Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.
*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*
Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**
Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
BAB 21
BELAJAR JATUH CINTA
Rey meletakkan tiga lembar bukti di meja makan seperti mahasiswa yang menyerahkan tugas akhir.
"Surat perdamaian Gilang, kuitansi rumah sakit, sama bukti wajib lapor minggu ini."
Lani menurunkan cangkir. "Kamu tidak mengancam Gilang agar mau tanda tangan?"
"Nggak. Pak RT dan penyidik ada di sana. Gue juga minta maaf."
"Kamu minta maaf?"
"Jangan kelihatan kaget begitu."
Telinga Rey memerah. Lani menahan senyum, lalu memeriksa dokumen satu per satu. Gilang menerima biaya pengobatan dan berjanji tidak mendekatinya lagi. Rey mengakui pemukulan, bersedia menyelesaikan perkara secara kekeluargaan, dan tidak mengulangi tindakan serupa. Tak ada satu pun kalimat yang menghapus kesalahan Gilang, tetapi tak ada juga celah bagi Rey untuk lari dari akibat tangannya sendiri.
"Kuliah?" tanya Lani.
Rey membuka portal kampus. Kehadirannya penuh selama dua pekan, nilai kuisnya cukup baik, dan tugas yang biasanya kosong kini terkirim sebelum tenggat.
"Hotelmu?"
"Itu bukan tugas gue."
"Aku sudah check-out kemarin." Lani menunjuk map di rak. "Dokumenku tetap aku pegang sendiri."
"Bagus."
"Bagus karena aku menyelesaikan urusan, atau karena aku nggak jadi pindah?"
Rey menarik kursi mendekat, tetapi berhenti sebelum lutut mereka bersentuhan. "Boleh?"
Satu kata itu terdengar lebih penting daripada semua dokumen di meja.
Lani mengangguk.
Baru setelah itu Rey mendekat dan menyandarkan kepala di bahunya. Berat tubuh pemuda itu hangat, tidak memaksa. Lani dapat bergeser kapan saja. Aneh sekali, kebebasan kecil itu justru membuatnya ingin tinggal.
"Aku belum bilang semua aturan selesai," bisiknya.
"Aku tahu."
"Dan kamu belum boleh meminta satu syaratmu."
"Aku juga tahu."
"Lalu kenapa senyum?"
"Karena kamu nggak pindah."
Untuk pertama kalinya, Lani tidak menyangkal bahwa apartemen itu mulai menjadi rumah mereka berdua.
***
Pada Sabtu pagi, Rey membawanya ke supermarket dengan daftar belanja yang lebih panjang daripada struk listrik sebulan.
"Kita nggak butuh enam kotak stroberi."
"Kamu suka."
"Dua cukup."
"Yang lain bisa dibekukan."
"Dan dua kilo daging?"
"Aku lagi belajar masak."
Lani mengangkat satu alis. "Siapa yang akan makan semua kegagalanmu?"
"Kamu. Katanya mau ngurus aku."
Rey memasukkan kecap, susu, buah, dan camilan kesukaan Lani ke troli. Ia mengingat merek teh yang pernah dipuji Lani sekali saja. Ketika Lani meringis karena tumit sepatunya lecet, Rey berjongkok di tengah lorong, menempelkan plester dari dompetnya, lalu memesan taksi online karena menolak membiarkannya berjalan ke parkiran.
Sore harinya, dua belas kotak sepatu memenuhi pintu apartemen.
"Rey!"
"Apa?"
"Aku cuma bilang sepatu itu bikin lecet."
"Makanya ganti."
"Bukan ganti satu lemari!"
Rey duduk di lantai, membuka kotak pertama. Semua modelnya sederhana, haknya rendah, dan ukurannya tepat. Bukan sepatu yang dipilih untuk memamerkan harga. Ia benar-benar memikirkan apa yang nyaman dipakai Lani.
Lani mengembalikan sepuluh pasang ke toko dan menyimpan dua. Rey merajuk sampai malam, tetapi keesokan harinya rak kecil muncul di dekat pintu, dirakitnya sendiri dengan posisi dua pasang baru di bagian tengah.
Belakangan Lani tahu Rey memperoleh ukurannya dengan mengukur sandal rumah ketika ia sedang mandi. Pemuda itu bahkan menyimpan foto sol sepatunya agar pramuniaga memilih bentuk yang tidak menekan tumit. Cara yang berlebihan, diam-diam, dan sangat khas Rey untuk mengatakan bahwa rasa sakit sekecil apa pun pada Lani telah menjadi urusannya.
Makan malam berubah dari sepiring nasi dingin menjadi dua piring ayam kecap yang kadang terlalu asin. Rey masih mengumpat saat minyak mengenai lengannya, tetapi ia tidak meninggalkan wajan. Ia mencuci piring, mengelap meja, lalu membuka materi kuliah sambil menunggu Lani selesai mandi.
Perubahan itu tidak sempurna. Rey masih cemburu saat ponsel Lani berbunyi. Ia masih ingin tahu ke mana Lani pergi. Bedanya, sekarang ia bertanya dan belajar menerima jawaban yang tidak lengkap.
Pada suatu malam, ia berdiri di depan pintu kamar.
"Boleh tidur di dalam?"
Lani menatapnya cukup lama untuk memastikan tidak ada permainan di balik pertanyaan itu.
"Boleh."
Rey masuk, menutup pintu, tetapi tidak mengunci. Ia menunggu ketika Lani menyentuh wajahnya lebih dulu.
"Lihat aku," kata Lani.
Mata gelap itu langsung bertemu dengannya.
"Kalau aku bilang berhenti?"
"Aku berhenti."
"Kalau aku berubah pikiran?"
"Aku tetap berhenti."
Lani menarik kerah kausnya dan mencium Rey.
Kali ini tak ada alkohol, kemarahan, atau ancaman. Rey tetap kikuk di balik keberaniannya. Ia beberapa kali berhenti hanya untuk membaca wajah Lani, seolah satu kerutan kecil bisa menjadi perintah mundur. Ketika Lani membimbing tangannya, napas Rey pecah dan dahinya menempel di bahu perempuan itu.
"Aku takut bikin kamu sakit," akunya.
"Jadi jangan terburu-buru."
Rey menurut.
Lampu kamar dipadamkan oleh tangan Lani sendiri. Di dalam gelap, ia tidak merasa diambil atau dibeli. Ia memilih, dan pilihannya disambut dengan kelembutan yang selama ini tidak pernah ia bayangkan ada dalam diri Rey.
Menjelang tidur, jari mereka masih saling terkait di atas seprai.
Hubungan itu tak lagi sekadar kesalahan yang terjadi pada satu malam.
***
Tiga hari kemudian, Lani terbangun karena nyeri yang memelintir perut bawahnya.
Ia meringkuk sambil menekan bantal. Rey yang baru pulang kuliah menemukan wajahnya pucat dan langsung menjatuhkan tas.
"Kita ke IGD."
"Nggak perlu. Aku haid."
"Sakit begini dibilang nggak perlu?"
Rey meraih ponsel dan hampir menelepon ambulans. Lani menyambar lengannya.
"Telepon dr. Rina dulu."
Panggilan video dijawab beberapa menit kemudian. Dengan izin Lani, Rey menjelaskan gejala sambil terlalu sering memotong. dr. Rina akhirnya meminta ia diam dan bertanya langsung kepada Lani tentang demam, pingsan, banyaknya darah, riwayat lambung, alergi obat, serta kemungkinan hamil.
"Ini seperti nyeri haidku biasanya," jawab Lani. "Cuma hari pertama lebih berat. Nggak ada demam atau pingsan."
dr. Rina menyarankan kompres hangat, cukup minum, makan lebih dulu, lalu obat antinyeri yang sesuai bila tidak ada kontraindikasi. Jika sakit memburuk, perdarahan sangat banyak, atau Lani sampai lemas dan pingsan, mereka harus ke rumah sakit.
Rey mencatat semuanya.
Ia kembali dari apotek membawa obat, koyo hangat, botol air panas, pembalut tiga ukuran, cokelat, dan termometer digital.
"Kamu mau buka cabang apotek?" tanya Lani lemah.
"Mana yang salah?"
"Nggak ada. Beri aku makan dulu."
Rey membuat bubur, lalu mencoba memasak wedang jahe dari resep internet. Ia memasukkan terlalu banyak jahe dan merica karena mengira rasa pedas berarti lebih ampuh. Tegukan pertama membuatnya batuk sampai matanya berair.
Lani sempat tertawa sebelum kembali memegangi perut.
"Jangan ketawa. Nanti makin sakit."
"Kamu yang lucu."
"Aku serius."
"Itu yang lucu."
Rey mengganti minuman itu dengan air hangat, memastikan Lani makan, lalu menyerahkan obat sesuai arahan dr. Rina. Setelah meminta izin, ia meletakkan botol hangat di perut Lani dan mengusap sisi pinggangnya perlahan.
Malam itu ia nyaris tidak tidur. Setiap Lani bergerak, matanya terbuka.
Pada hari kedua, nyeri Lani sudah jauh berkurang. Ia sengaja mengerang kecil saat Rey hendak berangkat kuliah.
Pemuda itu langsung kembali ke ranjang. "Masih sakit?"
"Sedikit."
"Aku izin nggak masuk."
Lani menarik tasnya. "Bercanda. Pergi kuliah."
Rey menatapnya kesal. "Jangan bercanda soal sakit."
Namun sebelum pergi, ia mengatur pengiriman makan siang, menaruh air di meja, dan mengirim pesan setiap dua jam. Lani membiarkannya. Selama tiga hari berikutnya, ia bahkan menjadi sedikit lebih manja hanya untuk melihat apakah Rey akan bosan.
Rey tidak bosan.
Saat ia masuk kelas merangkai bunga beberapa hari kemudian, salah satu peserta memandang wajahnya lama.
"Mbak Lani kelihatan segar. Ada kabar baik?"
"Kebanyakan tidur," jawab Lani.
Padahal ia tidur lebih sedikit karena Rey selalu menariknya ke dalam pelukan. Anehnya, bangun di dalam lingkaran lengan itu membuat wajahnya terlihat lebih hidup.
***
Foto Rey yang batuk di depan panci masuk ke grup WhatsApp tiga sahabat.
Wiwid langsung membalas.
`Ini sih bukan pacar, ini pembantu merangkap bodyguard.`
Wulan mengirim emoji tertawa, sesuatu yang jarang dilakukannya beberapa hari terakhir.
`Yang penting dia mau belajar,` tulis Wulan.
Lani belum sempat menjawab ketika Rey muncul dari belakang sofa dan membaca layar.
"Pacar?"
"Wiwid cuma bercanda."
"Tapi kamu nggak bantah."
Rey mengambil ponsel setelah Lani mengizinkan, lalu mengetik.
`Pembantu cuma dapat gaji. Gue dapat tidur sebelah Lani.`
Grup mendadak sunyi.
Lani merebut ponsel. "Nggak tahu malu!"
Rey tertawa sambil menghindar. Ketika Lani mengejarnya, ia menangkap pinggang perempuan itu, tetapi kembali bertanya, "Boleh?"
Lani menghela napas dan membiarkan dirinya dipeluk.
Malam semakin larut. Rey tertidur lebih dulu dengan satu kaki keluar dari selimut. Lani menarik kain itu sampai ke bahunya dan memandang wajah yang kini jarang dipenuhi amarah.
Ia tiga puluh tahun. Pernah mencintai satu laki-laki selama delapan tahun, lalu hidup dalam hubungan yang dibangun dari utang dan pertukaran. Baru bersama pemuda sepuluh tahun lebih muda ini ia tahu rasanya dipikirkan dalam hal-hal kecil, dari plester di dompet sampai segelas air di meja.
Rasa bahagia itu begitu penuh hingga menyerupai ketakutan.
Hal sebaik ini, pikirnya, biasanya tidak tinggal lama.
Rey bergerak dalam tidur dan memeluk pinggangnya.
"Jangan tinggalin aku, ya," gumamnya setengah sadar.
Lani menyentuh rambutnya. "Iya."
Di luar jendela, sebuah sedan hitam melaju pelan melewati gerbang apartemen. Emblem kecil PT Tio Garmindo berkilat sesaat di bawah lampu jalan sebelum mobil itu menghilang di tikungan.
Tak satu pun dari mereka melihatnya.