NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Jarum, Kelinci, dan Rencana Keran Bocor

Amaya akhirnya mengetuk pintu.

Sebastian tersentak. Jarum di tangannya menusuk sisi jari telunjuk.

"Siapa?"

"Aku."

Amaya masuk sebelum diperbolehkan. Tatapannya langsung jatuh ke Lulu.

Sebastian bergerak lebih cepat. Ia memasukkan kelinci dan kotak jarum ke laci, lalu meraih gelas air.

"Ada apa?"

Ujung telinganya merah.

Amaya meletakkan formulir di meja. "Butuh tanda tangan pembimbing."

"Taruh."

"Tadi aku melihat sesuatu."

"Tidak ada apa-apa."

"Kelinci."

"Tidak ada kelinci."

Sebastian mengangkat gelas dan meminum air terlalu banyak sekaligus. Setetes turun ke dagunya. Ia menyekanya cepat, lalu kembali memakai wajah yang biasanya membuat staf berhenti bertanya.

Sayangnya Amaya bukan staf yang mudah ditakuti.

"Kalau nggak ada kelinci, kenapa ada benang abu-abu di jas?"

Sebastian melihat lengan bajunya. Satu helai benang benar-benar menempel di dekat siku.

"Dari ruang tindakan."

"Ruang tindakan pakai benang berbulu?"

"Amaya."

"Iya, Dokter?"

"Berhenti menyelidiki hal yang tidak berhubungan dengan proyek."

"Aku cuma memastikan pembimbingku nggak melakukan prosedur ilegal pada pasien berkuping panjang."

Sudut bibir Sebastian bergerak, nyaris membentuk senyum sebelum ditahan.

Amaya menatap laci yang terlalu cepat ditutup. Sebaris kapas putih masih tersangkut di tepinya.

"Baik," katanya serius. "Berarti kapas itu tumbuh sendiri dari meja."

Sebastian menarik sisa kapas dan memasukkannya ke laci. "Kamu seharusnya mengetuk sebelum melihat ke dalam."

"Aku mengetuk. Dokter terlalu sibuk dengan kelinci yang nggak ada."

"Formulirnya."

Amaya menyerahkan pena. Sebastian memeriksa angka kemajuan, membaca alasan enam data dikeluarkan, lalu menandatangani.

"Besok periksa semua kiriman pada tanggal yang sama."

Sebastian memberi tanda pada satu bagian. "Enam data yang kamu keluarkan sudah benar. Tapi jangan berhenti pada hasil hari itu. Cari kapan pendingin mulai menunjukkan masalah."

"Log suhunya baru turun setelah siang."

"Sensor mencatat udara dalam kotak, bukan suhu inti setiap tabung. Periksa kiriman sebelumnya."

Amaya menulis catatan. Di tengah rasa geli karena Lulu, ia tetap tidak membiarkan pekerjaan menjadi latar.

"Nilai hari ini?"

"Tetap sembilan puluh delapan."

"Tiga belas jam nggak dapat tambahan?"

"Kerja sesuai tanggung jawab bukan bonus."

"Tapi menjahit kelinci dapat berapa?"

Sebastian menutup map. "Keluar."

"Sudah masuk daftar."

"Pukul tujuh."

"Aku akan datang pukul enam lima puluh tujuh."

Amaya mengambil formulir dan membungkuk kecil dengan gaya berlebihan. "Selamat melanjutkan pekerjaan, Dokter. Salam untuk kelinci tak kasatmata."

Ia keluar sebelum Sebastian menemukan balasan.

Di koridor, senyumnya akhirnya pecah.

***

Dua jam kemudian, Amaya selesai mandi dan jatuh ke tempat tidur 27-02 dengan rambut masih terbungkus handuk.

Ia sempat memesan makan malam, tetapi tertidur selama pengantar naik lift. Setelah bangun dan menerima pesanan, ia hanya sanggup makan setengah mangkuk sup.

Tubuhnya protes pada jadwal baru. Telapak kaki melepuh kecil, bahu pegal, dan matanya berat. Anehnya, pikirannya tetap kembali ke meja ruang jaga.

Sebastian yang memegang jarum lebih mengganggu daripada Sebastian yang memegang gelas bir.

Laki-laki itu tidak tahu dirinya dilihat sejak sebelum Amaya mengetuk. Tidak tahu senyum tipisnya tertangkap. Rahasia kecil tersebut terasa jauh lebih intim daripada lelucon mereka.

Panggilan video Jessica masuk.

"Sate malam ini?" tanya Jessica begitu layar terbuka. "Gue tahu tempat baru yang dagingnya tebal banget."

"Nggak sanggup. Nyawa gue tinggal garis merah."

"Hari pertama saja sudah tumbang?"

"Tiga belas jam berdiri, empat puluh tujuh data, satu boneka kelinci, dan satu dokter yang pura-pura nggak punya hati."

Jessica langsung duduk tegak. "Bagian dokter. Ceritakan."

Amaya menceritakan Lulu, jarum, dan telinga Sebastian yang merah ketika tertangkap.

"Gila," kata Jessica. "Koh Sebas bisa jahit boneka? Ini level suami idaman yang disembunyikan negara."

"Dia cari tutorial dulu. Tangannya sempat tertusuk."

"Lo melihat sampai tangannya tertusuk? Berapa lama lo ngintip?"

"Nggak lama."

"Lima menit?"

Amaya diam.

"Maya, itu bukan kebetulan lihat. Itu observasi calon pasangan."

"Aku sedang belajar proses klinis."

"Tentu. Mata kuliah menjahit kelinci oleh dokter bedah."

"Jahitannya belum rapi."

"Berarti lo berdiri cukup lama buat menilai."

Amaya menarik selimut sampai dagu. "Kebetulan lihat."

"Dan sekarang senyum sendiri."

"Capek."

"Capek nggak bikin orang senyum kayak habis dilamar."

Jessica mengambil camilan dari luar layar. "Karena sekarang tinggal sebelahan, manfaatkan medan."

"Aku sudah melanggar aturan malam pertama."

"Bagus. Malam kedua bikin keran rusak."

"Apa?"

"Longgarkan kepala shower. Air muncrat, kamar mandi nggak bisa dipakai, lalu ketuk 27-01 pakai handuk. Pinjam kamar mandi."

Amaya menatapnya datar.

"Cara itu murahan."

"Murah tapi berhasil. Lucas pernah pakai trik kunci rusak. Koh Adrian dan Sabrina juga dulu mulai dari alasan teknis kecil. Tingkat keberhasilan seratus persen."

Jessica menjelaskan skenarionya dengan serius. Amaya harus menyiapkan pakaian tidur yang terlihat tidak sengaja cantik, membawa sampo agar alasan lengkap, dan memastikan teknisi gedung sedang tidak berjaga di lantai.

"Gue bisa kirim diffuser cadangan," tambahnya. "Aroma persik sudah berhasil sekali."

"Aku mau pinjam kamar mandi, bukan membuat iklan parfum."

"Detail menentukan hasil."

"Bagaimana kalau aku hanya mengetuk dan bilang mau mandi?"

"Terlalu jujur. Koh Sebas bisa menolak. Kalau keran dan kunci rusak, dia harus memilih membiarkan lo di koridor atau membuka pintu. Dia pasti buka."

Amaya tahu Jessica benar tentang bagian terakhir. Sebastian bisa memasang wajah dingin, tetapi tidak akan membiarkannya terlantar.

"Mereka sudah saling suka."

"Koh Sebas juga suka. Dia cuma belum punya keberanian mengaku. Lo bantu sedikit."

"Kalau dia panggil teknisi gedung?"

"Rusakkan password pintu juga. Biar lengkap."

Amaya tertawa. "Jess, lo benar-benar teman buruk."

"Tapi efektif. Bayangkan lo muncul malam-malam, rambut basah, bawa pakaian ganti. Dia buka pintu pakai kaus putih lagi. Sisanya alam bekerja."

Jantung Amaya bergerak sedikit lebih cepat hanya karena gambaran itu.

"Bukan malam ini," katanya. "Aku terlalu lelah."

"Berarti malam lain."

"Kita lihat."

"Itu bukan penolakan."

"Aku juga nggak bilang iya."

"Gue tunggu laporan hasil."

"Jangan berharap cepat. Besok aku masuk lagi pukul tujuh."

"Justru bagus. Mandi malam setelah shift panjang sangat masuk akal."

Jessica melambaikan tangan dengan wajah seorang ahli strategi yang baru menyerahkan rencana perang.

Setelah panggilan berakhir, Amaya memandang pintu kamar mandi. Keran berfungsi sempurna. Kunci digital di pintu utama juga baru dan tidak mungkin rusak sendiri.

Ia bisa membiarkannya begitu.

Namun rencana Jessica sudah tertanam di kepalanya, lengkap dengan wajah Sebastian ketika membuka pintu.

Amaya mematikan lampu.

Cepat atau lambat, kunci itu harus rusak.

Dan saat itu tiba, ia ingin melihat apakah Sebastian masih mampu bersembunyi di balik tiga aturan buatannya sendiri yang sangat ketat itu.

1
R_Bell
jangan php ya thor. lanjutkan ampe tamat sih. ga mau tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!