti kesalahan yang tak boleh ditemukan siapa pun.

Malamnya, Tiara pulang saat mereka makan. Ia memergoki Bram mengambil mangkuk sup yang baru saja Laras isi untuk dirinya.

“Itu punya Laras,” kata Tiara.

Bram meneguk satu sendok. “Sekarang punya aku.”

“Manja banget. Ambil sendiri, kali.” Tiara menjatuhkan tas di sofa. “Ras, handuk cadangan ada di kamar mandi utama. Tolong ambilin, dong.”

Laras bangkit, tetapi Bram lebih dulu berdiri. “Aku tunjukin.”

“Emang dia nggak bisa cari sendiri?” Tiara sudah sibuk membuka kotak makanan dan tidak lagi melihat mereka.

Bram masuk ke kamar utama. Laras mengikuti dengan langkah ragu. Begitu sampai di kamar mandi, ia membuka lemari handuk.

“Yang mana?” Laras berbisik.

Bram menutup pintu kamar mandi, menyisakan celah tipis.

“Semua cuma alasan.”

Laras mundur. “Tiara di luar.”

“Aku tahu.”

“Kita nggak boleh begini.”

Bram mengangkat dagunya dengan dua jari. “Tapi kamu ikut masuk.”

Laras sempat menahan dada Bram ketika laki-laki itu mendekat. Bram berhenti, menunggu. Di luar, Tiara memanggil agar mereka cepat.

Laras seharusnya membuka pintu.

Sebaliknya, jemarinya mencengkeram kaus Bram dan menariknya mendekat.

Ciuman pertama mereka hanya berlangsung beberapa detik, tertahan, terburu-buru, dan lebih berbahaya daripada ciuman panjang dengan orang asing semalam. Telapak tangan Bram menekan pinggang Laras, cukup kuat hingga meninggalkan jejak hangat pada kulitnya. Ketika bibirnya berpindah ke bahu, Laras menggigit tangan sendiri agar tidak bersuara.

“Handuknya ketemu nggak?” Tiara berteriak lagi.

Laras mendorong Bram. Napas mereka sama-sama kacau.

Ia mengambil handuk paling atas dan keluar lebih dulu. Di balik kain bajunya, pinggang dan belakang bahunya masih terasa terbakar oleh bekas jari Bram.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!