**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.
Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:
> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*
Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.
*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*
Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*
…tapi malam itu, Mas ingkar janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: Cuma Milik Naila
Begitu selesai mengganti perban tipis di telapak tangannya, Naila kembali membuka kulkas.
Dua stoples lemon madu masih berada di tempat yang ia pilih. Irisan lemon tipis bertumpuk di balik kaca, terendam madu berwarna keemasan. Ia memotret keduanya, lalu mengirimkan gambar itu kepada Larasati.
Makasih, Tante. Lemon madunya sudah aku terima. Mas Radhika jauh-jauh bawa dua stoples.
Belum satu menit, Larasati menelepon.
"Nai, kamu bilang apa tadi?"
"Lemon madunya sudah sampai. Makasih, Tante."
"Bukan Tante yang bikin."
Naila menatap stoples di kulkas. "Terus siapa?"
"Bi Rohmah izin pulang sejak kemarin siang. Tante juga nggak masuk dapur." Suara Larasati terdengar semakin bersemangat. "Astaga, berarti Radhika. Semalam dia pulang lewat jam sepuluh, terus sendirian di dapur. Tante kira dia cuma cari minum. Ternyata dia cuci lemon, potong satu-satu, sampai membersihkan meja sendiri."
"Mas Radhika yang bikin?"
"Iya. Tangannya sampai lengket kena madu. Dia melotot waktu Tante tawari bantuan." Larasati tertawa puas. "Katanya jangan ikut campur. Mulutnya keras, hatinya lembek juga ternyata."
Naila menutup pintu kulkas pelan-pelan. Radhika yang ia kenal bahkan tidak suka ujung lengan kemejanya terkena cipratan air. Sulit membayangkan lelaki itu berdiri di dapur pada malam hari, mencuci lemon dan mengirisnya satu per satu.
"Mungkin dia bikin buat dirinya sendiri," kata Naila.
"Kalau buat dirinya, kenapa semua dibawa ke kamu?"
Naila tidak punya jawaban.
Setelah panggilan selesai, ia bersandar di pintu kulkas. Watak buruk tidak berubah hanya karena seseorang membuat lemon madu. Namun, kalau Radhika baik kepadanya, ia juga bisa bersikap baik. Kalau lelaki itu kembali menyebalkan, ia tinggal membalas dua kali lebih menyebalkan.
Aturan itu terasa cukup adil.
Tetap saja, bayangan Radhika di dapur sulit diusir dari kepalanya. Apakah ia memakai celemek? Apakah irisannya setipis ini sejak awal, atau ia merusak beberapa buah lebih dulu? Naila hampir tertawa membayangkan wajah kesal lelaki itu saat madu menempel di jari. Radhika selalu tampak seolah segala sesuatu di dunia tunduk pada perintahnya. Ternyata sepotong lemon pun mungkin pernah melawannya.
Naila membuka stoples dan mencium aromanya. Segar, manis, dengan sedikit rasa pahit dari kulit buah. Persis seperti minuman yang membuat tubuhnya hangat pada malam pertama di Menteng.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?"
Naila tersentak. Vania berdiri di belakangnya sambil membawa gelas kosong.
"Aku nggak senyum."
"Itu lemon madu dari Mas Radhika, kan? Aku boleh coba?"
Permintaan itu datang terlalu cepat. Naila memandang Vania sejenak, teringat penyangkalannya di jalan. Namun, lemon madu bukan benda yang perlu diperebutkan. Ia mengeluarkan satu stoples, memasukkan dua iris lemon ke gelas, lalu menuangkan air hangat.
"Hati-hati, masih panas."
Vania meniup permukaannya dan menyesap sedikit. Matanya langsung berbinar. "Enak banget. Manisnya pas."
"Kalau mau, ambil lagi nanti."
"Tiap kali bikin, bagi aku dua iris, ya."
Naila membuka kulkas dan mengambil stoples yang belum dibuka. Ia meletakkannya di tangan Vania. "Ambil satu sekalian. Aku nggak mungkin menghabiskan dua stoples sendiri."
"Serius?"
"Serius."
Vania memeluk stoples itu dengan kedua tangan. "Makasih, Nai."
Gita yang sedang membaca di tempat tidur mengangkat wajah. "Aku nggak usah. Nanti kalian ribut cuma gara-gara lemon."
"Siapa juga yang mau ribut?" Naila menutup kulkas. "Itu cuma minuman."
"Minuman buatan tangan laki-laki yang katanya bukan tipe aman," goda Gita.
"Dia bikin karena merasa bersalah."
"Kalau merasa bersalah, orang normal tinggal pesan dari toko."
Naila mengambil bantal sofa kecil dan melemparkannya. Gita menangkap bantal itu sambil tertawa.
Vania tidak ikut tertawa. Ia memutar stoples perlahan, membaca tulisan kecil tanggal pembuatan yang ditempel rapi di tutupnya.
"Dia serapi ini kalau bikin sesuatu?" tanyanya.
"Aku juga baru tahu dia bisa masuk dapur," jawab Naila. "Tapi ambil saja. Besok jangan bilang aku pelit."
"Aku bakal menjaganya."
Cara Vania mengucapkan kalimat itu membuat Gita menoleh, tetapi Naila sudah berjalan ke meja belajar dan tidak menyadarinya.
Ponselnya berbunyi lagi saat ia duduk di meja belajar. Pesan dari Radhika.
Mas nggak minta apa-apa. Mas cuma pengen kamu belajar yang bener, jadi orang sukses.
Naila mengetuk layar dengan ujung kuku.
Kalau aku masuk tiga besar, hadiahnya apa?
Jawaban datang tidak lama kemudian.
Kamu mau apa saja boleh.
Naila menegakkan punggung. Pernyataan seluas itu berbahaya. Ia bisa saja meminta mobil baru, perjalanan keliling Eropa, atau menyuruh Radhika berdiri satu jam di depan gerbang UI memakai papan bertuliskan aku orang paling sombong di Jakarta.
Ia tersenyum membayangkan pilihan terakhir.
Jangan menyesal, tulisnya.
Nggak akan.
Baiklah. Naila akan belajar sungguh-sungguh. Bukan semata-mata demi hadiah, tentu saja. Ia hanya ingin tahu sejauh apa lelaki itu sanggup menepati ucapannya.
Ia membuka buku ekonomi dasar, menandai dua bab yang tertinggal, lalu menulis target nilai pada kertas kecil. Peringkat tiga besar bukan sesuatu yang mustahil. Sejak SMA, ia mudah mengingat materi jika suasana hatinya baik. Masalahnya hanya jadwal latihan tari dan kebiasaannya menunda membaca sampai malam sebelum ujian.
Kali ini ia tidak akan memberi Radhika kesempatan mengejek.
Di rumah keluarga Adiwangsa, Radhika baru keluar dari kamar mandi ketika seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya tanpa menunggu izin.
Larasati masuk membawa satu buah lemon di telapak tangan.
"Kelas malam," katanya.
Radhika yang masih menggulung lengan kaus menatap ibunya. "Kelas apa?"
"Kelas tentang akibat terlalu cepat menilai orang." Larasati menaruh lemon di meja. "Dulu siapa yang bilang Naila jelek?"
"Bunda datang ke sini cuma buat bahas itu?"
"Sekarang kamu antar dia makan, kasih lima ratus juta, bikin lemon madu sendiri, lalu kasih jaket. Tamparanmu ke wajah sendiri bunyinya keras sekali, Nak."
Radhika duduk di belakang meja dan membuka laptop. "Naila cerita soal uangnya?"
"Dia nggak perlu cerita. Notifikasi transaksi keluarga masuk ke laporan prioritas. Tenang saja, Bunda nggak lihat rekeningnya." Larasati menarik kursi tanpa diminta. "Jawab satu hal. Kamu suka Naila, kan?"
Jari Radhika berhenti di atas papan ketik.
"Aku cuma anggap dia adik."
"Adik?"
"Iya."
Larasati menyilangkan tangan. "Kamu juga menyimpan foto semua adikmu?"
Tatapan Radhika terangkat tajam. "Bunda masuk ke galeri ponselku?"
"Nggak perlu. Waktu kamu menunjukkan dokumen di ruang makan, foto Naila kelihatan di deretan terbaru. Tiga foto sekaligus." Larasati menahan senyum. "Bunda cuma heran, orang yang kemarin kamu bilang jelek sekarang memenuhi galeri."
"Itu cuma tersimpan."
"Tentu. Lemon madunya juga cuma kebetulan masuk stoples sendiri."
Larasati menunjuk lemon di meja. "Kalau cuma adik, kenapa kemarin Bunda minta dua buah dari balkon dan kamu bilang jangan dipetik? Damar minta satu buat minum pun kamu larang. Tapi untuk Naila, dua stoples penuh kamu berikan."
"Pohonnya memang buat dia."
Jawaban itu keluar begitu saja.
Larasati tersenyum lebar. "Nah. Akhirnya jujur juga."
Radhika menutup laptop. "Bunda mau apa?"
"Mau memastikan kamu sadar kalau tindakanmu sudah bicara lebih banyak daripada mulutmu."
"Bunda terlalu banyak menonton drama."
"Dan kamu terlalu lama berbohong pada diri sendiri."
Larasati bangkit sebelum putranya sempat mengusir. Di pintu, ia menoleh sekali lagi. "Empat pohon itu sudah berbuah bertahun-tahun. Kamu nggak pernah memberi satu pun kepada orang rumah. Kalau semuanya cuma milik Naila, jangan terus bersikap seolah dia orang asing."
Pintu tertutup.
Radhika tinggal sendirian bersama dengung pendingin ruangan. Ia mengambil lemon di meja, lalu berjalan ke balkon setengah lingkaran di sisi ruang kerja.
Empat pohon lemon berdiri di sana dalam wadah tanah besar. Batangnya sudah kokoh, daunnya lebat dan mengilap di bawah lampu taman. Beberapa buah kuning menggantung di antara dedaunan. Pohon-pohon itu tidak muncul karena kebetulan.
Empat belas tahun lalu, seorang anak lelaki berusia sepuluh tahun berdiri di depan mobil keluarga Prasetya dan berjanji akan menanam pohon lemon untuk gadis kecil yang menangis tidak mau pergi.
Bibit pertama mati pada musim hujan. Radhika menggantinya. Pohon kedua pernah terserang jamur, dan ia memanggil ahli tanaman. Saat pindah dari rumah lama di Dago, ia meminta keempat pohon dipindahkan ke Menteng dengan truk khusus. Selama bertahun-tahun, buahnya tumbuh ratusan, lalu ribuan.
Saat usianya dua belas, ia pernah mencatat tinggi setiap batang pada dinding gudang. Saat kuliah, ia tetap menelepon tukang kebun dari luar kota untuk memastikan tanahnya tidak terlalu basah. Bahkan setelah jadwal kerjanya dipenuhi rapat, ia masih memeriksa daun dan buah setiap pulang. Keluarganya mengira ia hanya terlalu teliti terhadap tanaman. Tidak ada yang tahu bahwa setiap buah kuning mengingatkannya pada suara anak kecil yang meminta sekantong lemon dari kejauhan.
Tidak satu pun ia berikan kepada orang lain.
Semuanya milik Naila.
Radhika kembali ke ruang kerja. Alih-alih membuka berkas kantor, ia masuk ke folder pribadi yang dilindungi kata sandi. Di dalamnya hanya ada lima foto dan dua video lama.
Foto pertama memperlihatkan Naila pada ulang tahun pertama, duduk di pangkuan Wulan dengan krim kue di hidung. Di foto kedua, Radhika yang masih kecil membantu menahan kedua tangannya saat ia belajar berjalan. Foto ketiga merekam senyumnya setelah gigi pertamanya tanggal. Dua foto lain diambil pada ulang tahun berikutnya.
Ia membuka video terakhir.
Naila berusia sekitar tiga tahun, mengenakan gaun putih berlapis kain tipis. Ia berdiri di atas karpet ruang keluarga Dago, bernyanyi dengan kata-kata yang belum seluruhnya jelas. Di belakang kamera, suara Radhika kecil membetulkan satu bait. Naila cemberut, lalu memulai lagi hanya karena Mas Aka memintanya.
Pada detik berikutnya, Naila kecil berlari mendekati kamera. Gambar berguncang. Terdengar tawanya, lalu protes Radhika karena hidungnya dicubit. Wulan di belakang mereka meminta keduanya berhenti bertengkar. Namun, alih-alih menjauh, Naila memeluk lengan Radhika dan menyatakan kamera itu juga miliknya.
Video berhenti pada wajah kecil yang tertawa ke arah kamera.
Radhika membiarkan gambar itu memenuhi layar. Ia baru saja mengatakan Naila hanya seorang adik, sementara empat pohon di balkonnya dan seluruh isi folder ini menyimpan jawaban yang tidak pernah berani ia ucapkan.