NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:307
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Nyaris Berciuman, Pintu Digedor Reyhan

Jari Bara akhirnya menyentuh pipi Arum.

Sentuhannya ringan, hanya punggung dua jari yang menyapu bekas air mata. Namun, tubuh Arum langsung menegang seperti seluruh hujan di luar mendadak berhenti.

"Kalau tidak suka, katakan," ujar Bara.

Arum menggeleng.

"Dengan suara."

"Saya tidak keberatan, Pak Mayor."

Tangan Bara masih berada di sisi wajahnya. "Pak Mayor lagi."

"Memangnya harus panggil apa?"

"Kamu tahu."

Arum tahu. Bu Yanti pernah menggodanya, dan beberapa istri prajurit menyebut suami mereka dengan panggilan yang sama. Tetapi satu kata itu terasa lebih dekat daripada pelukan di atas motor.

"Belum pantas," bisiknya.

"Kenapa?"

"Kita belum..."

"Aku tidak meminta kamu memanggilku suami."

Arum makin merah. "Pak Mayor sengaja membuat saya gugup."

"Ya."

Kejujuran itu hampir membuatnya tertawa, tetapi tatapan Bara terlalu dalam. Jarak kursi mereka kini begitu dekat hingga lutut Arum menyentuh sisi selimut yang menutup kaki Bara.

"Coba sekali," katanya.

Arum menelan ludah. "Mas."

Bara tidak bergerak. "Lengkap."

"Mas Bara."

Nama itu keluar lembut, nyaris hilang ditelan hujan. Namun, Bara mendengarnya. Jari di pipi Arum berhenti, dan sorot matanya berubah seperti seseorang baru saja membuka pintu yang bertahun-tahun ia jaga.

"Sekali lagi."

"Mas Bara."

"Bagus."

Arum menunduk malu, tetapi Bara mengangkat dagunya perlahan. "Lihat aku."

"Saya tidak berani."

"Tadi kamu berani menolak Reyhan di depan orang banyak."

"Itu berbeda."

"Apa yang berbeda?"

"Kalau menatap Mas Bara, saya takut ketahuan."

"Ketahuan apa?"

Arum menyesali kalimat itu seketika. Ia mencoba bergeser, tetapi kursi membatasi gerak dan Bara segera menarik tangannya sendiri, memberi jalan jika ia ingin pergi.

Justru kebebasan itu membuat Arum tetap duduk.

"Ketahuan bahwa saya senang waktu Mas Bara cemburu," katanya pelan. "Senang waktu dibelikan gaun. Senang waktu semua orang tahu saya bukan orang yang bisa mereka dorong lagi."

Bara mendengarkan tanpa tersenyum.

"Saya juga takut semua itu cuma rasa terima kasih. Takut saya salah mengira aman sebagai cinta."

"Kalau salah, kita berhenti."

"Mas Bara bisa semudah itu?"

"Tidak. Aku mungkin akan menjadi orang paling sulit di asrama. Tapi aku tetap tidak akan membuatmu membayar kebingunganmu."

Arum memandang wajahnya. Garis keras di rahang, bekas luka dekat pelipis, dan mata yang selalu tampak siap menghadapi serangan. Di balik semuanya, Bara baru saja mengaku akan terluka tanpa menjadikannya ancaman.

"Saya memikirkan Mas Bara waktu bangun," ujarnya. "Kalau pulang terlambat, saya dengar setiap motor yang lewat. Kalau kaki Mas sakit, saya ikut gelisah. Ketika Reyhan meminta saya kembali, yang saya pikirkan justru apakah Mas Bara akan salah paham."

Napas Bara berubah lebih berat.

"Lanjutkan."

"Mas Bara seperti sedang memeriksa saksi."

"Aku perlu jawaban yang jelas."

Arum tertawa gugup. "Jawaban saya... saya suka sama Mas Bara."

Bara menatapnya seolah kalimat itu lebih kuat daripada tembakan.

"Katakan lagi."

"Tidak mau."

"Arum."

"Tadi sudah jelas."

"Aku menunggu tiga puluh enam tahun untuk mendengar seseorang mengatakannya kepadaku tanpa diminta oleh keluarga, pangkat, atau rasa takut. Sekali lagi."

Mata Arum panas. "Saya suka sama Mas Bara. Bukan karena utang, bukan karena jabatan. Karena Mas Bara adalah Mas Bara."

Kali ini Bara tersenyum.

Senyum itu tipis dan singkat, tetapi membuat wajah dinginnya tampak lebih muda. Arum tidak pernah melihatnya seterbuka itu.

"Aku juga," katanya.

"Juga apa?"

"Kamu berani menuntut jawaban sekarang?"

"Mas Bara yang mengajari harus jelas."

Bara menggeser tangannya dari pipi ke belakang kepala Arum, masih pelan. "Aku mencintaimu. Sudah cukup jelas?"

Arum membeku, lalu mengangguk cepat.

"Dengan suara."

"Jelas."

Sesudah kalimat itu, keduanya justru diam. Arum mengira pengakuan cinta akan membuat semuanya langsung mudah. Nyatanya, kebahagiaan datang bersama rasa takut yang baru.

"Kalau besok Mas Bara menyesal?" tanyanya.

"Tidak."

"Belum dipikir dulu."

"Sudah kupikir sejak hari kamu membawa makan ke kantor lalu hampir pingsan karena demam."

"Itu belum lama."

"Cukup lama untuk tahu aku mencari suaramu setiap masuk rumah."

Arum memelintir ujung selimut. "Saya tidak tahu cara berpacaran dengan seorang Mayor."

"Aku juga tidak tahu cara berpacaran dengan siapa pun."

"Benarkah?"

Bara mengangkat alis. "Kamu kira aku punya waktu mengejar perempuan di perbatasan?"

Bayangan Bara yang lebih muda, kaku, dan dikelilingi pasukan membuat Arum terkekeh. "Mungkin banyak yang mengejar Mas Bara."

"Aku tidak berhenti."

"Sombong."

"Fakta."

Tawa Arum menghapus sisa air matanya. Bara memandangnya dengan rasa lapar yang bukan hanya berasal dari keinginan menyentuh. Ia seperti sedang menghafal suara yang ingin didengar setiap kali pulang.

"Kita buat aturan," kata Bara.

"Aturan lagi?"

"Kalau aku terlalu mengatur, katakan. Kalau kamu takut, jangan menghilang. Kalau ada yang mencoba memakai pangkatku untuk menekanmu, lapor kepadaku atau Yusuf."

"Kalau saya yang membuat Mas Bara marah?"

"Kita bicara setelah marah turun. Tidak ada pintu dibanting, tidak ada makanan ditahan, tidak ada ancaman mengusir."

Arum terdiam. Bara menyebut bentuk hukuman yang terlalu dikenal dari rumah Prasetyo, lalu menghapusnya satu per satu dari masa depan mereka.

"Kalau Mas Bara pergi bertugas?"

"Aku beri kabar sebatas yang boleh. Kamu tidak perlu menebak apakah aku sengaja meninggalkanmu."

"Kalau saya cemburu?"

"Katakan. Jangan menyuruh satu batalyon lari keliling lapangan."

Arum tertawa keras sampai harus menutup mulut. "Mas Bara pernah melakukan itu?"

"Belum."

"Jawabannya mencurigakan."

Bara ikut tersenyum tipis. Rumah yang semula dipenuhi hujan kini terasa hangat karena aturan-aturan kecil tentang hidup yang belum mereka jalani.

"Satu lagi," kata Arum. "Jangan belikan seluruh toko setiap kali ada yang mengejek saya."

"Tidak bisa dijanjikan."

"Mas Bara."

"Baik. Aku pertimbangkan setengah toko."

Arum memukul lengannya dengan ujung selimut. Bara menangkap kain itu, lalu tangan mereka berhenti saling menahan. Kejenakaan menghilang perlahan, digantikan kesadaran bahwa telapak mereka bertemu.

Hujan memukul kaca. Lampu ruang tamu berkedip ketika guntur terdengar jauh. Tidak ada orang lain, tidak ada pangkat, tidak ada tatapan asrama. Hanya dua orang yang sama-sama pernah tumbuh tanpa rumah, kini duduk terlalu dekat untuk berbohong.

Bara menurunkan wajahnya sedikit.

"Arum."

"Ya?"

"Boleh?"

Arum tahu apa yang ia tanyakan. Pipi dan telinganya terasa terbakar, tetapi ia tidak menunduk lagi.

"Boleh."

Bara mendekat perlahan. Hidung mereka hampir bersentuhan. Arum bisa merasakan napasnya yang hangat dan aroma teh jahe yang tersisa. Tangannya tanpa sadar mencengkeram lengan kemeja Bara.

Bara berhenti sekali lagi, memberi kesempatan terakhir untuk berubah pikiran. Arum justru mengangkat wajah sedikit. Di luar, hujan menutupi langkah seseorang yang menyelinap melalui jalur servis di sisi kompleks.

Reyhan sudah menunggu gelap sejak petang. Setelah pencatatan di pos, ia dilarang masuk tanpa izin penghuni. Namun, amarah membuat larangan itu terdengar seperti bukti bahwa Bara menyembunyikan sesuatu. Ia mengikuti pagar sampai menemukan bagian dekat gudang lama yang pengawasannya jarang.

Tusuk konde kayu berada di sakunya. Ponselnya penuh pesan dari Bu Yatmi yang menyuruhnya membawa Arum pulang sebelum pemeriksaan berikutnya. Setiap pesan menambah keyakinan bahwa ia kehabisan waktu.

Ketika melihat lampu Blok C-3 menyala, Reyhan mendekati teras melalui hujan. Tirai tertutup, tetapi dua bayangan di ruang tamu tampak berdekatan.

Ia tidak mengetuk dengan sopan.

Jarak itu menyusut menjadi selebar tarikan napas.

Lalu pintu depan bergetar oleh gedoran keras.

Arum tersentak. Bara berhenti hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.

Gedoran kedua datang lebih keras.

"Arum! Buka pintunya!"

Suara Reyhan menembus hujan.

Wajah Bara langsung membeku. Api hangat di matanya berubah menjadi dingin yang jauh lebih berbahaya.

"Arum! Aku tahu kamu di dalam! Kita belum selesai!"

Reyhan memukul pintu lagi. Engselnya bergetar, cangkir di meja berdenting. Arum memucat.

"Bagaimana dia bisa masuk kompleks?"

"Mungkin lewat sisi belakang sebelum patroli malam," jawab Bara. "Tetap di sini."

Ia hendak berdiri, tetapi Arum masih memegang lengannya.

"Mas Bara."

Bara menatap tangan itu, lalu wajahnya. "Aku tidak akan memukul kalau dia tidak menyerang."

Arum mengendurkan pegangan. "Panggil petugas."

"Sudah."

Ia menunjukkan ponsel yang sejak gedoran pertama mengirim pesan singkat ke pos jaga. Bara tidak pernah membiarkan amarah menghapus prosedur.

Di luar, Reyhan kembali berteriak. "Dia membohongimu! Arum, keluar sekarang!"

Bara bangkit. Nyeri pada kaki kanannya membuat langkah pertama sedikit kaku, tetapi tubuhnya segera tegak. Ia merapikan kerah, seolah hendak masuk ruang pemeriksaan, bukan menghadapi lelaki yang baru saja menghancurkan momen paling dekat dalam hidupnya.

Arum ikut berdiri. "Saya di belakang Mas. Tapi saya mau bicara sendiri kalau dia menuduh lagi."

"Berdiri jauh dari pintu."

"Baik."

Gedoran berikutnya hampir bersamaan dengan kilat.

Bara berjalan menuju pintu. Setiap langkahnya tenang, semakin kontras dengan suara Reyhan yang kehilangan kendali di luar.

Arum meraih ponselnya dan mengirim lokasi kepada Bu Yanti. Tangannya masih gemetar, tetapi bukan lagi tangan perempuan yang menunggu orang lain memutuskan keselamatannya. Ia berdiri di sisi ruang yang telah ditentukan, jauh dari jalur pintu, siap memberi keterangan jika petugas datang.

Bara menoleh sekali untuk memastikan posisi itu aman. Arum mengangguk kepadanya.

Tak perlu kalimat. Pengakuan cinta mereka belum sempat ditutup ciuman, tetapi kepercayaan sudah bekerja di antara keduanya.

Tangannya menutup gagang pintu.

Di belakangnya, Arum masih bisa merasakan hangat napas yang belum sempat menjadi ciuman.

Di depannya, Reyhan menghantam pintu sekali lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!